Tag Archives: Coffee

The Weekender: Rooms Inc. Hotel, Berwisata di Semarang Dimulai dari Sini

Lama tak berjumpa dengan kota Semarang, rupanya sudah banyak yang berubah. Kalau ingin berkeliling kota dengan nyaman, semua dimulai dari memilih tempat menginap yang pas. Rooms Inc. jadi pilihan utama kali ini untuk memulai wisata Semarang yang akan berlangsung selama 3 hari!

Ketika seorang teman mendengar bahwa saya akan bertandang ke kotanya, tentu lokasi menginaplah yang jadi pertanyaan. Rooms Inc. yang sejak awal sudah jadi pilihan langsung dikomentarinya. “Ah, sepertinya berdekatan dengan DP Mall. Lokasinya bagus tuh!”, begitu katanya.

Ternyata benar, Rooms Inc. “menempel” dengan mall yang sudah lama tenar di kota Semarang ini. Konon mall ini baru-baru saja direnovasi dan alasannya jelas, lokasi strategisnya sungguh menguntungkan. Keberadaan Rooms Inc. menjadi menarik karena dari sinilah kita bisa berkelana keliling kota dengan sangat mudah.

Tiba di hari Jumat malam setelah menempuh perjalanan kereta api dari Jakarta selama hampir 6 jam, saya dan teman-teman perjalanan langsung bermalam di hotel. Setidaknya malam itu saja kami sudah tercengang akan tampilannya yang hype dan kamarnya yang nyaman. Kita lanjutkan saja esok hari untuk menjelajahinya.

Suasana Rooms Inc. bagian depan

Sebuah cafe bernama Grab & Go dan sederetan tempat duduk serta meja.
Grab & Go, tujuan tepat untuk sarapan pagi cepat sebelum berkeliling kota Semarang.

Interior-nya yang bergaya industrial dan bernuansa temaram ini memperkuat sisi elegannya. Lokasi pintu masuk memiliki akses sendiri, tepat di sebelah pintu utama DP Mall. Dari sini, kita hanya perlu naik lift untuk menuju lobby. Untuk yang membawa mobil, parkir saja di lantai atas dan kemudian masuk ke dalam lobby melalui lift turun ataupun menggunakan tangga.

Baru kali ini saya melihat counter check-in disatukan dengan beverage bar dan pastry station dari konsep kafe milik hotel ini. Di sini selain untuk urusan administrasi, bisa saja kita berbelanja croissant, kopi atau jus untuk to-go ataupun untuk dine-in di cafe-nya yang dinamakan Grab & Go. Konsep cafe-nya pun tidak setengah matang, karena sudah dilengkapi banyak tempat duduk yang nyaman hingga meja bilyar ataupun dart. Di sampingnya, beberapa meeting room berbagai ukuran siap disewakan.

The Verve, restoran dari Rooms Inc.

The Verve, restoran dari Rooms Inc. Semarang dengan deretan meja dan kursinya.
The Verve, mulailah hari dari sini dengan sarapan lengkap ataupun untuk mengakhiri hari ngafe bersama teman-teman.

Bittersweet Symphony, sebuah lagu yang pasti jadi pikiran kalian-kalian penggemar Britpop. Tenang, bukan itu, kok. The Verve adalah bistro sekaligus restoran milik Rooms Inc. Ia berlokasi tepat di belakang Grab & Go, dan sekaligus dekat dengan lokasi gym serta akses menuju kamar-kamar hotel.

The Verve terdiri dari dua bagian, satu adalah yang biasa dipakai untuk makan pagi. Sementara satu bagian lagi sepertinya lebih ditujukan sebagai bagian smoking dan live music. Bagian ini lebih hidup ketika malam tiba, dimana para pengunjung bisa lebih santai ngafe dan memesan minuman serta makanan.

Menu makan pagi milik Rooms Inc. cukup bervariasi. Hanya saja satu concern saya adalah penempatan stasiun makanan yang terasa terpisah. Kalau misalnya di hotel-hotel pada umumnya ada satu bagian khusus untuk menu prasmanan standar bersama dengan nasi putih, namun di Rooms Inc. posisinya menjadi berbeda.

