Tag Archives: Fusion

Quikskoop™: Suntiang (Pondok Indah Mall, Jakarta)

Has it been twenty years? Probably yes, and that’s how long I hadn’t set my foot again at Pondok Indah Mall. My last time was probably during one of those holidays back in my elementary years. Phew!

Finally, just around a month ago, I decided to come here and the credit goes for Suntiang. Well, literally suntiang is a really heavy crown usually worn during Minangnese wedding by the bride. It is believed that after she endured such weight the whole party, she’s entitled for a happily ever after marriage.

Suntiang 9

But the Suntiang I meant here is the latest addition on Jakarta’s culinary scene and by this name, they are offering something interesting aside from your usual nasi kapau. The owners are, from what I heard, are creative young people who wish to preserve the grandmother’s traditional recipes on one side, and to make it interesting, they bring Suntiang to a whole new dimension as a place to enjoy fusion sushi!

Fusion sushi is not a big deal anymore as everybody enjoys their California rolls, the phoenix, or the dragon, but in Suntiang, they intertwine Japanese and Minang in its sushis and other stuffs. So how about that?

The process itself was actually an elaborated one as they hire a sushi chef with 20 years of experience, crash-coursed him with the grandma back in Solok – West Sumatra for a month or so to learn anything Minangnese, back to Jakarta for the whole experiments, try-and-tested it, until finally Suntiang opens its doors. All of that fuss took nearly a year and it’s something you must not take lightly as the result.

Gyoza Duo Raso
Gyoza Duo Raso

So, during my virgin flight, the six gyozas was the starter that ignited it all.  It was all filled with rendang and chicken and came in with the gulai and balado dipping sauces. Lucky it came in evenly so my wife and I didn’t need to fight over it!

Secondly, the fusion rolls. Much to my amazement, the sushi came in so colorful and I can’t believe how Minangnese touch could also give the unique beauty the way we always perceive traditional Japanese food. The philosophy on how to make people pleased with the looks first and then the taste in Japanese cuisine can also be achieved by Suntiang through their rolls!

Sambal Chicken Teriyaki Rolls
Sambal Chicken Teriyaki Rolls

Over the three, I favored most the sambal chicken teriyaki rolls which incorporate kyuri and chicken teriyaki inside the roll and topped each with sambal merah and sambal hijau a la Minang! To make it even more beautiful, they also sprinkled rendang telur all around the sushi. How majestic!

Rendang Rolls
Rendang Rolls

The rendang roll was also fun to play with and personally I’d have it a tad spicier to my liking but not to worry from Suntiang as they tone down the level of spiciness a bit to make it favorable for any tongue.

Salmon Skin Rolls Balado
Salmon Skin Rolls Balado

The last roll was the salmon skin roll balado. This one has its potentials especially with the balado sauce but since the salmon skins were buried inside the rolls, this made them not crispy anymore and a bit hard to chew. Hopefully, Suntiang can do something about this in the future.

Gulai Ramen
Gulai Ramen

Additionally, I also enjoyed my gulai ramen a lot. It was a rich one and came in generously with an egg, slices of chicken karaage, fish cakes, and the usual vegetables in Japanese-style ramen. For a price of IDR 58,000, it came in so big and you’d best ask one or two of your friends to conquer this one than by yourself, unless well, you’re really that hungry.

Suntiang 7

For the closure, we were honored with the grandma’s specialty dessert of laman katan sarikayo. It’s basically a sticky rice dessert topped with the highly prized sugar-apple jam that any Indonesians would die for and the other one came in topped with grated coconut and brown sugar sauce. This one will definitely seal the deal!

Green and Red Suntiangs
Green and Red Suntiangs

However, if you prefer something fresh though, Suntiang can also prepare you their signature mocktails of strawberry, passion fruit, orange and apple juice for the one they called Red Suntiang and a mix of kiwi, green tea, orange, and apple juice for Green Suntiang. I have to say that both of these are made of clever arrangements and will definitely sooth you during the hot days ahead of Jakarta’s summer.

