Tag Archives: Kabare

Restaurant Review: Downtown Bistro (Kabare, July 2012) [CLOSED]

Kiprah Penuh Kreasi ala Downtown Bistro

http://kabaremagazine.com/2012/07/kiprah-penuh-kreasi-ala-downtown-bistro/

Bagaimanakah bila beberapa mahasiswa kreatif dan passionate bersama-sama mewujudkan impian dari pengalaman kuliah di mancanegara? Hasilnya, sebuah restoran baru dengan nama Downtown Bistro yang digarap berdasarkan idealisme dari keempat pemiliknya serta tercermin jelas dari penampilannya yang klasik dan makanan yang lezat.

Meskipun menempati sebuah gedung perkantoran lama, namun tidak dapat disangkal nilai strategis letak Downtown Bistro ini bagaikan ladang emas. Bayangkan saja penempatan brilian Landmark Building, tempat dimana bistro ini berada, begitu dekat dengan dua jalan utama yaitu Sudirman dan Kuningan serta ditopang oleh beberapa jalur arteri, jalur Transjakarta, serta stasiun KRL Sudirman.

Dengan berbekal pengalaman kuliah di Amerika Serikat, Monico Lim dan kawan-kawan membangun sebuah restoran yang tidak hanya menekankan rasa makanan atau minuman saja namun juga menerjemahkan kultur Amerika dan menyampaikannya secara utuh dan indah. Terlihat jelas pada kedatangan saya malam itu bahwa Downtown Bistro tidak didesain secara asal-asalan. Segala sesuatunya dirancang dan dipesan secara khusus. Mengenai ini Monico khusus mencatat, ‘Kita ingin menampilkan gaya restoran Amerika di era 1960an’, dan seolah pikiran saya melayang teringat pada sinetron Amerika berjudul Mad Men dan betapa classy-nya masa itu.

Downtown Bistro menyajikan penampilan layaknya perpustakaan dengan pencahayaan temaram serta begitu banyak cermin kehitaman yang seolah tua karena waktu terpasang di seluruh langit-langitnya. Selain kursi meja dan sofa café yang didesain khusus dan membuat nyaman, Downtown Bistro juga menampilkan meja-meja panjang ala perpustakaan klasik yang dilengkapi dengan lampu serta soket listrik khusus untuk memanjakan pelanggannya yang notabene gemar berinteraksi di dunia maya. Langsung saja terbayang nyamannya bekerja selepas waktu brunch setelah menikmati berbagai sajian big breakfast ala Barat yang tersedia di sini, yang ditemani secangkir kopi dari mesin La Marzocco yang berkelas serta hembusan angin sepoi-sepoi dari terasnya yang luas nan cantik.

Perkara memilih musik yang diputar juga bukan sembarang hal bagi Downtown Bistro. Ada masa santai ketika mereka memutar lagu-lagu jazz klasik untuk pagi dan siang hari namun ketika kegelapan menyelimuti bumi, Downtown Bistro langsung mengubahnya menjadi suasana yang upbeat namun tetap hangat dengan playlist berisi lagu-lagu beraliran deep house atau nu-jazz. Dengan latar belakang ini saja sudah cukup untuk menilai bagaimana Downtown Bistro menyulap sebuah sudut dari gedung perkantoran tua ini menjadi sebuah café yang nyaman sekaligus menawan.

New York Breakfast

Lalu bagaimanakah cerita perjamuan makannnya? Sungguh luar biasa!

Dimulai dari semangkuk mushroom sauce dengan kegurihan yang pas dan tekstur yang velvety dilengkapi aroma dan ketajaman khas dari truffle oil. Lalu dilanjutkan dengan kepiawaian dan paduan mengejutkan dari racikan pesto segar dan escargot dengan pasta jenis linguine. Itu saja sudah sedemikian menggoda untuk ukuran hidangan pembuka.

George Sandwich

Namun jangan sampai melewatkan spesialisasi dari Downtown Bistro berupa panganan khas Barat seperti turkey sandwich yang dilumuri saus cranberry serta didampingi coleslaw segar dan French fries berbumbu untuk sebuah kudapan yang casual. Selain itu berbagai hidangan dengan imbuhan ‘George’ juga sangat layak untuk diperhatikan seksama. Monico kembali berujar bahwa, ‘Kami menggunaan kata George untuk makanan andalan kami. Tentunya ini berasal dari kata George Washington yang dianggap sebagai nama besar di Amerika sana’.

