Tag Archives: Hang Out Jakarta

Kahvehane: Kopi Javva (HOJ, May 2011) [CLOSED]

Siapa yang mengira di dalam sebuah supermarket barang pecah belah di bilangan Senopati terdapat sebuah kedai kopi yang bahkan tidak menorehkan namanya di depan bangunan ini? Bahwa kita kerap mengakhiri kegiatan kita berbelanja di mall dengan kegiatan ngopi, itu sangat kerap terjadi. Namun untuk sebuah toko pecah belah? Hmmm… That’s intriguing.

Ya, itulah Kopi Javva. Sebuah reputasi yang saya dengar dari mouth to mouth basis. Long story short, tibalah juga saya di sana. Dalam perjalanan yang hanya memakan beberapa langkah saja dari pintu masuk, saya harus cukup berhati-hati agar tidak menabrak barang pecah belah yang berada di jalur saya.

Agak sedikit berandai-andai juga seandainya jalan itu sedikit dikosongkan untuk mempermudah pengunjung yang hanya ingin nongkrong sore untuk ngopi di Kopi Javva dan bukan untuk berbelanja. It appears Kopi Javva is not the one to make such decisions and definitely only me who pays attention to such details.

Desain kafe-nya sendiri terlihat modern dan fresh. Tempat duduk yang tersedia memang tidak banyak dan jumlahnya pas untuk sebuah café yang tidak high-profile seperti ini. Bahkan di tempatnya yang sudah mungilpun, Kopi Javva memiliki space untuk tempat bermain anak-anak.

Kekhasan Kopi Javva adalah bahwa mereka menyediakan biji kopi lokal, thanks to jiwa nasionalisme pemiliknya yang konon adalah seorang konsultan kopi dan sparking semacam perseteruan sehat dengan Anomali Coffee, tetangga dekatnya yang memang gemar mempertunjukkan dirinya sebagai herald kopi Indonesia. Nah ini memperkaya khazanah ‘perkopian’ di Jakarta and that’s a good thing!

Berikutnya adalah mereka menyediakan kopi yang dibuat menggunakan syphon coffee maker. Metoda pembuatan kopi vakum yang masih terbilang jarang terlihat ini menjadi trademark Kopi Javva.

Tentu saya tidak segan-segan langsung memesan segelas black coffee dengan memilih biji kopi dari Papua dengan pertimbangan segi eksotisnya. Selain menggunakan syphon coffee maker, Kopi Javva juga menyediakan metode pour over atau menggunakan French press bagi yang tak sabar hendak meminum kopi dengan segera.

Ternyata hasilnya lumayan, kopi Papua yang lembut dan ringan cocok untuk mengakhiri hari setelah makan malam. Kebetulan Kopi Javva memang tutup pada pukul 8 malam. Dengan suasana yang terbilang sepi dan nuansa lagu yang didominasi oleh genre jazz a la Indra Lesmana, tampaknya saya cukup menikmati suasana malam itu.

Selain black coffee, Kopi Javva juga menyediakan menu-menu kopi inventive lainnya seperti Encek’s Coffee (semacam kopi susu khas Kopi Javva), Orange Scented Coffee (kopi susu dengan perasan jeruk), dan sayangnya blunder terbesar malam itu yaitu Iced Lemongrass Coffee alias kopi dingin dengan sereh.

Sereh yang notabene merupakan jodoh dari teh digunakan pada kopi di sini. Meski tampil segar dan menarik, berbuih, penuh dengan es batu, dan tampak segar (reminds of beer actually), ternyata hasilnya sangat tidak berimbang. Rasa sereh yang terlalu dominan tampak menutupi rasa kopi yang biasanya punya kecenderungan overpowering any elements. Hal yang lain adalah penyajian kopi untuk sebuah kondisi dimana seorang pelanggan datang di malam hari, dalam keadaan tidak berkeringat, dan berada di ruangan dingin or in other words, too much ice cubes!

But anyway, kedatangan saya ke Kopi Javva merupakan kunjungan yang cukup menghibur, hanya sayang saja Kopi Javva tidak memiliki sebuah jendela dimana kita dapat nyaman berlama-lama menikmati secangkir kopi, teman mengobrol, atau sembari browsing the net dengan sebuah pemandangan ke jalan Senopati. Dengan rencana ekspansi dalam waktu dekat ini ke sebuah tempat peristirahatan kondang di jalan tol arah Jakarta-Cikampek, Kopi Javva akan menjadi tempat yang semakin dikenal dan mudah-mudahan terus berkembang seiring berjalannya waktu. Viva local coffee shops! 

Jl. Senopati no. 71-73, Jakarta

Rating: 3/5

Price Range: IDR 50,000 – IDR 100,000 for two

-Featured in HANG OUT JAKARTA May 2011 edition-

Link: http://hangoutjkt.com/food/11/Kopi-Javva

Restaurant Review: Churreria (HOJ, March 2011)

Churreria datang membonceng ketika invasi budaya makanan Barat mulai mendominasi konstelasi kuliner di Jakarta. Setelah semua pengaruh Perancis dan Amerika dengan semua pancake, burger, strudel, waffle, galette, crepesdan fro-yoitu, Spanyol tidak mau ketinggalan dan sekarang diwakili oleh Churreria yang bertempat di sebuah sudut sepi Grand Indonesia Shopping Mall.

