Tag Archives: Farrago

Quikskoop™: Chandara – Fine Thai Cuisine (Farrago Indonesia & Plaza Indonesia – Nov 1, 2013)

http://www.farragoindonesia.com/c/eatwell
http://www.farragoindonesia.com/read/1196/chandara-fine-thai-cuisine

—–

Nama Chandara sudah cukup lama terngiang dalam benak saya sebagai salah satu restoran Thai yang terbilang upscale dan memiliki kualitas premium. Terang saja demikian karena Chandara tampil dengan elegan menempati satu sudut di Plaza Indonesia yang cukup ramai dikunjungi karena pilihan-pilihan restorannya yang fancy dan menarik.

Faktor elegan tersebut bahkan terus terbawa hingga ke dalam dimana saya menikmati suasananya yang temaram dan interior-nya yang mewah. Apa yang ditampilkan di buku menu Chandara sudah lebih dari cukup untuk membuat saya penasaran dengan hidangannya yang beragam – yang konon dimasak oleh seorang chef wanita berpengalaman.

Thai Iced Green Tea
Thai Iced Green Tea

Langsung saja saya memulai dari segelas Thai iced tea tradisional yang kali ini menggunakan teh hijau dibandingkan seperti varian biasanya yang menghasilkan warna oranye yang khas. Jujur saya sudah terkesan bahkan dari minuman ini saja. Rasa teh hijau yang diformulasikan dengan gaya Thai ini begitu menyegarkan dan milky. Begitu cocok di hari yang panas seperti waktu itu.

Goong Hom Sabai
Goong Hom Sabai
Yam Pet Yang
Yam Pet Yang

Menu pembuka saya bagi menjadi beberapa elemen. Yang pertama adalah goong hom sabai atau lumpia isi udang yang selalu tepat di segala suasana. Kedua, yam pet yang atau satu piring panjang berisi salad bebek dengan rasa pedas yang menantang. Khusus untuk salad bebek ini ternyata tampil sangat mengesankan serta begitu menambah semangat makan saya!

Mad Ke Yao Pad Pla Kem
Mad Ke Yao Pad Pla Kem

Selain itu saya juga memesan mad ke yao pad pla kem yang merupakan terong yang dipotong pendek tebal dan ditumis dengan bawang putih, kacang kedelai, ikan asin, potongan ayam, serta saus tiram. Menu yang satu ini ternyata menjadi hidangan pembuka favorit yang akan saya pesan kembali di lain kesempatan!

Neua Yang
Neua Yang
Khao Soi
Khao Soi

Untuk main course, saya mengikuti saran dari pihak restoran untuk memesan dua menu andalannya yaitu neua yang atau sirloin beef panggang asal Australia yang dibumbui bumbu-bumbu khas Thai namun berkarakter manis serta didampingi sejenis saus pedas sebagai penyeimbangnya. Lalu kedua, saya begitu menikmati khao soi atau mie kuah santan dan ayam asal Chiang Mai di Thailand utara yang begitu cocok dipadukan dengan berbagai potongan bawang merah, bawang putih, serta sambal khas Thai. Sungguh kedua masakan ini merupakan rekomendasi yang cerdas dari Chandara!

Khao Niew Mamuang
Khao Niew Mamuang

Menutup makan siang yang nikmat itu, saya mencicipi sebuah dessert yang terasa familiar namun tetap begitu nikmat. Adalah ketan manis yang disiram dengan santan lalu dipadukan dengan potongan buah mangga segar nan manis. Semuanya menggoreskan sentuhan indah pada petualangan saya di Chandara yang kelak akan saya kunjungi lagi di kemudian hari.