Nasi putih terletak bersama menu harian tradisional yang berubah-ubah. Sementara menu prasmanan yang jadi temannya nasi putih diletakkan agak jauh dan lebih difungsikan sebagai camilan. Sementara, menu-menu utama adalah berupa beragam hidangan tradisional yang berubah setiap harinya. Hmm… Sungguh konsep yang khas diterapkan oleh Rooms Inc.

But anyway, sesi sarapan pagi yang selalu dinantikan saat menginap di luar kota ternyata dapat dipenuhi dengan baik di sini. Suasana restoran yang menyenangkan, makanan yang lezat, dan teman-teman yang seru menjadikan momen makan pagi semakin seru!

Kamar hotel yang nyaman

Sebuah kamar hotel dengan tempat tidur berukuran queen size dan TV.
Berukuran pas, kamar paling ekonomis dari Rooms Inc. ini terlihat nyaman dan elegan.

Dekat dengan The Verve, kita akan menemukan sebuah pintu akses khusus yang menggunakan kartu pass yang dimiliki para tamu. Di dalamnya langsung ada sederetan kamar dan lift internal bagi yang menginap di lantai berbeda.

Masuk ke dalam kamar, suasana khas Rooms Inc. yang saya temui di luar terasa konsisten hingga ke dalam. Suasana santai seolah mengajak saya untuk langsung beristirahat ketika malam itu tiba nyaris mendekati tengah malam.

Tata ruangan Rooms Inc. cukup tipikal dengan banyak hotel lainnya, hanya saja minus keberadaan lemari yang biasanya menjadi tempat menggantung pakaian. Alih-alih beberapa gantungan sudah ditempel di dinding lorong antara kamar mandi dan tempat tidur. Luas kamar mandi juga cukup memadai dan ada ruangan shower dengan bingkai kaca yang cukup spacious. Jangan lupa cek balik kaca wastafel karena ada rak tersembunyi. Hanya saja, jangan sampai lupa cek sebelum check-out seandainya kamu menaruh barang di sana.

Masuk ke bagian tempat tidur, tempat menaruh bagasi cukup luas dan bisa memuat beberapa tas. Nightstand tersedia di kiri kanan ranjang berukuran queen size. Sedikit berharap awalnya kamar dilengkapi dengan desk dan kursi kerja, namun ternyata memang ukuran kamarnya tidaklah terlampau besar namun juga tidak terasa sempit. Hanya saja memang tidak akan muat bila meja kerja juga dipasang di sana. Beruntung di bagian lobby, Rooms Inc. sudah menyiapkan banyak tempat duduk nyaman untuk bekerja di depan laptop, bukan?

Jarak antara ujung ranjang dan dinding hanya muat bila kita berjalan menyamping secara perlahan. Di sini, TV berukuran 32″ diletakkan dan terasa besar serta memuaskan untuk menikmati tontonan. Channel TV kabel juga sangat lengkap dan banyak alasan untuk bisa betah berlama-lama di kamar.

Kesimpulan

Sebuah meja makan panjang untuk bersantap ataupun bekerja.
Ruang rekreasi antara Grab & Go dan The Verve. Terdapat juga meja bilyar dan mesin dart di sini.

Singkat kata, Rooms Inc. bisa jadi pilihan saya berikutnya kalau kembali bertandang ke kota Semarang. Selain tempat menginap yang nyaman, jaraknya yang selemparan batu dengan Lawang Sewu terasa sangat sentral. Dari sini saya bisa berbelanja oleh-oleh di Pandanaran serta tentunya Tahu Petis Yudistira kesukaan orang rumah. Bahkan satu pagi saya sempat berkelana ke beberapa tempat makan terkenal di Semarang untuk sarapan dan ngopi.

Satu malam ketika mager, cukup turun sejenak ke DP Mall dan kamu bisa bersantap di restoran-restoran terkenal asal ibukota. Sebut saja Kimukatsu, KOI, Pepper Lunch, ataupun food court-nya yang punya banyak pilihan – termasuk Pempek Ny. Kamto kesukaan saya!

Sudah siap pelesir ke Semarang, gaes?


