Tag Archives: iMAGZ

Art & Architectural Feats of Marina Bay Sands (iMAGZ, May-Jul 2013)

Berwisata ke Singapura dan mengunjungi Marina Bay Sands tentu tidak hanya terbatas pada kesempatan untuk menginap di hotelnya yang megah, pengalaman berbelanja di The Shoppes at Marina Bay Sands-nya yang mewah, atau bersantap di berbagai restoran milik celebrity chef-nya.

Di samping semua itu, saya meluangkan waktu juga untuk mengapresiasi berbagai pencapaian arsitektural yang dimiliki hotel ini serta berbagai fasilitas maupun tempat-tempat menarik yang mengelilinginya. Dimulai dari ArtScience Museum, Crystal Pavilion, Grand Theater, Skypark, dan tetangga semua ini yaitu Gardens by the Bay, serta tidak lupa berbagai karya seni yang memperindah kompleks wisata ini.

Tidak hanya secara arsitektur berbagai fasilitas ini tampil memukau, tapi segala detail yang dimilikinya seolah memiliki filosofi tertentu dan merupakan hasil dari perencanaan yang sangat matang. Bahkan diantaranya merupakan sinergi dari beberapa arsitek dan seniman sekaligus!

Berbekal pengalaman berkunjung ke tempat-tempat ini, perjalanan ke Singapura waktu itu seakan merupakan satu pencapaian aktualisasi diri dan sebuah apresiasi lebih terhadap bagaimana seni dapat mempengaruhi kehidupan kita. Tentu tidaklah berlebihan bagi seorang saya yang gemar menjadikan setiap pengalaman kecil apapun memiliki makna spiritual di dalamnya.

LANDMARKS and PLACES OF INTEREST:

ARTSCIENCE MUSEUM

ArtScience Museum Profile (Credit to MBS)

ArtScience Museum adalah highlight terbaik kunjungan saya waktu itu. Dengan kolam berisikan bunga teratai yang mengelilinginya, museum ini menawarkan pemandangan jelas baik ke Marina Bay Sands maupun kota Singapura sendiri. Ditambah yang menarik saat itu adalah hadirnya dua eksebisi menarik – yaitu mengenai sejarah hidup serta karya-karya dari seniman pop art kelas dunia, Andy Warhol, serta eksebisi berbagai properti asli yang dipakai di film-film Harry Potter!

ArtScience Museum - Rain Oculus (Credit to MBS)

ArtScience Museum sendiri dirancang oleh arsitek kenamaan Moshe Safdie dengan bentuk seperti bunga teratai raksasa yang digambarkan seolah seperti tangan dengan 10 jari yang tengah membuka diri ke arah langit dimana jari terbesarnya memiliki ketinggian hingga 60 meter dari permukaan tanah. Atapnya sendiri dirancang untuk menampung air hujan untuk kemudian dialirkan jatuh sedalam 35 meter ke kolam yang berada di dasar museum dalam bentuk air terjun dengan alur silindris secara kontinyu.

CRYSTAL PAVILION

Crystal Pavilion 2 (Credit to MBS)

Salah satu fitur menarik dari shopping mall yang terdapat di Marina Bay Sands adalah kehadiran tiga ‘makhluk’ asing di teras yang menghadap ke kota Singapura. Ya, ketiganya adalah tiga pecahan ‘kristal’ yang saat ini dimiliki oleh toko kenamaan Louis Vuitton, sebuah klab terkenal Avalon, dan Pangaea. Yang menarik adalah fakta bahwa gerai Louis Vuitton di Marina Bay Sands ini adalah yang terbesar yang pernah saya lihat di Asia Tenggara. Dari sisi dalam mall-nya saja sudah terdiri dari beberapa tingkat dengan toko buku dan sebuah lorong panjang yang diisikan berbagai karya seni. Ternyata lorong panjang inilah yang menghubungkan dengan paviliun kristal milik Louis Vuitton yang berada di teras luar tersebut. Menarik!