The George Steak

Tentunya itu berlaku bagi hidangan utama George steak berupa daging sapi panggang dengan temperatur medium yang berpadu nikmat dalam setiap kunyahannya yang rasanya tanpa sauspun sudah sangat menggiurkan. Uniknya Downtown Bistro menggunakan saus balsamic reduction yang ditambah rasa manis dari kecap sebagai sausnya. Untuk penutupnya tentu tiada lain adalah George pie yg terbuat dari apel. Bayangkan sebuah potongan besar yang bisa dinikmati berdua dengan pasangan anda ditambah dengan rasa manis dari es krim vanilla.

The George Pie

Ternyata perjalanan dari awal hingga akhir saja sudah begitu menggelora tetapi Downtown Bistro ternyata masih menyimpan banyak kejutan. Pertama adalah beragamnya menu breakfast dan brunch khas Barat dengan ciri khas berbeda. Misalnya menu New York breakfast yang terdiri dari dua egg Benedict, bacon, rosti, dan tomat serta jamur atau varian ala Paris dengan French toast lembut dan wangi dari kayu manis bersama maple syrup serta buah-buahan dan bacon. Jangan lupa untuk bertualang dengan menu makan pagi ala London serta Frankfurt juga di sini.

Sticky Toffee Date Pudding

Tren menikmati kopi juga menjadi satu hal yang tidak luput menjadi peluang bisnis bagi Downtown Bistro. Mengingatkan saya dengan counter kopi di Monolog Coffee Plaza Senayan, Downtown Bistro juga berinvestasi untuk menciptakan hal serupa. Dengan mengandalkan para pengunjungnya yang rata-rata adalah pekerja kerah putih yang sibuk, maka Downtown Bistro tidak lupa menyiapkan kemasan untuk take away. Namun yang perlu dicatat adalah rasa kopi yang tersedia di sini justru terasa masam ketimbang rasa pahit yang menjadi ciri khas kesukaan orang Indonesia.

Sungguh Downtown Bistro sudah memunculkan dirinya sebagai one stop dining place yang tangguh. Tidak hanya para anak muda ini berusaha untuk tampil idealis dan perfeksionis, mereka juga mencoba untuk memahami selera dan keinginan para penikmat makanan serta kopi di Jakarta dengan mempersembahkan sesuatu yang baru sekaligus idealis. Dengan modal besar dari segi materi maupun non-materi, tentu saya berharap banyak dengan konsistensi dari Downtown Bistro hingga jauh lama ke depannya. Tapi yang dapat dipastikan, saya akan segera kembali menikmati apa yang sudah saya cita-citakan sebagai quality time saya di sana. Makan pagi yang nikmat, secangkir kopi hangat, dan percakapan seru dengan keluarga serta teman-teman terdekat.

———-

DOWNTOWN BISTRO

Halal-friendly (some of the menu contains pork and many beverages comprise of liquors)

Some menu suitable for vegetarians

Address: Landmark Building, Jl. Jend. Sudirman No. 1, Jakarta

Opening Hours: Daily 7 am – 11 pm (will open for weekends after June 23, 2012)

RSVP: 0821.1000.3000

BB Pin: N/A

Email: info@downtownjkt.com

Website: http://downtownjkt.com

Facebook: Downtown Bistro

Twitter: @downtownjkt

Atmosphere: A glimpse of life from Mad Men era, with classic library interior and cool gimmicks from St. Louis collection of Hermes and a surprise in the toilet.

Ambiance: Jazzy baby jazzy!

Service: Helpful while the owners are also around, so you can pretty much complain should anything happens.

Pricing: Around IDR 200,000 – IDR 300,000 for two

———-

Featured in Kabare (July 2012)

Pictures courtesy of Downtown Bistro

Restaurant Review: Super Steak (Kabare, June 2012)

Sensasi Daging Panggang Ala Super Steak

Acapkali sebuah pengalaman hidup di mancanegara ternyata membuka wawasan dan menghasilkan berbagai ide menarik sekembalinya ke tanah air. Itulah asal muasal Super Steak, sebuah restoran keluarga dengan ciri khas tersendiri ketimbang steakhouse pada umumnya.

