Tag Archives: Street Food

The Escapist’s Getaway™: The Wonders of Miyajima

The ancient island of Miyajima has more to it than just its legendary stature.

Miyajima 4

Prologue

Miyajima was once untouched by warfare for around one millennium before the Sengoku period in the 16th century. Records showed that the construction of Itsukushima Shrine here dated since as far as the 6th century and completed like its current form by Taira no Kiyomori in 12th century.

It was not until the year was 1555 when the clan of Mouri, once considered only a small clan in Chugoku, challenged the usurper Sue Harukata of the powerful Ouchi Clan of northern Kyushu.

Taunted, Sue Harukata commanded his full army to engage the Mouri and they’re deliberately led to this island. Wily as a fox, Mouri Motonari as the patriarch of Mouri at that time, ambushed Harukata and decisively defeated his powerful army.

Miyajima 6

The victory elevated the Mouri to prominence in west Japan afterwards. Despite the eventual victory of the rivaling Tokugawa Clan and the end of Sengoku period, the pride stayed within the hearts of the people in the region and will eventually spark the ultimate transformation from feudalism era to Japanese hegemony in the 19th century industrial era.

With or without knowing the history behind it, Miyajima was the very source of this awakening – started with the victory of the Mouri clan and the eventual Meiji Restoration. In a peaceful era like now, the island welcomes thousands of visitors each year with its natural beauty, rich culture, and stories from the olden times.

Miyajima 5

The trip

Summarizing my one day trip to Miyajima, I can now conclude one important thing should you wish to visit the island. And that is to head there early from Hiroshima to spend the whole day here enjoying all the attractions, or even spend a night if possible.

Miyajima 1

There are many ways to head here from Hiroshima. If you feel like arriving early at Hatsukaichi to board the ferry, it’s best to start from JR Hiroshima Station by using JR Sanyo Line or if you are planning to visit the Hiroshima Peace Memorial Park first – you can use the streetcar from Genbaku Dome for cheaper but longer travel time. Alternatively, there are buses available as well heading to Hatsukaichi or you can even use the high speed boat from Hiroshima Port for JPY 1,800 and head straight to Miyajima.

The ferry trip from Hatsukaichi to Miyajima came with a very considerate price. It took only JPY 360 for a round trip, but bear in mind that the service stops at 5pm. That’s exactly the reason if you wish to spend only a day at Miyajima, then it is best to arrive early. However, if you would like to spend a night – there are more than 25 hotels available, scattering all over the island.

Miyajima 7

The short ferry trip was a memorable one as you can witness the legendary Itsukushima torii or the giant orange gateway of the shrine. Later today, visitors can witness the magnificent view of it when the rising tide came, covering some parts of the torii.

Miyajima 3

Arriving, it’s best to head straight to Miyajima-cho, the only town in the island and spend some time shopping souvenirs or having your meals. Miyajima is known for its conger eel rice bowl and oysters. I had my terrific all-about-oysters lunch set menu at Kaki-ya and spent additional dime trying Marukin Honpo’s conger eel buns. Another what to do at the town is to shop at Yamadaya for their famed momiji manju and even taking a hands-on class on how to bake these sweet delicacies.

Miyajima 10

The distance was a short one from the town to the shrine and I particularly enjoyed my autumn beach walk, funnily accompanied by these inquisitive wild deers attracted with the food I brought. Alternatively, some rickshaws are also available at your disposal, ready to take you anywhere around the island and a blanket to keep you warm.

As expected, the very view of it took my breath away. It was like a dream come true, that this beautiful cultural heritage that I had seen in many pictures since my childhood finally can be witnessed firsthand. Particularly, it reminds me of my father’s travels to Japan in the 80s and that I can finally relive his moments here. I wonder if anyone else there shared the same thoughts as well.

Miyajima 9

However, the trip is not considered complete without visiting the shrine as well. For an additional entrance fee, you can spend some time inside and seeing the priests praying and passing you by, marveling upon the architecture, seeing the torii from here, and even encountering newlyweds wearing beautiful traditional garments. It’s like a journey through time again here, realizing that it was like this back in the medieval times almost a thousand years ago which you can still experience it today.