GRAND THEATER

Marina Bay Sands Theater Lobby (Credit to MBS) Grand Theater Interior (Credit to MBS)

Grand Theatre bisa jadi adalah satu fasilitas di Marina Bay Sands yang biasanya terlewatkan, meskipun terletak di dalam The Shoppes at Marina Bay Sands. Teater besar ini ternyata sering mendatangkan berbagai show menarik dari mancanegara. Salah satu yang menarik saat itu adalah seni drama musikal yang diperlihatkan oleh Slava’s Snowshow asal Russia dengan tata panggung spektakuler. Berkunjung ke sini tampaknya anda harus membiasakan dengan peraturan ketatnya dimana kita tidak boleh memasuki teater ketika pertunjukkan sudah berlangsung untuk beberapa waktu hingga diijinkan. Ini terkait kepentingan agar show tersebut tidak terganggu oleh keluar masuknya penonton. Selebihnya? Just enjoy the show!

SKYPARK OBSERVATION DECK

SkyPark Public Observation Deck (Credit to MBS) MBS Skypark (Credit to MBS)

Mengunjungi Sands SkyPark tidaklah lengkap bila tidak berkesempatan menikmati infinite pool-nya. Betul, tapi jangan salah, mengunjungi sebatas observation deck-nya bisa menjadi pengalaman tidak terlupakan apalagi karena area kolam renangnya dikhususkan untuk para tamu yang menginap saja. Di observation deck ini, nikmatilah sebuah perspeksi seluas 360 derajat untuk menikmati pemandangan megahnya kota Singapura dan lautan di sekitarnya. Sungguh tidak rugi bila merogoh sedikit kocek lebih untuk menikmati pemandangan hebat dari ketinggian 200 meter ini!

Perlu dicatat bahwa pada saat cuaca kurang baik, ada kemungkinan bagian atap dari Marina Bay Sands yang lebarnya lebih panjang daripada tingginya Menara Eiffel ini akan ditutup. Tapi bila cuaca cerah, selain menikmati pemandangan ini, sempatkanlah juga berkunjung untuk sekadar hang out di KU DE TA bar atau bersantap malam lezat di Sky on 57 yang dimiliki celebrity chef terkenal Singapura, Justin Quek.

GARDENS BY THE BAY

Gardens by the Bay 2 (Credit to MBS) 

Usaha pemerintah Singapura untuk menjadikan kotanya sebagai kota lebih ramah lingkungan dimulai dengan pemugaran wilayah Marina Bay. Kehadiran Marina Bay Sands sebagai resort integral dan Gardens by the Bay sebagai paru-paru kota baru dari Singapura menjadi atraksi utamanya. Taman kota yang sangat luas ini dirancang dengan indah serta memiliki keunikan tersendiri karena kehadiran menara-menara hijau yang didesain secara modern dan memancarkan warna warni cahaya indah di malam harinya.

MASSIVE ARTWORKS:

RISING FOREST by Chongbin Zheng

Chongbin Zheng, Rising Forest (Credit to MBS)

Satu hal yang mungkin terlewatkan juga ketika mengarungi lobby Marina Bay Sands yang sangat panjang ini adalah keberadaan vas-vas raksasa yang masing-masing di dalamnya memuat satu pohon. Setiap vas ini ternyata memiliki berat sekitar 600 kilogram dan tinggi hingga 3 meter. Konon dikarenakan ukurannya yang begitu besar ini, sang seniman harus membangun workshop khusu terlebih dahulu di Singapura sebagai tempat pembuatan keramik vas-vas tersebut dan ternyata membutuhkan waktu lebih dari dua minggu untuk menyelesaikan setiap vasnya!