ROOMS INC. HOTEL SEMARANG

Address:
DP Mall
Jl. Pemuda No.150, Semarang – Jawa Tengah, Indonesia

T: +62 24 8600 1200

Website


UNION Café, Ready to Take on The New Terrain

Much to everyone’s excitement, UNION Café was recently unveiled as the latest entry from The Union Group – the big family that shapes the F&B scene of Jakarta for years now.

Known for the endless innovations when it comes to various dining concepts, UNION Café in a way differentiates itself with the siblings. Emulating the success of UNION as the group’s flagship restaurant is already a challenge, but to leave its own mark of distinction to curious Jakartan diners would be an admirable feat.

Within just few weeks of their opening since before Eid this year, the establishment has already become the talk of the town. The welcoming atmosphere, the circular shape of the café, and the alluring display of bakery would entice even UNION’s most seasoned patron. Once inside, it’s all about comfort and privacy – albeit pretty much the whole Senayan City can see the hustle and bustle of the café.

The distinctive features came mostly from the menu and perhaps this is the first time in the history of UNION that we have Indonesian-inspired dishes more than ever. The inspirations for the menu was either creatively driven or derived from personal experiences of chef proprietor Adhika Maxi and his wife Karen Carlotta. The result is an exciting lineup worth every penny to indulge.

From the starters, UNION Café boasts the collection of Indonesian snacks such as the prawn and chicken tahu isi with daun jeruk, singkong fries “soto flavor”, scallop bakwan jagung, and bakwan fishcakes. Alternatively, you can choose international flavors such as the lemongrass tuna tataki with tempeh crumbs or the calamari with San Marzano tomatoes and tartar sauce.

Heading to the pasta section, the Indonesian flavors can be seen right away from the appearance of crispy teri aglio olio spaghetti and the crispy chicken penne with sambal matah. The latter shows UNION Café’s new commitment for bolder taste. It’s not just about the depth of flavors and the sophistication of the dish, but also the level of spiciness. This would be a new height that perhaps only a few internationally-themed restaurants in Jakarta would be brave enough to climb.

Heading to the main course, one certainly must play along with UNION Café’s signatures. For example; the Indo Spiced Steak with cabe rawit confit, colorful vegetables, and rice would be a great substitute for your usual Steak Frites. Other than that, the café offers the appetizing nasi bebek garing on garlic rice and served with 2 kinds of sambal. Not stopping on those, we have all the goodness from slow cooked short ribs with tamarind sauce, nasi goreng kepiting, and seafood mie goreng.

Heading straight to the desserts – a specialty that has contributed so much for UNION’s success, is also not short of surprises. Firstly, we have the es teler ice cream bolu roll, and pisang coklat with cinnamon sugar and burnt caramel ice cream. The rich display of cakes and pastry would be great for takeaways as well.

With this, one would be curious enough to see with what UNION Café in particular, would conjure again in the future with its potentials. As they say, UNION made is well made, and certainly we’d be looking forward to more exciting things coming from the group and its other ventures.

UNION CAFE
Lower Ground Floor, Senayan City,
Jl. Asia Afrika No.19, Jakarta
Phone: +6221 7278 1145
www.unionjkt.com


Featured on Passion Magazine

Meracik Kopi Menggunakan Clever Dripper

Seorang Mira Yudhawati meski tidak memiliki espresso machine di rumahnya, ia tetaplah tipe seseorang yang meracik kopinya sendiri di berbagai kesempatan. Baik ketika di rumahnya saat akhir pekan bersama keluarga dan hari-hari di kantornya. Bahkan juga ketika menjadi penumpang pesawat di sela-sela perjalanannya keliling dunia sebagai juri kompetisi kopi internasional.

Selain menyukai kopi-kopi berjenis single origin, Mira juga melengkapi hobinya dengan berbagai alat yang memungkinkannya meracik kopi kapan saja. “Kalau aku sehari-hari bawa penggiling kopi biasanya merek Comandante. Masih jadi favorit dan yang terbaik. Permukaan kayunya tidak bikin licin saat dipegang dan hasil gilingannya presisi”, aku Mira.

