Tag Archives: Food Facts

Thank the Ottoman Empire for the taco al pastor (via PRI)

Tacos al pastor from Carmela’s Mexican Restaurant in Beaumont, Texas

At the Supermercado Mexico in Portland, Oregon, you’ll find a turning spit of pork, basted with chili and onions, dripping fat and flavor. Shave some off into a tortilla and you’ve got a taco al pastor, the classic Mexican street food.

It’s a similar scene halfway across the world in Jerusalem. At the hole-in-the-wall Al Waary restaurant, there’s a vertical rotisserie of beef spinning next to the flames, flavored by tangy vinegar. Shave some off into a pita, and you’ve got shawarma — the quintessential Middle Eastern street meat.

If you’re thinking these beloved dishes might be linked, you’re right. So we hit the street food trail to find out, starting in Jerusalem.

“Shawarma is very, very interesting,” says Ali Qleibo, a Palestinian anthropologist, sitting at the Al Waary shawarma joint. The origin of the word shawarma comes from the Turkish word çevirme, which means “turning.”

Ali Qleibo, a Palestinian anthropologist, in front of Al Waary shawarma stand in Jerusalem

You can find some version of shawarma everywhere in the Middle East where the Ottoman Empire once reigned.

“Turks call it döner kebab; Greeks call it gyro; Iraqis call it kas,” Qleibo says. “This shows you the all-pervasive influence of the Ottoman Empire, because all the subjects of the Ottoman Empire eat shawarma even though they call it by different names.”

Of course, the people of the Ottoman Empire didn’t all stay there. About 36,000 people under Ottoman rule left for Mexico between the late 19th and early 20th century.

“People came from as far as Egypt. I found some people [who] came from Iraq,” says Theresa Alfaro-Velcamp, a history professor at Sonoma State University who has tracked the migration of Middle Easterners to Mexico. “The majority came from the Levant, as it was called during that time, which is now modern-day Lebanon and Syria.”

The migrants left for the usual reasons: looking for economic opportunity, dodging army conscription and escaping sectarian violence. And when they arrived, they brought their food with them. “By the 1930s, there were restaurants that served shawarma,” says Jeffrey Pilcher, a historian and author of the book “Planet Taco.”

A shawarma sandwich in Jerusalem. Swap in pork for lamb, and a tortilla for a pita, and you’ve got the Mexican classic, Taco al Pastor

Then the cuisine morphed: “During the 1960s, the Mexican-born children of these Lebanese migrants … start opening up their own restaurants, and they start to create a kind of a hybrid cuisine,” Pilcher says.

“They take the technology that they grew up with in these Lebanese restaurants, the vertical rotisserie — but instead of using lamb, they use pork,” Pilcher says. “They marinate it in a red chili sauce, which gives it that distinctive color, and they cook these up and serve them and call them tacos al pastor.”

Even the term “al pastor,” which means “in the style of the shepherd,” is a nod to the original Middle Eastern lamb version of the dish.

When Mexico’s economy boomed after World War II, tacos al pastor moved from small towns to bigger cities and eventually into the US.

The fact that this classic dish was a relatively recent import from the Middle East doesn’t necessarily make it any less Mexican, adds Pilcher, the taco historian. “Authenticity isn’t always something that dates back to the ancient Aztecs and Mayas,” he says. “That meaning of Mexico is continually being recreated in every generation.”

But whether it’s lamb or pork, tortilla or pita, Jerusalem or Portland, the essentials have remained the same: Fat and fire, a handful of spices, a quick meal —  and a taste of tradition.


Source: https://www.pri.org/stories/2015-05-07/thank-ottoman-empire-taco-youre-eating

Photography: Daniel Estrin, Randy Howards, Joanne Rathe

European Butter & American Butter, So What’s The Difference?

Seiring semakin terbukanya akses untuk pabrikan asing dalam menjual produknya di Indonesia, tentunya rak-rak supermarket kini berisi lini produk yang semakin beragam – tak terkecuali tentunya adalah mentega.

