Tag Archives: Coffee

Kopi Turki: Tetap Dinikmati Meski Dengan Ancaman Hukuman Mati

Peradaban ini melaju kencang berkat kopi. Konon minuman bersejarah ini yang menjadikan manusia melek secara lahiriah maupun secara intelektual. Manusia berkumpul di depan banyak cangkir kopi untuk sekadar menemani kesendirian, bercengkerama, hingga menyelamatkan dunia!

Tidak salah bila mungkin terselip di antaranya, ngopi menjadi bagian dalam budaya keseharian agar disebut “keren” ataupun tergolong dalam jamaah “hipsteriyah”. Sehingga diakui maupun tidak, kopi menjadi pemicu lahirnya banyak gagasan. Kopi menjadi titik tengah sebuah negosiasi alot, kopi menjadi teman hidup di kala tenggat waktu mulai memberikan tekanan, dan kopi menjadi pusat perhatian di era yang sangat mementingkan gaya hidup ini.

Kopi adalah segalanya! Di masa ini dan ternyata di masa lalu juga.

Sumber: food52.com

Adalah abad ke 16 dan ke 17 yang menjadi saksi bisu pertama bahwasanya kopi adalah dua sisi mata uang berbeda – sebuah ritual yang sakral bagi sebagian kalangan dan banyak manusia sesudahnya. Sekaligus juga kopi dianggap menjadi deviasi dari beberapa perspeksi yang spesifik.

Kita lalui cepat asal mula legenda kopi yang datang dari negeri Ethiopia hingga ia bersandar di Yaman selama berabad-abad lalu kemudian ditemukan oleh seorang gubernur Kesultanan Turki Utsmani bernama Ozdemir Pasha. Masalah waktu spesifiknya masih diperdebatkan hingga sekarang, namun intinya sang gubernur memperkenalkan kopi ke kalangan istana pada masa kekuasaan Sultan Suleiman Yang Agung.

Agar lebih informatif, ada juga versi yang menceritakan bahwa kopi awalnya diperkenalkan dua pedagang dari Damaskus dan Aleppo yang kemudian membuka kedai kopi pertama dengan nama Kiva Han di distrik Tahtekale di ibukota Istanbul. Yang jelas dari kedua versi ini, Kesultanan Turki Utsmani memiliki peranan awal yang penting dalam persebaran kopi di dunia pada abad-abad berikutnya.

Ketika kopi dianggap sebagai sebuah tren positif

Sultan Suleiman Yang Agung dengan cepat mengapresiasi kenikmatan secangkir kopi. Ia kemudian memerintahkan agar kopi disempurnakan penyajiannya dan menjadi minuman wajib di istana.

Maka lahirlah sebuah profesi yang dinamakan “kahveci usta” atau “kahvecibaşı” yang padanannya di masa kini adalah semacam “barista” atau yang bertanggung jawab atas kopi dan seduhannya khusus untuk kalangan istana. Konon bahkan terdapat catatan adanya para petinggi istana yang awalnya merupakan para “chief barista” ini dan ada yang berkarir hingga sebagai Wazir Agung (Perdana Menteri).

Sumber: turkishcoffeegear.com

Tidak lama tren kopi kemudian menjalar ke kalangan bangsawan dan orang kaya. Akhirnya kopi menjadi santapan sehari-hari segenap rakyat Turki Utsmani. Kedai kopi menjadi tempat masyarakat berkumpul, membaca buku, bermain catur dan backgammon, berdiskusi mengenai literatur dan puisi, dan tentunya untuk berbicara soal bisnis. Mengiringi kegiatan-kegiatan tersebut, muncullah banyak pertunjukan seni seperti Karagoz (wayang khas Turki), pantomim, serta acara musik.

Ketika rakyat jelata menemukan kesenangan baru dan banyaknya potensi untuk membuka cakrawala keduniawian, rupanya ini mengundang kernyitan dari beberapa pihak – khususnya bagi yang memiliki kepentingan dengan kekuasaan. Bahkan tidak lama sejak kopi menanjak popularitasnya, pemerintah kemudian membredel gaya hidup ini bahkan dengan ancaman hukuman mati!

Ketika kopi menjadi tabu

Bila diperhatikan lebih jauh, permasalahan yang dipandang saat itu sebetulnya cukup akrab dengan apa yang terjadi di masa kini. Begitu banyaknya pilihan gaya hidup kekinian seolah membuat mereka yang baru mencobanya langsung seperti tenggelam dalam keseruannya.

Contoh, berapa banyak misalnya orang tua yang tidak senang bila anaknya terlalu berlama-lama bermain online game atau bermain dengan teman-teman barunya hingga larut malam. Ini adalah kasus klasik yang selalu berulang formulanya dengan presentasi yang berbeda-beda.