Tapi Mira mengakui kalau saat traveling tidak juga selalu harus membawa alat giling. “Minimal aku bawa QBag atau Clever Dripper. Nanti tinggal seduh di kamar hotel atau bahkan saat di pesawat tinggal minta air panas”, begitu sahutnya.

Soal ngopi di pesawat menurutnya jadi keharusan tersendiri tertama untuk perjalanan jauh. “Cranky juga bawaannya kalau tidak ngopi misalnya perjalanan jauh ke Eropa atau Amerika. Tapi wangi-wangi kopi yang saya seduh malah bikin orang lain menengok ke saya!”, ujarnya sambil tertawa.

Kopi favoritnya dari Caswell’s adalah Ethiopia Yirgacheffe. Untuk produk lokalnya sendiri ada kopi Aceh dan khususnya Jawa Barat yang sedang naik daun belakangan ini. Intinya bagi Mira, ia suka kopi yang bercitarasa ringan tapi memiliki karakter-karakter unik.

Kali ini ia berbagi preferensi pribadinya dalam meracik kopi dengan menggunakan Clever Dripper.

CARA SEDUH DENGAN CLEVER DRIPPER

  1. Untuk menyeduh kopi, gunakan air bertemperatur antara 89C – 92C. Menurut Mira, maksimal boleh di 96C dan rata-rata orang menggunakan air di 94C. Suhu terlalu tinggi akan memberikan rasa terbakar pada kopinya.
  2. Misalkan tidak ada indikator suhu pada pemanas air, didihkan air dan biarkan sekitar tiga menit agar suhu turun terlebih dahulu. Begitupun bilamendidihkan air menggunakan kompor.
  3. Gunakan rasio standar 1:15. Mira menggunakan kopi 10 gram dan airsebanyak 150 ml. Meskipun ada kalanya rasio ini bisa berubah-ubah tergantung dari karakter kopinya.
  4. Karena menggunakan Clever Dripper, proses menjadi lebih simpelketika penyeduhan. Cukup pastikan semua kopi rata dengan air dan biarkan selama 4 menit setelah selesai menuangkan air.
  5. Pindahkan Clever Dripper ke atas gelas dan selanjutnya kopi akan menetes sendiri hingga selesai.
  6. Nikmati perbedaan karakter kopi saat dinikmati selepas diseduh dan ketika sudah agak dingin.

Selamat mencoba!


Original link:
http://www.passionmedia.co.id/b/meracik-kopi-menggunakan-clever-dripper?searched=clever

Mira Yudhawati: Gaining Knowledge Through Competitions (Passion, Apr 2018)

There’s always a lot to learn from the coffee industry, especially nowadays. The one we’re sitting with today is Mira Yudhawati, among the most esteemed personas in Indonesian coffee world. She shares us a story about her life as a world competition judge and as someone who sets her hope high for Indonesian coffee.

How’s your story with Caswell’s at the beginning?

I started to work for the company in 2008. Back then, Caswell’s was already known as Indonesia’s first specialty coffee business. Even back when coffee has not yet reached the level of appreciation like today, Caswell’s had already sent its people all over the globe for symposiums and competitions. We have our first Indonesian barista from here competing in WBC, or even judges for international competitions. The company’s reputation was among the main reasons I joined here at the first place.

How’s the transition so far after the acquisition for you?

As of now, I am still entrusted by the company as the General Manager. Since the takeover by BonCafe, we’re still pretty much the same as family – only bigger. Instead of focusing only for coffee like we did since 1998, Caswell’s is now a one-stop hub beverage company.

So, other than managing only specialty coffee beans, machines, and classes; we are taking care of other products such as smoothies, juices, tea, and many more – especially for wholesales. Currently I am still adjusting to a new culture, which is both challenging and very exciting.

Can you explain a bit about the Q Grader certification and how people often relate it to you? 

Q Grader certification was first held in Indonesia back in 2009 and yes, I was among the first Indonesians who received the title. But I was actually not the pioneering Indonesian woman who got the certification. Perhaps people mistook that with me being the first Indonesian woman appointed as an international WBC (World Barista Championship) judge.