Seorang Windu Mashud dibesarkan oleh keluarga yang memiliki kecintaan terhadap makanan khususnya terhadap masakan daging panggang dari Amerika Serikat yang lazim kita sebut dengan steak. Tentu di jaman sekarang ini semakin banyak orang yang memiliki minat serupa namun bagi Windu rasa cinta ini ia tuangkan menjadi sebuah bentuk aspirasi yang nyata.

Berbekal pengalaman kuliah di Amerika Serikat, ia menyaksikan betapa luasnya variasi dari masakan yang berbahan dasar utama ‘hanya’ sebuah daging sapi yang dipotong dan dipanggang ini. Sekembalinya ke tanah air, ternyata beliau menyadari bahwa tidak cukup bila hanya bersaing dengan cara yang sama. Dari sinilah beliau menciptakan sebuah konsep bahwa sebuah steakhouse  tidak hanya harus menyajikan daging berkualitas namun juga berbagai saus yang orisinil dan unik. Setidaknya begitulah cerita sang ayah dari Windu sekaligus sang PR dari restoran rumahan ini yang tampil santai dan menyapa setiap pengunjungnya dengan hangat.

Reserve your meat first!

Bila memulai dari awal, saya sendiri saja cukup terkejut dengan penampilan Super Steak. Halaman depan rumah dimodifikasi menjadi restoran sederhana yang terletak di dalam sebuah kompleks perumahan yang tenang dan diteduhi hehijauan. Berlokasi di Jalan Dempo – Kebayoran Baru, siapa yang akan menyangka akan adanya sebuah steakhouse yang tengah meniti jalan menuju popularitas hanya dengan promosi dari mulut ke mulut?

Selain itu calon pengunjung tidak hanya harus memesan tempat duduk sebelumnya namun juga disarankan untuk memesan dagingnya terlebih dahulu karena stok dan pilihannya terbilang terbatas serta dibanderol dengan harga yang cukup mahal mengingat standar kualitasnya. Pilihan daging sapi lokal serta Australian Black Angus Beef tersedia serta masing-masing untuk bagian tenderloin, sirloin, dan ribs.

Bagian berikutnya yang paling seru adalah tentu pemilihan saus bagi steak-nya. Sebaiknya lupakan trio saus standar yaitu BBQ, mushroom, dan black pepper karena di Super Steak sama sekali tidak tersedia. Keluar dari jalurnya adalah saus-saus hasil racikan Windu seperti butter garlicCajun delight, honey herbs, lemon herbs, Asian delight, dan lain-lain.

Keunikan daging dan saus khasnya

Betapa mengejutkan ketika mendapati sirloin Black Angus yang saya pesan tampil cantik dengan taburan bawang putih goreng yang diiris tipis-tipis dan memenuhi bagian atas steak tersebut. Rasanya seperti percampuran gurihnya mentega dengan kerenyahan dan rasa khas dari bawang putih. Tentunya tidak mau kalah, daging sirloin yang bertemperatur medium terasa kaya dengan rasa dan jus yang senantiasa mengalir di setiap potongannya. Pendampingnya berupa french fries dari kentang yang berasal dari pegunungan Dieng, masih disisakan kulitnya dan terasa gurih setelah dibumbui dengan pas.

Tenderloin steak yang berasal dari daging sapi lokal juga tampil impresif. Dengan warna kemerahan seksi dan kelembutan yang luar biasa, rasa tenderloin ini semakin memesona dengan lumuran bumbu pedas ala Cajun dengan segarnya jeruk lemon.  Rasanya begitu menantang lidah yang terkoyak di antara kenikmatan serta rasa pedas. Beruntung tingkat kepedasan tersebut bisa diatur sesuai keinginan kita.

Perhatian para pemiliknya

Di tengah kegemilangan masakannya, tetap patut dicatat mengenai servis yang terkadang agak terlambat dan menguji kesabaran para pengunjungnya. Beruntung perhatian dari para pemiliknya yang senantiasa perhatian cukup bisa mengobati beberapa kekurangan dari servis di Super Steak ini.