WIND ARBOR by Ned Kahn

Ned Kahn, Wind Arbor (Credit to MBS)

Salah satu fenomena yang saya temukan ketika berjalan-jalan di The Shoppes at Marina Bay Sands adalah sebuah siluet aneh yang bergerak-gerak datang dari arah sebuah struktur besar yang berlokasi tepat di luar mall. Ternyata penyebabnya adalah Wind Arbor yang didesain oleh seniman asal Amerika Serikat, Ned Kahn, yang menciptakan fenomena tersebut. Struktur ini dirancang memiliki 260,000 ‘tirai’ aluminum dimana semuanya bergerak menyesuaikan hembusan angin dan memantulkan cahaya matahari sehingga memunculkan sebuah siluet  dengan motif-motif unik!

Berbagai karya seni lain seperti Drift (karya Antony Gormley) dapat dilihat secara jelas di langit-langit lobby hotel berupa ribuan potongan baja yang disambung secara abstrak. Ned Kahn kembali tidak ketinggalan membuat tambahan hasil karya yang dipasang di The Shoppes at Marina Bay Sands dengan nama Rain Oculus dimana struktur mangkok raksasa ini menampung air untuk dialirkan ke tingkat bawah mall tersebut, relatif mirip dengan struktur yang ditemukan di ArtScience Museum.

Antony Gormley, Drift (Credit to MBS) Ned Kahn, Rain Oculus (Credit to MBS)

Kesemuanya ini disandingkan juga dengan karya-karya seniman lainnya yang tersebar di seluruh kompleks Marina Bay Sands. Semuanya sejak awal dirancang untuk saling berkombinasi satu sama lain dan menghadirkan harmoni dalam keseluruhan rancangan resort ini.

—–

Published in iMAGZ (Intiland in-house magazine) 3rd Edition, May-Jul 2013. [unedited]

Images are courtesy of Marina Bay Sands

Restaurant Review: Bistronomy (iMAGZ, May-Jul 2013)

Bistronomy - Interior 2

Notifikasi dari Kawano International, grup besar yang bergerak di bisnis F&B di Jakarta, datang menghampiri laman Facebook saya beberapa waktu yang lalu. Kali ini Kawano International telah membuka satu restoran baru di kawasan Kebayoran Baru dengan nama Bistronomy. Herannya nama tersebut malah menggelitik perhatian saya karena Kawano lebih dikenal dengan spesialisasinya pada masakan Jepang dan restoran-restorannya yang terlebih dahulu sukses seperti Sakana dan Kado.

Selain itu, rasa penasaran saya ditambah lagi dengan cerita menarik dari rekan saya yang menggeluti dunia fotografi mengenai restoran ini. Meskipun mungkin dari segi rasa, semua orang memiliki subjektivitas masing-masing, namun satu hal yang rekan saya tekankan dari kesehariannya yang melibatkan aspek visual, Bistronomy merupakan restoran dengan penampilan yang teramat cantik.

Bistronomy - Interior 3

Tidak perlu menunggu lama, tibalah saatnya bagi saya untuk mengunjungi restoran ini. Terletak di sebuah lingkungan yang hijau dan teduh di bilangan Ciranjang – Kebayoran Baru, Bistronomy menempati lokasi cukup luas di sebuah pertigaan dan tampil layaknya benteng berwarna krem. Seberkas perasaan ragu sempat mewarnai karena penampilan luarnya yang tampak biasa, tapi perasaan lega menghampiri seiring setiap langkahnya karena Bistronomy sengaja mendesain restorannya dengan orientasi menjaga privasi para pengunjungnya. Bahkan di balik tembok-tembok ini terdapat pula taman yang tertata rapi serta tempat bersantap outdoor yang terlihat nyaman untuk sore dan malam hari dimana cahaya yang temaram akan menemani pengunjungnya dengan suasana romantis.

Tidak cukup membuat saya terbuai dalam kekaguman, apa yang menyambut saya ketika membuka pintu masuk adalah pemandangan yang jauh lebih indah lagi. Bistronomy benar-benar membawa pengunjungnya untuk berlindung dalam ketenangan dan kenyamanan dari hiruk pikuk di luar sana! Perabotan khas Perancis abad Renaisans digabungkan dengan desain restoran yang chic sekaligus vintage, warna-warna teduh, cahaya mentari yang hangat, dan tentunya suasana santai yang diiringi dengan lagu-lagu yang sengaja dirancang untuk mendukung kehangatan atmosfir di restoran ini.

