Tag Archives: Korean

Quikskoop™: 4 Fingers Crispy Chicken – Indonesia

4 Fingers - Dining Room 1

Four Singaporeans embarked on an epicurean journey around the globe to enjoy good foods and also in search for culinary inspirations. Their wishes came true when they scoured New York and they saw how people in the Big Apple couldn’t get enough of this newly found variant of fried chicken that came from Korea, instead of the traditionally known American-style fried chicken. In awe with how it tastes, the quartet return back home and introduced the trend for us here in Southeast Asia.

Korean-style fried chicken is probably represented strongly by 4 Fingers’ real competitor here in Indonesia by BonChon with its numerous outlets. Instead of introducing itself as a family restaurant, 4 Fingers appeared more like an underground movement thanks to its distinctive appearance, and that’s probably why people don’t really take it too seriously here. Inspired by urban New Yorker style, 4 Fingers appears more like a hip hop community who likes hanging out with their hoodies, riding skateboards, and playing around with authorities with their graffiti arts. Need not be afraid of that and dive in to see what they have inside with their version of fried chicken.

Burger & Fries
Burger & Fries

Fried chicken in Korea is probably like when you find gorengan (fritters) in Indonesia. It’s for anyone, anytime, and anywhere, especially as a bar food. The real difference lies with the frying technique and the skin appearance of the fried chicken. Firstly, they don’t marinade the chicken, they fried the chicken twice thus rendering it from the fat and making the skin thinner but still maintain its crispiness. Afterwards they rub the chicken with either soy garlic sauce or the piquant sauce that tastes so good. To make it even healthier, Koreans usually fry it fresh and they don’t use any heat lamps at all. It’s indeed a radical movement that even the Western people cannot help but to love it.

Calamari & Rice
Calamari & Rice

4 Fingers’ version slightly differ from BonChon as they use chicken of larger size (unlike BonChon who standardized it heavily to keep it on medium size) and it has a thicker skin, more like the Western version but only slightly. The sauce was immaculate and you have to try combining the chicken with the sauced rice, which I think it’s like a version of teriyaki but more spices in it. Additionally their calamari also tasted impressive although unfortunately they ran out shrimps that day which actually the official camaraderie of the squids. By the way, later I found out that this is a problem also in other outlet either in Singapore or The Philippines.

The only major downside was the service. I arrived around 2 pm that day but they didn’t seem to prepare themselves at all. There’s only one cashier available and she wasn’t briefed about the IDR 15,000/3 chicken wings promotion. Additionally, our iced mint tea was not get any sweetening at all and then later we were given sachets of sugar for it instead of simple syrup by an unfriendly staff. I think my previous two visits were tainted by slow service as well.

But you know what they say, ‘As long as the food is good, we don’t mind’. Usually this doesn’t work for me but the food was really good that day and they nailed it against BonChon big time! Although the price may be steeper than BonChon, I think it’s still worth the visit once in a while. Your turn now.

—–

4 FINGERS CRISPY CHICKEN
Halal-friendly
Not suitable for vegetarians

 

Address (Indonesia):
Sun Plaza, Jalan H. Zainul Arifin no. 7, Medan – Indonesia

Opening hours: Daily, mall opening hours

—–

Advertisements

Restaurant Review: Gahyo (Kabare, May 2012)

Dolsot Bibimbab

Sajian Otentik Negeri Ginseng

http://kabaremagazine.com/2012/05/gahyo-sajian-otentik-negeri-ginseng/

Layaknya tren K-Pop atau Korean Pop yang tengah digandrungi kawula muda ternyata restoranpun tidak luput menjadi sasaran wisata kuliner mutakhir masyarakat Jakarta. Meskipun makanan Korea sudah lama dikenal di kota ini tapi ternyata masih saja banyak yang bisa dipelajari selain tentunya dinikmati. Pengalaman saya di Gahyo adalah salah satunya.

Gahyo adalah restoran yang dirintis sejak 2005 lalu dan kini telah menorehkan tradisi sebagai salah satu restoran Korea yang paling diincar oleh kalangan ekspatriat Korea maupun Jepang. Meskipun konsep awalnya terbilang simpel dengan hanya mengadaptasi resep keluarga, justru otentisitasnya menjadi ciri khas serta kelebihan dari Gahyo.