Miyajima 2

Alas, it was almost time to leave the island already. Nevertheless, I fully maximized that fleeting moment by having a good cuppa at the island’s famous coffee shops – Miyajima Itsuki Coffee and Sarasvati, while also passing by the Five Storied Pagoda and reserving my dreams to hop aboard the ropeway to Mount Misen and enjoying Miyajima from above.

Bakmi Win, The Wonder Noodle Shop in Southern Jakarta

Jarang bisa menemui gagrak bakmi yang tidak luntur gaya Chinese sekaligus rasa lezatnya karena tanpa hadirnya MSG. Itulah Bakmi Win yang dikomandoi oleh Oom Win sendiri yang selalu tampil antusias dan bergaya sporty ini.

Hadir di kawasan yang tidak terlalu banyak memiliki warisan mie selain legenda mie dari negeri Korea di bilangan Senopati tidak jauh dari situ (pun intended), Bakmi Win juga tidak gentar menghadapi kedai soto populer yang tepat berada di depannya. Sebagai salah satu fans Bakmi Win, terkadang dalam hati saya ingin semacam berseru kepada mereka yang tengah bersantap di kedai soto itu, “Hey guys, you don’t know what you’re missing here. Come here once in a while!” Well, that’s just to show how much I like this place.

bakmi-win

Sang mie sendiri tampil kenyal dengan rasa gurih dan dilengkapi taburan ayam. Potongan daun bawang memang opsional tapi harus tentunya ditambahkan. Sebagai pendamping, biasanya saya memesan bakso kuah dan uniknya Bakmi Win menemaninya dengan potongan lobak. Sungguh segar dan selalu panas. Menyenangkan sekali.

Selain bakmi, sering juga Bakmi Win menyediakan siomay maupun nasi ayam. Tidak lupa yang wajib dipesan adalah es jeruknya yang benar-benar menggunakan satu butir jeruk besar sehingga memang rasanya fulfilling banget. Tapi itulah Oom Win, sepertinya memang beliau senang memberikan yang terbaik untuk pelanggannya.


BAKMI WIN
Halal-friendly
Unsuitable for vegetarians

Address: Jalan Tulodong Atas no. 16, Jakarta – Indonesia

Opening hours: Daily, breakfast – late lunch time


Warung Sekar Taji, Rasa Rindu Masakan Rumah Yang Selalu Terobati

Tumbuh besar dengan makanan rumahan Indonesia tentu akan menjadikan siapapun merindu akan kehadirannya, terutama bagi mereka yang merantau.

Dari kaki lima hingga bintang lima, kini begitu mudah menemukan masakan rumahan yang biasa kita kenal selama bertahun-tahun. Sebetulnya mudah untuk melampiaskan rindu ini, yaitu dengan mendatangi warteg terdekat atau memesan nasi goreng di gerobak abang-abang depan rumah dan terpenuhilah rasa kangen itu.

Nah, yang jarang adalah menemukan yang paling unggul di antaranya.

Sering terjadi misalnya di restoran kita menjumpai masakan rumah yang terlampau mahal, pretentious, serta meski sedemikian lezatnya – sulit untuk memenuhi ruang-ruang sepi yang kita ingin isi kini setelah tinggal begitu jauh dari rumah. Adapun di warung-warung kesayangan di dekat rumah, terkadang kualitas maupun faktor higienis acapkali naik turun atau tidak berimbang – terlepas dari harganya yang terjangkau.

Maka menemukan satu warung berbentuk paviliun rumahan yang bersih, rapi, dan ber-AC seperti Warung Sekar Taji di bilangan Panglima Polim ini adalah satu mukjizat tersendiri dalam pengalaman berkuliner saya.

Warung Sekar Taji yang berspesialisasi masakan Jawa Timur ini sepertinya terbilang underrated namun begitu lekat di hati para penikmatnya dan itu kebanyakan datang dari perkantoran di sekitarnya. Jangan mengira dengan datang pagi Anda dapat dengan cepat mendapatkan yang diinginkan, yang ada justru Anda bersaing dengan puluhan atau kadang ratusan nasi kotak yang tengah dipersiapkan untuk makan siang hari ini – entah dari kepolisian setempat maupun kantor-kantor BUMN dan swasta di daerah Jakarta Selatan ini.