Bistronomy - Outdoor

Kehangatan ini lalu berlanjut dengan sambutan dan pelayanan hangat dari kru Bistronomy. Ini tampaknya menjadi hal di luar kebiasaan dari apa yang saya kerap jumpai dari beberapa restoran milik Kawano yang terbiasa untuk melayani para ekspat sibuk asal Negeri Sakura dengan kecepatan dan kecermatan. Sebagai tambahan, tentunya pengetahuan terhadap menu yang disajikan juga cukup memadai, terbukti ketika meja sebelah saya ternyata adalah tamu yang sangat pemilih dengan diet-nya dan salah seorang staf restoran ini berhasil memberikan saran-saran sajian yang sesuai untuk tamu tersebut.

Yang dinanti selanjutnya tentu adalah yang tersaji dari dapur Bistronomy. Dikepalai empat chef asal mancanegara yang memiliki spesialisasi masing-masing, Bistronomy menyajikan percampuran estetika khas masakan Eropa dengan pengaruh dari Perancis dan sentuhan kuliner ala Jepang. Kesemuanya ini namun dikemas secara santai tanpa menonjolkan sebuah keharusan bagi pengunjungnya untuk menikmati masakan-masakannya dengan aturan fine dining. Tentunya sayang apabila kunjungan ke sana tidak melibatkan berbagai pilihan menarik mulai appetizer hingga dessert.

Rare Pan Seared Tuna Salad
Rare Pan Seared Tuna Salad

Pengaruh perpaduan Eropa dan Jepang sudah mulai terasa kental dimulai dengan menu-menu pembuka, seperti tapas maupun saladPilihan tradisional seperti sashimi maupun edamame memang pilihan klasik yang selalu digemari tapi cobalah bertualang dengan menu-menu fusion seperti pan-seared tuna salad dengan saus nam-prik a la Thai yang menyegarkan atau ceviche yang menggunakan lobster yang diimbuhi unsur Asia seperti mangga, timun, dan bawang serta cabe.

Memasuki hidangan utama, segala sesuatunya menjadi lebih menggiurkan lagi. Potongan filet mignon atau striploin mungkin lazim ditemukan di beberapa steakhouse atau bistro Perancis yang mewah. Di Bistronomy, Anda akan menemukan wagyu yang menggunakan saus teriyaki dengan red wine atau lamb chop dengan saus honey mustard. Menarik, tapi pilihan saya jatuh pada hidangan laut yaitu ikan salmon panggang dengan saus teriyaki dengan campuran wasabi.

Grilled Salmon Wasabi Teriyaki
Grilled Salmon Wasabi Teriyaki

Salmon ini tersaji cantik dengan pendamping berupa kentang tumbuk, ubi serta kentang goreng, salad berwarna warni dengan percikan vinegar, irisan panjang kulit kentang yang digoreng, serta satu bongkah wasabi yang kehadirannya justrutidak lazim untuk hidangan seperti ini. Sungguh menarik! Ikan salmon tersebut dipanggang rapi dengan menyisakan kelembutan serta derajat kelembaban yang tepat. Tidak lupa kerenyahan kulit ikan salmon ini terasa nikmat berbalut saus teriyaki manis dengan tekstur agak kasar, menjadikan hidangan ini memiliki berbagai paduan karakter yang diperlukan dalam sebuah masakan modern.

Fisherman's Wharf
Fisherman’s Wharf

Dari bagian Oriental, salah satu pilihan sushi roll seperti Fisherman’s Wharf yang berisikan ikan tuna, telur ikan terbang, telur, jamur, serta berbagai sayuran juga turut memuaskan saya dengan eksekusinya yang rapi, ukuran potongan yang tepat, dan kombinasinya yang kaya. Alternatif lain selain sushi roll yang tampak menggoda adalah Trio de Yakitori yang terdiri dari sate-sate khas Jepang dengan tiga pilihan daging dan menggunakan saus manis pedas.