Chandara (PI) - Facade

—–

CHANDARA

Halal-friendly

Some menu are suitable for vegetarians

Address:
Plaza Indonesia, Level 1 Unit E 18, E 19 T, Jakarta – Indonesia
Plaza Senayan, Level P4 Unit CP 414, Jakarta – Indonesia

Opening hours:
Everyday, mall opening hours

RSVP:
Plaza Indonesia: +62.21.2992.3774
Plaza Senayan: +62.21.572.5342

Website: http://www.jittlada.com/chandara
Twitter: @Chandara_Thai
Facebook:
ChandaraThaiCuisine

Spend: IDR 100,000 – IDR 150,000 / person

Quikskoop™: Imperial Treasure La Mian Xiao Long Bao (Farrago Indonesia & Plaza Indonesia – Nov 1, 2013)

http://www.farragoindonesia.com/c/eatwell
http://www.farragoindonesia.com/read/1198/imperial-treasure-la-mian-xiao-long-bao

—–

Sebagai salah satu brand kebanggaan dari Imperial Group, Imperial Treasure yang hanya ada satu-satunya di Jakarta dan berlokasi di Plaza Indonesia memang tidak pernah sepi dikunjungi para penggemarnya. Lihat saja betapa sibuknya Imperial Treasure baik untuk makan siang dan makan malam di saat weekdays maupun akhir pekan.

Namun nikmatilah riuh rendah serta kesibukannya karena begitulah tanda restoran dengan aliran masakan Chinese dapat ditakar kesuksesannya, terlebih lagi karena Imperial Treasure memang menyajikan begitu banyak menu menggiurkan khas masakan Shanghai dengan harga yang sangat terjangkau.

Memulai makan malam besar waktu itu, Imperial Treasure menyajikan acar ketimun yang segar sekaligus memberikan dorongan nafsu makan lebih dengan rasa gurih dari bawang putih. Kemudian beberapa potong bebek dingin asin khas Nan Jing menjadi menu pembuka berikutnya. Hidangan yang terbilang eksotik ini akan cukup mengundang rasa penasaran siapapun yang gemar mencoba sesuatu yang baru.

Spicy beef soup la mian in 'Szechuan' style
Spicy beef soup la mian in ‘Szechuan’ style

Menuju tahapan utama, saya menikmati semangkuk besar la mian yang dengan sup asam pedas gurih dengan potongan daging sapi tipis namun terasa begitu juicy – konon ini adalah rahasia dapur dari Imperial Treasure. Semangkuk la mian itu saja sudah cukup untuk mewakili betapa ahlinya para koki di restoran tersebut mulai dari menarik adonan dan menciptakan mie dengan kekenyalan yang pas serta tentunya kuah kaldu pedas yang begitu kaya.

Crispy Shrimp Spring Roll
Crispy Shrimp Spring Roll
Crispy fish skin with salted egg yolk
Crispy fish skin with salted egg yolk

Tidak kalah menariknya, para pendamping la mian tersebut turut bersinar bersama karena kelezatannya. Sebut saja lumpia isi udang yang begitu padat berisi, beef brisket dengan saus Imperial, serta kreasi pribadi para chef Imperial Treasure yaitu kulit ikan barramundi yang digoreng begitu renyah serta kaya karena kuning telur ikan asin. Sungguh memuaskan!

Bak Chor Mee
Bak Chor Mee
Sauteed fresh soya bean with bean curd skin and preserved vegetables
Sauteed fresh soya bean with bean curd skin and preserved vegetables

Selain menu la mian pada umumnya, Imperial Treasure baru-baru ini berkreasi juga dengan jenis baru yang diberi nama Bak Chor Mee dan berisikan pangsit, daging ayam, serta kuah nyemek – begitu orang Jawa bilang – yang sangat pedas. Menyimpang sedikit ke jenis “mie” lainnya, Imperial Treasure juga memiliki menu kulit tahu yang bertekstur mirip mie dan dibentuk layaknya seperti fettuccine serta ditumis bersama sayur asin dan kacang. Meskipun ini adalah tipe hidangan yang kurang lazim bagi saya, tapi saya dibuat ternganga karena rasanya yang kompleks!

Sebagai penutup, kembali mochi menghiasi hari itu dengan indahnya. Dua porsi sup mochi yang masing-masing berisi dua buah dikreasikan dengan kuah jahe manis, segar, serta hangat dan satu mangkuk lainnya dengan kuah krim kacang almond yang begitu milky dan gurih.

