Ziryab: Sang Musisi, Fashionista, Desainer, dan Ahli Gastronomi dari Al Andalus

Dikarenakan sudah merupakan bagian dari keseharian, tentu kita tidak berepot-repot lagi memikirkan siapa sih sebetulnya yang menciptakan shampoo, siapa sih yang awalnya menentukan gaya fashion yang selalu berubah-ubah setiap musimnya, hingga siapa sih yang sebetulnya menetapkan makanan mana yang menjadi menu pembuka atau menu penutup. Semua seolah sudah terformat dengan sendirinya dan berfungsi demikian seiring berjalannya waktu.

Percaya atau tidak, semua inovasi tersebut datang dari ide satu orang brilian yang hidup di abad ke 9 Masehi. Ya betul, semua inspirasi itu hadir sejak lebih dari 1000 tahun yang lalu dari seseorang yang dijuluki dengan nama Ziryab atau “Burung Hitam” dalam bahasa Arab. Ia mendapatkan julukan tersebut karena kulitnya yang berwarna gelap dan suaranya yang sangat merdu. Asal usul Ziryab sendiri masih diperdebatkan apakah ia seorang Arab, Kurdi, Persia, ataupun Afrika. Mengingat prestasinya yang luar biasa, tentu wajar apabila ia diperebutkan mengenai perkara asal usulnya.

Ziryab (sumber: muslimheritage.com)

Ziryab memiliki nama asli Abu Al-Hassan dan merupakan seorang budak yang telah dibebaskan. Ia berguru pada seorang musisi istana kenamaan bernama Ishaq al-Mawsili yang merupakan anak dari Ibrahim al-Mawsili yang sebelumnya juga menempati posisi sebagai musisi resmi kerajaan pada masa kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad. Setelah diperkenalkan ke dalam lingkaran istana, Ziryab memperlihatkan kebolehannya dalam bernyanyi dan bermain gitar. Tidak tanggung-tanggung, penampilannya mengundang decak kagum sang khalifah ternama Harun Al-Rasyid.

Namun sayangnya ketenaran Ziryab tidak bertahan lama karena Ishaq cemburu pada kesuksesannya. Setelah mendapat tekanan, Ziryab memilih untuk keluar dan berkelana menjajakan keahliannya di berbagai negeri sepanjang perjalanannya ke barat. Mendengar keberadaannya di Tunisia, ia kemudian diundang untuk tampil di hadapan Abdul Rahman II – Emir dari keturunan kekhilafahan Umayyah yang berlokasi di Cordoba, Al Andalus.

Hanya dalam hitungan waktu singkat Ziryab menjadi favorit para pembesar istana di Cordoba berkat bakatnya yang luar biasa. Ia kemudian digaji tinggi, dihadiahi sebuah istana, dan diberikan kebebasan untuk memajukan dunia musik dan kebudayaan di Al Andalus oleh sang Emir. Abdul Rahman II sendiri memang berambisi untuk menjadikan Spanyol pusat kebudayaan baru yang bisa bersanding dengan Baghdad dan Damaskus. Ziryab yang seorang idealis sudah merasa gerah dengan Spanyol yang kondisinya masih tertinggal dibanding belahan dunia Islam lainnya yang tengah berkembang pesat. Berbekal kepercayaan sang emir dan kebebasan berkreasi, lahirlah inovasi-inovasi cemerlang dari seorang Ziryab dan akan diapresiasi hingga hari ini, lebih dari 1000 tahun kemudian.

Ziryab tengah mengajar musik (sumber: islamicspain.tv)

Di bidang musik, Ziryab telah menambahkan senar kelima pada alat musik lute (sejenis gitar) yang dimilikinya. Bahkan lute miliknya dibuat lebih ringan dan terdiri dari senar dengan bahan-bahan yang unik. Bahkan plektrum gitar yang dimilikinya terbuat dari cakar burung elang. Bisa dibilang bahkan lute ciptaannya merupakan cikal bakal dari gitar modern. Kemudian ia mendirikan sekolah musik pertama di dunia, serta merombak dan menciptakan berbagai teori musik, vokal, dan orkestra pada masa itu. Sebagai seorang jenius, Ziryab juga hafal berbagai komposisi lagu hingga berjumlah ribuan. Tujuh dari sepuluh anaknya meneruskan bakat ayahnya kelak sebagai musisi.

