Tag Archives: Feature

Krakakoa: The Finest From the Labor of Love (Passion, 2017)

The bean-to-bar movement within the cocoa and coffee industry, or the farm-to-table concept found in gourmet restaurants of today have noble ideas to begin with. After four years in the business; Krakakoa has empowered hundreds of farmers, created a lineup of award-winning artisanal chocolate bars, and is ready to represent the finest from Indonesia.

Sabrina Mustopo knew well that Indonesian cocoa has a lot of potential waiting to be further discovered. Her experience working with governments and international think tanks for agricultural matters brought her to a realization that improving the lives of the farmers will positively affect the cocoa industry and the nation’s economy. As we know it, our country is the third largest cocoa producer in the world but severely lacking when it comes to quality.

Together with her colleague Simon Wright, Kakoa was established in 2013 – which later rebranded as Krakakoa. The aim is to produce high quality Indonesian cocoa beans through sustainable farming methods and direct trade. Initially concentrated with plantations in Lampung; Krakakoa also partners with farmers from Bali, Kalimantan, and Sulawesi.

Krakakoa starts by training the farmers on a two-month program before finally outfitting them with tools, guaranteeing a good buying price, and giving them the freedom to choose whomever they want to sell their cocoa beans to. This bring a sense of motivation and responsibility for the farmers to truly tend their crops, while at the same time improving their livelihood and the whole industry in general.

Today, Krakakoa has a rich lineup of cacao-based products, from the single origins and flavored bars, to cacao nibs, drinking chocolates, and even cacao tea. The highlights from Krakakoa are the award-winning, signature single origin of 70% Sedayu Sumatra and 75% Saludengen Sulawesi bars. Additionally, the internationally recognized Academy of Chocolate from London also awarded their uniquely flavored chocolate bars such as the dark chocolate sea salt & pepper, the dark milk chocolate ginger, and the milk chocolate creamy coffee.

Further pursuing their ideals to showcase quality chocolate from Indonesia for the world; Krakakoa has been partnering with F&B personas and establishments – in addition to displaying their lineups at gourmet retailers in Jakarta, Bali, Bandung, Surabaya, Tangerang, and as far as Singapore.


KRAKAKOA | www.krakakoa.com
Office: Jalan Bangka Raya no. 42A-1, Jakarta | T: +621227707031


Original link:
http://www.passionmedia.co.id/b/the-finest-from-the-labor-of-love

Images by: Krakakoa

Advertisements

4 Hidangan Yang Menggambarkan Kekayaan Kuliner Timur Tengah

Timur Tengah selama ribuan tahun menjadi saksi sejarah bangkit serta runtuhnya begitu banyak kebudayaan dunia. Buku-buku sejarah biasanya selalu memulai kepingan cerita peradaban dari wilayah ini. Sejak zaman sebelum Masehi hingga kini, bercampurlah banyak pengaruh di negeri-negeri sepanjang Timur Tengah hingga sejauh Afrika Utara bahkan India. Tak pelak, apa-apa yang dihasilkan sepanjang sejarah manusia dari Timur Tengah selalu terasa kehadirannya di berbagai belahan dunia lainnya.

Begitupun untuk dunia kuliner. Timur Tengah yang lebih dulu mengecap puncak peradaban manusia tidak hanya menghasilkan kekayaan budaya maupun teknologi. Warisan kuliner dari sub-benua Asia ini ternyata sangat kaya dan sayangnya masih terbilang minim kehadirannya di Indonesia.

Kali ini mari kita menapak tilas sejarah kuliner di Timur Tengah dan warisannya yang kini terasa kehadirannya di seantero dunia. Berikut adalah lima diantaranya yang selalu hadir di bulan Ramadhan.


1. KOPI

Tidak ada yang bisa menyangsikan bahwa kopi dipopulerkan berkat sumbangsih masyarakat Timur Tengah di abad pertengahan dan kemudian oleh bangsa Turki dalam persinggungannya dengan negara-negara Eropa sebagai kelanjutannya.