Well, next time, it’s going to be the all-out battle for me against the delightful recipes of Suntiang on its nasi kapau. It’s back to basic first for me before heading again for the sushi. I shall return!

——

SUNTIANG

Halal-friendly (self-claimed halal)
Some dishes may be suitable for vegetarians

Address:
Pondok Indah Mall 2, 3rd Floor #346
Jln. Metro Pondok Indah, Jakarta – Indonesia
Opening Hours: Mall opening hours
Telp: +62.21.7592.0529

Spend: Around IDR 50,000 – IDR 75,000 / person

Advertisements

Restaurant Review: The Belly Clan

The Belly Clan - Interior 5

Berawal dari persahabatan dan cita-cita bersama, akhirnya sekumpulan mahasiswa Indonesia yang menamatkan pendidikannya di Australia berhasil membuka sebuah opsi kuliner baru di pusat kota Jakarta. Dengan nama yang unik, The Belly Clan, para pebisnis muda ini siap untuk meramaikan percaturan bisnis restoran yang tidak ada matinya di Jakarta.

Banyak para restaurateur yang saya temui di Jakarta maupun kota-kota lain dewasa ini terinspirasi dari seluk beluk kehidupan mereka ketika merantau di mancanegara. Ketika kembali ke tanah air, itulah saatnya inspirasi-inspirasi idealis tersebut dituangkan secara riil menjadi sebuah konsep bisnis yang segar.

Tren masyarakat Barat, termasuk Australia, kini tengah menggandrungi sebuah pengalaman kuliner yang tidak lagi ortodoks terbatas pada tatanan lama seperti fine dining restaurant yang rumit dan canggih. Mereka kini menggemari masakan-masakan yang hidup, mengepul, lezat, sekaligus pas untuk kantong mereka. Di negeri-negeri itulah masakan-masakan khas Asia berjaya dengan segala keunikannya. Bahkan tren ini diamati serius serta dinikmati serta merta oleh seorang celebrity chef terkenal asal Amerika Serikat, Mario Batali, dalam wawancaranya dengan saya beberapa waktu sebelumnya.

The Belly Clan - Interior 3

Apapun motifnya, saya pribadi menyambut adanya angin segar dengan langkah berani dari The Belly Clan dalam mengusung genre Asia dalam masakan-masakannya. Tidak berhenti di situ, The Belly Clan tidak segan memadukan tema Asia tersebut dengan kekhasan masakan Barat, menjadikannya bertema Asian fusion! Tentu ini sebuah langkah berani kedua mengingat otentisitas masakan Asia sudah menjadi jati diri para penikmat lokal sekaligus juga bagi mereka yang hanya mengenal masakan Barat apa adanya. Dengan menyatukan keduanya tentu dua ekspresi dapat kita temukan bagi yang mendengar mengenai ini, mengernyitkan dahi atau tersenyum lebar seperti saya. Hingga tibalah pertemuan saya dengan The Belly Clan untuk pertama kalinya.

Perjumpaan pertama dengan The Belly Clan di suatu siang yang terik ternyata cukup menarik. Menempuh perjalanan ke daerah bisnis di bilangan Sudirman yang masih berantakan dengan konstruksi jalan layang Casablanca saat itu tak ayal membuat lalu lintas di sekitaran gedung Intiland Tower tempat The Belly Clan berada sangat macet. Berhasil menembus itu semua lalu begitu nyaman rasanya ketika menemukan oase kesejukan dalam balutan desain minimalis industrial dengan  perpaduan warna bata yang dicat putih serta warna teduh. Dua hal lain yang menarik dari ruangan utama dari restoran ini adalah sebuah bar di satu sisi dan semi open kitchen di sisi lainnya. Sedikit melipir melewati sebuah lorong, terdapat juga private area yang dengan kapasitas cukup besar.