Sumber: twitter.com/HalicPostasi/status/504777794086109185

Rakyat Turki saat itu lazimnya mengunjungi tiga tempat dalam kesehariannya: rumah, tempat kerja, dan mesjid. Kedai kopi hadir menjadi tempat keempat dimana banyak dari mereka yang telah begitu menikmatinya malah menjadi abai dengan kewajiban-kewajibannya yang lain.

Masalah ini disuarakan awalnya oleh para ulama dan mereka menghimbau rakyat untuk tetap meluangkan waktu ke mesjid ketimbang terlalu berlama-lama di kedai kopi. Banyak kesempatan dimana para ulama bekerja sama dengan pemerintah untuk menata masyarakat dengan cara yang persuasif. Namun bagi pihak istana, ada yang memandang bahwa terlalu betahnya rakyat di kedai kopi justru malah mengundang munculnya percakapan yang mengarah ke arah-arah subversif sehingga mereka mempersiapkan hukuman keras bagi para pelakunya.

Kopi menjadi minuman terlarang pada kekuasaan Sultan Murad IV. Konon sang sultan sendiri akan berpatroli di malam hari dengan menggunakan baju preman dan akan menghukum mati mereka yang kedapatan tengah menyeruput kopi. Setiap saat ia akan membawa algojo untuk menghukum mati di tempat.

Penerus Sultan Murad bersikap lebih lunak dan melalui Wazir Agung Köprülü Mehmed Pasha, tetap melarang keras keberadaan kedai-kedai kopi dan mengancam pelakunya dengan hukuman cambuk hingga ditenggelamkan bila kedapatan melakukan pelanggaran secara berulang.

Menurut Stewart Allen, penulis dari The Devil’s Cup: Coffee, The Driving Force in History, Sang Wazir sendiri sempat mengunjungi kedai kopi dan mendapati bahwa mereka yang meminum kopi berbeda dengan yang meminum alkohol. “Orang yang meminum alkohol akan mabuk dan bernyanyi, sementara yang meminum kopi akan tetap tersadar dan berkomplot melawan pemerintah”, begitu sahutnya.

Sumber: twitter.com/hayalleme/status/661798805549936640

Seperti yang bisa diduga, peraturan ini kemudian dibatalkan akibat adanya perlawanan keras dari masyarakat. Tentu tidak gratis, pemerintah kemudian memberlakukan pajak tinggi untuk konsumsi kopi. Meskipun demikian, keadaan berangsur-angsur pulih di Kesultanan Turki Utsmani.

Ketika kelak kopi merambah ke negeri-negeri Eropa, para penguasa juga menjadi kegerahan karena potensi-potensi subversif dikarenakan gaya hidup ngopi masyarakatnya. Para dokter di Eropa hingga mengatakan bahwa terlalu banyak minum kopi akan menghisap semua cairan di otak dan menyebabkan kelumpuhan. Para wanita di Inggris juga menghardik para lelaki yang meminum kopi karena justru itu akan membuat mereka impoten.

Konon terdapat satu cerita mengenai Paus Clement VII ketika pertama kali mencoba kopi. Yang ia rasakan sesudahnya adalah kekaguman, penasaran, dan kemudian ia menangis. Ketika ditanya mengapa ia kemudian menjawab, “Minuman setan ini sangat nikmat sehingga sayang bila hanya dinikmati oleh orang Muslim saja. Kita akan menipu para iblis dengan membaptis mereka dan menjadikan minuman ini minuman Kristen!”

Akhirul kalam

Ya, begitulah kopi. Sebuah minuman yang populer untuk khalayak ramai, namun selalu ditantang keberadaannya oleh para penguasa.

Coffee shop di Turki masa kini
Sumber: https://id.pinterest.com/khalilmfb/turkish-coffee-shop

Tapi bagaimana dengan masa kini menurut Anda? Semakin banyaknya kedai kopi tentu akan menjurus masyarakat membicarakan banyak hal mulai dari bisnis, kreatif, hingga politis dan ideologis. Selama itu sehat dan aman, bisa saja pemerintah manapun tidak perlu kuatir – terlebih kini di era demokrasi yang memberikan kepuasan “semu” bagi rakyatnya atas pejabat yang mereka pilih.

Mungkin saja akan selalu ada agen-agen pemerintah yang selalu berjaga di satu sudut seperti yang kita lihat di film-film masa Perang Dingin. Ataukah di era kapitalisme ini, rakyat sudah cukup terpuaskan dulu dengan derasnya pembangunan infrastruktur dan banyaknya tunjangan? Mari kita lihat kiprah kedai kopi dan kaitannya dengan masyarakat di era modern ini untuk selanjutnya.