Betapa menyenangkannya bersantap malam di sana hingga sayapun terlupa dengan segala riuh rendah yang meliputi seisi restoran ini. Tanpa saya sadar, saya mengakhiri malam tersebut bersebelahan dengan para chef yang tengah beristirahat dan menikmati makan malam mereka. Meskipun sudah berpesta dengan kelezatan yang ditampilkan oleh restoran ini, tanpa ragu saya kembali memesan sup mochi tambahan untuk dibawa pulang. Tak lupa saya berucap, “Thank you for the great work, chefs!” 

Imperial Treasure (PI) - Facade

—–

IMPERIAL TREASURE LA MIAN XIAO LONG BAO

Halal-friendly

Some menu are suitable for vegetarians

Address:
Plaza Indonesia, Level 1 – Jakarta, Indonesia

Opening hours:
Everyday, mall opening hours

RSVP: +62.21.3983.5100

Website: http://www.impgroup.co.id/
Twitter: @Imperialtreasur
Facebook: Imperial-Treasure

Spend: IDR 75,000 – IDR 100,000 / person

Quikskoop™: Rasa (Farrago Indonesia – November 26, 2012)

RASA Yang Sarat Nostalgia

Setiap keluarga pasti punya tempat makanan favorit yang membangkitkan nostalgia dengan menu masakan yang otentik. Salah satu tempat makan yang memiliki 2 kriteria inilah yang terdapat pada sebuah restoran di Bandung yang bernama Rasa.

—–

Almarhum kakek dan nenek saya adalah contoh pelanggan yang selalu saja senang jika datang ke sini. Oleh karena itulah, rasanya cukup istimewa bagi saya setiap melihat para keluarga muda membawa kakek, nenek, hingga buyutnya datang ke tempat ini. Yang pasti, RASA sejauh ini berhasil mempertahankan kualitas cita rasanya dengan baik, meski juga menyesuaikan diri sedikit demi sedikit dengan perkembangan zaman.

RASA terkenal dengan citarasa makanan lokal-nya yang lengkap serta es krim yang dibuat sendiri. Berbagai menu hidangan khas Indonesia lengkap tersedia mulai dari nasi goreng, nasi rames, nasi bakmoy, lontong kari, ketupat sayur, hingga laksa.

Laksa and Es Cincau

Mengingat kedatangan saya ke tempat ini selalu untuk bernostalgia, saya memesan menu andalan opa dan oma saya tercinta: laksa. Ketupat, bihun, daging ayam suwir, serta tauge bercampur dengan kuah kari yang ringan dan aroma kuat daun kemangi semakin menyempurnakan kenangan lama. Ditambah lagi sambel cabe merah yang tidak terlampau pedas tetap menjadikan hidangan ini ringan dan segar.

Bila masih belum cukup, RASA juga terkenal dengan berbagai pastry seperti mini lasagna, bitter ballen, dan juga sausijs brood. Saya biasa membawa beberapa porsian kecil yang lezat dan hangat ini ke meja beserta saus sambal dan mustard, dan menikmati rasa ketagihan yang seakan tidak ada habisnya.

Coconut Royale

Untuk hidangan penutup, berbagai jenis parfait seperti Coconut Royale juga masuk daftar rekomendasi. Dessert unik yang satu iniini tersaji di dalam batok kelapa yang diisikan fruit cocktail, wafer, es krimtaburan kacang serta daging kelapa muda yang semakin nikmat jika disantap bersamaan.

Sebelum pulang, pastikan untuk menyempatkan membeli oleh-oleh berbagai jenis es krim atau kue dari sana. Favorit saya adalah Dixie-style ice cream cone dengan rasa pandan dan strawberry.

Ayo, kapan mampir ke Bandung?

—–

Must eat: Masakan Indonesia, pizza pertama di Bandung, es krim, dan kue-kue

Price: IDR 40,000 – IDR 50,000 / orang

Address: Jalan Tamblong no. 15 – Bandung

Phone: +62.22.420.5330 / 420.1428

Opening hours: Setiap hari, 9 am – 9 pm

—–

Featured by Farrago Indonesia (November 26, 2012)

Quikskoop™: Tizi (Farrago Indonesia – November 27, 2012)

Menyicip Kuliner Jerman Otentik di TIZI

Tizi, sebuah oase nan teduh dengan penampilan khas Spanyol yang mungkin tidak disangka-sangka menyajikan berbagai masakan khas Jerman yang kaya dan begitu hidup.