Selain itu kondisi dari restoran halamanpun tidak lepas dari gangguan seperti gigitan nyamuk, udara panas lembab Jakarta di malam hari dan resiko terekspos oleh hujan. Hanya dengan bermodalkan kesungguhan, kecintaan, dan rasa penasaran terhadap makananlah yang justru akan melawan itu semua. Semoga saja anda yakin dan beruntung seperti saya yang telah melewati semua itu dengan baik dan dihadiahi dengan hidangan yang tidak terlupakan.

Sungguh sebuah penampilan ciamik dari pendatang yang relatif baru ini. Meskipun berawal dari tampil rumahan, belakangan Super Steak juga sudah singgah di mall Living World Tangerang. Bukan tidak mungkin juga dengan konsistensi serta passion para pemiliknya, Super Steak bisa saja menyaingi Holycow Steak yang sudah lebih dulu menjajal hingga sejauh negeri Singapura. Namun apakah ambisinya hingga sejauh itu? Marilah kita nantikan bersama.

———-

SUPER STEAK
Halal-friendly (some using imported beef and a choice of sauce contains beer)
Unsuitable for vegans

Address: Jl. Dempo I no. 76, Jakarta

Opening Hours: 5 pm – 11 pm

RSVP: 0817 639 6255 / 0817 633 2100

BB Pin: 218021FD

Email: N/A

Website: N/A

Facebook: https://www.facebook.com/pages/Super-Steak/223985570968401

Twitter: @SUPER_STEAK

Atmosphere: Quiet neighborhood and possibility of mosquito bites and rain.

Ambiance: Relaxing.

Service: Tend to be slow at times and don’t hesitate to express your needs.

Pricing: Around IDR 200,000 – IDR 400,000 for two.

———-

Featured in Kabare (June 2012)

Pictures courtesy of Super Steak

The Haute Cuisine Experience: Pengalaman Bersantap Hidangan a la Michelin-starred Chef (Kabare, May 2012)

Pengalaman Bersantap Hidangan a la Michelin-starred Chef

http://kabaremagazine.com/2012/05/pengalaman-bersntap-hidangan-ala-michelin-starred-chef/

—–

Dewasa ini merupakan era dimana makanan tidak lagi hanya sebagai fungsi mendasar untuk memertahankan hidup. Makanan telah menjadi sebuah komoditas yang menarik dari berbagai sudut pandang.

Begitu banyaknya sudut pandang yang bisa terealisasi. Ada yang mengapresiasikan makanan dengan menciptakan sesuatu yang baru, berburu mencari panganan unik hingga ke pelosok, berbagi kebahagiaan tersebut melalui jejaring social media, atau bahkan sekadar menjadi perbincangan hangat di antara rekan maupun keluarga.

Khususnya di berbagai tempat seperti Jakarta, Bandung, dan Bali, perkembangan ranah kuliner telah mengalami kemajuan pesat berkat pengaruh dari dalam maupun luar negeri. Imbasnya mengarah ke perkembangan kuliner lokal yang semakin menarik dan menyerap para konseptor lokal yang kreatif maupun tenaga kerja asing atau mudahnya dapat kita lihat berbagai pemunculan fast food chain yang jarang ditemukan bahkan di negara-negara tetangga kita.

Salah satu pencapaian menarik di samping itu semua adalah program ambisius dari Mandarin Oriental Hotel Jakarta (MOHJ) yang mengundang berbagai chef yang memiliki predikat Michelin star untuk restorannya. Pencapaian Michelin star sendiri merupakan salah satu aspirasi tertinggi para chef karena persyaratannya yang begitu rumit dan membutuhkan modal, ketekunan, dan keterampilan tinggi untuk memenuhinya.

The passion

Terhitung sejak tahun lalu, MOHJ telah mengundang beberapa chef handal asal Perancis yang telah mendapatkan Michelin star seperti Chef Nicolas Isnard, Chef Fabien Lefebvre, dan Chef Jerome Laurent.

Kebanyakan dari para chef sejenis ini telah belajar memasak dan berkecimpung di karirnya sejak sangat dini. Selain itu mereka juga biasanya pernah bekerja untuk berbagai restoran dan hotel ternama di bawah bimbingan para chef yang pastinya memiliki predikat Michelin star juga. Selanjutnya mereka mencari peluang dengan membuka usaha sendiri atau menjadi executive chef bagi restoran tertetu. Berangkat dari passion, mereka akhirnya mendapatkan apa yang mereka cari.