Menggunakan kata Gahyo yang berarti ‘lezat’ tentu bukan tanpa alasan, apalagi memang karena kebanyakan restoran Korea mengutamakan kualitas dan ini tidak didapat dengan harga murah meriah. Terkenal dengan hidangan barbecue-nya, masakan Korea biasanya menggunakan daging sapi terbaik dan untuk ini Gahyo mengimpornya dari Amerika Serikat serta Australia. Selain itu bumbu-bumbu khas juga hanya didapat dari Korea Selatan dan sisanya merupakan bahan makanan lokal yang dijamin kesegarannya.

Petualangan yang penuh warna

Masakan Minang terkenal dengan berbagai kekayaan jenis masakannya serta disajikan sekaligus di setiap restorannya dan begitu pula ceritanya dengan masakan Korea. Berbagai menu pembuka yang lazim disebut banchan tersaji di piring kecil dan terlihat jelas warna warni yang menggugah selera. Sebagai contoh yang paling terkenal dari Korea tiada lain adalah kimchi dan di Gahyo ini bisa jadi merupakan yang terbaik yang pernah saya rasakan. Contoh lain dari banchan adalah seperti pajeon (panekuk telur dengan bawang), bokkeum (tumis gurita cilik dengan sayuran), namul (sayur mayur yang diolah dalam berbagai teknik), dan masih banyak lagi.

Wooseol

Yang patut dicatat adalah agar jangan sampai terlena dengan mencicipi semua banchan ini karena apa yang anda pesan untuk hidangan utama biasanya berukuran besar dan cocok untuk makan tengah bersama keluarga dan teman-teman.

Sebagai contoh adalah Jabchae yang sebetulnya terlihat familiar di mata kita karena terdiri dari tumisan bihun tebal yang transparan dengan potongan daging sapi dan sayuran. Rasanyapun gurih manis persis seperti yang biasa kita temukan di restoran ala Tiongkok. Jabchae dengan cepat menjadi pilihan cocok bagi penikmat makanan yang tidak terlalu adventurous.

Selain itu pilihan ‘aman’ lainnya adalah Haemul Pajeon atau semacam panekuk telur yang terlihat seperti omeletyang berisi cumi serta berbagai sayuran. Lazimnya diberi saus cocolan berupa kecap asin yang menjadikannya terasa lebih gurih.

Sundubu Chigae

Untuk makanan berkuah, Gahyo menyajikan beberapa pilihan seperti Sundubu Chigae yaitu sup yang sedikit pedas tanpa rasa asam meskipun rupanya mirip sekali dengan kuah tom yam. Sup ini berisi kerang kipas serta tahu yang mirip sekali dengan rasanya bila dipepes dan kesemuanya dicampur dengan kuning telur. Namun yang lebih mumpuni adalah Yukkejang yaitusup berisi berbagai sayur, akar teratai, jamur, dan bihun dengan kuah yang lebih pedas dan gurih.

Meskipun demikian harus dipahami bahwa citarasa kuah pada masakan Korea terbilang lebih tawar dan tidak segurih kuah pada sop, soto atau kari di masakan Indonesia pada umumnya. Bahkan kuah ramen Jepang saja bisa dibilang sangat gurih untuk ukuran masakan dari Asia Timur.

Teuk Seng Galbi

Terakhir yang tidak boleh dikesampingkan adalah Dolsot Bibimbab yang sangat terkenal. Sebuah hidangan kaya bahan dan kaya rasa terdiri dari berbagai sayuran, telur, dan nasi serta dimasak dalam sebuah hot pot sehingga menjadikan masakan ini serupa dengan nasi liwet dengan kekhasan berbeda. Ada rasa gurih, rasa pedas, lembut, berisi dan menyenangkan untuk disantap.

Korean BBQ, sang jurus pamungkas

Kedatangan ke restoran Korea tentunya tidak lengkap bila melewatkan barbecue-nya yang terkenal. Tersajilah berbagai potongan daging sapi dari berbagai bagian yang juicy seperti iga dan lidah untuk selanjutnya dipanggang dan disajikan dengan berbagai saus serta teknik menyantap yang unik. Jangan kuatir untuk berasap-asap ria dan memasak sendiri karena biasanya di restoran Korea para waitress akan sangat sigap memanggang serta menyajikannya untuk kita dengan cepat. Selain itu setiap meja makan memang didesain agar asap tidak menyebar kemana-mana, ditandai dengan corong exhaust yang bentuknya tidak lazim.