Terlalu terlambat menuju makan siang, tentu Anda akan bersaing dengan pendatang manusia sungguhan dan lebih dari itu, bisa jadi Warung Sekar Taji telah tutup. Maka pengalaman membuktikan bahwa kedatangan paling tepat adalah di kala brunch time alias setelah makan pagi dan sebelum makan siang.

Apa yang dipesan selalu menjadi jaminan mutu. Saya pribadi masih berkutat di dua pesanan favorit saya – Nasi Rames Bogana dan Sayur Lodeh. Ya betul, hanya sesimpel ini namun apa yang hadir jauh melebih ekspektasi siapapun.

Warung Sekar Taji 1

Nasi rames milik Sekar Taji ini sungguh istimewa dan penuh dengan citarasa. Tidak hanya datang dari ayam suwir, daging, tempe orek, maupun sambal itu sendiri tapi semua begitu harmonis dan memiliki pendalaman rasa yang sulit ditandingi restoran manapun.

Itupun terjadi pada sayur lodeh yang saya pesan. Tampil sederhana dan selalu straightforward, makanan yang dibanderol sekitar IDR 14,000 ini memiliki kuah santan yang kental, kaya, sekaligus sedikit pedas – cukup untuk membuat lidah dan hati ini berpetualang seru bersama.

Namun tidak hanya itu, Warung Sekar Taji masih memiliki banyak pilihan lain untuk kita semua turut bertualang di dalamnya. Sungguh sayang bila saya pribadi saja terhenti di dua masakan unggul ini. Tahu telurnya saja terang-terang membuat isteri saya kepincut padahal biasanya tidak pernah ia seperti itu. Kejadian ini memang bukan yang pertama untuknya, namun tentu kita semua pernah mengalami bahwa dari pengalaman berharga menikmati sesuatu yang berkualitas, maka runtuhlah segala pengalaman kurang menyenangkan akibat dahulunya pernah mencoba yang berbeda kualitas di tempat lain.

Maka dengan demikian, Warung Sekar Taji telah menorehkan semacam luka rindu yang akan saya biarkan menganga untuk selamanya. Meski terletak cukup jauh dari tempat tinggal, biarkanlah sesekali abang ojek layan antar membawakannya untuk kami di sini namun bila memungkinkan, perjalanan jauh itu akan selalu kami jabani demi memenuhi keinginan itu dan menghargai hasil kerja keras para pemilik warung ini.


WARUNG SEKAR TAJI
Halal-friendly
Some menu are suitable for vegetarians

Address: Jalan Panglima Polim V no. 60, Jakarta – Indonesia

Opening hours: Daily except Sunday, breakfast until late lunch time


Street Food: Rujak Shanghai Encim

Tak akan habis warga Jakarta membicarakan berbagai keseruan berkuliner di daerah Glodok, namun bisa dibilang memang menemukan perkara menemukan yang yakin halal di sini tidaklah mudah.

Nah, sebagai salah satu pilihan yang bisa dibilang memenuhi kriteria tersebut adalah Rujak Shanghai Encim. Berikut adalah keunikan dari jenis rujak yang satu ini.

Rujak Shanghai Encim 1

Memasuki wilayah Pancoran, kamu pasti akan dihadapkan dua pilihan antara memasuki daerah Pasar Petak Sembilan di sebelah kiri atau Gang Gloria di sebelah kanan. Rujak Shanghai Encim justru terletak di dalam sebuah pujasera tidak jauh dari gang legendaris tersebut.

Di sini, satu meja khusus Rujak Shanghai milik Encim Ahung siap untuk melayani pengunjungnya. Rujak Shanghai ini bukan berarti berasal dari Negeri Tiongkok namun konon dahulunya pada tahun 1950, ibunda Encim Ahung pertama berjualan di depan Bioskop Shanghai yang kini tinggal menjadi kenangan.