Rare Mango Pudding
Rare Mango Pudding

Sebagai penutup, satu pilihan paling cantik dari rangkaian menu dessert-nya adalah pudding mangga yang berukuran besar yang dilengkapi potongan roti, buah strawberry serta krim untuk kemudian disiram dengan saus kental manis dari buah mangga. Sungguh penutup yang tidak hanya menyegarkan sekaligus manis! Pertanyaannya, apakah Anda sudi membagi pudding mangga yang lezat nan cantik ini?

Semua cerita ini menggenapkan pengalaman yang menyenangkan bersama Bistronomy. Semua aspek terasa saling bertautan dengan keharmonisan yang jarang saya temui dan melibatkan berbagai segi seperti rasa, pelayanan, penampilan, dan kenyamanan selama bersantap di sana. Saya menantikan kunjungan berikutnya dan berharap konsistensi serta perfeksionisme ala Jepang yang diterapkan di Bistronomy tetap bertahan bahkan lebih baik lagi. Semoga!

Bistronomy - Interior 1

———-

BISTRONOMY

Halalness to be confirmed (pork menu and liquor are served)

Some menu suitable for vegetarians

Address: Jln. Ciranjang (Ciniru I no. 2), Kebayoran Baru, Jakarta – Indonesia

Opening Hours: Daily, 11 am – 11 pm (Mon-Thu, Sun) & 11 am – 1 am (Fri-Sat)

RSVP: +62.21.739.6655

Email: bistronomy@kawanointl.com

Facebook: http://www.facebook.com/Bistronomy.JKT

Twitter: http://twitter.com/Bistronomy_JKT

Pricing: Around IDR 400,000 – IDR 500,000 for two

—–

Published in iMAGZ (Intiland in-house magazine) 3rd Edition, May-Jul 2013.

Images are courtesy of Rian Farisa (The Gastronomy Aficionado)

Filosofi Penuh Makna di Balik Hidangan Legenda Keluarga Confucius (iMAGZ, May-Jul 2013)

Perhelatan singkat beberapa waktu lalu diadakan di Hotel Shangri-La Jakarta untuk memperkenalkan masakan khas keluarga Kong / Confucius yang tetap terjaga keotentikannya sejak ratusan tahun sebelum Masehi. Tim yang terdiri dari koki yang berasal dari Shangri-La Qufu di Cina yang didampingi langsung oleh anggota keluarga langsung keturunan Confucius mempersembahkan keunikan warisan kuliner yang memiliki estetika langka ini.

Selain karena memiliki perbedaan penampilan dari masakan Cina yang biasa kita jumpai sehari-hari, ternyata masakan keluarga Kong ini memiliki berbagai filosofi di balik penyajiannya yang tidak lazim. Berikut adalah beberapa kisah di antaranya.

—–

Kong's Family Cuisine - Six Arts Cold Appetizers 2

‘SIX ARTS’ – Aneka hidangan pembuka dingin

Konon para raja dan bangsawan di Cina kuno sepakat bahwa ajaran Confucius mengenai ‘Six Arts’ atau enam keahlian yang semestinya dimiliki oleh setiap individu adalah sebuah standar tinggi yang harus dicapai. Petinggi kota Qufu kemudian mengkreasikan kembali masakan keluarga Kong yang berkaitan dengan enam aspek ini selama bergenerasi-generasi.