Mudah untuk menerka apa yang mereka tawarkan. Betul! Mereka melahirkan kembali churrosyang sudah sempat dikenal sebelumnya dan mereka tiba di Jakarta dengan penampilan yang sederhana dan bersahaja.

Churrosatau dikenal juga sebagai Donat Spanyol sebetulnya adalah adonan tepung yang digoreng seperti yang lebih dikenal orang Indonesia menyerupai Cakweyang berasal dari warisan budaya Tiongkok. Cakwebiasanya diiris kecil-kecil dan ditaburkan di atas bubur ayam atau dikonsumsi langsung dengan saus asam pedas. Namun tidak dengan churros, versi cakweyang satu ini dibuat dengan menggunakan semacam alat dengan sebuah selan. Churros dibentuk seperti bintang dan berukuran panjang, menyerupai bintang jatuh karena langsung masuk ke penggorengan di bawahnya.

Biasanya, churrosditemani dengan saus cocolan yang dibuat dari cokelat dan begitulah yang terjadi di Churreria! Pilih saus cokelat kesukaan anda dimulai dari dark chocolateyang agak pahit atau mungkin anda lebih memilih milk chocolateyang lezat dan lembut atau white chocolateyang terlihat cantik dan manis? Semuanya bisa dipesan pada saat bersamaan namun pastikan untuk memesan juga dulce de lechealias karamel kental yang manis dan menggoda sebagai saus pendamping cokelat yang lain.

Churros sendiri bisa dipesan untuk dibuat polos, disemai oleh gula bubuk, atau ditaburi kayu manis. Masing-masing memiliki chemistrysendiri dengan saus cocolan cokelat atau karamelnya. Sebagai contoh, saya lebih memilih untuk memasangkan churroskayu manis dengan saus karamel, churrosgula bubuk dengan saus milk chocolate, tapi juga jangan ragu untuk mencelupkan churroske semua saus tersebut! Meski mungkin bakal diprotes lantaran sausnya ternodai dengan yang lainnya tapi sungguh sayang apabila semua kebaikan cokelat tersebut anda abaikan begitu saja! Be adventurous there!

Yang disayangkan adalah churrosyang saya harapkan adalah tidak seperti yang dilihat di negara-negara asalnya yaitu berukuran lebih besar, lebih berbobot, dan secara harafiah memang disiram oleh cokelat, tidak hanya sekadar dicelup! Dimana semua itu menjadikan churrossebagai pilihan untuk makan pagi yang mengenyangkan. Namun tidak di Churreria, churrosdi sini terasa seperti dikekang (mungkin karena harga sewa Grand Indonesia yang selangit) sehingga berukuran lebih kecil. Meskipun demikian, kualitasnya cukup baik dimana renyahnya terasa di bagian kulitnya namun terasa lembut seperti roti di dalam. Benar-benar pasangan cokelat yang sempurna!

Kekecewaan lain juga datang dari servis yang saya alami dari seorang traineeyang seolah-olah tahu semua yang mesti dilakukan pada seorang pengunjung. Beruntung saya langsung meminta untuk dilayani dengan yang lebih profesional dan kualitas servis pun beralih menjadi jauh lebih baik.

Jangan lupa untuk menemani kudapan churrosanda dengan pilihan berbagai minuman cokelat. Saya memesan secangkir besar cokelat panas yang dicampur dengan single shot espresso yang disebut Mayan Mocha. Churreria mengklaim intensitas 65% cokelat dengan lapisan couverturedalam minuman-minuman cokelat mereka tapi tenang saja apabila anda merasa terlalu ‘penuh’, pilihan mocktaildi Churreria cukup banyak dan yang tampil luar biasa adalah Lychee Blizzard. Sebuah moctail dengan paduan brilian antara rasa manis dari buah leci dicampur dengan kesegaran daun mint. Hasilnya adalah tentu saja perasaan seperti muda kembali, ceria dan segar meski telah melewati sehari penuh rutinitas yang melelahkan.

Akhirnya, Churreria memang tidak menyuguhkan sesuatu yang teramat baru tapi harus diakui bahwa khazanah dunia makanan di Jakarta menjadi lebih kaya, dimana Jakarta memang sudah menjadi tempat berbaur dan menjadi hilir dari berbagai kultur lokal maupun internasional. Kultur Spanyol ini memang datang begitu saja tanpa gembar gembor ataupun kemeriahan berlebih, apalagi iklim di Jakarta yang begitu didominasi oleh kultur Amerika. Tapi tidak pernah ada kata terlambat untuk makanan. Orang akan tetap mendatangi dengan antusiasme tinggi ke tempat-tempat baru namun apakah Churreria dapat mempertahankan trend churrosdan cokelat ini? We shall see.

Rating: 3/5

Grand Indonesia West Mall, UG #03A
Jl. M.H. Thamrin No. 1, Jakarta
Tel: 021 – 23581805

-Featured in HANG OUT JAKARTA March 2011 edition- (photo changed)