Dari segi makanan, The Belly Clan menempatkan seorang Hengky Effendy sebagai exective chef-nya. Hengky sendiri adalah seorang chef muda berbakat dan penuh pengalaman yang telah melanglangbuana ke berbagai negara dan bekerja untuk Gordon Ramsay, celebrity chef yang kita kenal sering menjadi pembawa acara kuliner. Selama bekerja di Gordon Ramsay, ia sempat dibimbing langsung oleh Josh Emett yang tersohor serta pernah memukau perhatian Daniel Boulud, seorang legenda Michelin Star lainnya, dengan masakannya.

Mini Asian Sloppy Joes
Mini Asian Sloppy Joes

Siang itu saya berkesempatan menikmati berbagai variasi masakan The Belly Clan yang ternyata mengundang selera dari segi rasa maupun penampilan. Dimulai dari nachos yang kali ini dibuat dari kulit pangsit untuk kesan Asia namun tetap dipadukan dengan keju dan salsa tomat khas Mexico dengan saus cocolan fusion yaitu avocado wasabi. Selanjutnya menu pembuka ini ditambah beef tortilla dengan saus kacang Gochujang khas Korea serta Mini Asian Sloppy Joes yang terdiri dari burger-burger kecil berisi daging cincang, keju, telur mata sapi, sayur serta saus tomat yang diiringi dengan kentang goreng irisan tipis khas The Belly Clan. Perkenalan yang menarik mengingat tema fusion ini sesuatu yang saya sambut dengan terbuka dan ternyata berhasil memukau saya.

Crab Fettuccine
Crab Fettuccine

Tentu yang menyenangkan adalah ketika euphoria dari menu-menu pembuka tadi berlanjut dengan menu utama yang tidak kalah menarik. The Belly Clan menyajikan pasta jenis fettuccine dengan menu kebanggaan orang Singapura yaitu chili crab dengan tampilan warna merah berani. Ide menggiurkan lainnya datang dari ikan salmon Norwegia dengan saus salsa tomat dan nasi kuning gurih. Tapi pilihan saya waktu itu datang dari tumis irisan tipis lidah sapi dengan garlic rice dengan potongan cabe, bawang daun serta minyak wijen. Hasilnya, euphoria kegembiraan itu tetap berlanjut dengan rasa makanan yang mumpuni hasil karya Chef Hengky.

Patut dicatat juga adalah konsep The Belly Clan yang modern dan fleksibel tidak terpatok pada fase-fase layaknya restoran fine dining. Sehingga porsi-porsi menu utamanya disajikan dengan porsi cukup besar khusus untuk memenuhi kebutuhan para eksekutif muda Jakarta yang berkultur makan cepat di siang hari sebelum kembali ke kesibukannya masing-masing. Dengan harga yang cukup terjangkau, lokasi prima, dan jenis masakan yang belum pernah saya temui di Jakarta sebelumnya, The Belly Clan memainkan sebuah keunggulan yang patut diperhitungkan.

The Belly Clan - Pannacota with black sesame sauce
Pannacota with black sesame sauce

Sebagai penutup, dessert yang menjadi kebanggaan The Belly Clan adalah pannacotta khas Italia yang kali ini diberi saus wijen hitam sebagai ganti dari versi aslinya. Tambahannya, The Belly Clan juga memiliki sederetan wine serta cocktail khas yang diberikan sentuhan Asia baik dari nama maupun racikannya. Betapa lengkap pengalaman berkunjung saat itu, yang tersisa malah adalah rasa penasaran hendak mencoba masakan-masakan lain yang terdengar menggiurkan!

Tentunya pemunculan tema baru seperti ini adalah sesuatu yang sepatutnya dihargai dan dipertahankan. Ciri khas Asia yang memang notabene mengalir dalam darah kita adalah sebuah jati diri dan ini menjadi semacam kebanggaan tersendiri yang kelak akan mendorong laju munculnya usaha-usaha makanan upscale yang mengikuti arketipe ini sebagai panutannya sekaligus juga mengimbangi merebaknya restoran-restoran yang terlalu bertema Barat. Mari kita nantikan sepak terjang The Belly Clan dan pemunculan kreasi-kreasi makanan terbarunya di masa mendatang!

