Tag Archives: Spanish

Quikskoop™: Tapas Movida (CLOSED)

Not until the past two or three years, the trend of enjoying tapas finally caught the Jakartan foodies. What makes it interesting is definitely because of its rich variety that combines meat, vegetables, seafood, bread, and sauces.

Although Tapas is originally consumed in-between heavy meals, or particularly in the evening – thanks to the late dinner time in Spain which starts at 9 pm, but all I see in myself during my visit to Tapas Movida was a sheer lust to choose everything from the menu and it’s already lunch time by the way!

So, no fuss and just thrills. I decided to order four types of tapas, two from the pinchos (small portioned and usually served ‘stabbed’ with tooth picks), one from montaditos (‘mounted’ upon toast), and one from raciones (a rather big portioned tapas). After these babies, I also ordered the paella only with vegetables and enjoyed the good old churros with chocolate sauce. Classic!

Brocheta de Gambas y Pina
Brocheta de Gambas y Pina

The pinchos consists of interesting combinations such as chorizo and quail egg, mini hamburger, chicken brochette and Moorish spices, and many more. What I had that day was the grilled prawns and pineapples made like satay and tasted sweet yet savory. The hint of sweetness from the sauce, the juicy prawns, thus combined with the freshness of the pineapples was just impeccable. Try to have both of these beauties at the same time!

Another one from pinchos was smoked salmon with cream cheese filling and served upon a toast. The taste of the cream cheese reminded me of tartar sauce and it teamed up well with the smoked salmon. I’d have that anytime of the day!

Ternera con Cebolla Caramelizada y Queso Azul & Tostada de Salmon Ahumado
Ternera con Cebolla Caramelizada y Queso Azul & Tostada de Salmon Ahumado

From the montaditos, me and my wife enjoyed the caramelized onions served upon a toast and the aged blue cheese, but the main star did not compete well with the rest of the cast. The tenderloin was served rather generously but it was a bit tough and uninspiring in the end.

Albondigas con Salsa de Tomato Picante
Albondigas con Salsa de Tomato Picante

Luckily, the albondigas (meatballs) from the raciones section gave the boost back. Four albondigas were bathed inside a spicy tomato sauce which became the perfect dipping sauce for the toast. Perfecto!

By the way, aside from the paella, Tapas Movida also serves its substitute or known as fideua – made from pasta instead of arborio riceThe proteins available are exactly the same – chicken & seafood, seafood only, or chicken & chorizo. My vegetarian paella appeared impressively colorful thanks to the asparagus and capsicums. It was also decently flavored and came in sharing portion. However at the end of the day, I am not a vegan after all. So, I’d be sure to try the rest of the combination next time, especially the one with chorizo – if it’s made not from pork like from El Asador.

Tapas Movida - Outdoor

Again, it’s better to visit places like this during night-time. Of course, it’s still quiet during lunch time and you can enjoy your meals easily, however the atmosphere was rather uninspiring and I did not feel neither at home nor at a good restaurant. Tapas Movida should consider giving a warm welcome through music since the hour it opens and more lights coming from the bar. It was all too gloomy around the stage there. On the bright side though, I admired its Gaudi-inspired outdoor seats although it was way too hot to sit there during lunch time. Perhaps next time!

—–

TAPAS MOVIDA

Halal-friendly (some menu contains pork and alcohol)

Some menu are suitable for vegetarians

Address:
Jalan Cipete Raya no.  66, Jakarta – Indonesia

Opening hours:
Everyday,
11 am – 10 pm (weekday), 11 am – 11 pm (weekend)

RSVP: +62.21.751.0851

Website: http://www.tapasmovida.co.id/

Facebook: Tapas Movida Jakarta

Twitter: @TapasMovida

Spend: IDR 75,000 – IDR 150,000 / person

Foodie Trailer: El Bulli – Cooking in Progress (2011)

http://www.youtube.com/watch?v=m3MV5rvCm_Y

Quite recently I got myself a complete video about an insider look on how Ferran Adria ran his El Bulli kitchen with intensity and creativity never seen anywhere else during the restaurant’s heyday back a few years ago. Well, time has not permitted me yet to finish watching this documentary. Do share your thoughts if you have watched this before. 🙂

Restaurant Review: Churreria (HOJ, March 2011)

Churreria datang membonceng ketika invasi budaya makanan Barat mulai mendominasi konstelasi kuliner di Jakarta. Setelah semua pengaruh Perancis dan Amerika dengan semua pancake, burger, strudel, waffle, galette, crepesdan fro-yoitu, Spanyol tidak mau ketinggalan dan sekarang diwakili oleh Churreria yang bertempat di sebuah sudut sepi Grand Indonesia Shopping Mall.

Mudah untuk menerka apa yang mereka tawarkan. Betul! Mereka melahirkan kembali churrosyang sudah sempat dikenal sebelumnya dan mereka tiba di Jakarta dengan penampilan yang sederhana dan bersahaja.