As a Q grader, we are certified for certain technicalities in coffee business. However that does not automatically makes us qualified to be an international judge. Even so, being a Q grader, you have privileges while being tested as an international judge. For example, we get to skip certain questions that are reserved only for those who have not yet attained their Q grader certification.

Can you share us some of your stories being an international judge?

Well, I have just recently returned from a competition in Haikou, China. As an international judge, there will be invitation from time to time and I am very grateful for these opportunities.

I think the most exciting part from the competitions is when meeting other judges from around the world and to share with them anything new about coffee. Even myself as a judge, I always started with a clean slate whenever I’m on duty testing baristas from all over the world with their skills and presentation.

You get to learn so much from barista – what kind of coffee they bring, how they brew it, new techniques, and their presentation skills. It’s an amazing feeling to taste great coffee in accord with their presentations. World class baristas are playing for keeps. They prepare for everything months ahead the competition and that’s what makes them champions.

What about the local competitions? 

I am actually among the co-founders of BGI (Barista Guild of Indonesia). We collaborate with traders and many parties to help nurture the quality of the baristas through competitions. Usually we are entrusted to organize local competitions and I would usually help as the head judge.

It’s great to see the quality of our competitions and the baristas nowadays. Back then, everybody started from scratch so we had to learn through trial-and-error. I remember the time when baristas actually presented their coffee by mixing it with raw eggs, curry powders, and even rose petals!

Now we are happy to see that the standards are there and competitions are held in many places with contestants coming even from rural towns. I do think we have a bright future ahead.

Speaking of which, with the rise of es kopi susu trend, even I observe that Indonesian market share is still so huge that everyone could actually get their share in it. It’s going to be interesting to see what will happen next with our coffee world here.


Original link:
http://www.passionmedia.co.id/b/mira-yudhawati—gaining-knowledge-through-competitions-?searched=mira

Kopi Turki: Tetap Dinikmati Meski Dengan Ancaman Hukuman Mati

Peradaban ini melaju kencang berkat kopi. Konon minuman bersejarah ini yang menjadikan manusia melek secara lahiriah maupun secara intelektual. Manusia berkumpul di depan banyak cangkir kopi untuk sekadar menemani kesendirian, bercengkerama, hingga menyelamatkan dunia!

Tidak salah bila mungkin terselip di antaranya, ngopi menjadi bagian dalam budaya keseharian agar disebut “keren” ataupun tergolong dalam jamaah “hipsteriyah”. Sehingga diakui maupun tidak, kopi menjadi pemicu lahirnya banyak gagasan. Kopi menjadi titik tengah sebuah negosiasi alot, kopi menjadi teman hidup di kala tenggat waktu mulai memberikan tekanan, dan kopi menjadi pusat perhatian di era yang sangat mementingkan gaya hidup ini.

Kopi adalah segalanya! Di masa ini dan ternyata di masa lalu juga.

Sumber: food52.com

Adalah abad ke 16 dan ke 17 yang menjadi saksi bisu pertama bahwasanya kopi adalah dua sisi mata uang berbeda – sebuah ritual yang sakral bagi sebagian kalangan dan banyak manusia sesudahnya. Sekaligus juga kopi dianggap menjadi deviasi dari beberapa perspeksi yang spesifik.

Kita lalui cepat asal mula legenda kopi yang datang dari negeri Ethiopia hingga ia bersandar di Yaman selama berabad-abad lalu kemudian ditemukan oleh seorang gubernur Kesultanan Turki Utsmani bernama Ozdemir Pasha. Masalah waktu spesifiknya masih diperdebatkan hingga sekarang, namun intinya sang gubernur memperkenalkan kopi ke kalangan istana pada masa kekuasaan Sultan Suleiman Yang Agung.

Agar lebih informatif, ada juga versi yang menceritakan bahwa kopi awalnya diperkenalkan dua pedagang dari Damaskus dan Aleppo yang kemudian membuka kedai kopi pertama dengan nama Kiva Han di distrik Tahtekale di ibukota Istanbul. Yang jelas dari kedua versi ini, Kesultanan Turki Utsmani memiliki peranan awal yang penting dalam persebaran kopi di dunia pada abad-abad berikutnya.