Sebuah buku mengenai kuliner Arab masa lalu dengan kredit khusus untuk Ziryab (sumber: amazon.com)

Inovasi-inovasi hebatnya juga ditemukan di bidang kuliner. Ziryab menggalakkan penggunaan gelas kristal untuk menggantikan gelas logam yang sudah kuno. Selain itu Ziryab juga memperkenalkan penggunaan taplak meja dan merancang kegiatan bersantap dalam beberapa fase. Sup dipilih sebagai menu pembuka. Kemudian dilanjutkan dengan menu utama berupa ikan, daging, atau makanan berat lainnya. Sebagai menu penutup, ia memilih buah-buahan dan berbagai makanan manis lainnya serta kacang-kacangan sebagai menu paling akhir. Terakhir, ia memperkenalkan asparagus sebagai makanan baru dan membudidayakannya di kebun miliknya di luar kota Cordoba.

Pakaian empat musim (sumber: islamicspain.tv)

Revolusi kebudayaan dari Ziryab juga rupanya menyentuh bidang fashion dan hygiene. Ia memperkenalkan tema pakaian berbeda untuk setiap musimnya. Misalnya di musim dingin, pakaian dirancang lebih berwarna gelap. Di musim gugur, pakaian memiliki warna-warna seperti merah, kuning, atau oranye – merefleksikan berubahnya warna dedaunan di musim itu. Di musim semi, pakaian dirancang dengan warna-warna cerah seperti bunga yang bermekaran. Sementara di musim panas, pakaian warna putih disarankan untuk dipakai.

Selain tema pakaian yang berbeda setiap musimnya, Ziryab juga mengenalkan konsep bahwa pakaian di pagi, siang, dan malam hari haruslah dibedakan. Khusus untuk para bangsawan, Ziryab memperkenalkan satu set wewangian yang harus dimiliki para pembesar yang terdiri dari shampoo, deodoran, pasta gigi, dan beberapa jenis kosmetik. Gaya rambut orang Arab pada masa itu umumnya dibiarkan panjang dan terurai, maka Ziryab memperkenalkan gaya baru berupa potongan rambut yang lebih pendek untuk laki-laki dan rambut berponi untuk kaum Hawa.

Istana Alcazar di Seville, dari masa puncak kejayaan Al Andalus (sumber: fuertehoteles.com)

Terakhir, gebrakan Ziryab ternyata tidak hanya di bidang kebudayaan saja. Emir Abdul Rahman II mempercayakan juga Ziryab dalam berbagai urusan administrasi dan politik. Atas inisiatifnya, sang Emir kemudian mengundang para astronom India dan para dokter Yahudi dari Afrika Utara. Rupanya para tamu dari India inilah yang pertama kali memperkenalkan permainan catur dan dipopulerkan Ziryab kepada segenap penghuni istana sang Emir. Selebihnya Cordoba tidak hanya menjadi pusat kebudayaan, andil Ziryab untuk mengundang segenap ilmuwan ini kelak menjadikan Cordoba sebagai pusat ilmu pengetahuan. Beberapa abad kemudian bahkan Cordoba menjadi tujuan utama para pelajar dari negeri-negeri jauh di Asia dan Eropa untuk sekolah dan mengunjungi perpustakaannya yang memiliki lebih dari 600,000 judul buku.