Yangnyeum Galbi

Beberapa daging ada yang telah dimarinasi dengan bumbu dan setelah dipanggang dapat dinikmati beserta adonan garam serta merica. Terlebih lagi bila ingin merasakan keotentikan cara menyantapnya maka satu piring kecil berisi daun wijen tersedia untuk membungkus daging tersebut beserta berbagai potongan sayuran dan cabe agar dapat dinikmati sekaligus semakin kaya rasanya dan seolah membedakan dengan yakiniku ala Hanamasa atau restoran sejenisnya.

Sebagai penutup manis dari petualangan kali ini, Gahyo menyediakan racikan minuman jahe, ginseng, dan kurma Korea yang menghasilkan rasa hangat pedas yang menenangkan. Kreasi dessert lainnya berupa pudding kopi, mangga, dan kelapa atau buah-buahan juga bisa menjadi pilihan penutup yang menyejukkan. Rasanya cukup untuk tidak berpesiar jauh hingga ke ranah Korea hanya dengan menikmati otentiknya hidangan ini di Jakarta.

Apakah ini berarti petualangan Korea kita berakhir di sini saja? Tentu tidak, karena Jakarta menyimpan begitu banyak rahasia dan ini berarti masih banyak cerita baru serta pengalaman seru kuliner lainnya. Bahkan Gahyo sendiripun masih menyimpan banyak hidangan menarik yang tentunya layak untuk mendapat kunjungan kedua bahkan seterusnya.

———-

GAHYO

Halal-friendly (terdapat beberapa menu non-halal)
Suitable for vegetarian

Address:

  1. Galeria SCBD, Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53 Lot 6 – (021) 5289 7044
  2. Sport Mall Kelapa Gading, Blok A 26-27 – (021) 4587 6626

Opening Hours: Everyday, 11 am – 11 pm

Pricing: Around IDR 300,000 – 500,000 for two.

———-

Featured in KABARE (May 2012)

Pictures courtesy of Gahyo

FCK™: BonChon

Tidak lazim memang menemukan sebuah franchise makanan cepat saji yang berasal dari Korea Selatan di Jakarta ini. Ketika saya mengira-ngira bahwa makanannya tentu tidak jauh dari bulgogi atau Korean barbeque tapi justru yang dibawa adalah ayam goreng!

Kesan modern dengan panel-panel kayu berwarna terang dan ringan, berbagai meja panjang yang bisa menjadi tempat makan bersama-sama with strangers, dan berbagai furniture tidak lazim menjadi simbol baru tentang bagaimana mendesain sebuah restoran fast food. Cukup segar dan unik mengingat banyak restoran cepat saji masih merancang dirinya dengan pakem khas jaman dahulu dan diperbaharui dengan perubahan minor saja.

Dari segi makanan, ternyata BonChon menganut sistem yang sama sekali berbeda dengan ayam goreng Amerika Serikat pada umumnya. Para pembeli diharuskan menunggu beberapa saat agar ayam memang fresh baru digoreng pada saat disajikan. Ini terkait dengan teknik memasak mereka yang menghilangkan lemak menjadikan kulit ayam renyah tapi menjadi tipis.

BonChon memakai bumbu khas Korea yang memadukan soy sauce dengan bawang putih yang menjadikan rasa kulitnya agak manis. Dengan penggorengan langsung saji BonChon tidak menyimpan ayam dalam rak pemanas yang menjadikan ayamnya kering sehingga hal ini mempertahankan bagian dalam ayam tetap segar dan moist.

Konsep penyajiannyapun berbeda. Meskipun tetap menyediakan paket ayam, nasi beserta minuman, originally BonChon mengusung konsep mengkonsumsi ayam lebih terbilang sebagai kudapan sendiri atau beramai-ramai dengan keluarga. Pembeli dapat memilih antara sayap, paha atas, paha bawah atau strips (ayam tanpa tulang) dalam paketan berisi beberapa potong dan kelipatannya. Alternatifnya bisa dipilih juga ikan dory dengan rasa yang sama dengan ayam gorengnya dan tentunya, bulgogi with rice.

Sebetulnya secara keseluruhan BonChon cukup mengundang rasa penasaran saya. Terutama dari rasa ayamnya pun cukup menggiurkan karena citarasanya yang berbeda. Tapi arguably masih belum cukup untuk bisa merubah mindset orang-orang yang telah lama terbiasa dengan citarasa ayam goreng khas Amerika.

Ikan dory sebagai alternatif juga sebetulnya memilki rasa menjanjikan namun pendampingnya yaitu kentang goreng terasa kurang bumbu. Mungkin saja untuk alasan kesehatan atau memang didasari dari resep tradisionalnya dimana BonChon tidak terlalu membumbui layaknya selera Indonesia. Kalau memang mau sesuai selera selalu ada nasi sebagai penggantinya.