Mentega dan margarin lokal tradisional kini bersaing ketat dengan mentega yang datang dari berbagai belahan dunia. Bagi yang awam tentu akan memilih apa yang dirasa sebagai kebiasaan atau sesuai budget, namun bagi mereka yang lebih selektif ataupun para profesional, tentu pilihan mentega menjadi proses yang krusial ketika tengah berbelanja bahan-bahan.

Secara umum pasaran dunia biasanya didominasi mentega-mentega dari Eropa serta Amerika Serikat. Namun apa sih yang sebetulnya membedakan keduanya?

Berbicara mentega asal Eropa, lazimnya gaya produsen di sana mengolahnya dengan cara berbeda dibandingkan mentega Amerika Serikat yang telah diatur standarisasinya oleh USDA. Mentega Eropa biasanya melalui proses mengocok (churning) lebih lama sehingga menghasilkan sekitar 82% butterfat (lemak susu).

Secara tradisional bahkan mentega Eropa dibiarkan terfermentasi untuk menghasilkan sedikit rasa asam, sehingga hasil akhirnya tidak hanya wanginya lebih kentara namun juga secara rasa lebih kaya. Selain itu secara tekstur juga lebih lembut, lebih mudah lumer, dan cocok sekali untuk baking.

butter-1

Semetara itu untuk mentega Amerika, USDA menetapkan bahwa mentega harus memiliki setidaknya 80% butterfat dan itulah yang biasanya kita dapatkan ketika membeli unsalted butter serta salted butter pada umumnya. Karena tidak diberi kultur tambahan maka rasanya menjadi lebih netral.

Pada akhirnya semua tergantung dari tujuan awal kita memasak. Sekiranya kita mencari kekayaan rasa dari jenis makanan tertentu yang mengedepankan fungsi mentega, tentu mentega Eropa-lah yang cocok. Namun untuk hal-hal dimana mentega bukanlah hal yang esensial seperti misalnya pada brownies atau sekadar untuk meminyaki wajan, maka mentega pada umumnya tentu lebih ekonomis.

Terlepas apapun pilihannya, ada satu quote yang wajib kita percayai,

“Everything is better with butter”
– Julia Child

Know Your Food Expiration Date!

Bahan-bahan makanan mendasar yang kita konsumsi sehari-hari bisa jadi tidak memiliki label kadaluarsa, sehingga sudah selayaknya kita mengetahui kapan kita sudah tidak bisa mengonsumsinya lagi.

Berikut adalah presentasi simpel dari Goodful yang akan membantu kamu untuk mengetahui kapan bahan makanan sebangsa telur, daging cincang, ayam, dan macam-macam lainnya. Semoga bermanfaat!


Video is courtesy of Goodful

So What’s the Difference Between Yams & Sweet Potatoes?

Vox kembali hadir dengan video terbarunya yang membahas perbedaan yang acapkali membuat orang Amerika kebingungan – apakah perbedaan dari sweet potato dan yam?

Dengan singkat, cerdas, dan menghibur; Vox menelusuri asal mula bahan makanan populer yang satu ini serta menghubungi ponggawa dari Sweet Potato Council untuk proses klarifikasinya. Yup, you got that right – Sweet Potato Council!

Wanna know the story? Check the video right away!


Video is courtesy of VOX

Halal Facts: The Prophetic Four Ingredients Diet

Menarik untuk mencermati ajaran agama Islam yang rupanya membahas begitu banyak aspek dalam kehidupan. Salah satunya tentu berkaitan dengan makanan.

Setelah ditelusuri, rupanya Nabi Muhammad SAW di masanya mencontohkan tidak hanya cara menikmati makanan dengan baik namun juga beberapa bahan makanan yang beliau rajin konsumsi.

Berikut adalah artikel singkat mengenai keempat bahan makanan tersebut beserta khasiatnya serta berbagai referensinya untuk Anda pelajari.