Sepeninggal sang Emir dan Ziryab, Cordoba menjadi simbol toleransi – dimana para penduduknya yang beragama Islam, Kristen, dan Yahudi dapat hidup berdampingan dengan damai. Pencapaian-pencapaian yang dilakukan Ziryab lebih dari sepuluh abad silam sayangnya seolah seperti hilang ditelan waktu, meskipun banyak dari temuannya sangat berpengaruh pada kehidupan modern. Inilah waktunya bagi kita untuk dapat mengapresiasi kembali jasa-jasa para ilmuwan dan insan kreatif pada tempatnya dan terkhusus dari mereka yang hidup di era keemasan Islam pada abad pertengahan. Karena inilah masa dimana ilmu-ilmu dari zaman Yunani dan India kuno berhasil disempurnakan dan dikembangkan secara masif sehingga mendefinisikan teknologi maupun pengetahuan yang ada di zaman sekarang.

Era keemasan Islam, saat dimana ilmu pengetahuan berkembang pesat (sumber: historybuff.com)

Pada edisi berikutnya, kita akan membahas berbagai ilmuwan lainnya dari abad pertengahan Timur Tengah dan Al Andalus yang jasa-jasanya tidak akan terlupakan hingga kapanpun. Pastikan untuk meninggalkan komen ataupun saran untuk siapa yang sebaiknya kita bahas pada kesempatan berikutnya. Sampai jumpa!

Referensi:

  1. http://lostislamichistory.com/the-cultural-icon-of-al-andalus/
  2. http://www.islamicspain.tv/Arts-and-Science/flight_of_the_blackbird.htm
  3. http://www.muslimheritage.com/article/ziryab
  4. http://www.thedailystar.net/news/ziryab-the-blackbird-of-al-andalus
  5. https://thedailybeagle.net/2013/02/15/the-forgotten-blackbird/
  6. http://www.newhistorian.com/ziryab-forgotten-innovator-music-gastronome-style/7548/
  7. http://www.lisapoyakama.org/en/ziryab-the-black-scholar-who-has-revolutionized-europe/

Gambar sampul: http://www.muslimheritage.com


Original link: wm.ucweb.com (gastroficionado)

Advertisements

Chef Woro Prabandari: Aspiring Beyond Loyalty (Passion, 2017)

There’s more to it than just loyalty from the prolific chef Woro Prabandari. For more than two decades now and a title of Executive Pastry Chef at Grand Hyatt Jakarta, the motherly chef shared PASSION the recipe for excellence in career and balancing it with family and pastime.

How did you find out about your passion with pastry?

I think it’s because at one point during my childhood, I started giving a hand to my mother when she’s in the kitchen. For some reason, I had always been keen with baking and we started by making the classic stuff. My mother used to cook for events at my father’s office, so that’s how I became accustomed with the know-hows in the kitchen and became serious at it.

How was the beginning of your love story with Hyatt?

After some time seeing myself really into cooking, my parents decided to enroll me to hospitality school and ever since day one I already focused myself with pastry. Before my graduation, I applied for internship at Hyatt and got accepted. As you can see, the rest is history.

Care to tell us a bit about your career here until you reach this height?

Initially I was assigned as part of the pre-opening team for Grand Hyatt Jakarta and received training at Hyatt Aryaduta. In the early nineties perhaps only a handful of five-star hotels can be found in Jakarta and expatriates were so many back then. However, seeing that only a few women were in professional pastry industry at that time, I decided to prove my mettle and spend the extra hours refining my skills.

I took the opportunity to train also whenever I can with fellow pastry chefs after hour, and the veterans. For example since the beginning of my career there’s Mr Gottfried Schützenberger, Hyatt international pastry legend, and one time I was also tutored by Pierre Hermé himself.

Chef Passion Media

What was the turning point of your career?

Professional competitions. Singapore was hosting 1992 Salon Culinaire and I volunteered to participate in the tournament with a small team. Working in the kitchen requires me at least 12 hours a day and we had to focus only with work. Only then after working hours, the team gathered to spend the extra time for planning and practicing. I usually got home late around midnight and had to be back at work again at 7am the next day!