—–

Di balik riuh rendah kesibukan orang-orang di sekitar perempatan Simpang Dago, siapa yang mengira ada jalan kecil tersembunyi menuju sebuah restoran terkenal di Kota Kembang, Bandung. Namanya Tizi dan ia hadir dengan penampilan apik bersih seperti hacienda ala Spanyol dengan sebuah taman di dalamnya. Dengan tempat luas namun tetap hangat, Tizi bisa jadi sebuah pilihan untuk santap bersama keluarga maupun makan malam romantis.

Uniknya, meski Tizi bergaya seperti restoran Hispanik namun justru apa yang ditawarkannya lebih berkiblat pada masakan khas Jerman. Betul, Tizi menampilkan Schaschlik sebagai menu andalannya. Bayangkanlah seporsi sate khas Jerman yang di dalamnya berisi sosis, daging sapi, jamur, bawang, serta paprika. Semua bahan tadi dibalut saus manis pedas dengan merica hitam dan semakin lengkap ketika disandingkan dengan kentang goreng dan saus barbeque yang spicy.

Layaknya kultur Jerman yang serba kaku, formasi masakan Schaschlik ini memang terlihat sederhana tapi justru kaya dengan rasa dan begitu berisi. Apalagi jika Anda memilih untuk menyantap dua atau tiga sate sekaligus!

Schaschlik

Tentunya pilihan lain selain Schaschlik adalah berbagai jenis sosis raksasa khas Jerman seperti bratwurst (sosis daging sapi)atau lammwurst (sosis daging domba)Semua sosis ini tampil kaya dan menggiurkan serta diiringi oleh tipikal rasa herbs yang cukup kental. Tizi memang terkenal membuat sendiri berbagai jenis daging olahan seperti ini sehingga tentunya berbeda ketika membandingkannya dengan sosis pada umumnya.

Sandwich

Alternatif lainnya juga terdapat menu favorit saya yaitu lidah sapi atau berbagai jenis sandwich yang diisi dengan keju, telur rebus, dan daging salami khas Tizi. Selain itu, pizza juga bisa menjadi pilihan santapan untuk berbagi bersama teman dan keluarga. Terakhir yang tidak boleh dilewatkan adalah berbagai kue-kue dan dessert ala Jerman seperti apfelkuchen (kue apel khas Jerman) dan erdnuss torte (semacam pie kacang Jerman).

Kesemuanya selalu memuaskan dari segi rasa meskipun untuk segi harga terbilang relatif mahal bagi ukuran Bandung dan dengan porsi yang tidak terlalu ‘Jermanik’ alias super besar. Meskipun demikian, kedatangan ke Tizi selalu menjadi alternatif menarik ketika berkunjung ke Bandung. Di kala siang tentu suasana lebih santai dan tenang, tapi yang tidak boleh terlewatkan tentu adalah romantisnya bersantap malam di sana.

—–

Must eat: Schaschlik, bratwurst

Price: IDR 40,000 – IDR 60,000/ orang

Address: Jalan Kidang Pananjung no. 3 – Bandung

Phone: +62.22.250.4963

Opening hours: Setiap hari, 10 am – 11 pm

—–

Featured by Farrago Indonesia (November 27, 2012)

Meet George Calombaris (Farrago Indonesia – November 24, 2012)

Farrago beruntung bisa bertemu dan berdiskusi dengan chef berkelas Internasional yang satu ini. George Calombaris, chef yang biasa kita jumpai di berbagai serial Master Chef versi Australia.