Ketika kopi dianggap sebagai sebuah tren positif

Sultan Suleiman Yang Agung dengan cepat mengapresiasi kenikmatan secangkir kopi. Ia kemudian memerintahkan agar kopi disempurnakan penyajiannya dan menjadi minuman wajib di istana.

Maka lahirlah sebuah profesi yang dinamakan “kahveci usta” atau “kahvecibaşı” yang padanannya di masa kini adalah semacam “barista” atau yang bertanggung jawab atas kopi dan seduhannya khusus untuk kalangan istana. Konon bahkan terdapat catatan adanya para petinggi istana yang awalnya merupakan para “chief barista” ini dan ada yang berkarir hingga sebagai Wazir Agung (Perdana Menteri).

Sumber: turkishcoffeegear.com

Tidak lama tren kopi kemudian menjalar ke kalangan bangsawan dan orang kaya. Akhirnya kopi menjadi santapan sehari-hari segenap rakyat Turki Utsmani. Kedai kopi menjadi tempat masyarakat berkumpul, membaca buku, bermain catur dan backgammon, berdiskusi mengenai literatur dan puisi, dan tentunya untuk berbicara soal bisnis. Mengiringi kegiatan-kegiatan tersebut, muncullah banyak pertunjukan seni seperti Karagoz (wayang khas Turki), pantomim, serta acara musik.

Ketika rakyat jelata menemukan kesenangan baru dan banyaknya potensi untuk membuka cakrawala keduniawian, rupanya ini mengundang kernyitan dari beberapa pihak – khususnya bagi yang memiliki kepentingan dengan kekuasaan. Bahkan tidak lama sejak kopi menanjak popularitasnya, pemerintah kemudian membredel gaya hidup ini bahkan dengan ancaman hukuman mati!

Ketika kopi menjadi tabu

Bila diperhatikan lebih jauh, permasalahan yang dipandang saat itu sebetulnya cukup akrab dengan apa yang terjadi di masa kini. Begitu banyaknya pilihan gaya hidup kekinian seolah membuat mereka yang baru mencobanya langsung seperti tenggelam dalam keseruannya.

Contoh, berapa banyak misalnya orang tua yang tidak senang bila anaknya terlalu berlama-lama bermain online game atau bermain dengan teman-teman barunya hingga larut malam. Ini adalah kasus klasik yang selalu berulang formulanya dengan presentasi yang berbeda-beda.

Sumber: twitter.com/HalicPostasi/status/504777794086109185

Rakyat Turki saat itu lazimnya mengunjungi tiga tempat dalam kesehariannya: rumah, tempat kerja, dan mesjid. Kedai kopi hadir menjadi tempat keempat dimana banyak dari mereka yang telah begitu menikmatinya malah menjadi abai dengan kewajiban-kewajibannya yang lain.

Masalah ini disuarakan awalnya oleh para ulama dan mereka menghimbau rakyat untuk tetap meluangkan waktu ke mesjid ketimbang terlalu berlama-lama di kedai kopi. Banyak kesempatan dimana para ulama bekerja sama dengan pemerintah untuk menata masyarakat dengan cara yang persuasif. Namun bagi pihak istana, ada yang memandang bahwa terlalu betahnya rakyat di kedai kopi justru malah mengundang munculnya percakapan yang mengarah ke arah-arah subversif sehingga mereka mempersiapkan hukuman keras bagi para pelakunya.

Kopi menjadi minuman terlarang pada kekuasaan Sultan Murad IV. Konon sang sultan sendiri akan berpatroli di malam hari dengan menggunakan baju preman dan akan menghukum mati mereka yang kedapatan tengah menyeruput kopi. Setiap saat ia akan membawa algojo untuk menghukum mati di tempat.

Penerus Sultan Murad bersikap lebih lunak dan melalui Wazir Agung Köprülü Mehmed Pasha, tetap melarang keras keberadaan kedai-kedai kopi dan mengancam pelakunya dengan hukuman cambuk hingga ditenggelamkan bila kedapatan melakukan pelanggaran secara berulang.