—–

THE BELLY CLAN

Halalness to be confirmed (pork menu and liquor are served)

Some menu suitable for vegetarians

Address: Intiland Tower, GF – Jln. Jend. Sudirman Kav. 32, Jakarta – Indonesia

Opening Hours: 10 am – 12 am (weekdays), 10 am – 2 am (weekends)

RSVP: 021 – 5790.6000

Website: http://thebellyclan.com

Facebook: thebellyclan

Twitter: @TheBellyClan

Pricing: IDR 150,000 – IDR 250,000 for two

—–

Images are courtesy of The Belly Clan

Restaurant Review: Bistronomy (iMAGZ, May-Jul 2013)

Bistronomy - Interior 2

Notifikasi dari Kawano International, grup besar yang bergerak di bisnis F&B di Jakarta, datang menghampiri laman Facebook saya beberapa waktu yang lalu. Kali ini Kawano International telah membuka satu restoran baru di kawasan Kebayoran Baru dengan nama Bistronomy. Herannya nama tersebut malah menggelitik perhatian saya karena Kawano lebih dikenal dengan spesialisasinya pada masakan Jepang dan restoran-restorannya yang terlebih dahulu sukses seperti Sakana dan Kado.

Selain itu, rasa penasaran saya ditambah lagi dengan cerita menarik dari rekan saya yang menggeluti dunia fotografi mengenai restoran ini. Meskipun mungkin dari segi rasa, semua orang memiliki subjektivitas masing-masing, namun satu hal yang rekan saya tekankan dari kesehariannya yang melibatkan aspek visual, Bistronomy merupakan restoran dengan penampilan yang teramat cantik.

Bistronomy - Interior 3

Tidak perlu menunggu lama, tibalah saatnya bagi saya untuk mengunjungi restoran ini. Terletak di sebuah lingkungan yang hijau dan teduh di bilangan Ciranjang – Kebayoran Baru, Bistronomy menempati lokasi cukup luas di sebuah pertigaan dan tampil layaknya benteng berwarna krem. Seberkas perasaan ragu sempat mewarnai karena penampilan luarnya yang tampak biasa, tapi perasaan lega menghampiri seiring setiap langkahnya karena Bistronomy sengaja mendesain restorannya dengan orientasi menjaga privasi para pengunjungnya. Bahkan di balik tembok-tembok ini terdapat pula taman yang tertata rapi serta tempat bersantap outdoor yang terlihat nyaman untuk sore dan malam hari dimana cahaya yang temaram akan menemani pengunjungnya dengan suasana romantis.

Tidak cukup membuat saya terbuai dalam kekaguman, apa yang menyambut saya ketika membuka pintu masuk adalah pemandangan yang jauh lebih indah lagi. Bistronomy benar-benar membawa pengunjungnya untuk berlindung dalam ketenangan dan kenyamanan dari hiruk pikuk di luar sana! Perabotan khas Perancis abad Renaisans digabungkan dengan desain restoran yang chic sekaligus vintage, warna-warna teduh, cahaya mentari yang hangat, dan tentunya suasana santai yang diiringi dengan lagu-lagu yang sengaja dirancang untuk mendukung kehangatan atmosfir di restoran ini.

Bistronomy - Outdoor

Kehangatan ini lalu berlanjut dengan sambutan dan pelayanan hangat dari kru Bistronomy. Ini tampaknya menjadi hal di luar kebiasaan dari apa yang saya kerap jumpai dari beberapa restoran milik Kawano yang terbiasa untuk melayani para ekspat sibuk asal Negeri Sakura dengan kecepatan dan kecermatan. Sebagai tambahan, tentunya pengetahuan terhadap menu yang disajikan juga cukup memadai, terbukti ketika meja sebelah saya ternyata adalah tamu yang sangat pemilih dengan diet-nya dan salah seorang staf restoran ini berhasil memberikan saran-saran sajian yang sesuai untuk tamu tersebut.