Hal ini membuat apa yang mereka masak menjadi sesuatu yang detil dan rumit namun kreatif dan penuh petualangan. Di sinilah dibutuhkan apresiasi tinggi dari para penikmatnya akan apa yang telah mereka capai dan kerjakan. Lebih mudahnya kita percayakan apa yang mereka masak dan kita nikmati apa adanya karena segala sesuatunya telah ‘dijamin’ mencapai tingkat kesempurnaan.

Masakan Perancis dengan tema fine dining seperti ini biasanya terdiri dari beberapa tahapan yang dimulai tentunya dari appetizer, main course, hingga dessert. Dengan pengaruh terbuka dari belahan dunia manapun, kini masakan Perancis semakin berani untuk menyatukan berbagai konsep masakan khususnya dari Timur Tengah dan Asia.

The masterpiece

Tahun 2012 ini dibuka dengan kehadiran kembali Chef Nicolas Isnard berkat animo yang tinggi dari para pecinta kuliner Jakarta dan beliau membawakan beberapa menu baru yang telah dinanti-nantikan.

Tuna Pizza

Sebagai pembuka, Chef Nicolas merancang sebuah amuse bouche atau hidangan pembuka rahasia yang merupakan inkarnasi dari tuna pizza. Hidangan ini terdiri dari ikan tuna yang dimasak secara unilateral yaitu ikan yang dimasak tiga perempat matang di satu sisi serta hanya seperempat matang di sisi sebaliknya. Didampingi tomato concasse dan berbagai macam saus seperti pesto, balsamic vinegar, dan saus hijau yang terbuat dari rocket, olive, dan lemon menjadikan hidangan pembuka ini begitu segar dan begitu berwarna.

Chef Nicolas yang menjadikan rasa masam sebagai rasa favoritnya, semakin jelas menuangkan ciri khasnya ini pada hidangan-hidangan berikutnya. Yaitu hati angsa atau foie gras yang dimana Chef Nicolas bereksperimen dengan mendampinginya bersama sayur-sayuran serta dijadikan semacam sop. Berbagai sayur seperti wortel, asparagus, daun bawang, bahkan jeruk digabungkan dengan kuah bening berkaldu dengan sumsum. Selain memang foie gras yang pastinya nikmat, Chef Nicolas menambah rasa asam segar dengan menempatkan racikan parsnip dan lemon di ujung mangkuk agar menyatu bersama kuahnya ketika dituangkan. Sungguh ide yang menarik dan menyegarkan!

Foie Gras Pot Au Feu

Untuk hidangan utama Chef Nicolas pertama menyajikan ikan cod dari samudera Atlantik yang dimasak secara unilateral lalu kemudian dipanggang. Di sinilah Chef Nicolas memasukkan pengaruh dari Asia berupa saus yang terbuat dari daun sereh dan dipadukan dengan puree terbuat dari hummus yang merupakan ciri khas Timur Tengah dan Afrika Utara. Untuk mendapatkan rasa masam Chef Nicolas memergunakan buah kumquat serta cherry tomato.

Passion/Milky

Main course yang terakhir adalah berupa steak daging sapi bagian tenderloin yang dipotong seperti dadu besar dan diberikan saus BBQ yang asam, manis, sekaligus gurih. Pendampingnya merupakan duet yang tidak lazim antara sayur artichoke dengan pasta berjenis gnocchi. Meskipun terlihat sederhana, tapi kedua masakan ini memiliki tekstur rasa yang bertingkat dan kompleks namun tetap nikmat ketika disantap.

Sebagai perpisahan, hidangan penutupnya adalah krim yang terbuat dari buah markisa yang dipadukan dengan berbagai jenis coklat seperti milk chocolate, Jivara ganache serta emulsi coklat sebagai sausnya. Dengan penampilan cantik yang dihiasi golden leaf serta karamel, dessert ini menjadi penutup manis yang tidak terlupakan.