Rasulullah SAW bersabda:

حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ حَسَّانَ أَخْبَرَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نِعْمَ الْأُدُمُ أَوْ الْإِدَامُ الْخَلُّ

“Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abdurrahman Ad Darimi, telah mengabarkan kepadaku Yahya bin Hassan telah mengabarkan kepada kami Sulaiman bin Bilal dari Hisyam bin ‘Urwah dari Bapaknya dari Aisyah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sebaik-baik lauk pauk adalah cuka.” (HR. Muslim, No: 3823)

Hadits yang serupa:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلَ أَهْلَهُ الْأُدُمَ فَقَالُوا مَا عِنْدَنَا إِلَّا خَلٌّ فَدَعَا بِهِ فَجَعَلَ يَأْكُلُ بِهِ وَيَقُولُ نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ

“Dari Jabir bin Abdullah menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta lauk kepada istrinya-istrinya, lalu mereka menjawab: “Kita tidak punya apa-apa selain cuka.” Beliau menyuruh diambilkan (cuka itu), lalu beliau makan dengan cuka tersebut sambil bersabda: ‘Sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka’.” (HR. Muslim)

Benarkah sebaik-baik lauk adalah cuka?

Tentu saja tidak, karena di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada makanan lain yang lebih enak, seperti daging, roti, keju, dan sebagainya. Tapi mengapa Nabi mengatakan sebaik-baik lauk adalah cuka?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan demikian untuk menjaga perasaan istrinya. Perhatikan kembali hadits tersebut. Para istri beliau sebelumnya berkata : “Kita tidak punya apa-apa selain cuka”. Maka Rasulullah berusaha menjaga perasaan mereka dengan memuji makanan yang ada, walaupun yang tersedia hanyalah cuka!

Namun secara ilmiah, cuka terbukti memiliki banyak sekali manfaat. Sesendok cuka dapat mengurangi lemak bila dicampur dengan kuah salathoh (sejenis lalap yang biasa dimakan dengan roti), lalu disantap dengan roti. Dengan cara seperti itu cukup dapat menghilangkan lemak. Hal ini dapat terjadi karena cuka merupakan asam asetat yang berhubungan dengan protein, lemak dan karbohidrat, atau yang biasa disebut dengan asetoasetat.

Artinya, mengkonsumsi cuka secara teratur di dalam makanan atau salathoh, atau memasukkan cuka dengan ukuran satu sendok teh (terutama cuka apel) ke dalam secangkir air dapat berkhasiat menjaga kadar lemak tubuh. Di samping itu, cuka juga dapat mengurangi potensi aterosklerosis (penimbun zat lemak di dalam dan dibawah lapisan intima dinding pembuluh nadi), karena cuka mampu mengubah zat dari pembuluh darah menjadi senyawa sederhana (nonkompleks), yakni asetoasetat yang masuk kedalam komposisi nutrisi.

Ada bukti yang kuat bahwa Rasulullah SAW sering mengkonsumsi cuka dengan minyak zaitun. Pada masa paceklik, sahabat, Umar ibnu Khottob r.a. hanya mengkonsumsi minyak zaitun dan cuka, dan tidak makan daging, kecuali setelah orang-orang miskin bisa makan daging.

Cuka apel merupakan cuka yang paling baik, karena disamping asam asetat sebagai bahan utamanya, cuka juga mengandung sujumlah asam organic yang biasa diperlukan tubuh dalam makanan yang sehat. Perlu diketahui juga bahwa cuka jenis ini memiliki berbagai kandungan unsur mineral yang juga diperlukan tubuh.

Simpulan

Bila dilihat secara keseluruhan, buah kurma yang memang diakui khasiatnya ternyata kaya akan mineral, serat dan kalori. Sedangkan roti gandum adalah simbol karbohidrat yg penting untuk memberi asupan energi sehari-harinya.

Sementara itu, minyak zaitun merupakan lemak nabati yg sehat bagi tubuh dan terakhir adalah cuka yang merupakan pengurai karbohidrat dan lemak menjadi protein.

Sehingga ketika daging menjadi sebuah komoditas yang mahal dan tidak selalu bisa dikonsumsi setiap hari, maka asupan merujuk ke contoh yang diperlihatkan Rasulullah SAW, keempat bahan ini sudah memenuhi kriteria kebutuhan tubuh kita sehari-hari.


Sumber : Buku Ensiklopedi Mukjizat Al-Qur’an dan Hadis, Jilid 6

Taken from http://www.baitulmaqdis.com, edited with additional information