Sumber: thespruce.com

Awalnya kopi bukan diminum seperti masa kini ketika tumbuhannya pertama ditemukan di Ethiopia pada abad ke 11. Namun pada ratusan tahun berikutnya, kopi berubah menjadi minuman dan populer di seluruh Jazirah Arab berkat kultivasinya di negeri Yaman yang subur. Abad-abad berikutnya pada masa hegemoni Kesultanan Turki Utsmaniyah, kopi menjadi minuman favorit seluruh rakyat dan melebar pengaruhnya hingga ke Eropa.

Konon Gubernur Turki di Yaman adalah yang berjasa membawa kopi pertama kali ke Istanbul. Dari kota ini, kopi mulai dikenal oleh para pedagang Venesia dan mulai merambah masuk ke kehidupan para bangsawan di Perancis, Austria, serta Inggris dan Belanda – baik melalui jalur diplomasi maupun jalur peperangan. Kopi memberikan warna tersendiri di tengah-tengah deru berkecamuknya konflik dan persahabatan antara kebudayaan Islam dan Eropa di masa lalu.


2. SALAD / MEZZEH DINGIN

Salad. Terdengar sangat lazim bukan? Namun jangan salah, salad di masakan Timur Tengah memiliki sejarah panjang dalam persinggungannya dengan kebudayaan kuno seperti Yunani dan Romawi.

Sumber: libanesisch.ch

Mungkin bagian yang mengukuhkan seni kuliner dunia modern datang dari seorang bernama Ziryab pada abad ke 9 Masehi dari negeri Andalusia. Kala itu Ziryab menggagas pentingnya menikmati makanan dalam tiga fase yaitu mulai dari makanan pembuka, menu utama, dan makanan penutup.

Sejak itulah masyarakat Timur Tengah sepertinya lebih mengapresiasi kembali seni kuliner mereka. Kebudayaan Islam yang berpusat di wilayah Sham (atau yang kini meliputi Palestina, Lebanon, dan Suriah) dikenal memiliki beragam menu makanan pembuka. Contohnya adalah roti-rotian yang dimakan bersama salad fattoush (potongan beragam jenis sayuran, keju, dan minyak zaitun), baba ghanoush (salad terong), tabbouleh (potongan kecil tomat, peterseli, bawang, bulgur, daun mint, dan minyak zaitun), hingga yang paling legendaris adalah hummus (cocolan yang terbuat dari kacang chickpeas, tahini, dan minyak zaitun)


3. BAKLAVA

Percampuran unik antara berbagai kebudayaan mulai Romawi Timur, bangsa pengembara di Asia Tengah sebelum mereka menetap di Anatolia, serta kemiripan dengan dessert khas Persia menjadikan baklava satu hidangan kebanggaan bangsa Turki.

Sumber: sbs.com.au

Baklava lazimnya dijadikan sebagai kudapan pendamping kopi Turki yang pahit dan berkarakter. Terbuat dari berlembar-lembar filo pastry tipis yang dibubuhi mentega dan diisikan kacang-kacangan, baklava kemudian dipanggang dan disiram dengan sirup madu dan air mawar.

Kerap dijuluki sebagai “The Queen of Desserts”, kemewahan baklava yang mendominasi kuliner Turki di abad Renaisans hingga masa kini ternyata telah berkembang ke seluruh dunia dan memberikan sentuhan tersendiri pada seni kuliner modern.


4. UMM ALI

Masih dari ranah dessert, tentu sulit untuk menafikan betapa populernya hidangan Umm Ali atau Om Ali di dunia perkulineran Timur Tengah. Hidangan khas Mesir ini kerap disamakan dengan bread & butter pudding versi Barat, namun Umm Ali ternyata memiliki perbedaan yang cukup mencolok.

Sumber: dinnerwithjulie.com

Meskipun asal mula umm ali konon didasari sebuah cerita konspirasi, dessert yang satu ini menutup sejarah gelapnya berkat penggunaan bahan-bahan segar dan berkualitas dalam pembuatannya. Misalnya saja penggunaan pastry yang baru dipanggang ketimbang roti lama pada versi bread & butter pudding.

Begitupun dalam hal lainnya; umm ali menggunakan madu, kismis, kacang-kacangan, serta susu kerbau ketimbang susu kental manis. Bersanding dengan baklava, fakta ini tentu menjadikan umm ali sebuah dessert berkelas yang tidak boleh dilewatkan setelah bersantap hidangan khas Timur Tengah.

