Tag Archives: Turkish

Kopi Turki: Tetap Dinikmati Meski Dengan Ancaman Hukuman Mati

Peradaban ini melaju kencang berkat kopi. Konon minuman bersejarah ini yang menjadikan manusia melek secara lahiriah maupun secara intelektual. Manusia berkumpul di depan banyak cangkir kopi untuk sekadar menemani kesendirian, bercengkerama, hingga menyelamatkan dunia!

Tidak salah bila mungkin terselip di antaranya, ngopi menjadi bagian dalam budaya keseharian agar disebut “keren” ataupun tergolong dalam jamaah “hipsteriyah”. Sehingga diakui maupun tidak, kopi menjadi pemicu lahirnya banyak gagasan. Kopi menjadi titik tengah sebuah negosiasi alot, kopi menjadi teman hidup di kala tenggat waktu mulai memberikan tekanan, dan kopi menjadi pusat perhatian di era yang sangat mementingkan gaya hidup ini.

Kopi adalah segalanya! Di masa ini dan ternyata di masa lalu juga.

Sumber: food52.com

Adalah abad ke 16 dan ke 17 yang menjadi saksi bisu pertama bahwasanya kopi adalah dua sisi mata uang berbeda – sebuah ritual yang sakral bagi sebagian kalangan dan banyak manusia sesudahnya. Sekaligus juga kopi dianggap menjadi deviasi dari beberapa perspeksi yang spesifik.

Kita lalui cepat asal mula legenda kopi yang datang dari negeri Ethiopia hingga ia bersandar di Yaman selama berabad-abad lalu kemudian ditemukan oleh seorang gubernur Kesultanan Turki Utsmani bernama Ozdemir Pasha. Masalah waktu spesifiknya masih diperdebatkan hingga sekarang, namun intinya sang gubernur memperkenalkan kopi ke kalangan istana pada masa kekuasaan Sultan Suleiman Yang Agung.

Agar lebih informatif, ada juga versi yang menceritakan bahwa kopi awalnya diperkenalkan dua pedagang dari Damaskus dan Aleppo yang kemudian membuka kedai kopi pertama dengan nama Kiva Han di distrik Tahtekale di ibukota Istanbul. Yang jelas dari kedua versi ini, Kesultanan Turki Utsmani memiliki peranan awal yang penting dalam persebaran kopi di dunia pada abad-abad berikutnya.

Ketika kopi dianggap sebagai sebuah tren positif

Sultan Suleiman Yang Agung dengan cepat mengapresiasi kenikmatan secangkir kopi. Ia kemudian memerintahkan agar kopi disempurnakan penyajiannya dan menjadi minuman wajib di istana.

Maka lahirlah sebuah profesi yang dinamakan “kahveci usta” atau “kahvecibaşı” yang padanannya di masa kini adalah semacam “barista” atau yang bertanggung jawab atas kopi dan seduhannya khusus untuk kalangan istana. Konon bahkan terdapat catatan adanya para petinggi istana yang awalnya merupakan para “chief barista” ini dan ada yang berkarir hingga sebagai Wazir Agung (Perdana Menteri).

Sumber: turkishcoffeegear.com

Tidak lama tren kopi kemudian menjalar ke kalangan bangsawan dan orang kaya. Akhirnya kopi menjadi santapan sehari-hari segenap rakyat Turki Utsmani. Kedai kopi menjadi tempat masyarakat berkumpul, membaca buku, bermain catur dan backgammon, berdiskusi mengenai literatur dan puisi, dan tentunya untuk berbicara soal bisnis. Mengiringi kegiatan-kegiatan tersebut, muncullah banyak pertunjukan seni seperti Karagoz (wayang khas Turki), pantomim, serta acara musik.