Persaingan tentu tidak akan mudah mengingat fast food lain telah bertahan selama puluhan tahun dan telah menanamkan faham yang sudah mendalam di benak  banyak orang. Tapi persaingan yang tidak mungkin dipungkiri adalah fakta bahwa siapapun franchise dari luar negeri harus sadar bahwa ayam goreng khas Indonesia yang memiliki rasa gurih ayam yang telah dibumbui dan sambal kecap tetap menjadi primadona baik yang di jalanan maupun restoran lokal di seluruh negeri.

—–

BONCHON

Halal-friendly
Unsuitable for vegetarians

Address: Various locations in Jakarta and Surabaya
Opening Hours: Mall opening hours
Delivery: +62.21.5000.51
Website: http://bonchonindonesia.com
Facebook: BonChon Indonesia
Twitter: @BonCHon_ID
Spend: Around IDR 50,000 – IDR 100,000 for two

—–

Pictures courtesy of Bon Chon Indonesia

Restaurant Review: Piscator (Time Out Jakarta, January 2011)

Piscator is the latest addition of all-you-can-eateries in Jakarta resided in the all-new but still quiet Epicentrum Walk. While others promoting the usual yakiniku and shabu shabu, Piscator introduces the seafood genre.

Anyway, exactly like the theme, you’ll get a feeling like you’re on aboard a ship because everything seemed to be related with the sea. So just hop in and you’ll see ship models everywhere, sands, circle windows, enormously long buffet table with the sails, and some waiters even arrayed in sailor clothes. Despite the Western name that has something to do with fisherman/fishery, Piscator owes much to the nationality of its head chef. The dishes are mostly touched with Korean influence and thanks also for plenty of Korean expats patrons. However, to make it more universal, Piscator also adds Japanese theme and seafood grills in it.

For instance, pick the sushi and sashimi first just to get the feel about the food. Not too many variants but I bet you’d already acquainted with tuna and salmon. As additions, pick the tako sashimi, unagi sushi, salmon sushi or just one of those sushi rolls with kyuri, crab sticks, and the other one covered with mango plus the usual California roll. All was good and would bolster anybody’s appetite for the next dish. The Japanese theme doesn’t end there as you can also pick Oden and Tempura.

Aside from the sushi and sashimi for the opener, Piscator also have plenty selections of appetizers. The raw oysters were fresh and solid, though a bit small in size and missing the watery good of it though you can add lemons for a more fresh sensation. The fried prawns with mayo proved to be very delectable with all the crispy and sweet exterior sauced with the thick mayo. The steamed shrimps were ripe for plunder and so were the crab salad with the snail salad. Even so the seafood gratin which consists of scallops and mussels, however inviting, were not that special. They were lacking in characters of the cheese, the dressing, and most of all, the taste of the original scallops and mussels themselves. However, it can be quickly mended by plenty other selections such as the traditional kimchi salads in many variants up to the soup and noodles with fish balls, mushrooms, and vegetables.

The best part would be the displayed seafood in front of the grill and teppanyaki sections. Simply pick anything and as much as you want. Starting from marinated squids, Bulgogi, Galbi, shellfishes, bamboo clams, pomfret, prawns, dory fish, gindara, salmon, and USA beef. Just hand them over and wait for the cooking process. The wait’s worth it actually. After the grilled seafood or Korean beef came, simply dip it in sauces of your choice. I’d recommend the traditional Indonesian spicy and sweet soy sauce or the Japanese yakiniku sauce and you’ll be sure to hit the same portion again at least twice.

Despite the attempts to make the all-you-can-eat experience colorful, the main dishes on the buffet seemed to be largely neglected. People would go over the seafood grills, the teppanyaki, or just simply the inviting appetizers and sushi section. Nonetheless, Piscator successfully generates plenty of choice, serves fresh seafood, helpful service, and a valuable all-you-can-eat experience aside from the quite hefty sum we need to pay. So tag your friends along, celebrate the night, avoid too much drinks so you can save enough space for your tummy, ravish the goodness Piscator has to offer, and end the fiesta with scoops of good old ice cream.

Epicentrum Walk, GF. Komplek Rasuna Epicentrum. Jl. H.R. Rasuna Said, Jakarta 12960 – Indonesia

RSVP: 021 – 56 100 100

Rating: 3/5

Price Range: Around Rp. 300,000 – 350,000 for two

Featured in Time Out Jakarta January 2011 edition (pictures modified and added)-