Referensi:

1. thespruce.com
2. eatlikeanegyptian.com
3. turkishcoffeeworld.com
4. lostislamichistory.com

Gambar sampul: libanesisch.ch


Original link: wm.ucweb.com (gastroficionado)

Ziryab: Sang Musisi, Fashionista, Desainer, dan Ahli Gastronomi dari Al Andalus

Dikarenakan sudah merupakan bagian dari keseharian, tentu kita tidak berepot-repot lagi memikirkan siapa sih sebetulnya yang menciptakan shampoo, siapa sih yang awalnya menentukan gaya fashion yang selalu berubah-ubah setiap musimnya, hingga siapa sih yang sebetulnya menetapkan makanan mana yang menjadi menu pembuka atau menu penutup. Semua seolah sudah terformat dengan sendirinya dan berfungsi demikian seiring berjalannya waktu.

Percaya atau tidak, semua inovasi tersebut datang dari ide satu orang brilian yang hidup di abad ke 9 Masehi. Ya betul, semua inspirasi itu hadir sejak lebih dari 1000 tahun yang lalu dari seseorang yang dijuluki dengan nama Ziryab atau “Burung Hitam” dalam bahasa Arab. Ia mendapatkan julukan tersebut karena kulitnya yang berwarna gelap dan suaranya yang sangat merdu. Asal usul Ziryab sendiri masih diperdebatkan apakah ia seorang Arab, Kurdi, Persia, ataupun Afrika. Mengingat prestasinya yang luar biasa, tentu wajar apabila ia diperebutkan mengenai perkara asal usulnya.

Ziryab (sumber: muslimheritage.com)

Ziryab memiliki nama asli Abu Al-Hassan dan merupakan seorang budak yang telah dibebaskan. Ia berguru pada seorang musisi istana kenamaan bernama Ishaq al-Mawsili yang merupakan anak dari Ibrahim al-Mawsili yang sebelumnya juga menempati posisi sebagai musisi resmi kerajaan pada masa kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad. Setelah diperkenalkan ke dalam lingkaran istana, Ziryab memperlihatkan kebolehannya dalam bernyanyi dan bermain gitar. Tidak tanggung-tanggung, penampilannya mengundang decak kagum sang khalifah ternama Harun Al-Rasyid.

Namun sayangnya ketenaran Ziryab tidak bertahan lama karena Ishaq cemburu pada kesuksesannya. Setelah mendapat tekanan, Ziryab memilih untuk keluar dan berkelana menjajakan keahliannya di berbagai negeri sepanjang perjalanannya ke barat. Mendengar keberadaannya di Tunisia, ia kemudian diundang untuk tampil di hadapan Abdul Rahman II – Emir dari keturunan kekhilafahan Umayyah yang berlokasi di Cordoba, Al Andalus.

Hanya dalam hitungan waktu singkat Ziryab menjadi favorit para pembesar istana di Cordoba berkat bakatnya yang luar biasa. Ia kemudian digaji tinggi, dihadiahi sebuah istana, dan diberikan kebebasan untuk memajukan dunia musik dan kebudayaan di Al Andalus oleh sang Emir. Abdul Rahman II sendiri memang berambisi untuk menjadikan Spanyol pusat kebudayaan baru yang bisa bersanding dengan Baghdad dan Damaskus. Ziryab yang seorang idealis sudah merasa gerah dengan Spanyol yang kondisinya masih tertinggal dibanding belahan dunia Islam lainnya yang tengah berkembang pesat. Berbekal kepercayaan sang emir dan kebebasan berkreasi, lahirlah inovasi-inovasi cemerlang dari seorang Ziryab dan akan diapresiasi hingga hari ini, lebih dari 1000 tahun kemudian.