Yang dinanti selanjutnya tentu adalah yang tersaji dari dapur Bistronomy. Dikepalai empat chef asal mancanegara yang memiliki spesialisasi masing-masing, Bistronomy menyajikan percampuran estetika khas masakan Eropa dengan pengaruh dari Perancis dan sentuhan kuliner ala Jepang. Kesemuanya ini namun dikemas secara santai tanpa menonjolkan sebuah keharusan bagi pengunjungnya untuk menikmati masakan-masakannya dengan aturan fine dining. Tentunya sayang apabila kunjungan ke sana tidak melibatkan berbagai pilihan menarik mulai appetizer hingga dessert.

Rare Pan Seared Tuna Salad
Rare Pan Seared Tuna Salad

Pengaruh perpaduan Eropa dan Jepang sudah mulai terasa kental dimulai dengan menu-menu pembuka, seperti tapas maupun saladPilihan tradisional seperti sashimi maupun edamame memang pilihan klasik yang selalu digemari tapi cobalah bertualang dengan menu-menu fusion seperti pan-seared tuna salad dengan saus nam-prik a la Thai yang menyegarkan atau ceviche yang menggunakan lobster yang diimbuhi unsur Asia seperti mangga, timun, dan bawang serta cabe.

Memasuki hidangan utama, segala sesuatunya menjadi lebih menggiurkan lagi. Potongan filet mignon atau striploin mungkin lazim ditemukan di beberapa steakhouse atau bistro Perancis yang mewah. Di Bistronomy, Anda akan menemukan wagyu yang menggunakan saus teriyaki dengan red wine atau lamb chop dengan saus honey mustard. Menarik, tapi pilihan saya jatuh pada hidangan laut yaitu ikan salmon panggang dengan saus teriyaki dengan campuran wasabi.

Grilled Salmon Wasabi Teriyaki
Grilled Salmon Wasabi Teriyaki

Salmon ini tersaji cantik dengan pendamping berupa kentang tumbuk, ubi serta kentang goreng, salad berwarna warni dengan percikan vinegar, irisan panjang kulit kentang yang digoreng, serta satu bongkah wasabi yang kehadirannya justrutidak lazim untuk hidangan seperti ini. Sungguh menarik! Ikan salmon tersebut dipanggang rapi dengan menyisakan kelembutan serta derajat kelembaban yang tepat. Tidak lupa kerenyahan kulit ikan salmon ini terasa nikmat berbalut saus teriyaki manis dengan tekstur agak kasar, menjadikan hidangan ini memiliki berbagai paduan karakter yang diperlukan dalam sebuah masakan modern.

Fisherman's Wharf
Fisherman’s Wharf

Dari bagian Oriental, salah satu pilihan sushi roll seperti Fisherman’s Wharf yang berisikan ikan tuna, telur ikan terbang, telur, jamur, serta berbagai sayuran juga turut memuaskan saya dengan eksekusinya yang rapi, ukuran potongan yang tepat, dan kombinasinya yang kaya. Alternatif lain selain sushi roll yang tampak menggoda adalah Trio de Yakitori yang terdiri dari sate-sate khas Jepang dengan tiga pilihan daging dan menggunakan saus manis pedas.

Rare Mango Pudding
Rare Mango Pudding

Sebagai penutup, satu pilihan paling cantik dari rangkaian menu dessert-nya adalah pudding mangga yang berukuran besar yang dilengkapi potongan roti, buah strawberry serta krim untuk kemudian disiram dengan saus kental manis dari buah mangga. Sungguh penutup yang tidak hanya menyegarkan sekaligus manis! Pertanyaannya, apakah Anda sudi membagi pudding mangga yang lezat nan cantik ini?