Ketika rakyat jelata menemukan kesenangan baru dan banyaknya potensi untuk membuka cakrawala keduniawian, rupanya ini mengundang kernyitan dari beberapa pihak – khususnya bagi yang memiliki kepentingan dengan kekuasaan. Bahkan tidak lama sejak kopi menanjak popularitasnya, pemerintah kemudian membredel gaya hidup ini bahkan dengan ancaman hukuman mati!

Ketika kopi menjadi tabu

Bila diperhatikan lebih jauh, permasalahan yang dipandang saat itu sebetulnya cukup akrab dengan apa yang terjadi di masa kini. Begitu banyaknya pilihan gaya hidup kekinian seolah membuat mereka yang baru mencobanya langsung seperti tenggelam dalam keseruannya.

Contoh, berapa banyak misalnya orang tua yang tidak senang bila anaknya terlalu berlama-lama bermain online game atau bermain dengan teman-teman barunya hingga larut malam. Ini adalah kasus klasik yang selalu berulang formulanya dengan presentasi yang berbeda-beda.

Sumber: twitter.com/HalicPostasi/status/504777794086109185

Rakyat Turki saat itu lazimnya mengunjungi tiga tempat dalam kesehariannya: rumah, tempat kerja, dan mesjid. Kedai kopi hadir menjadi tempat keempat dimana banyak dari mereka yang telah begitu menikmatinya malah menjadi abai dengan kewajiban-kewajibannya yang lain.

Masalah ini disuarakan awalnya oleh para ulama dan mereka menghimbau rakyat untuk tetap meluangkan waktu ke mesjid ketimbang terlalu berlama-lama di kedai kopi. Banyak kesempatan dimana para ulama bekerja sama dengan pemerintah untuk menata masyarakat dengan cara yang persuasif. Namun bagi pihak istana, ada yang memandang bahwa terlalu betahnya rakyat di kedai kopi justru malah mengundang munculnya percakapan yang mengarah ke arah-arah subversif sehingga mereka mempersiapkan hukuman keras bagi para pelakunya.

Kopi menjadi minuman terlarang pada kekuasaan Sultan Murad IV. Konon sang sultan sendiri akan berpatroli di malam hari dengan menggunakan baju preman dan akan menghukum mati mereka yang kedapatan tengah menyeruput kopi. Setiap saat ia akan membawa algojo untuk menghukum mati di tempat.

Penerus Sultan Murad bersikap lebih lunak dan melalui Wazir Agung Köprülü Mehmed Pasha, tetap melarang keras keberadaan kedai-kedai kopi dan mengancam pelakunya dengan hukuman cambuk hingga ditenggelamkan bila kedapatan melakukan pelanggaran secara berulang.

Menurut Stewart Allen, penulis dari The Devil’s Cup: Coffee, The Driving Force in History, Sang Wazir sendiri sempat mengunjungi kedai kopi dan mendapati bahwa mereka yang meminum kopi berbeda dengan yang meminum alkohol. “Orang yang meminum alkohol akan mabuk dan bernyanyi, sementara yang meminum kopi akan tetap tersadar dan berkomplot melawan pemerintah”, begitu sahutnya.

Sumber: twitter.com/hayalleme/status/661798805549936640

Seperti yang bisa diduga, peraturan ini kemudian dibatalkan akibat adanya perlawanan keras dari masyarakat. Tentu tidak gratis, pemerintah kemudian memberlakukan pajak tinggi untuk konsumsi kopi. Meskipun demikian, keadaan berangsur-angsur pulih di Kesultanan Turki Utsmani.

Ketika kelak kopi merambah ke negeri-negeri Eropa, para penguasa juga menjadi kegerahan karena potensi-potensi subversif dikarenakan gaya hidup ngopi masyarakatnya. Para dokter di Eropa hingga mengatakan bahwa terlalu banyak minum kopi akan menghisap semua cairan di otak dan menyebabkan kelumpuhan. Para wanita di Inggris juga menghardik para lelaki yang meminum kopi karena justru itu akan membuat mereka impoten.