Ziryab tengah mengajar musik (sumber: islamicspain.tv)

Di bidang musik, Ziryab telah menambahkan senar kelima pada alat musik lute (sejenis gitar) yang dimilikinya. Bahkan lute miliknya dibuat lebih ringan dan terdiri dari senar dengan bahan-bahan yang unik. Bahkan plektrum gitar yang dimilikinya terbuat dari cakar burung elang. Bisa dibilang bahkan lute ciptaannya merupakan cikal bakal dari gitar modern. Kemudian ia mendirikan sekolah musik pertama di dunia, serta merombak dan menciptakan berbagai teori musik, vokal, dan orkestra pada masa itu. Sebagai seorang jenius, Ziryab juga hafal berbagai komposisi lagu hingga berjumlah ribuan. Tujuh dari sepuluh anaknya meneruskan bakat ayahnya kelak sebagai musisi.

Sebuah buku mengenai kuliner Arab masa lalu dengan kredit khusus untuk Ziryab (sumber: amazon.com)

Inovasi-inovasi hebatnya juga ditemukan di bidang kuliner. Ziryab menggalakkan penggunaan gelas kristal untuk menggantikan gelas logam yang sudah kuno. Selain itu Ziryab juga memperkenalkan penggunaan taplak meja dan merancang kegiatan bersantap dalam beberapa fase. Sup dipilih sebagai menu pembuka. Kemudian dilanjutkan dengan menu utama berupa ikan, daging, atau makanan berat lainnya. Sebagai menu penutup, ia memilih buah-buahan dan berbagai makanan manis lainnya serta kacang-kacangan sebagai menu paling akhir. Terakhir, ia memperkenalkan asparagus sebagai makanan baru dan membudidayakannya di kebun miliknya di luar kota Cordoba.

Pakaian empat musim (sumber: islamicspain.tv)

Revolusi kebudayaan dari Ziryab juga rupanya menyentuh bidang fashion dan hygiene. Ia memperkenalkan tema pakaian berbeda untuk setiap musimnya. Misalnya di musim dingin, pakaian dirancang lebih berwarna gelap. Di musim gugur, pakaian memiliki warna-warna seperti merah, kuning, atau oranye – merefleksikan berubahnya warna dedaunan di musim itu. Di musim semi, pakaian dirancang dengan warna-warna cerah seperti bunga yang bermekaran. Sementara di musim panas, pakaian warna putih disarankan untuk dipakai.

Selain tema pakaian yang berbeda setiap musimnya, Ziryab juga mengenalkan konsep bahwa pakaian di pagi, siang, dan malam hari haruslah dibedakan. Khusus untuk para bangsawan, Ziryab memperkenalkan satu set wewangian yang harus dimiliki para pembesar yang terdiri dari shampoo, deodoran, pasta gigi, dan beberapa jenis kosmetik. Gaya rambut orang Arab pada masa itu umumnya dibiarkan panjang dan terurai, maka Ziryab memperkenalkan gaya baru berupa potongan rambut yang lebih pendek untuk laki-laki dan rambut berponi untuk kaum Hawa.

Istana Alcazar di Seville, dari masa puncak kejayaan Al Andalus (sumber: fuertehoteles.com)

Terakhir, gebrakan Ziryab ternyata tidak hanya di bidang kebudayaan saja. Emir Abdul Rahman II mempercayakan juga Ziryab dalam berbagai urusan administrasi dan politik. Atas inisiatifnya, sang Emir kemudian mengundang para astronom India dan para dokter Yahudi dari Afrika Utara. Rupanya para tamu dari India inilah yang pertama kali memperkenalkan permainan catur dan dipopulerkan Ziryab kepada segenap penghuni istana sang Emir. Selebihnya Cordoba tidak hanya menjadi pusat kebudayaan, andil Ziryab untuk mengundang segenap ilmuwan ini kelak menjadikan Cordoba sebagai pusat ilmu pengetahuan. Beberapa abad kemudian bahkan Cordoba menjadi tujuan utama para pelajar dari negeri-negeri jauh di Asia dan Eropa untuk sekolah dan mengunjungi perpustakaannya yang memiliki lebih dari 600,000 judul buku.