Referensi:

  1. turkishcoffeeworld.com/History-of-Coffee-s/60.htm
  2. turkishstylegroundcoffee.com/turkish-style-coffee/turkish-coffee-history/
  3. npr.org/sections/thesalt/2013/04/27/179270924/dont-call-it-turkish-coffee-unless-of-course-it-is
  4. npr.org/sections/thesalt/2012/01/10/144988133/drink-coffee-off-with-your-head
  5. turkishcoffeegear.com/turkish-coffee-history/
  6. turkishcoffee.us/articles/history/ottoman-empire-era/
  7. turkishculture.org/lifestyles/lifestyle/coffeehouses-204.htm
  8. hurriyetdailynews.com/a-history-of-turkish-coffee.aspx
  9. dailyo.in/lifestyle/history-of-coffee-tea-mecca-akbar-mughals-jahangir-wine-ottomans-christians-muslims/story/1/10320.html
  10. perfectdailygrind.com/2015/09/turkish-coffee-a-story-of-mystery-war-romance-empire/

Gambar sampul: ozerlat.com


Original link: wm.ucweb.com (gastroficionado)

Advertisements

VIDEO: On Why You Should Try Turkish Coffee (via HHWT)

Have Halal, Will Travel eloquently compiles the greatness of Turkish coffee and why we should not miss the opportunity of having it while in the country.


Video credit: HHWT
Photo credit: Muratore Paulina

Here are the Reasons Why You Should Become a Coffee & Tea Aficionado

We are now becoming more enthusiastic than ever with the art of drinking tea and coffee. I personally still find it fascinating to see some who are willing to go any length for the ultimate pleasure. As someone who enjoys both coffee and tea, here are my thoughts on why we should keep up with the trend based on my observation as a foodie and a global citizen.

Coffee is the talk of the town. Single origin batches from certain estates that produce high quality coffee are highly prized. Albeit some coffee shops would argue about the profitability in the long run when dealing only with single origins, it seems that individual drinkers are too enthusiastic to bother about that. It’s always a hype whenever we encounter geisha beans for example at a local coffee shop and certainly it attracts everyone! At the end of the day, a small batch of this rare find would end up somewhere in the hands of a true aficionado.

While coffee is still pretty much the talk of the town, Jakarta is also celebrating more appearances of tea houses as well. A few years ago, they had seen better days but the age of discerned foodies has arrived and revive the business. Foreign brands have been introducing their products here for quite some time to ride on the momentum. Interestingly, Indonesians brace the competition by also presenting tea more properly this time. Aside from familiarizing people with the concept of drinking tea as an art, we are also exposed with literally limitless variants of tea from all over the world.

Nowadays, coffee aficionados would invest their money on hand grinders, expensive espresso machines, or the popular manual brewing gadgets. Not surprisingly, tea lovers would also do the same to achieve that perfect cup. From learning the techniques to collecting different types of tea from different countries; they would also spend more on cups, affordable electric kettles, and up to the rare, decorative tea pots from all over the world!

One important thing to highlight here is certainly not about how expensive our gadgets should be to appreciate the finer things. Even for starters, you can already enjoy so much from the most affordable gadgets you can spend for now. A word of advice, befriend the experts and you will know what to buy first and why.

In addition to that; classes, competitions, and conferences make us feel more connected with the whole industry. We get to know more about the diversity of the products, the experts who set the examples, about the farmers and how we should appreciate their hard work, and many more. Certainly we can always start with the know-how to maximizing its potential fully in our cups.

I suppose at this point, we might want to agree that the colorful world of tea and coffee is not just about its geeky side or how methodical we should be for perfection. There’s always the sunnier side about it and that is about having fun with it, exploring the endless possibilities, and spending the extra dime for the best beans or the gadget of your dream!

10 Fun Things to do During Island Hopping from Hiroshima to Shikoku (Halal Navi, 2017) [ENG]

It seems like the charm of Tokyo-Osaka-Kyoto as three of the most famous tourist destinations in Japan is difficult to surpass. But why not try something different? Let’s venture a little farther to Hiroshima prefecture (yes, wherein lies the city of Hiroshima that was bombed during the Second World War!) and from there, to the island of Shikoku!

The Nishiseto Expressway that connects Hiroshima and Shikoku has several world record breaking suspension bridges Via JNTO

What’s special about crossing to Shikoku from Hiroshima is the island hopping through Shimanami Kaido (or also known as Nishiseto Expressway). It is a 60 km toll road that connects the main island of Honshu to Ehime prefecture on Shikoku. The route begins from Onomichi (Hiroshima) and bypassing six out of nine islands of Geiyou before reaching Imabari (Ehime). For now, we will only stop by and venture around Ikujichima and Oshima island for this island hopping trip!

Start: Onomichi, Hiroshima

Onomichi is a historical city which did not experience any bombardments during World War II and that makes it a home to many classic heritages that are still intact until this day. So let’s begin the Island hopping from Onomichi city!