Konon terdapat satu cerita mengenai Paus Clement VII ketika pertama kali mencoba kopi. Yang ia rasakan sesudahnya adalah kekaguman, penasaran, dan kemudian ia menangis. Ketika ditanya mengapa ia kemudian menjawab, “Minuman setan ini sangat nikmat sehingga sayang bila hanya dinikmati oleh orang Muslim saja. Kita akan menipu para iblis dengan membaptis mereka dan menjadikan minuman ini minuman Kristen!”

Akhirul kalam

Ya, begitulah kopi. Sebuah minuman yang populer untuk khalayak ramai, namun selalu ditantang keberadaannya oleh para penguasa.

Coffee shop di Turki masa kini
Sumber: https://id.pinterest.com/khalilmfb/turkish-coffee-shop

Tapi bagaimana dengan masa kini menurut Anda? Semakin banyaknya kedai kopi tentu akan menjurus masyarakat membicarakan banyak hal mulai dari bisnis, kreatif, hingga politis dan ideologis. Selama itu sehat dan aman, bisa saja pemerintah manapun tidak perlu kuatir – terlebih kini di era demokrasi yang memberikan kepuasan “semu” bagi rakyatnya atas pejabat yang mereka pilih.

Mungkin saja akan selalu ada agen-agen pemerintah yang selalu berjaga di satu sudut seperti yang kita lihat di film-film masa Perang Dingin. Ataukah di era kapitalisme ini, rakyat sudah cukup terpuaskan dulu dengan derasnya pembangunan infrastruktur dan banyaknya tunjangan? Mari kita lihat kiprah kedai kopi dan kaitannya dengan masyarakat di era modern ini untuk selanjutnya.

Referensi:

  1. turkishcoffeeworld.com/History-of-Coffee-s/60.htm
  2. turkishstylegroundcoffee.com/turkish-style-coffee/turkish-coffee-history/
  3. npr.org/sections/thesalt/2013/04/27/179270924/dont-call-it-turkish-coffee-unless-of-course-it-is
  4. npr.org/sections/thesalt/2012/01/10/144988133/drink-coffee-off-with-your-head
  5. turkishcoffeegear.com/turkish-coffee-history/
  6. turkishcoffee.us/articles/history/ottoman-empire-era/
  7. turkishculture.org/lifestyles/lifestyle/coffeehouses-204.htm
  8. hurriyetdailynews.com/a-history-of-turkish-coffee.aspx
  9. dailyo.in/lifestyle/history-of-coffee-tea-mecca-akbar-mughals-jahangir-wine-ottomans-christians-muslims/story/1/10320.html
  10. perfectdailygrind.com/2015/09/turkish-coffee-a-story-of-mystery-war-romance-empire/

Gambar sampul: ozerlat.com


Original link: wm.ucweb.com (gastroficionado)

Advertisements

Iftar Experience 2017: Grand Hyatt, Jakarta

Sukses dengan sajian-sajian khas Ramadhan di tahun yang lalu, kali ini Grand Hyatt Jakarta mengulang kembali sukses serupa dengan mempersembahkan masakan Turki sebagai menu andalan selama bulan ini.

Selama bulan Ramadhan ini, Grand Hyatt Jakarta khusus bekerja sama dengan Hyatt Regency Istanbul Ataköy yang mengirimkan dua ahli masakan Turki terbaiknya. Kontingen Turki dipimpin oleh Chef Gokhan Alkan dan seorang chef Indonesia yaitu Irba Sabarudin.

Grand Cafe khusus menjadi ajang perhelatan menu-menu iftar terbaik dari hotel kenamaan ini. Bila ingin berkesempatan mencoba masakan khas Turki yang hanya ada selama bulan Ramadhan tahun ini, maka sekaranglah waktunya.