Our sacrifice was not without reward. We won the gold medal for dessert platter category and I got promoted not long. Apparently the company appreciated the effort!

The following Salon Culinaire competitions were held in Jakarta and I participated again, until finally I was appointed as Pastry Chef back in 1998. Now I’m giving the rein to younger chefs and enjoy tutoring them for competitions.

What are your plans after you retire in the future?

There are so many offers asking me to teach. I’d really like do that in the future!

We heard that you like traveling. Tell us a bit about that.

Traveling is something that I do from time to time with the family. I take pleasure by dedicating myself for the company and rarely take a leave. That’s why I have so many days to spend for holiday!

Recently we went to Bali with the whole family – me, my husband, and our three sons. We prefer visiting beaches and of course, eating. Having a privilege as part of Hyatt family enables me to visit their properties everywhere in the world. Certainly going with the whole family is important to maintain the work-life balance.


Original link:
http://www.passionmedia.co.id/b/woro-prabandari-aspiring-beyond-loyalty

Images by: Dwi N. Hadi

Richeese Factory, More Than Just Fried Chicken (mise en place, Vol 20 – 2017)

Indonesia is no stranger when it comes to American-style fried chicken. The dish is widely considered as the cornerstone of Western cuisine influences for the masses in the country. It dates back to 1979, sparked by the pioneer Kentucky Fried Chicken.

Followed suit by McDonald’s in 1991, the country has seen the ups and downs of Western-style fast food industry from both foreign and local brands. Fried chicken however, has solely been very successful in gaining immense influence over Indonesian palate over the years that it has driven most of the brands to actually adapt and develop their own formula of the dish.

Even on this day, decades apart since its first inception; crispy fried chicken can commonly be found on street carts in residential neighborhoods – both privately owned or franchised. Some brands aim for presence at shopping malls, while others are also confident in presenting themselves as standalone restaurants.

Fried chicken is known not just for its delicious, crispy skin and flavorful meat which was previously marinated with spices; Indonesia also has seen creative innovations applied on the original recipe. The local rising star Richeese Factory has its own uniqueness regarding this.

But quite curiously, Richeese Factory was not a fast food chain to begin with. It was originally, and still, a business unit owned by Nabati Group known for its cheese-based snacks, crackers and wafers branded also as “Richeese”. Back in 2011, the group opened its first outlet in Bandung and Richeese Factory is among the few who are confident enough with opening both at shopping malls and as standalone restaurants.

Aside from Jakarta and its neighboring satellite cities, Richeese Factory has expanded as well to Semarang, Solo, Malang, Surabaya, and heading east to Bali. It’s also pioneering its presence to smaller cities like Garut, Cirebon, and Tegal. Yogyakarta would be the next city to anticipate a new opening towards the end of 2017.

From the menu, Richeese Factory cleverly took the advantage of Indonesian people curiosity and palate that fancies the spicier side of food in general. With addition to the use of cheese sauce which differentiates Richeese Factory than the rest of the competition, it also provides several degrees of spiciness that customers can choose for their fried chicken treats.

With 60 outlets in its possession now, Richeese Factory employs a highly standardized operating procedure that will ensure consistency from production and down to the frontline and QC. Periodically, reviews are conducted and socialized to every single crewmember, with the addition of strict audit from the HQ.

The headquarters also devises a system that ensures the logistics efficiency, especially to suit the company’s expansionist strategy. Richeese Factory, as we know it, will open their first outlets outside of Java in Makassar and Balikpapan later this year.


RICHEESE FACTORY | www.richeesefactory.com


Images by: Richeese Factory

This is the unedited version of the article

Asia’s 50 Best Restaurants to be Held in Macao in 2017 and 2018

Asia’s 50 Best Restaurants, sponsored by S.Pellegrino & Acqua Panna, has announced that Macao will host the 2018 and 2019 editions of its prestigious awards.