Menurut Stewart Allen, penulis dari The Devil’s Cup: Coffee, The Driving Force in History, Sang Wazir sendiri sempat mengunjungi kedai kopi dan mendapati bahwa mereka yang meminum kopi berbeda dengan yang meminum alkohol. “Orang yang meminum alkohol akan mabuk dan bernyanyi, sementara yang meminum kopi akan tetap tersadar dan berkomplot melawan pemerintah”, begitu sahutnya.

Sumber: twitter.com/hayalleme/status/661798805549936640

Seperti yang bisa diduga, peraturan ini kemudian dibatalkan akibat adanya perlawanan keras dari masyarakat. Tentu tidak gratis, pemerintah kemudian memberlakukan pajak tinggi untuk konsumsi kopi. Meskipun demikian, keadaan berangsur-angsur pulih di Kesultanan Turki Utsmani.

Ketika kelak kopi merambah ke negeri-negeri Eropa, para penguasa juga menjadi kegerahan karena potensi-potensi subversif dikarenakan gaya hidup ngopi masyarakatnya. Para dokter di Eropa hingga mengatakan bahwa terlalu banyak minum kopi akan menghisap semua cairan di otak dan menyebabkan kelumpuhan. Para wanita di Inggris juga menghardik para lelaki yang meminum kopi karena justru itu akan membuat mereka impoten.

Konon terdapat satu cerita mengenai Paus Clement VII ketika pertama kali mencoba kopi. Yang ia rasakan sesudahnya adalah kekaguman, penasaran, dan kemudian ia menangis. Ketika ditanya mengapa ia kemudian menjawab, “Minuman setan ini sangat nikmat sehingga sayang bila hanya dinikmati oleh orang Muslim saja. Kita akan menipu para iblis dengan membaptis mereka dan menjadikan minuman ini minuman Kristen!”

Akhirul kalam

Ya, begitulah kopi. Sebuah minuman yang populer untuk khalayak ramai, namun selalu ditantang keberadaannya oleh para penguasa.

Coffee shop di Turki masa kini
Sumber: https://id.pinterest.com/khalilmfb/turkish-coffee-shop

Tapi bagaimana dengan masa kini menurut Anda? Semakin banyaknya kedai kopi tentu akan menjurus masyarakat membicarakan banyak hal mulai dari bisnis, kreatif, hingga politis dan ideologis. Selama itu sehat dan aman, bisa saja pemerintah manapun tidak perlu kuatir – terlebih kini di era demokrasi yang memberikan kepuasan “semu” bagi rakyatnya atas pejabat yang mereka pilih.

Mungkin saja akan selalu ada agen-agen pemerintah yang selalu berjaga di satu sudut seperti yang kita lihat di film-film masa Perang Dingin. Ataukah di era kapitalisme ini, rakyat sudah cukup terpuaskan dulu dengan derasnya pembangunan infrastruktur dan banyaknya tunjangan? Mari kita lihat kiprah kedai kopi dan kaitannya dengan masyarakat di era modern ini untuk selanjutnya.

Referensi:

  1. turkishcoffeeworld.com/History-of-Coffee-s/60.htm
  2. turkishstylegroundcoffee.com/turkish-style-coffee/turkish-coffee-history/
  3. npr.org/sections/thesalt/2013/04/27/179270924/dont-call-it-turkish-coffee-unless-of-course-it-is
  4. npr.org/sections/thesalt/2012/01/10/144988133/drink-coffee-off-with-your-head
  5. turkishcoffeegear.com/turkish-coffee-history/
  6. turkishcoffee.us/articles/history/ottoman-empire-era/
  7. turkishculture.org/lifestyles/lifestyle/coffeehouses-204.htm
  8. hurriyetdailynews.com/a-history-of-turkish-coffee.aspx
  9. dailyo.in/lifestyle/history-of-coffee-tea-mecca-akbar-mughals-jahangir-wine-ottomans-christians-muslims/story/1/10320.html
  10. perfectdailygrind.com/2015/09/turkish-coffee-a-story-of-mystery-war-romance-empire/

Gambar sampul: ozerlat.com


Original link: wm.ucweb.com (gastroficionado)