Tips: Cycling is a popular way of doing this island hopping and you can return the bike at any point along the Shimanami Kaido route. To start, a bicycle rental terminal can be found near Onomichi Station with rental fee ¥1,000/day. The other alternative is by riding a bus from Onomichi to Imabari and you can cycle later on from Imabari to Oushima. I personally tried the second way.

Pro tips: if you are a professional cyclist, enjoying the route of Shimanami Kaido by cycling from Onomichi to Imabari is definitely worth a try!

1. Viewing Onomichi from the heights of Senkou-ji Temple

When you’re in Onomichi, you can pay a visit to Senkou-ji Park. It is located on the hills of Daebo 140 meters above the sea level. Other than being a park full with cultural heritage, you can visit Senkou-ji Temple and Onomichi City Art Museum that are located within the park.

To get here, you can either walk or ride a cable car (Senkoji-yama Ropeway). While you’re up there, why not enjoy the city view by visiting Senkou-ji Observation Platform. It’s free and still in the Senkou-ji park area! Make sure to visit during Sakura season, we guarantee you won’t regret coming all the way to Onomichi.

Riding cable car to the Senkou-ji park via Wikimedia

Information about Senkou-ji Park
Address: 19-1 Higashitsuchidocho, Onomichi, Hiroshima (map)
Telephone: 0848-23-2310
Opening hours: 9am – 5pm (Closed on Monday unless it’s a public holiday)
Entrance fee: ¥300 for temple
Website: Senkou-ji Temple 

2. Hanging out at the hipster Hotel Cycle at Onomichi U2

Be sure to spend some time visiting Hotel Cycle, a modern hotel designed for cyclists. The hotel occupies one part of a giant warehouse from the World War era that has been renovated. It shares space with a bookstore, restaurant, coffee shop, bakery, and of course – a bike shop. The whole establishment is called Onomichi U2 and it’s a must place to hang out for the hipsters and take those Instagram-worthy pictures!

Onomichi U2 interior via Archdaily

Information about Onomichi U2 & Hotel Cycle
Address: 5-11, Nishi-Gosho-cho, Onomichi, Hiroshima (map)
Telephone: 0848-21-0550
Room rate: ¥18,200 for standard twin dan ¥22,200 for deluxe twin
Muslim friendly restaurantSetouchi Seafood Dinner
Website: Onomichi U2

Next: Ikuchijima Island

The first island we will visit is Ikuchijima. Here, we can visit the pristine small town called Setoda.

3. View famous Japanese paintings at Hirayama Ikuo Museum of Art, Setoda

As the name indicates, the museum belongs to Ikuo Hirayama – one of Japanese legendary artists known for his Japanese-style painting (painting technique which uses mineral pigments dissolved in Nikawa, some kind of liquid glue).

 

Hirayama Ikuo Museum via JPVisitor

The themes of his paintings evolved around the scenery of his hometown (Setoda), what he seen around the world, Buddhism, and shitazu (rough sketches). Ikuo Hirayama himself was once named as a UNESCO ambassador and advisor for the world heritage project. Better not to miss the chance to visit his museum while here!

Information of Hirayama Ikuo Museum of Art
Address: 200-2, Setodacho Sawa, Onomichi-shi, Hiroshima (map)
Telephone: 0845-27-3800
Opening hours: 9am – 5pm
Entrance fee: ¥200
Website: Hirayama Ikuo Museum of Art

4. Taste the seafood delicacy at Mansaku

Setoda is an ideal place to enjoy seafood and the town’s best Mansaku provides a unique, all about octopus menu. It’s only a walking distance away from the museum and best to stop by for lunch here!

All about tako at Mansaku

The rice meal set is usually consist of rice, warm soba noodles, sashimi, salad, oranges, and pickles. When ordering food, do not forget to show the Muslim dietary card to avoid them adding mirin (alcohol) into the dish.

Information about Mansaku
Address: 530-1 Setodachō Setoda, Onomichi-shi, Hiroshima (map)
Rice meal set price: ¥1380
More info: Mansaku

5. Strolling around Kosanji Temple

After Mansaku, the next destination is this magnificent temple of Kosanji. It was build in for more than 30 years by a Japanese businessman and many buildings here are made to resemble famous temples in Japan. Among them are a replica of Nikko gate and also Byodoin Phoenix Hall.

Kosanji The beautiful Kosanji Temple

Information about Kosanji Temple
Adsress: 553-2, Setoda, Onomichi-shi, Hiroshima (map)
Telephone: 0845-27-0800
Opening hours: 9am – 5pm
Entrance fee: ¥1400 (Include Miraisin No Oka)
Website: Kosanji

6. Viewing marble abstract sculptures at Miraishin no Oka

Still inside the vicinity of Kosanji, climb the hills behind the temple and you will find Miraishin no Oka – all made from Italian marble. Miraishin no Oka itself literally means “Height of eternal hope for the future”. Aside from many abstract sculptures, don’t miss its the famous statue “Tower of Light” located on the hilltop.