The applause

Bahkan tulisan sendiripun dapat begitu berbunga-bunga serta terangkai indah demi menceritakan sebuah pengalaman mengesankan sebagai hasil impresi atas makanan yang begitu nikmat. Sudah saatnya kita meredefinisikan kembali apresiasi bahwa makanan tidaklah harus berporsi besar dan mengenyangkan tetapi menjadi sebuah bentuk keindahan yang dapat dinikmati semua indera kita.

Kehadiran kualitas seperti ini akan semakin banyak di masa mendatang dan bukan tidak mungkin bisa jadi Indonesia menjadi ibukota kuliner yang lebih maju dan terprogram. Sungguh pencapaian yang tidak mudah apalagi untuk mencapai penghargaan Michelin star. Mungkin yang termudah dicapai adalah pembentukan pribadi kita sebagai penikmat makanan yang memiliki apresiasi tinggi dan senantiasa mendukung majunya perbendaharaan kuliner lokal Indonesia.

————

Featured in KABARE (May 2012)

Pictures courtesy of Mandarin Oriental Hotel Jakarta

Restaurant Review: Gahyo (Kabare, May 2012)

Dolsot Bibimbab

Sajian Otentik Negeri Ginseng

http://kabaremagazine.com/2012/05/gahyo-sajian-otentik-negeri-ginseng/

Layaknya tren K-Pop atau Korean Pop yang tengah digandrungi kawula muda ternyata restoranpun tidak luput menjadi sasaran wisata kuliner mutakhir masyarakat Jakarta. Meskipun makanan Korea sudah lama dikenal di kota ini tapi ternyata masih saja banyak yang bisa dipelajari selain tentunya dinikmati. Pengalaman saya di Gahyo adalah salah satunya.

Gahyo adalah restoran yang dirintis sejak 2005 lalu dan kini telah menorehkan tradisi sebagai salah satu restoran Korea yang paling diincar oleh kalangan ekspatriat Korea maupun Jepang. Meskipun konsep awalnya terbilang simpel dengan hanya mengadaptasi resep keluarga, justru otentisitasnya menjadi ciri khas serta kelebihan dari Gahyo.

Menggunakan kata Gahyo yang berarti ‘lezat’ tentu bukan tanpa alasan, apalagi memang karena kebanyakan restoran Korea mengutamakan kualitas dan ini tidak didapat dengan harga murah meriah. Terkenal dengan hidangan barbecue-nya, masakan Korea biasanya menggunakan daging sapi terbaik dan untuk ini Gahyo mengimpornya dari Amerika Serikat serta Australia. Selain itu bumbu-bumbu khas juga hanya didapat dari Korea Selatan dan sisanya merupakan bahan makanan lokal yang dijamin kesegarannya.

Petualangan yang penuh warna

Masakan Minang terkenal dengan berbagai kekayaan jenis masakannya serta disajikan sekaligus di setiap restorannya dan begitu pula ceritanya dengan masakan Korea. Berbagai menu pembuka yang lazim disebut banchan tersaji di piring kecil dan terlihat jelas warna warni yang menggugah selera. Sebagai contoh yang paling terkenal dari Korea tiada lain adalah kimchi dan di Gahyo ini bisa jadi merupakan yang terbaik yang pernah saya rasakan. Contoh lain dari banchan adalah seperti pajeon (panekuk telur dengan bawang), bokkeum (tumis gurita cilik dengan sayuran), namul (sayur mayur yang diolah dalam berbagai teknik), dan masih banyak lagi.

Wooseol

Yang patut dicatat adalah agar jangan sampai terlena dengan mencicipi semua banchan ini karena apa yang anda pesan untuk hidangan utama biasanya berukuran besar dan cocok untuk makan tengah bersama keluarga dan teman-teman.

Sebagai contoh adalah Jabchae yang sebetulnya terlihat familiar di mata kita karena terdiri dari tumisan bihun tebal yang transparan dengan potongan daging sapi dan sayuran. Rasanyapun gurih manis persis seperti yang biasa kita temukan di restoran ala Tiongkok. Jabchae dengan cepat menjadi pilihan cocok bagi penikmat makanan yang tidak terlalu adventurous.

Selain itu pilihan ‘aman’ lainnya adalah Haemul Pajeon atau semacam panekuk telur yang terlihat seperti omeletyang berisi cumi serta berbagai sayuran. Lazimnya diberi saus cocolan berupa kecap asin yang menjadikannya terasa lebih gurih.