Sepeninggal sang Emir dan Ziryab, Cordoba menjadi simbol toleransi – dimana para penduduknya yang beragama Islam, Kristen, dan Yahudi dapat hidup berdampingan dengan damai. Pencapaian-pencapaian yang dilakukan Ziryab lebih dari sepuluh abad silam sayangnya seolah seperti hilang ditelan waktu, meskipun banyak dari temuannya sangat berpengaruh pada kehidupan modern. Inilah waktunya bagi kita untuk dapat mengapresiasi kembali jasa-jasa para ilmuwan dan insan kreatif pada tempatnya dan terkhusus dari mereka yang hidup di era keemasan Islam pada abad pertengahan. Karena inilah masa dimana ilmu-ilmu dari zaman Yunani dan India kuno berhasil disempurnakan dan dikembangkan secara masif sehingga mendefinisikan teknologi maupun pengetahuan yang ada di zaman sekarang.

Era keemasan Islam, saat dimana ilmu pengetahuan berkembang pesat (sumber: historybuff.com)

Referensi:

  1. http://lostislamichistory.com/the-cultural-icon-of-al-andalus/
  2. http://www.islamicspain.tv/Arts-and-Science/flight_of_the_blackbird.htm
  3. http://www.muslimheritage.com/article/ziryab
  4. http://www.thedailystar.net/news/ziryab-the-blackbird-of-al-andalus
  5. https://thedailybeagle.net/2013/02/15/the-forgotten-blackbird/
  6. http://www.newhistorian.com/ziryab-forgotten-innovator-music-gastronome-style/7548/
  7. http://www.lisapoyakama.org/en/ziryab-the-black-scholar-who-has-revolutionized-europe/

Gambar sampul: http://www.muslimheritage.com


Original link: wm.ucweb.com (gastroficionado)

Kopi Turki: Tetap Dinikmati Meski Dengan Ancaman Hukuman Mati

Peradaban ini melaju kencang berkat kopi. Konon minuman bersejarah ini yang menjadikan manusia melek secara lahiriah maupun secara intelektual. Manusia berkumpul di depan banyak cangkir kopi untuk sekadar menemani kesendirian, bercengkerama, hingga menyelamatkan dunia!

Tidak salah bila mungkin terselip di antaranya, ngopi menjadi bagian dalam budaya keseharian agar disebut “keren” ataupun tergolong dalam jamaah “hipsteriyah”. Sehingga diakui maupun tidak, kopi menjadi pemicu lahirnya banyak gagasan. Kopi menjadi titik tengah sebuah negosiasi alot, kopi menjadi teman hidup di kala tenggat waktu mulai memberikan tekanan, dan kopi menjadi pusat perhatian di era yang sangat mementingkan gaya hidup ini.

Kopi adalah segalanya! Di masa ini dan ternyata di masa lalu juga.

Sumber: food52.com

Adalah abad ke 16 dan ke 17 yang menjadi saksi bisu pertama bahwasanya kopi adalah dua sisi mata uang berbeda – sebuah ritual yang sakral bagi sebagian kalangan dan banyak manusia sesudahnya. Sekaligus juga kopi dianggap menjadi deviasi dari beberapa perspeksi yang spesifik.

Kita lalui cepat asal mula legenda kopi yang datang dari negeri Ethiopia hingga ia bersandar di Yaman selama berabad-abad lalu kemudian ditemukan oleh seorang gubernur Kesultanan Turki Utsmani bernama Ozdemir Pasha. Masalah waktu spesifiknya masih diperdebatkan hingga sekarang, namun intinya sang gubernur memperkenalkan kopi ke kalangan istana pada masa kekuasaan Sultan Suleiman Yang Agung.

Agar lebih informatif, ada juga versi yang menceritakan bahwa kopi awalnya diperkenalkan dua pedagang dari Damaskus dan Aleppo yang kemudian membuka kedai kopi pertama dengan nama Kiva Han di distrik Tahtekale di ibukota Istanbul. Yang jelas dari kedua versi ini, Kesultanan Turki Utsmani memiliki peranan awal yang penting dalam persebaran kopi di dunia pada abad-abad berikutnya.

Ketika kopi dianggap sebagai sebuah tren positif

Sultan Suleiman Yang Agung dengan cepat mengapresiasi kenikmatan secangkir kopi. Ia kemudian memerintahkan agar kopi disempurnakan penyajiannya dan menjadi minuman wajib di istana.