Miraishin no Oka that is made from marble via trip101

Information about Miraishin no Oka
Address: 553-2, Setoda, Onomichi-shi, Hiroshima (map)
Telephone: 0845-27-0800
Opening hours: 9am – 5pm
Entrance fee: ¥1400 (Include Kosanji temple)
Website: Kosanji

Finale: Oushima Island

7. Sunset view from Kirosan Panorama Park

By now we have been passing through five islands and Oushima will be the last island before we actually reach Shikoku. Before crossing the mighty suspension bridge, take a moment to visit Kirosan Panorama Park. From the height of 300 meters above sea level, prepare to witness the grand view!

 

Sunset view from Kirosan Panorama Park

Imagine an uninterrupted panoramic view of the green hills surrounding Oushima, the majestic Kurushima-Kaikyo bridge, and the city of Imabari – our gateway to Shikoku. If you happen to reach Kirosan during dusk, witness in awe the golden sunset shining amid the waters of Setouchi and the sight of ships passing through it. Prepare to be amazed!

Information about Kirosan Panorama Park
Address: 
Yoshiumi-Cho, Minamiura, 487-4, Imabari (map)
Opening hours: 24 hours

8. Cycling over Kurushima-Kaikyo bridge

The sleepy city of Imabari welcomes you to Shikoku. Before heading deeper to the island, the city itself is very popular because of its cycling route above the Kurushima-Kaikyo bridge. So prepare your sneakers and warm up because we will visit Sunrise Itoyama Cycling Terminal and rent a bike in the morning.

 

Cycling route in Kurushima-Kaikyo via Japan Times

Imagine cycling over one of the world’s longest suspension bridges while enjoying the cool spring air, the sea and the surrounding islands. End your trip at Yoshiumi Iki-Iki Kan and let’s head for another adventure there!

Information of Sunrise Itoyama Cycling Terminal
Address: 2-8-1 Sunaba-cho, Imabari City, Ehime (map)
Telephone: 0898-41-3196
Opening hours: 8am – 8pm (April – September), 8am – 5pm (April-March)
Rental Fee : Adults, ¥1,000 a day plus ¥1,000 deposit.
Children under 12 years old, ¥300 a day plus ¥500 deposit.
Electric assist bicycles, ¥1,500 up to 6 hours plus ¥1,000 deposit.
Tandem bicycles, ¥1,200 a day plus ¥1,000 deposit.
Website: Sunrise Itoyama Cycling Terminal

9. Wild Barbecuing at Yoshiumi Iki-Iki Kan

Road Station Yoshiumi Iki-Iki Kan may look like a sleepy little port at a glance, but who would have thought that this place is a hidden oasis to enjoy delicious seafood!

Grilling seafood over shichirin via Dennie Ramon

There are various types of fresh seafood that we can choose here and have fun grilling them yourself by using shichirin (a traditional Japanese grill). Don’t worry about doing it yourself because the staffs are there to help you grilling the seafood to perfection. Be sure to try different types of shellfish, local fish, shrimp, abalone and even geoduck. One popular way to enjoy it is to eat the seafood alongside a bowl of rice mixed with Ehime sea bream (taimeshi). Umai!

Information about Yoshiumi Iki-Iki Kan
Address: 4520-2 Yoshiumi chōmyō, Imabari-shi, Ehime (Located on route 317) (map)
Telephone: 0897-84-3710
Opening hours: 9am – 5pm
More info: Yoshiumi Iki-iki Kan

10. Kurushima Boat Tour

The final exciting adventure to end our island hopping this time is cruise around the waters of Oushima on a boat tour from Yoshiumi Iki-iki Kan. You will be ensured with safety by wearing a life vest and a long coat to beat the chilly wind. The tour will take you to small islands around such as Kojima, Kurushima, and also Japan’s largest shipbuilding facility. Lastly, you will be brought to witness a natural phenomenon of a giant whirlpool. The guided tour lasts for 40 minutes.

 

Giant whirlpool during Kurushima boat tour via Kaori Square Feet

Information of Kurushima Boat Tour
Address: 4520-2 Yoshiumichomyo, Imabari City, Ehime (map)
Opening hours: 9am – 4pm
Tikcet: ¥1,500
Website: Imabari Shimanami

Finally it’s time to explore Shikoku after a wonderful one night trip of island hopping. Now that I think about it, how amazing it was to experience 10 things in just a trip as far as 60 km from Onomichi to Imabari!


So, are you ready to experience it yourself? Don’t forget to bookmark the restaurants above in Halal Navi app so you can just open the apps and connect to your map later on!