On Tuesday 27th March 2018, the region’s most respected chefs and influential restaurateurs, together with leading industry figures and international media, will gather at Wynn Palace Cotai for the announcement of the Asia’s 50 Best Restaurants 2018 list and special awards.

The new destination for the 2018 and 2019 awards ceremonies was announced at a media conference hosted by Asia’s 50 Best Restaurants and the Macao Government Tourism Office at Wynn Palace, which was followed by a celebratory lunch at Andrea’s restaurant. Attendees included local restaurateurs, industry VIPs and media as well as regional chefs, including Richard Ekkebus, Shinobu Namae and May Chow. 

The organisers of Asia’s 50 Best Restaurants have chosen to bring this best-in-class gourmet platform to Macao in order to showcase its fast-expanding gastronomic portfolio, as well as celebrate outstanding talent from across Asia.

William Drew, Group Editor of Asia’s 50 Best Restaurants, says: “After three years in Singapore and two in Bangkok, we are thrilled to announce Macao will be the host destination for the sixth and seventh editions of Asia’s 50 Best Restaurants, sponsored by S.Pellegrino & Acqua Panna. Macao’s rich history is reflected in the diverse food culture and vibrant restaurant scene.”


Credit: catchonco.com

Kopi Turki: Tetap Dinikmati Meski Dengan Ancaman Hukuman Mati

Peradaban ini melaju kencang berkat kopi. Konon minuman bersejarah ini yang menjadikan manusia melek secara lahiriah maupun secara intelektual. Manusia berkumpul di depan banyak cangkir kopi untuk sekadar menemani kesendirian, bercengkerama, hingga menyelamatkan dunia!

Tidak salah bila mungkin terselip di antaranya, ngopi menjadi bagian dalam budaya keseharian agar disebut “keren” ataupun tergolong dalam jamaah “hipsteriyah”. Sehingga diakui maupun tidak, kopi menjadi pemicu lahirnya banyak gagasan. Kopi menjadi titik tengah sebuah negosiasi alot, kopi menjadi teman hidup di kala tenggat waktu mulai memberikan tekanan, dan kopi menjadi pusat perhatian di era yang sangat mementingkan gaya hidup ini.

Kopi adalah segalanya! Di masa ini dan ternyata di masa lalu juga.

Sumber: food52.com

Adalah abad ke 16 dan ke 17 yang menjadi saksi bisu pertama bahwasanya kopi adalah dua sisi mata uang berbeda – sebuah ritual yang sakral bagi sebagian kalangan dan banyak manusia sesudahnya. Sekaligus juga kopi dianggap menjadi deviasi dari beberapa perspeksi yang spesifik.

Kita lalui cepat asal mula legenda kopi yang datang dari negeri Ethiopia hingga ia bersandar di Yaman selama berabad-abad lalu kemudian ditemukan oleh seorang gubernur Kesultanan Turki Utsmani bernama Ozdemir Pasha. Masalah waktu spesifiknya masih diperdebatkan hingga sekarang, namun intinya sang gubernur memperkenalkan kopi ke kalangan istana pada masa kekuasaan Sultan Suleiman Yang Agung.

Agar lebih informatif, ada juga versi yang menceritakan bahwa kopi awalnya diperkenalkan dua pedagang dari Damaskus dan Aleppo yang kemudian membuka kedai kopi pertama dengan nama Kiva Han di distrik Tahtekale di ibukota Istanbul. Yang jelas dari kedua versi ini, Kesultanan Turki Utsmani memiliki peranan awal yang penting dalam persebaran kopi di dunia pada abad-abad berikutnya.

Ketika kopi dianggap sebagai sebuah tren positif

Sultan Suleiman Yang Agung dengan cepat mengapresiasi kenikmatan secangkir kopi. Ia kemudian memerintahkan agar kopi disempurnakan penyajiannya dan menjadi minuman wajib di istana.