Terakhir berkunjung, semua lini masakan Turki tersaji dengan lengkap. Mulai dari barisan meze dan salata sejuk dan segar, pengiring yang tepat adalah roti bazlama khas Turki yang rupanya lebih empuk dibandingkan roti-roti khas Timur Tengah lainnya. Sederetan meze tersaji berupa haydari (yogurt dengan daun mint dan bawang putih), çoban salatası yang mirip dengan salad hummus fatoush berupa potongan sayuran kotak-kotak yang saya pribadi sangat gemari, serta hummus yang sudah tidak asing lagi.

Dari bagian sajian utama, tidak ada yang lebih menggoda selain dua hal. Yang pertama adalah bütün kuzu tandır & iç pilav atau kambing yang telah dibumbui dimasak perlahan selama berjam-jam dan disajikan bersama nasi pilaf. Kedua adalah bagian döner yang kali itu menyajikan daging ayam. Seperti biasa daging yang telah diiris-iris disajikan dengan sayuran dan ditangkap oleh roti pita.

Pengiring masakan utama hari itu adalah kofte (bola daging), zeytinyağlı enginar (artichoke yang dimasak dalam minyak zaitun dan sayuran), serta karnıyarık (terong dengan daging sapi dan daun mint), dan banyak lainnya.

Satu hal yang sangat khas dari Ramadhan tahun ini adalah penampilan menarik dari pastrami serta sosis sapi khas Turki yang cocok dipadukan dengan roti. Sedikit usil, tentu kali itu saya padukan saja dengan nasi pilaf dan hasilnya tetap lezat!

Terakhir iftar ditutup dengan sederetan dessert khas Turki seperti buah pir yang dicelup dengan saus gula yang khas, cookies khas Turki dengan kacang badam, dan banyak lainnya.

Tidak hanya masakan Turki, seperti biasa Grand Cafe juga menyajikan sederetan masakan internasional lainnya yang sepertinya tetap sulit dilewatkan. Namun terakhir jangan lupa tutup dengan pilihan pastry ciamik Grand Hyatt Jakarta yang termashur, homemade ice cream, serta tentunya kopi Turki!


GRAND HYATT JAKARTA | Jalan MH Thamrin no. 30, Jakarta | +62 21 2992 1234 | jakarta.grand.hyatt.com

What Chef Eats: Yusuf Yaran (The Foodie Magazine, Jan 2015)

“My family always knew that I will become a chef one day”, says Chef Yusuf Yaran and here’s the story as he savors his favorite meal in a Chinese restaurant!

Yusuf Yaran 5

Between a rank of chefs within one kitchen realm of a hotel or restaurant, there will always be someone who gets to be the bubbly chef among all. At Shangri-La Hotel Jakarta, that role belongs to this Turkish chef.

Being the hotel’s Executive Sous Chef, Yusuf has many things to be proud of. He is apparently the tenth generation of a long ancestry line of chefs from Bolu Mengen, a small town nearby Istanbul designated as the capital of chefs during the height of Ottoman Empire.

“During the Ottoman period, The Topkapi Palace in Istanbul entrusted the role of royal chefs for the best from Bolu Mengen. My family preserves that heritage and that’s why I knew that I was destined to become a chef”, says Yusuf.

Excelled in Turkish cuisine, Chef Yusuf embarked on an international spell to further hone his skills and tutored under many famous chefs in France. He then joined the Shangri-La Hotel group and enjoys the past several years in the Far East; including China, The Philippines and now Indonesia.

“My tenure with Pudong Shangri-La brought me to know this amazing creation, xiao long bao. I was simply impressed with how delicate it is and that it requires a lot of cooking skill to make it perfect. I fell in love with it since then”, reminisces the chef.

“On my recent visit to Turkey, I decided to make xiao long bao for my family dinner and instead, I used lamb for it. Everybody loved it back home!” he says while getting his chopsticks ready for his third dumpling.

—–

Chef Yusuf Yaran has just recently assigned to Shangri-La Kinabalu in Malaysia. Check out his actions there if you happen to visit the resort!

—–

Featured in THE FOODIE MAGAZINE Jan 2015 edition

Download it for free here via SCOOP!