PS: Do you have any stories about Japan that you want to share? Send your article to contact@halal-navi.com to be featured!

10 Hal Seru Selama Island Hopping Menuju Shikoku (Halal Navi, 2017) [BAHASA]

Sepertinya pesona Tokyo-Osaka-Kyoto sebagai tiga destinasi wisata paling masyhur di Jepang memang sulit untuk ditandingi. Bahkan bagi petualang paling berpengalaman sekalipun, sepertinya ketiga kota tersebut masih menyimpan banyak cerita yang harus digali.

Namun marilah kita bertualang jauh sedikit ke bagian barat pulau Honshu dan menuju prefektur Hiroshima (Yup, prefektur dengan ibukota yang pernah mengalami pemboman atom saat Perang Dunia II).

Satu dari sekian banyak jembatan suspensi jalan tol Shimanami Kaido yang menghubungkan Onomichi dengan Imabari Via JNTO

Keseruan yang bisa kamu coba di sini adalah melakukan island hopping dari Hiroshima menuju Ehime melalui jalan tol Shimanami Kaido (atau juga disebut Nishiseto Expressway). Jalan tol sepanjang 60 km ini menghubungkan pulau utama Honshu dengan pulau Shikoku, yang bermula dari kota Onomichi (Hiroshima) kemudian menyeberangi enam pulau kecil sebelum akhirnya tiba di kota Imabari (Ehime). Kali ini, kita akan berhenti dan berpetualang di dua pulau yaitu Ikujichima dan Oshima selama kegiatan island hopping ini.

Titik awal: Onomichi, Hiroshima

Onomichi adalah sebuah kota historis yang selamat dari serangan bom ketika Perang Dunia II dan banyak peninggalan sejarah yang masih utuh hingga sekarang. Mari kita mulai island hopping kali ini dari kota Onomichi!

Tips: Kegiatan island hopping bisa juga dilakukan dengan bersepeda dan sepeda bisa dikembalikan di banyak halte sepanjang rute tol Shimanami Kaido. Penyewaan sepeda bisa dijumpai di area stasiun Onomichi dengan harga sewa ¥ 1,000/hari. Alternatif lainnya bisa juga menumpang bus dari Onomichi ke Imabari lalu kemudian bersepeda dari Imabari ke menuju pulau Oushima dan sekitarnya. Saya sendiri memakai cara yang kedua.

Pro tips: Bagi yang memang berstamina kuat ataupun pesepeda profesional, menikmati rute cantik Shimanami Kaido dengan bersepeda dari Onomichi hingga Imabari menjadi petualangan tersendiri yang pastinya seru!

1. Menikmati pemandangan Onomichi dari ketinggian kuil Senkou-ji

Ketika di Onomichi, kamu bisa menyempatkan berkunjung ke Senkou-ji Park yang terletak di atas bukit pegunungan Daebo dengan ketinggian 140 meter dari atas laut. Di dalam area taman ini terdapat kuil Senkou-ji dan Onomichi City Art Museum yang menyuguhkan pertunjukan seni yang beragam dari waktu ke waktu.

Untuk mencapai area taman ini disarankan dengan menumpang cable car (Senkoji-yama Ropeway). Kalau kamu mau cari spot paling bagus untuk menikmati pemandangan Onomichi, coba deh mampir ke Senkou-ji observation platform. Gratis loh dan masih di area Senkou-ji park juga! Apalagi kalau kamu datang ketika musim Sakura, dijamin nggak bakal nyesel deh jauh-jauh datang ke Onomichi!

Cable car untuk mencapai kuil Senkou-ji via Wikimedia

Informasi Senkou-ji
Alamat
: 19-1 Higashitsuchidocho, Onomichi, Hiroshima
Telephone: 0848-23-2310 (map)
Jam buka: 9am – 5pm (tutup hari Senin, buka jika Senin adalah hari libur umum)
Harga tiket masuk: ¥300 untuk Kuil (Untuk Onomichi Art City Musem harga berubah-ubah setiap pertunjukan)
Website: Kuil Senkou-ji dan Onomichi Art City Museum

2. Berkunjung ke penginapan hipster Hotel Cycle

Adalah ide yang bagus untuk berkunjung ke Hotel Cycle, sebuah penginapan modern yang didesain untuk para pesepeda. Hotel ini menempati sebuah gudang raksasa yang telah direnovasi total. Di dalamnya, Hotel Cycle berbagi tempat dengan toko buku, restoran, coffee shop, bakery, serta tentunya toko perlengkapan sepeda. Tempat yang dinamakan Onomichi U2 ini adalah tempat wajib para hipster untuk hang out dan berfoto-foto!