Semua cerita ini menggenapkan pengalaman yang menyenangkan bersama Bistronomy. Semua aspek terasa saling bertautan dengan keharmonisan yang jarang saya temui dan melibatkan berbagai segi seperti rasa, pelayanan, penampilan, dan kenyamanan selama bersantap di sana. Saya menantikan kunjungan berikutnya dan berharap konsistensi serta perfeksionisme ala Jepang yang diterapkan di Bistronomy tetap bertahan bahkan lebih baik lagi. Semoga!

Bistronomy - Interior 1

———-

BISTRONOMY

Halalness to be confirmed (pork menu and liquor are served)

Some menu suitable for vegetarians

Address: Jln. Ciranjang (Ciniru I no. 2), Kebayoran Baru, Jakarta – Indonesia

Opening Hours: Daily, 11 am – 11 pm (Mon-Thu, Sun) & 11 am – 1 am (Fri-Sat)

RSVP: +62.21.739.6655

Email: bistronomy@kawanointl.com

Facebook: http://www.facebook.com/Bistronomy.JKT

Twitter: http://twitter.com/Bistronomy_JKT

Pricing: Around IDR 400,000 – IDR 500,000 for two

—–

Published in iMAGZ (Intiland in-house magazine) 3rd Edition, May-Jul 2013.

Images are courtesy of Rian Farisa (The Gastronomy Aficionado)

Restaurant Review: Misticanza (Hang Out Jakarta, May 2012)

Italian with a touch of Japanese. Sebuah konsep yang cukup berani mengingat sekeliling Misticanza notabene terdiri dari banyak ekspat dari Jepang yang rata-rata seleranya konservatif. Bagi saya, itu suatu catatan tambahan lezat di ensiklopedi pesiar kuliner saya.

Letaknya sebetulnya sangat strategis namun terbilang low profile. Meskipun menjadi tenant di Apartemen Sahid yang baru tapi Misticanza tampak tidak terlalu berepot-repot memunculkan dirinya di Twitter maupun Facebook. Kebetulan ketika saya sehari-hari melewatinya, Misticanza terbilang sepi pendatang baik siang maupun malam.

Photo by: sister.co.id

Sekelilingnya adalah gedung Midplaza yang notabene berisi perusahaan Jepang serta InterContinental Hotel sudah lazim menjadi brand kesukaan turis maupun ekspat dari negeri Sakura sana. Misticanza tampak mencoba memanfaatkan kondisi ‘demografis’ tersebut dan mengusung tema masakan fusion Italia dan Jepang.

Ketika datang pada suatu malam sebetulnya saya berharap banyak sebuah suasana yang homey dan cozy tapi yang saya dapatkan justru penempatan perabotan yang terasa semrawut. Sejujurnya malahan perabotan di Misticanza terlihat terlalu murahan untuk sebuah restoran yang menyajikan makanan dengan harga cukup mahal dan untuk segmen yang ditujukan bagi ekspat.

Pilihan yang eksotis untuk pembuka dengan rasa fusion adalah perpaduan bagna cauda dengan aksen Kyoto. Bagna cauda terdiri dari berbagai sayuran yang direbus ataupun ditumis untuk nantinya dimakan bersama pasta yang terbuat dari miso. Sayurannyapun begitu beragam seperti kol, zucchini, wortel, bawang daun, ubi, selada, cherry tomato, paprika hingga asparagus. Rasa miso yang asin serta aksen bawang yang kental sebetulnya menjadi pembuka yang seru. Tapi lama kelamaan pasta miso tersebut justru agak membuat eneg dan sayurannyapun begitu banyak. Maka di sinilah esensi makan beramai-ramai harus dijalankan layaknya orang Italia!