Churrosatau dikenal juga sebagai Donat Spanyol sebetulnya adalah adonan tepung yang digoreng seperti yang lebih dikenal orang Indonesia menyerupai Cakweyang berasal dari warisan budaya Tiongkok. Cakwebiasanya diiris kecil-kecil dan ditaburkan di atas bubur ayam atau dikonsumsi langsung dengan saus asam pedas. Namun tidak dengan churros, versi cakweyang satu ini dibuat dengan menggunakan semacam alat dengan sebuah selan. Churros dibentuk seperti bintang dan berukuran panjang, menyerupai bintang jatuh karena langsung masuk ke penggorengan di bawahnya.

Biasanya, churrosditemani dengan saus cocolan yang dibuat dari cokelat dan begitulah yang terjadi di Churreria! Pilih saus cokelat kesukaan anda dimulai dari dark chocolateyang agak pahit atau mungkin anda lebih memilih milk chocolateyang lezat dan lembut atau white chocolateyang terlihat cantik dan manis? Semuanya bisa dipesan pada saat bersamaan namun pastikan untuk memesan juga dulce de lechealias karamel kental yang manis dan menggoda sebagai saus pendamping cokelat yang lain.

Churros sendiri bisa dipesan untuk dibuat polos, disemai oleh gula bubuk, atau ditaburi kayu manis. Masing-masing memiliki chemistrysendiri dengan saus cocolan cokelat atau karamelnya. Sebagai contoh, saya lebih memilih untuk memasangkan churroskayu manis dengan saus karamel, churrosgula bubuk dengan saus milk chocolate, tapi juga jangan ragu untuk mencelupkan churroske semua saus tersebut! Meski mungkin bakal diprotes lantaran sausnya ternodai dengan yang lainnya tapi sungguh sayang apabila semua kebaikan cokelat tersebut anda abaikan begitu saja! Be adventurous there!

Yang disayangkan adalah churrosyang saya harapkan adalah tidak seperti yang dilihat di negara-negara asalnya yaitu berukuran lebih besar, lebih berbobot, dan secara harafiah memang disiram oleh cokelat, tidak hanya sekadar dicelup! Dimana semua itu menjadikan churrossebagai pilihan untuk makan pagi yang mengenyangkan. Namun tidak di Churreria, churrosdi sini terasa seperti dikekang (mungkin karena harga sewa Grand Indonesia yang selangit) sehingga berukuran lebih kecil. Meskipun demikian, kualitasnya cukup baik dimana renyahnya terasa di bagian kulitnya namun terasa lembut seperti roti di dalam. Benar-benar pasangan cokelat yang sempurna!

Kekecewaan lain juga datang dari servis yang saya alami dari seorang traineeyang seolah-olah tahu semua yang mesti dilakukan pada seorang pengunjung. Beruntung saya langsung meminta untuk dilayani dengan yang lebih profesional dan kualitas servis pun beralih menjadi jauh lebih baik.

Jangan lupa untuk menemani kudapan churrosanda dengan pilihan berbagai minuman cokelat. Saya memesan secangkir besar cokelat panas yang dicampur dengan single shot espresso yang disebut Mayan Mocha. Churreria mengklaim intensitas 65% cokelat dengan lapisan couverturedalam minuman-minuman cokelat mereka tapi tenang saja apabila anda merasa terlalu ‘penuh’, pilihan mocktaildi Churreria cukup banyak dan yang tampil luar biasa adalah Lychee Blizzard. Sebuah moctail dengan paduan brilian antara rasa manis dari buah leci dicampur dengan kesegaran daun mint. Hasilnya adalah tentu saja perasaan seperti muda kembali, ceria dan segar meski telah melewati sehari penuh rutinitas yang melelahkan.

Akhirnya, Churreria memang tidak menyuguhkan sesuatu yang teramat baru tapi harus diakui bahwa khazanah dunia makanan di Jakarta menjadi lebih kaya, dimana Jakarta memang sudah menjadi tempat berbaur dan menjadi hilir dari berbagai kultur lokal maupun internasional. Kultur Spanyol ini memang datang begitu saja tanpa gembar gembor ataupun kemeriahan berlebih, apalagi iklim di Jakarta yang begitu didominasi oleh kultur Amerika. Tapi tidak pernah ada kata terlambat untuk makanan. Orang akan tetap mendatangi dengan antusiasme tinggi ke tempat-tempat baru namun apakah Churreria dapat mempertahankan trend churrosdan cokelat ini? We shall see.

Rating: 3/5

Grand Indonesia West Mall, UG #03A
Jl. M.H. Thamrin No. 1, Jakarta
Tel: 021 – 23581805

-Featured in HANG OUT JAKARTA March 2011 edition- (photo changed)