Interior Onomichi U2 via Archdaily

Informasi Hotel Onomichi U2
Alamat
: 5-11, Nishi-Gosho-cho, Onomichi, Hiroshima (map)
Telephone
: 0848-21-0550
Harga kamar: ¥18,200 untuk standard twin dan ¥22,200 untuk deluxe twin
Restoran ramah MuslimSetouchi Seafood Dinner
Website: Onomichi U2

Selanjutnya: Pulau Ikuchijima

Beranjak dari Onomichi, maka kita akan melewati Pulau Ikuchijima. Di sini sempatkanlah untuk mengunjungi kota kecil nan tenang – Setoda.

3. Museum pelukis terkenal Jepang, Ikuo Hirayama 

Setibanya di Setoda, pastikan untuk mengunjungi museum milik Ikuo Hirayama yang merupakan salah satu pelukis legendaris Jepang yang terkenal dengan lukisan gaya Jepangnya (teknik lukisan yang menggunakan pigmen mineral yang dilarutkan dalam Nikawa, sejenis lem cair).

Ikuo Hirayama Museum via JPVisitor

Lukisannya bertema seputar kebudayaan kota asalnya (Setoda), agama Buddha, dan shitazu (sketsa). Ikuo Hirayama sendiri pernah dinobatkan sebagai duta UNESCO dan penasehat di bidang warisan dunia. Jadi jangan sampai melewatkan lukisan-lukisan terkenalnya di museum ini!

Informasi Museum Ikuo Hirayama
Alamat
: 200-2, Setodacho Sawa, Onomichi-shi, Hiroshima (map)
Telephone: 0845-27-3800
Jam buka: 9am – 5pm
Harga tiket masuk: ¥200
Website: Hirayama Ikuo Museum

4. Mencoba hidangan seafood di restoran Mansaku

Setoda rupanya adalah tempat yang cocok untuk menikmati seafood, dimana salah satu restoran terbaiknya adalah Mansaku yang menyediakan segala menu yang terbuat dari gurita. Restoran ini sangat dekat dengan museum Ikuo Hirayama.

Menu seafood di restoran Mansaku via Dennie Ramon

Kamu bisa memesan rice meal set nya yang berisi nasi, mie soba (hangat), sashimi, salad, jeruk, dan acar. Ketika memesan makanan di sana jangan lupa tunjukkan Muslim dietary card ini agar mereka tidak menaruh mirin yang mengandung alkohol di menu tersebut.

Informasi Restoran Mansaku
Alamat
: 530-1 Setodachō Setoda, Onomichi-shi, Hiroshima (map)
Telephone: 0845-27-3028
Jam buka: 11am – 3pm
Harga rice meal set: ¥1380
Info lebih lanjut: Mansaku

5. Berpetualang di Kuil Kousan-ji

Selesai bersantap, mampirlah ke kuil Kousan-ji yang megah untuk berjalan-jalan di sekitar area kuil ini. Kuil Kosanji ini dibangun dalam kurun lebih dari 30 tahun oleh seorang pengusaha Jepang. Banyak bangunan-bangunan dari kuil ini dibuat menyerupai kuil-kuil terkenal di Jepang.

Megahnya Kuil Kosanji

Di antara yang bisa disaksikan di sini adalah replika gerbang Nikko dan juga Byodoin Phoenix Hall. Di kuil ini juga terdapat goa memanjang yang digunakan untuk memajang gambar-gambar ilustrasi nerakanya agama Budha. Serem!

Informasi Kosanji
Alamat
: 553-2, Setoda, Onomichi-shi, Hiroshima (map)
Telephone: 0845-27-0800
Jam buka: 9am – 5pm
Harga tiket masuk: ¥1400 (termasuk dengan Miraishin no Oka)
Website: Kousanji

6. Miraishin no Oka

Masih di area Kosanji dan menyusuri bukit di bagian belakang kuil ini maka kamu akan menemukan Miraishin no Oka – sebuah monumen yang kesemuanya terbuat dari marmer. Miraishin no Oka sendiri secara harfiah memiliki arti “Height of eternal hope for the future”.  Di Miraishin no Oka ini terdapat beberapa patung abstrak dengan salah satu patungnya yang terkenal adalah Tower of Light yang berada di puncak bukit.

Miraishin no Oka yang terbuat dari batu marmer via trip101

Informasi Miraishin no Oka
Alamat
: 553-2, Setoda, Onomichi-shi, Hiroshima (map)
Telephone: 0845-27-0800
Jam buka: 9am – 5pm
Harga tiket masuk: ¥1400 (termasuk dengan kuil Kosanji)
Website: Kousanji

7. Sunset viewing di Kirosan Panorama Park

Lima pulau kini telah kita lalui dan Oushima menjadi pulau terakhir sebelum akhirnya kita mencapai Shikoku. Sebelum menyeberang, melipirlah sejenak menuju Kirosan Panorama Park. Dari ketinggian 300 meter di atas permukaan laut ini kita bisa menyaksikan pemandangan yang luar biasa indah!