Prawn Risotto (Photo by: sister.co.id)

Terakhir yang dicoba adalah risotto dengan kari bercitarasa Jepang. Penampilannya gelap dan hanya diiringi oleh sayur-sayuran tapi justru rasa kari yang kencang membuat hidangan ini terasa gurih. Ketimbang berat dengan kekentalannya justru ini adalah satu tipe rasa yang adiktif dan mengajak lidah saya untuk terus menerus menyuapnya. This is a prime example of how fusion genre achieve success!

Mushroom Pizza (Photo by: sister.co.id)

Sebagai pendamping yang saya pesan justru citarasa asli Italia murni dalam bentuk pizza saja. Selain margherita justru funghi yang tampak cocok untuk malam itu. Bentuknya tipis dengan potongan cukup banyak untuk santap berdua atau lebih. Meskipun secara rasa tidak mengejutkan tapi cukup untuk menyimpulkan bahwa Misticanza memang lebih baik dikunjungi dengan semangat mencoba sesuatu yang baru or in other words, its fusion dishes!

Tawaran terakhir sebelum meninggalkan Misticanza adalah bahwa saat ini mereka tengah mengadakan promosi untuk all-you-can-eat-the-desserts sebesar IDR 100,000 per orangnya. Pilihannya juga cukup menggiurkan seperti tiramisu, panna cotta, fruit parfait atau chocolate parfait dan lain-lain. It’s tempting yet challenging. Are you up for it? I am! 

———-

MISTICANZA

Rating: ***

Halal-friendly (some of the menu contains pork and wine)

Some menu suitable for vegetarians

Address: Sahid Sudirman Residence, Jl. Jend. Sudirman Kav. 86, Jakarta – Indonesia

Opening Hours: 11 am – 11 pm

RSVP: 021 – 2902 2837

BB Pin: N/A

Email: info@misticanza.net

Website: http://misticanza.net

Facebook: N/A

Twitter: N/A

Atmosphere: Shabby furniture and awkward placement make Misticanza feel like an alien ship.

Ambiance: Quiet all day.

Service: Highly knowledgeable and helpful to my surprise.

Pricing: Around IDR 150,000 – IDR 200,000 for two

———-

-Featured in HANG OUT JAKARTA May 2012 edition- (unedited)

Pictures by http://sister.co.id

Restaurant Review: Y&Y [CLOSED]

Arguments to decide where we should eat at the state when our stomachs growling equals bad idea. It happened when me and my friends strolling around the vast Grand Indonesia newly opened theme stories (The Crossroads of The World). Several stories between Blitzmegaplex and the shopping mall are designated for entertainment and food zones. Several tenants have filled the space, but they seem to be separated with each other so we have to walk to and fro while arguing where we should eat. I came up with the idea for The Grand Duck King, but they seemed to be discouraged by the menu pictures. Well, I’ll save it for another occasion then. Anyway, long story short, we arrived in a bright place that goes with the name Y&Y.

Judging from the outside, this place was bright and shiny and the interior was quite neat actually and by the time we got inside, it’s actually quite comfortable. The white theme and the bright texture somehow deliver a pristine atmosphere. I must say I’m quite impressed, plus the installed “camouflaged” ceiling fans. That’s neat! You gotta see by yourself.

After observing the menu, Y&Y seemed to be a fusion genre kind of restaurant. Well, they provided dishes from appetizer to dessert, but all has the Japanese touch in it. The price seemed to be reasonable but I doubt that it’ll bring me satisfaction. They also promoted the Wagyu (Japanese superior quality beef) in the menu. Tempting, but I suppose, to be really satisfied with Wagyu, you need to visit either a true Japanese restaurant or a steakhouse. That would probably more suitable, but in terms of price, I warrant, you’re gonna think twice. Haha.. OK then. I happened to see this intriguing dish there. It’s a fusion pasta! After some deliberate consideration, I chose the Thyme & Parsley Escargot & Asparagus Fettuccine (IDR35,000). Seems like a good bargain. My friends seemed to be intrigued too and they picked with the Beetroot Fettuccine With Mix Mushrooms (IDR 35,000). Nowadays, we create pasta out of vegetables such as spinach, carrot, and even beetroot. So that makes pasta even more colorful. You know, it’s like when I was a kid, my mom used to told me that I’m not supposed to eat too much candy bars especially the colorful ones. She said that it’s not good for health because they put this artificial color on it. Notably like Yellow 5 and 6 in Pringles Cheese, well… not to also mention the MSG — our favorite thing from snacks! Anyway, this kind of thing really makes me a bit phobic when I’m facing colorful foods. A bit exaggeration, but after a while I realized that this is a pasta! So I assume there’s no need for me to worry.