Maka lahirlah sebuah profesi yang dinamakan “kahveci usta” atau “kahvecibaşı” yang padanannya di masa kini adalah semacam “barista” atau yang bertanggung jawab atas kopi dan seduhannya khusus untuk kalangan istana. Konon bahkan terdapat catatan adanya para petinggi istana yang awalnya merupakan para “chief barista” ini dan ada yang berkarir hingga sebagai Wazir Agung (Perdana Menteri).

Sumber: turkishcoffeegear.com

Tidak lama tren kopi kemudian menjalar ke kalangan bangsawan dan orang kaya. Akhirnya kopi menjadi santapan sehari-hari segenap rakyat Turki Utsmani. Kedai kopi menjadi tempat masyarakat berkumpul, membaca buku, bermain catur dan backgammon, berdiskusi mengenai literatur dan puisi, dan tentunya untuk berbicara soal bisnis. Mengiringi kegiatan-kegiatan tersebut, muncullah banyak pertunjukan seni seperti Karagoz (wayang khas Turki), pantomim, serta acara musik.

Ketika rakyat jelata menemukan kesenangan baru dan banyaknya potensi untuk membuka cakrawala keduniawian, rupanya ini mengundang kernyitan dari beberapa pihak – khususnya bagi yang memiliki kepentingan dengan kekuasaan. Bahkan tidak lama sejak kopi menanjak popularitasnya, pemerintah kemudian membredel gaya hidup ini bahkan dengan ancaman hukuman mati!

Ketika kopi menjadi tabu

Bila diperhatikan lebih jauh, permasalahan yang dipandang saat itu sebetulnya cukup akrab dengan apa yang terjadi di masa kini. Begitu banyaknya pilihan gaya hidup kekinian seolah membuat mereka yang baru mencobanya langsung seperti tenggelam dalam keseruannya.

Contoh, berapa banyak misalnya orang tua yang tidak senang bila anaknya terlalu berlama-lama bermain online game atau bermain dengan teman-teman barunya hingga larut malam. Ini adalah kasus klasik yang selalu berulang formulanya dengan presentasi yang berbeda-beda.

Sumber: twitter.com/HalicPostasi/status/504777794086109185

Rakyat Turki saat itu lazimnya mengunjungi tiga tempat dalam kesehariannya: rumah, tempat kerja, dan mesjid. Kedai kopi hadir menjadi tempat keempat dimana banyak dari mereka yang telah begitu menikmatinya malah menjadi abai dengan kewajiban-kewajibannya yang lain.

Masalah ini disuarakan awalnya oleh para ulama dan mereka menghimbau rakyat untuk tetap meluangkan waktu ke mesjid ketimbang terlalu berlama-lama di kedai kopi. Banyak kesempatan dimana para ulama bekerja sama dengan pemerintah untuk menata masyarakat dengan cara yang persuasif. Namun bagi pihak istana, ada yang memandang bahwa terlalu betahnya rakyat di kedai kopi justru malah mengundang munculnya percakapan yang mengarah ke arah-arah subversif sehingga mereka mempersiapkan hukuman keras bagi para pelakunya.

Kopi menjadi minuman terlarang pada kekuasaan Sultan Murad IV. Konon sang sultan sendiri akan berpatroli di malam hari dengan menggunakan baju preman dan akan menghukum mati mereka yang kedapatan tengah menyeruput kopi. Setiap saat ia akan membawa algojo untuk menghukum mati di tempat.

Penerus Sultan Murad bersikap lebih lunak dan melalui Wazir Agung Köprülü Mehmed Pasha, tetap melarang keras keberadaan kedai-kedai kopi dan mengancam pelakunya dengan hukuman cambuk hingga ditenggelamkan bila kedapatan melakukan pelanggaran secara berulang.

Menurut Stewart Allen, penulis dari The Devil’s Cup: Coffee, The Driving Force in History, Sang Wazir sendiri sempat mengunjungi kedai kopi dan mendapati bahwa mereka yang meminum kopi berbeda dengan yang meminum alkohol. “Orang yang meminum alkohol akan mabuk dan bernyanyi, sementara yang meminum kopi akan tetap tersadar dan berkomplot melawan pemerintah”, begitu sahutnya.