Penerapan keenam keahlian tersebut dalam masakan-masakan ini adalah:

  1. Ritus – Daging kaki sapi dengan rempah
  2. Musik – Salad ubur-ubur
  3. Ilmu Panah – Lidah bebek dengan rempah
  4. Balap Kereta Kuda – Salad jelly siput laut
  5. Kaligrafi – Scallop (simping) dengan salad sayuran
  6. Matematika – Seledri dengan wijen dan minyak zaitun

LU’S WALL HIDDEN COLLECTION – Udang goreng dengan lilitan bihun kering

Udang yang dibalut kataifi atau bihun khas Cina digoreng kering dengan telur dan tepung. Masakan ini menggambarkan fase ketika Kaisar Qin Shi Huang (221 SM) memburu para filsuf dan ilmuwan untuk kemudian dikubur hidup-hidup dan hasil-hasil karyanya dibakar.

Salah seorang cicit dari Confucius kemudian menyembunyikan karya-karya besar buyutnya ini di balik dinding-dinding istana sebelum pergi bersembunyi. Puluhan tahun kemudian buku-buku ini ditemukan secara tidak sengaja oleh Kaisar Lu Gong (154 SM) ketika tengah memperluas istananya untuk kemudian dilestarikan.

Kong's Family Cuisine - The Kirin Imperial Book - Deep-fried snapper

THE KIRIN IMPERIAL BOOK – Ikan kakap goreng dengan sisik

Konon sebelum Confucius dilahirkan, sesosok makhluk mitologi Cina dengan nama Kirin muncul di depan rumah keluarga Kong. Dari mulutnya ia mengeluarkan sebuah batu giok yang bertuliskan ‘Dari sebuah kerajaan yang runtuh, muncullah seorang kaisar baru – seorang pemimpin spiritual’, seolah menyiratkan bahwa kelahiran Confucius akan memberikan makna yang sangat besar.

Dari segi masakan, sisik yang tetap diikutsertakan pada ikan kakap ketika digoreng ini menggambarkan figur Kirin yang merupakan seekor kuda bertanduk (unicorn) yang memiliki kulit bersisik. Hasilnya ikan ini tetap terasa gurih dan memiliki tekstur menarik serta renyah berkat kehadiran sisik ini.

Kong's Family Cuisine - Farm-style Pancakes Served with Four Kinds of Condiments

FARM STYLE PANCAKE SERVED WITH FOUR KINDS OF CONDIMENTS – Lumpia jagung dengan isian bawang daun, pasta kacang, ikan asin, dan telur

Sejak masa lampau, berbagai bahan, bumbu, dan rempah yang dihasilkan dari lahan pertanian milik keluarga Kong digunakan untuk dinikmati dengan resep lumpia khas keluarga ini pada masa panen. Lumpia dengan kulit berbahan dasar jagung ini tidak hanya melambangkan rasa syukur atas panen namun juga sebagai doa kesuksesan bagi murid-murid Confucius yang senantiasa rajin belajar dan menjadi pribadi baru yang sesuai dengan filosofinya, “Ketika seseorang mempelajari berbagai ilmu baru namun tidak melupakan kebijaksanaan yang telah ada dari masa lalu, ia akan menjadi guru bagi yang lainnya”.

Kong's Family Cuisine - Gingko Poetry Rites - Steamed snow pear with dates 1

“GINKGO” POETRY RITES – Buah pir salju kukus dengan kurma, biji ginkgo, dan biji teratai

Confucius pernah mengajari anaknya Kong Li mengenai puisi dan kebijaksanaan. Konon beliau berkata padanya, “Bila Kamu tidak mempelajari ilmu puisi, maka Kamu tidak bisa berbicara dengan baik dan santun. Bila Kamu tidak mempelajari tatakrama dan kebijaksanaan, Kamu tidak akan bisa menjadi pria yang berbudi”. Puluhan generasi berikutnya, pohon ginkgo yang bijinya digunakan sebagai bahan utama dari hidangan penutup ini ditanam di depan “Aula Puisi” dari sebuah museum yang didedikasikan untuk mengenang hidup sang filsuf besar ini di kota Qufu.

—–

Published in iMAGZ (Intiland in-house magazine) 3rd Edition, May-Jul 2013.

Images are courtesy of Rian Farisa (The Gastronomy Aficionado)