Sundubu Chigae

Untuk makanan berkuah, Gahyo menyajikan beberapa pilihan seperti Sundubu Chigae yaitu sup yang sedikit pedas tanpa rasa asam meskipun rupanya mirip sekali dengan kuah tom yam. Sup ini berisi kerang kipas serta tahu yang mirip sekali dengan rasanya bila dipepes dan kesemuanya dicampur dengan kuning telur. Namun yang lebih mumpuni adalah Yukkejang yaitusup berisi berbagai sayur, akar teratai, jamur, dan bihun dengan kuah yang lebih pedas dan gurih.

Meskipun demikian harus dipahami bahwa citarasa kuah pada masakan Korea terbilang lebih tawar dan tidak segurih kuah pada sop, soto atau kari di masakan Indonesia pada umumnya. Bahkan kuah ramen Jepang saja bisa dibilang sangat gurih untuk ukuran masakan dari Asia Timur.

Teuk Seng Galbi

Terakhir yang tidak boleh dikesampingkan adalah Dolsot Bibimbab yang sangat terkenal. Sebuah hidangan kaya bahan dan kaya rasa terdiri dari berbagai sayuran, telur, dan nasi serta dimasak dalam sebuah hot pot sehingga menjadikan masakan ini serupa dengan nasi liwet dengan kekhasan berbeda. Ada rasa gurih, rasa pedas, lembut, berisi dan menyenangkan untuk disantap.

Korean BBQ, sang jurus pamungkas

Kedatangan ke restoran Korea tentunya tidak lengkap bila melewatkan barbecue-nya yang terkenal. Tersajilah berbagai potongan daging sapi dari berbagai bagian yang juicy seperti iga dan lidah untuk selanjutnya dipanggang dan disajikan dengan berbagai saus serta teknik menyantap yang unik. Jangan kuatir untuk berasap-asap ria dan memasak sendiri karena biasanya di restoran Korea para waitress akan sangat sigap memanggang serta menyajikannya untuk kita dengan cepat. Selain itu setiap meja makan memang didesain agar asap tidak menyebar kemana-mana, ditandai dengan corong exhaust yang bentuknya tidak lazim.

Yangnyeum Galbi

Beberapa daging ada yang telah dimarinasi dengan bumbu dan setelah dipanggang dapat dinikmati beserta adonan garam serta merica. Terlebih lagi bila ingin merasakan keotentikan cara menyantapnya maka satu piring kecil berisi daun wijen tersedia untuk membungkus daging tersebut beserta berbagai potongan sayuran dan cabe agar dapat dinikmati sekaligus semakin kaya rasanya dan seolah membedakan dengan yakiniku ala Hanamasa atau restoran sejenisnya.

Sebagai penutup manis dari petualangan kali ini, Gahyo menyediakan racikan minuman jahe, ginseng, dan kurma Korea yang menghasilkan rasa hangat pedas yang menenangkan. Kreasi dessert lainnya berupa pudding kopi, mangga, dan kelapa atau buah-buahan juga bisa menjadi pilihan penutup yang menyejukkan. Rasanya cukup untuk tidak berpesiar jauh hingga ke ranah Korea hanya dengan menikmati otentiknya hidangan ini di Jakarta.

Apakah ini berarti petualangan Korea kita berakhir di sini saja? Tentu tidak, karena Jakarta menyimpan begitu banyak rahasia dan ini berarti masih banyak cerita baru serta pengalaman seru kuliner lainnya. Bahkan Gahyo sendiripun masih menyimpan banyak hidangan menarik yang tentunya layak untuk mendapat kunjungan kedua bahkan seterusnya.

———-

GAHYO

Halal-friendly (terdapat beberapa menu non-halal)
Suitable for vegetarian

Address:

  1. Galeria SCBD, Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53 Lot 6 – (021) 5289 7044
  2. Sport Mall Kelapa Gading, Blok A 26-27 – (021) 4587 6626

Opening Hours: Everyday, 11 am – 11 pm

Pricing: Around IDR 300,000 – 500,000 for two.

———-

Featured in KABARE (May 2012)

Pictures courtesy of Gahyo