Sosok George Calombaris yang kita kenal sebagai TV personality memiliki pembawaan karakter yang begitu alami dan dari mulutnya mengalir deras cerita-cerita seru yang menggambarkan dunia kuliner yang ia tekuni. Karier seorang George sebetulnya berawal dari menjadi juru masak di sebuah hotel di Melbourne, Australia, hingga keberhasilannya meroket berkat bakat dan ketekunannya. Hanya selang beberapa tahun saja ia sudah mengantongi berbagai penghargaan, mengecap pengalaman bekerja dengan para chef kelas atas, hingga bekerjasama membuka beberapa restoran.

George adalah pengusaha di balik The Press Club, restoran pertamanya di Australia, dan ketika itu usianya baru saja menginjak 25 tahun. Lewat restorannya ini, ia memperkenalkan publik Australia pada masakan Yunani yang merupakan warisan leluhurnya. Berbekal kesuksesannya dengan The Press Club, kini George telah membuka berbagai restoran di Australia dan akhirnya ia juga merambah ke percaturan kuliner internasional dengan membuka The Belvedere Club yang berada di pulau Mykonos, Yunani.

‘Saya menggunakan citarasa klasik untuk masakan saya namun saya berikan sentuhan modern tanpa menciptakan sesuatu seperti Frankenstein’, jelas George sembari bercanda. ‘Tapi tentu di level seperti ini, kita ingin para pengunjung datang bukan hanya semata karena makanannya saja. Semuanya adalah mengenai pengalaman menarik seperti sebuah perjalanan kecil yang menakjubkan—karena semua berasal dari inspirasi yang menggabungkan kreativitas dan unsur nostalgia’.

Meski demikian, misi yang tengah dijalani George tidaklah mudah karena masakan Yunani belum sepopuler masakan Prancis, Italia, China, atau Jepang. ‘Yang terpenting adalah saya mendapat kesempatan mengekspresikan mengenai apa yang saya lakukan di berbagai forum. Contohnya, MasterChef adalah sebuah forum bagi saya untuk mengkomunikasikan kepada masyarakat tentang masakan Yunani dan latar belakang budaya saya’, ujar pemenang Young Chef of The Year tahun 2002 ini.

Sejauh ini, hanya ada segelintir chef saja di seluruh dunia termasuk dirinya yang tengah memopulerkan masakan Yunani di tingkatan ini, tapi George optimis bahwa masakan Yunani akan dikenal seiring berjalannya waktu. Tantangan lainnya adalah saat ini masakan Yunani masih dianggap sebagai masakan rumahan ketimbang sebagai kuliner modern, sehingga di sinilah tugas George untuk mengasah kreativitasnya.

‘Para pengunjung The Press Club ada saja yang berkata bahwa masakan ibu mereka lebih enak dari ini. Saya tidak menyangkalnya karena masakan ibu saya saja lebih enak dari masakan saya sendiri’, sahut George sambil tertawa. Saya tahu sekali, George hanya merendah lewat leluconnya, mengingat begitu tinggi pencapaiannya meski masih di usia 34 tahun kini.

Berikutnya, berbagai rencana bisnis seperti memperbarui The Press Club dengan berbagai tambahan baru di dapur dan restorannya sudah mulai dijalankannya selain berbagai kesibukannya sebagai celebrity chef. ‘Di sela-sela waktu saya ingin sekali menyempatkan untuk pergi ke Istanbul. Era Konstantinopel dan Kekaisaran Ottoman/Utsmaniyah dari Turki banyak menjadi pengaruh masakan Yunani. Semuanya merupakan bagian besar yang masih ‘hilang’ dari pengetahuan kuliner saya’, tukas George.

Terakhir, George berbagi filosofinya yang sederhana namun penuh makna. ‘Di akhir hari tidak peduli apakah tempat merupakan restoran fine-dining, brasserie, bistro, ataupun kantin, makanan haruslah lezat’.

Kita nantikan kiprah George berikutnya dan besar harapan kita bahwa kelak masakan Yunani dan juga berbagai masakan dari Nusantara juga semakin dikenal dan bahkan mensejajarkan diri dengan para pendahulunya yang sudah populer di level dunia. Masa penantian itu jelas akan segera berakhir.

—–

Featured by Farrago Indonesia (November 24, 2012)

Pictures courtesy of George Calombaris’ personal documentations (first and second photos only)