Maka lahirlah sebuah profesi yang dinamakan “kahveci usta” atau “kahvecibaşı” yang padanannya di masa kini adalah semacam “barista” atau yang bertanggung jawab atas kopi dan seduhannya khusus untuk kalangan istana. Konon bahkan terdapat catatan adanya para petinggi istana yang awalnya merupakan para “chief barista” ini dan ada yang berkarir hingga sebagai Wazir Agung (Perdana Menteri).

Sumber: turkishcoffeegear.com

Tidak lama tren kopi kemudian menjalar ke kalangan bangsawan dan orang kaya. Akhirnya kopi menjadi santapan sehari-hari segenap rakyat Turki Utsmani. Kedai kopi menjadi tempat masyarakat berkumpul, membaca buku, bermain catur dan backgammon, berdiskusi mengenai literatur dan puisi, dan tentunya untuk berbicara soal bisnis. Mengiringi kegiatan-kegiatan tersebut, muncullah banyak pertunjukan seni seperti Karagoz (wayang khas Turki), pantomim, serta acara musik.

Ketika rakyat jelata menemukan kesenangan baru dan banyaknya potensi untuk membuka cakrawala keduniawian, rupanya ini mengundang kernyitan dari beberapa pihak – khususnya bagi yang memiliki kepentingan dengan kekuasaan. Bahkan tidak lama sejak kopi menanjak popularitasnya, pemerintah kemudian membredel gaya hidup ini bahkan dengan ancaman hukuman mati!

Ketika kopi menjadi tabu

Bila diperhatikan lebih jauh, permasalahan yang dipandang saat itu sebetulnya cukup akrab dengan apa yang terjadi di masa kini. Begitu banyaknya pilihan gaya hidup kekinian seolah membuat mereka yang baru mencobanya langsung seperti tenggelam dalam keseruannya.

Contoh, berapa banyak misalnya orang tua yang tidak senang bila anaknya terlalu berlama-lama bermain online game atau bermain dengan teman-teman barunya hingga larut malam. Ini adalah kasus klasik yang selalu berulang formulanya dengan presentasi yang berbeda-beda.

Sumber: twitter.com/HalicPostasi/status/504777794086109185

Rakyat Turki saat itu lazimnya mengunjungi tiga tempat dalam kesehariannya: rumah, tempat kerja, dan mesjid. Kedai kopi hadir menjadi tempat keempat dimana banyak dari mereka yang telah begitu menikmatinya malah menjadi abai dengan kewajiban-kewajibannya yang lain.

Masalah ini disuarakan awalnya oleh para ulama dan mereka menghimbau rakyat untuk tetap meluangkan waktu ke mesjid ketimbang terlalu berlama-lama di kedai kopi. Banyak kesempatan dimana para ulama bekerja sama dengan pemerintah untuk menata masyarakat dengan cara yang persuasif. Namun bagi pihak istana, ada yang memandang bahwa terlalu betahnya rakyat di kedai kopi justru malah mengundang munculnya percakapan yang mengarah ke arah-arah subversif sehingga mereka mempersiapkan hukuman keras bagi para pelakunya.

Kopi menjadi minuman terlarang pada kekuasaan Sultan Murad IV. Konon sang sultan sendiri akan berpatroli di malam hari dengan menggunakan baju preman dan akan menghukum mati mereka yang kedapatan tengah menyeruput kopi. Setiap saat ia akan membawa algojo untuk menghukum mati di tempat.

Penerus Sultan Murad bersikap lebih lunak dan melalui Wazir Agung Köprülü Mehmed Pasha, tetap melarang keras keberadaan kedai-kedai kopi dan mengancam pelakunya dengan hukuman cambuk hingga ditenggelamkan bila kedapatan melakukan pelanggaran secara berulang.

Menurut Stewart Allen, penulis dari The Devil’s Cup: Coffee, The Driving Force in History, Sang Wazir sendiri sempat mengunjungi kedai kopi dan mendapati bahwa mereka yang meminum kopi berbeda dengan yang meminum alkohol. “Orang yang meminum alkohol akan mabuk dan bernyanyi, sementara yang meminum kopi akan tetap tersadar dan berkomplot melawan pemerintah”, begitu sahutnya.