Sumber: twitter.com/hayalleme/status/661798805549936640

Seperti yang bisa diduga, peraturan ini kemudian dibatalkan akibat adanya perlawanan keras dari masyarakat. Tentu tidak gratis, pemerintah kemudian memberlakukan pajak tinggi untuk konsumsi kopi. Meskipun demikian, keadaan berangsur-angsur pulih di Kesultanan Turki Utsmani.

Ketika kelak kopi merambah ke negeri-negeri Eropa, para penguasa juga menjadi kegerahan karena potensi-potensi subversif dikarenakan gaya hidup ngopi masyarakatnya. Para dokter di Eropa hingga mengatakan bahwa terlalu banyak minum kopi akan menghisap semua cairan di otak dan menyebabkan kelumpuhan. Para wanita di Inggris juga menghardik para lelaki yang meminum kopi karena justru itu akan membuat mereka impoten.

Konon terdapat satu cerita mengenai Paus Clement VII ketika pertama kali mencoba kopi. Yang ia rasakan sesudahnya adalah kekaguman, penasaran, dan kemudian ia menangis. Ketika ditanya mengapa ia kemudian menjawab, “Minuman setan ini sangat nikmat sehingga sayang bila hanya dinikmati oleh orang Muslim saja. Kita akan menipu para iblis dengan membaptis mereka dan menjadikan minuman ini minuman Kristen!”

Akhirul kalam

Ya, begitulah kopi. Sebuah minuman yang populer untuk khalayak ramai, namun selalu ditantang keberadaannya oleh para penguasa.

Coffee shop di Turki masa kini
Sumber: https://id.pinterest.com/khalilmfb/turkish-coffee-shop

Tapi bagaimana dengan masa kini menurut Anda? Semakin banyaknya kedai kopi tentu akan menjurus masyarakat membicarakan banyak hal mulai dari bisnis, kreatif, hingga politis dan ideologis. Selama itu sehat dan aman, bisa saja pemerintah manapun tidak perlu kuatir – terlebih kini di era demokrasi yang memberikan kepuasan “semu” bagi rakyatnya atas pejabat yang mereka pilih.

Mungkin saja akan selalu ada agen-agen pemerintah yang selalu berjaga di satu sudut seperti yang kita lihat di film-film masa Perang Dingin. Ataukah di era kapitalisme ini, rakyat sudah cukup terpuaskan dulu dengan derasnya pembangunan infrastruktur dan banyaknya tunjangan? Mari kita lihat kiprah kedai kopi dan kaitannya dengan masyarakat di era modern ini untuk selanjutnya.

Referensi:

  1. turkishcoffeeworld.com/History-of-Coffee-s/60.htm
  2. turkishstylegroundcoffee.com/turkish-style-coffee/turkish-coffee-history/
  3. npr.org/sections/thesalt/2013/04/27/179270924/dont-call-it-turkish-coffee-unless-of-course-it-is
  4. npr.org/sections/thesalt/2012/01/10/144988133/drink-coffee-off-with-your-head
  5. turkishcoffeegear.com/turkish-coffee-history/
  6. turkishcoffee.us/articles/history/ottoman-empire-era/
  7. turkishculture.org/lifestyles/lifestyle/coffeehouses-204.htm
  8. hurriyetdailynews.com/a-history-of-turkish-coffee.aspx
  9. dailyo.in/lifestyle/history-of-coffee-tea-mecca-akbar-mughals-jahangir-wine-ottomans-christians-muslims/story/1/10320.html
  10. perfectdailygrind.com/2015/09/turkish-coffee-a-story-of-mystery-war-romance-empire/

Gambar sampul: ozerlat.com


Original link: wm.ucweb.com (gastroficionado)

Kami, Indonesia! (Moments, Aug – Sept 2017)

“Wujud cinta dan bangga terhadap tanah air ada bermacam-macam. Empat anak muda ini bercerita.”

So that’s the standfirst from the article about the independence of Indonesia quoted from four “young people” – they say. While I might not be the youngest anymore , I do hope that my statement about the meaning of independence for this country will bring benefit for the readers and especially people in industries like journalism and F&B.

Please feel free to read about what I have to say about it and the magazine which you can download for yourself as well.

Enjoy!


Download here!
Moments Living World Edisi 3