Rujak Shanghai Encim 2

Keunikan rujak ini tiada lain adalah karena bahan-bahannya. Yang paling utama adalah juhi serta ubur-ubur yang direbus sejenak dan dipotong-potong. Lalu kemudian turut mengiringi adalah kangkung serta lobak. Sausnya sendiri adalah saus tomat homemade yang kental dan disiramkan di atasnya serta diberi bubuhan koya untuk sensasi renyah. Kalau ingin rasa pedas, Encim Ahung sudah mempersiapkan sambal di atas meja.

Memang ada sensasi tersendiri dari rasa rujak ini. Tidak hanya menggunakan bahan yang tidak lazim, namun rujak ini begitu otentik dan sulit dibandingkan dengan rujak mainstream pada umumnya. Racikan milik keluarga Encim Ahung ini konon pernah hendak dibeli ataupun diduplikasi para pesaingnya, namun soal keaslian tentu tidak ada yang bisa mengingkari.

Jadi pastikan berkunjung ke kedai sederhana yang satu ini, pastinya akan disambut ramah oleh Encim Ahung dan asistennya serta dukungan kita semua akan selalu melestarikan bisnis otentik yang telah dibangun selama 66 tahun ini. Selamat mencoba!


RUJAK SHANGHAI ENCIM

Halal-friendly
Suitable for vegetarians

Address:
Jalan Pancoran, Glodok, Jakarta – Indonesia (di dalam pujasera sebelum Gang Gloria)

Opening hours: Daily, 8am – 8pm


Street Food: Soto Goreng Ateng

Ada saja momen-momen di kala kita mengernyitkan dahi ketika mendengar nama masakan yang familiar namun tidak familiar. Sebut saja contohnya adalah soto goreng dan rupanya ada satu yang cukup beken di sekitaran Palmerah, Jakarta.

Adalah Soto Goreng Ateng yang kedainya terletak di dalam Pasar Palmerah, tidak jauh dari Ramayana yang menempati porsian terbesar pasar ini. Layaknya pasar bertingkat di berbagai penjuru ibukota lainnya, terdapat satu penjuru khusus dimana penjual makanan bisa ditemukan.

Soto Goreng Ateng 2

Tanpa tedeng aling-aling, langsung saja kami memesan soto goreng yang jujur, mungkin tidak banyak yang mengetahui namun terkenal di kalangan penikmatnya. Soto Goreng Ateng tidak hanya menyediakan soto goreng, namun juga berbagai jenis soto-soto lainnya.

Ketika memesan pertanyaan yang diajukan adalah seputar kuahnya. Mereka menyediakan kuah soto bening dan kuah soto santan. Tentunya ini adalah kuah-kuah yang mereka gunakan untuk soto jenis lainnya, sehingga perbedaannya terlihat ketika tersaji.

Soto Goreng Ateng 1

Tidak lama soto-pun tersaji. Kuah santan yang saya pesan mengiringi satu porsian nasi yang ditumpangi potongan daging, kentang, serta emping. Ternyata inilah keunikannya. Daging sapi ini mungkin terbuat dari bagian kisi dan memiliki lemak, lalu kemudian dipotong dadu dan “digoreng” dengan minyak serta kecap. Rasanya yang manis-manis gurih sebetulnya memungkinkan sekali untuk disantap nikmat dengan nasi saja. Adanya kuah menjadikannya memiliki sebutan soto goreng.

Selalu saja menarik untuk menemukan hal-hal baru ketika berkunjung ke pasar. Misalnya saja berbagai makanan kaki lima di Pasar Tebat, nasi tim di Pasar Pagi, dan banyak lainnya. Kini di Pasar Palmerah ada satu pilihan yang menyenangkan.

Nah makanya, main ke pasar yuk!


SOTO GORENG ATENG
Halal-friendly
Unsuitable for vegetarians

Address:
Pasar Palmerah, lantai 2, Jalan Palmerah Barat, Jakarta – Indonesia

Jam buka: post-breakfast & lunchtime (TBC)