Pemandangan sunset dari Kirosan Panorama Park

Bayangkan sebuah panorama yang tidak terhalangi sejauh mata memandang yang memperlihatkan hehijauan perbukitan Oushima, kemegahan jembatan suspensi Kurushima-Kaikyo, dan kota Imabari sebagai gerbang masuk ke Shikoku. Bila tepat kamu mencapai Kirosan di kala senja, saksikanlah indahnya matahari keemasan yang tengah terbenam yang menyinari perairan Setouchi serta kapal-kapal yang melaluinya. Maka bersiaplah untuk takjub!

Informasi Kirosan Panorama Park
Alamat : 
Yoshiumi-Cho, Minamiura, 487-4, Imabari (map)
Jam buka
: 24 jam

8. Bersepeda melalui Jembatan Kurushima-Kaikyo

Imabari menjadi tempat yang cocok untuk mengakhiri hari sebelum lebih jauh kita bertualang lebih jauh ke dalam pulau Shikoku. Namun sebelum itu, keesokannya kenakan sepatu olah raga dan lakukan pemanasan karena kita akan mengunjungi Sunrise Itoyama Cycling Terminal di Imabari untuk bersepeda santai di pagi hari.

Jalur sepeda di Kurushima-Kaikyo via Japan Times

Bayangkan bersepeda santai di atas jembatan megah ini sembari menikmati sejuknya udara musim semi dan pemandangan laut Setouchi serta pulau-pulau di sekitarnya. Akhiri perjalanan di terminal Yoshiumi Iki-Iki Kan dan bersiaplah untuk kegiatan seru berikutnya di sana.

Informasi Penyewaan Sepeda Sunrise Itoyama
Alamat
: 2-8-1 Sunaba-cho, Imabari City, Ehime (map)
Telephone: 0898-41-3196
Jam buka: 8am – 8pm (April – September), 8am – 5pm (April-Maret)
Harga sewa sepeda : Dewasa, ¥1,000/hari dan ¥1,000 deposit.
Anak-anak dibawah 12 tahun, ¥300/hari dan ¥500 deposit.
Sepeda electric, ¥1,500/6 jam dan ¥1,000 deposit.
Sepeda dua tempat duduk, ¥1,200/hari dan ¥1,000 deposit.
Website: Sunrise Itoyama Cycling Terminal

9. Menikmati BBQ di Yoshiumi Iki-Iki Kan

Road Station Yoshiumi Iki-Iki Kan sekilas terlihat seperti sebuah pelabuhan kecil yang sepi, namun siapa yang menyangka tempat ini adalah oasis tersembunyi untuk menikmati seafood lezat!

BBQ seafood via Dennie Ramon

Ada berbagai jenis seafood segar yang bisa kita pilih dan panggang sendiri dengan menggunakan panggangan tradisional shichirin. Jangan kuatir bila tidak terbiasa karena kru yang bertugas akan sigap untuk membantu kamu memanggang hingga sempurna. Pastikan untuk mencoba berbagai jenis kerang, ikan, udang, hingga abalone serta geoduck. Lalu padukan dengan nasi yang telah dicampur dengan ikan sea bream khas Ehime (taimeshi). Nikmat!

Informasi Yoshiumi Iki-Iki Kan
Alamat: 4520-2 Yoshiumi chōmyō, Imabari-shi, Ehime (Located on route 317) (map)
Telephone: 0897-84-3710
Jam buka: 9am – 5pm
Info lebih lanjut: Yoshiumi Iki-iki kan

10. Boat Tour Kurushima

Setelah kenyang, pengalaman seru berikutnya adalah menaiki kapal dan berkeliling di perairan sekitar Oushima dengan Kurushima boat tour. Setelah mengenakan pelampung dan jas panjang, kita akan diajak melihat berbagai pulau kecil seperti pulau Kojima dan Kurushima. Kita juga akan ditunjukkan industri kapal terbesar di Jepang yaitu Imabari Shipbuilding dan yang paling utama adalah fenomena alam berupa pusaran air raksasa. Tur ini berlangsung selama 40 menit.

Pusaran air raksasa via Kaori Square Feet

Informasi Boat Tour Kurushima
Alamat
: 4520-2 Yoshiumichomyo, Imabari City, Ehime (map)
Jam buka: 9am – 4pm
Harga tiket: ¥1,500
Website: Imabari Shimanami

Boat Tour Kurushima mengakhiri sebuah perjalanan seru yang bisa kamu lakukan bahkan sebelum menjelajahi Shikoku. Meskipun Shimanami Kaido hanya berjarak 6o km namun ternyata perjalanan tadi bisa begitu berwarna dan menyenangkan!


Published at: http://blog.halal-navi.com/id/island-hopping-shikoku/