Thyme & Parsley Pasta with Escargot & Asparagus

Well, in terms of taste, strangely decent! I mean it’s an odd mixture between asparagus and escargot (if they really put escargots in it) over pasta. The pasta itself was probably aglio e olio type (garlic and olive oil). I added parmesan to enhance the taste, but the original taste I must say was quite OK. Too bad they didn’t provide the life of Italian cuisine for the customers, it’s the olive oil. I took a turn to taste my friends’ dishes which happened to be the same. But this one turns to be a bit more exotic than mine. But mine’s definitely better in taste. So, the fettuccine itself was purple colored.. well you know.. the beetroot color, mixed with Japanese mushrooms like enoki and shiitake. Add more parmesan for more life. Enough for my insatiable appetite I suppose.

On another occasion (my second visit), the rice bowls were the theme of the day. Those were the Red Duck Curry Rice (IDR 45,000) and Mix Fishes/Sashimi Rice (IDR 48,000). I found these two were not enough to even satisfy my stomach, not to mention my judgment too. The duck one was quite OK but the ingredients were a bit imbalance. Well the veggies were dominating the taste instead of the duck but at least the sauce was able to balance it a bit. Uniquely served in stone bowl like when we used to live in the Stone Age. Haha… Meanwhile, my dish was the sashimi rice and served in clay pot bowl. Gotta be careful there. The whole idea was to have a clay pot rice with sashimi, but eventually as the rice got mixed with all, the sashimi were not raw anymore. So it’s more like the Pepper Lunch dishes where you semi-cook everything in your dish according to your preference. Anyway, they too provide this special sauce which definitely helps a lot! Cause the taste was really just so so. Still wasn’t good enough to meet my demands.

Mix Mushrooms Beetroot Pasta

So in the end, I conclude that actually this restaurant serves decent dishes but since most are fusion genre dishes, some of which may be total disasters! But gotta admit that the rest probably okay. The pricing is OK considering the Japanese ingredients for the fusion dishes. Not too pricey but definitely you can pick better place. I’ve seen better days in enjoying Japanese cuisine but combining it with Western doesn’t always work. Play safe here, lads!

The Judgment (based on scale of 10 score plus the comments):

1. PRICE (6/10)

– Calculation Method

GT = After Tax Principle Price x Service Tax

– Service Tax = 5%.

– Grand Total = IDR 190,575 (First visit, three people); IDR 136,290 (Second visit, 2 people)

2. INTERIOR (7/10)

Coolly designed! Although dominated by white color, but still gives the calming atmosphere. I love the camo ceiling fans!

3. SERVICE (5/10)

Just fine. Too bad they don’t provide olive oil, but at least they got parmesan (unlike the stingy Pizza Hut!)

4. TASTE (6/10)

Quite decent, but you should still play safe and pick the right dish according to your intuition. The pasta dishes are recommended.

5. OVERALL (6/10)

Probably okay for the first couple visits, but soon you’ll get bored. Worth a single try.

Additional Information:

Location :

Y&Y Steak
Pacific Place, 4th Fl #4-65
Jakarta 12190
(021) 5797-3137

Y&Y Nasi+
Pacific Place, 4th Fl #4-72
Jakarta 12190
(021) 5797-3127

Grand Indonesia, West Mall- 3A, Entertainment District 1 #23
Jakarta
(021) 2358-0825

—–