Sumber: twitter.com/hayalleme/status/661798805549936640

Seperti yang bisa diduga, peraturan ini kemudian dibatalkan akibat adanya perlawanan keras dari masyarakat. Tentu tidak gratis, pemerintah kemudian memberlakukan pajak tinggi untuk konsumsi kopi. Meskipun demikian, keadaan berangsur-angsur pulih di Kesultanan Turki Utsmani.

Ketika kelak kopi merambah ke negeri-negeri Eropa, para penguasa juga menjadi kegerahan karena potensi-potensi subversif dikarenakan gaya hidup ngopi masyarakatnya. Para dokter di Eropa hingga mengatakan bahwa terlalu banyak minum kopi akan menghisap semua cairan di otak dan menyebabkan kelumpuhan. Para wanita di Inggris juga menghardik para lelaki yang meminum kopi karena justru itu akan membuat mereka impoten.

Konon terdapat satu cerita mengenai Paus Clement VII ketika pertama kali mencoba kopi. Yang ia rasakan sesudahnya adalah kekaguman, penasaran, dan kemudian ia menangis. Ketika ditanya mengapa ia kemudian menjawab, “Minuman setan ini sangat nikmat sehingga sayang bila hanya dinikmati oleh orang Muslim saja. Kita akan menipu para iblis dengan membaptis mereka dan menjadikan minuman ini minuman Kristen!”

Akhirul kalam

Ya, begitulah kopi. Sebuah minuman yang populer untuk khalayak ramai, namun selalu ditantang keberadaannya oleh para penguasa.

Coffee shop di Turki masa kini
Sumber: https://id.pinterest.com/khalilmfb/turkish-coffee-shop

Tapi bagaimana dengan masa kini menurut Anda? Semakin banyaknya kedai kopi tentu akan menjurus masyarakat membicarakan banyak hal mulai dari bisnis, kreatif, hingga politis dan ideologis. Selama itu sehat dan aman, bisa saja pemerintah manapun tidak perlu kuatir – terlebih kini di era demokrasi yang memberikan kepuasan “semu” bagi rakyatnya atas pejabat yang mereka pilih.

Mungkin saja akan selalu ada agen-agen pemerintah yang selalu berjaga di satu sudut seperti yang kita lihat di film-film masa Perang Dingin. Ataukah di era kapitalisme ini, rakyat sudah cukup terpuaskan dulu dengan derasnya pembangunan infrastruktur dan banyaknya tunjangan? Mari kita lihat kiprah kedai kopi dan kaitannya dengan masyarakat di era modern ini untuk selanjutnya.

Referensi:

  1. turkishcoffeeworld.com/History-of-Coffee-s/60.htm
  2. turkishstylegroundcoffee.com/turkish-style-coffee/turkish-coffee-history/
  3. npr.org/sections/thesalt/2013/04/27/179270924/dont-call-it-turkish-coffee-unless-of-course-it-is
  4. npr.org/sections/thesalt/2012/01/10/144988133/drink-coffee-off-with-your-head
  5. turkishcoffeegear.com/turkish-coffee-history/
  6. turkishcoffee.us/articles/history/ottoman-empire-era/
  7. turkishculture.org/lifestyles/lifestyle/coffeehouses-204.htm
  8. hurriyetdailynews.com/a-history-of-turkish-coffee.aspx
  9. dailyo.in/lifestyle/history-of-coffee-tea-mecca-akbar-mughals-jahangir-wine-ottomans-christians-muslims/story/1/10320.html
  10. perfectdailygrind.com/2015/09/turkish-coffee-a-story-of-mystery-war-romance-empire/

Gambar sampul: ozerlat.com


Original link: wm.ucweb.com (gastroficionado)

The exciting gastronomic escapades of a foodie journo!

%d bloggers like this: