Tag Archives: Coffee

Meracik Kopi Menggunakan Clever Dripper

Seorang Mira Yudhawati meski tidak memiliki espresso machine di rumahnya, ia tetaplah tipe seseorang yang meracik kopinya sendiri di berbagai kesempatan. Baik ketika di rumahnya saat akhir pekan bersama keluarga dan hari-hari di kantornya. Bahkan juga ketika menjadi penumpang pesawat di sela-sela perjalanannya keliling dunia sebagai juri kompetisi kopi internasional.

Selain menyukai kopi-kopi berjenis single origin, Mira juga melengkapi hobinya dengan berbagai alat yang memungkinkannya meracik kopi kapan saja. “Kalau aku sehari-hari bawa penggiling kopi biasanya merek Comandante. Masih jadi favorit dan yang terbaik. Permukaan kayunya tidak bikin licin saat dipegang dan hasil gilingannya presisi”, aku Mira.

Tapi Mira mengakui kalau saat traveling tidak juga selalu harus membawa alat giling. “Minimal aku bawa QBag atau Clever Dripper. Nanti tinggal seduh di kamar hotel atau bahkan saat di pesawat tinggal minta air panas”, begitu sahutnya.

Soal ngopi di pesawat menurutnya jadi keharusan tersendiri tertama untuk perjalanan jauh. “Cranky juga bawaannya kalau tidak ngopi misalnya perjalanan jauh ke Eropa atau Amerika. Tapi wangi-wangi kopi yang saya seduh malah bikin orang lain menengok ke saya!”, ujarnya sambil tertawa.

Kopi favoritnya dari Caswell’s adalah Ethiopia Yirgacheffe. Untuk produk lokalnya sendiri ada kopi Aceh dan khususnya Jawa Barat yang sedang naik daun belakangan ini. Intinya bagi Mira, ia suka kopi yang bercitarasa ringan tapi memiliki karakter-karakter unik.

Kali ini ia berbagi preferensi pribadinya dalam meracik kopi dengan menggunakan Clever Dripper.

CARA SEDUH DENGAN CLEVER DRIPPER

  1. Untuk menyeduh kopi, gunakan air bertemperatur antara 89C – 92C. Menurut Mira, maksimal boleh di 96C dan rata-rata orang menggunakan air di 94C. Suhu terlalu tinggi akan memberikan rasa terbakar pada kopinya.
  2. Misalkan tidak ada indikator suhu pada pemanas air, didihkan air dan biarkan sekitar tiga menit agar suhu turun terlebih dahulu. Begitupun bilamendidihkan air menggunakan kompor.
  3. Gunakan rasio standar 1:15. Mira menggunakan kopi 10 gram dan airsebanyak 150 ml. Meskipun ada kalanya rasio ini bisa berubah-ubah tergantung dari karakter kopinya.
  4. Karena menggunakan Clever Dripper, proses menjadi lebih simpelketika penyeduhan. Cukup pastikan semua kopi rata dengan air dan biarkan selama 4 menit setelah selesai menuangkan air.
  5. Pindahkan Clever Dripper ke atas gelas dan selanjutnya kopi akan menetes sendiri hingga selesai.
  6. Nikmati perbedaan karakter kopi saat dinikmati selepas diseduh dan ketika sudah agak dingin.

Selamat mencoba!


Original link:
http://www.passionmedia.co.id/b/meracik-kopi-menggunakan-clever-dripper?searched=clever

Advertisements

Mira Yudhawati: Gaining Knowledge Through Competitions (Passion, Apr 2018)

There’s always a lot to learn from the coffee industry, especially nowadays. The one we’re sitting with today is Mira Yudhawati, among the most esteemed personas in Indonesian coffee world. She shares us a story about her life as a world competition judge and as someone who sets her hope high for Indonesian coffee.

How’s your story with Caswell’s at the beginning?

I started to work for the company in 2008. Back then, Caswell’s was already known as Indonesia’s first specialty coffee business. Even back when coffee has not yet reached the level of appreciation like today, Caswell’s had already sent its people all over the globe for symposiums and competitions. We have our first Indonesian barista from here competing in WBC, or even judges for international competitions. The company’s reputation was among the main reasons I joined here at the first place.

How’s the transition so far after the acquisition for you?

As of now, I am still entrusted by the company as the General Manager. Since the takeover by BonCafe, we’re still pretty much the same as family – only bigger. Instead of focusing only for coffee like we did since 1998, Caswell’s is now a one-stop hub beverage company.

So, other than managing only specialty coffee beans, machines, and classes; we are taking care of other products such as smoothies, juices, tea, and many more – especially for wholesales. Currently I am still adjusting to a new culture, which is both challenging and very exciting.

Can you explain a bit about the Q Grader certification and how people often relate it to you? 

Q Grader certification was first held in Indonesia back in 2009 and yes, I was among the first Indonesians who received the title. But I was actually not the pioneering Indonesian woman who got the certification. Perhaps people mistook that with me being the first Indonesian woman appointed as an international WBC (World Barista Championship) judge.

As a Q grader, we are certified for certain technicalities in coffee business. However that does not automatically makes us qualified to be an international judge. Even so, being a Q grader, you have privileges while being tested as an international judge. For example, we get to skip certain questions that are reserved only for those who have not yet attained their Q grader certification.

Can you share us some of your stories being an international judge?

Well, I have just recently returned from a competition in Haikou, China. As an international judge, there will be invitation from time to time and I am very grateful for these opportunities.

I think the most exciting part from the competitions is when meeting other judges from around the world and to share with them anything new about coffee. Even myself as a judge, I always started with a clean slate whenever I’m on duty testing baristas from all over the world with their skills and presentation.

You get to learn so much from barista – what kind of coffee they bring, how they brew it, new techniques, and their presentation skills. It’s an amazing feeling to taste great coffee in accord with their presentations. World class baristas are playing for keeps. They prepare for everything months ahead the competition and that’s what makes them champions.

What about the local competitions? 

I am actually among the co-founders of BGI (Barista Guild of Indonesia). We collaborate with traders and many parties to help nurture the quality of the baristas through competitions. Usually we are entrusted to organize local competitions and I would usually help as the head judge.

It’s great to see the quality of our competitions and the baristas nowadays. Back then, everybody started from scratch so we had to learn through trial-and-error. I remember the time when baristas actually presented their coffee by mixing it with raw eggs, curry powders, and even rose petals!

Now we are happy to see that the standards are there and competitions are held in many places with contestants coming even from rural towns. I do think we have a bright future ahead.

Speaking of which, with the rise of es kopi susu trend, even I observe that Indonesian market share is still so huge that everyone could actually get their share in it. It’s going to be interesting to see what will happen next with our coffee world here.


Original link:
http://www.passionmedia.co.id/b/mira-yudhawati—gaining-knowledge-through-competitions-?searched=mira

Kopi Turki: Tetap Dinikmati Meski Dengan Ancaman Hukuman Mati

Peradaban ini melaju kencang berkat kopi. Konon minuman bersejarah ini yang menjadikan manusia melek secara lahiriah maupun secara intelektual. Manusia berkumpul di depan banyak cangkir kopi untuk sekadar menemani kesendirian, bercengkerama, hingga menyelamatkan dunia!

Tidak salah bila mungkin terselip di antaranya, ngopi menjadi bagian dalam budaya keseharian agar disebut “keren” ataupun tergolong dalam jamaah “hipsteriyah”. Sehingga diakui maupun tidak, kopi menjadi pemicu lahirnya banyak gagasan. Kopi menjadi titik tengah sebuah negosiasi alot, kopi menjadi teman hidup di kala tenggat waktu mulai memberikan tekanan, dan kopi menjadi pusat perhatian di era yang sangat mementingkan gaya hidup ini.

Kopi adalah segalanya! Di masa ini dan ternyata di masa lalu juga.

Sumber: food52.com

Adalah abad ke 16 dan ke 17 yang menjadi saksi bisu pertama bahwasanya kopi adalah dua sisi mata uang berbeda – sebuah ritual yang sakral bagi sebagian kalangan dan banyak manusia sesudahnya. Sekaligus juga kopi dianggap menjadi deviasi dari beberapa perspeksi yang spesifik.

Kita lalui cepat asal mula legenda kopi yang datang dari negeri Ethiopia hingga ia bersandar di Yaman selama berabad-abad lalu kemudian ditemukan oleh seorang gubernur Kesultanan Turki Utsmani bernama Ozdemir Pasha. Masalah waktu spesifiknya masih diperdebatkan hingga sekarang, namun intinya sang gubernur memperkenalkan kopi ke kalangan istana pada masa kekuasaan Sultan Suleiman Yang Agung.

Agar lebih informatif, ada juga versi yang menceritakan bahwa kopi awalnya diperkenalkan dua pedagang dari Damaskus dan Aleppo yang kemudian membuka kedai kopi pertama dengan nama Kiva Han di distrik Tahtekale di ibukota Istanbul. Yang jelas dari kedua versi ini, Kesultanan Turki Utsmani memiliki peranan awal yang penting dalam persebaran kopi di dunia pada abad-abad berikutnya.

Ketika kopi dianggap sebagai sebuah tren positif

Sultan Suleiman Yang Agung dengan cepat mengapresiasi kenikmatan secangkir kopi. Ia kemudian memerintahkan agar kopi disempurnakan penyajiannya dan menjadi minuman wajib di istana.

Maka lahirlah sebuah profesi yang dinamakan “kahveci usta” atau “kahvecibaşı” yang padanannya di masa kini adalah semacam “barista” atau yang bertanggung jawab atas kopi dan seduhannya khusus untuk kalangan istana. Konon bahkan terdapat catatan adanya para petinggi istana yang awalnya merupakan para “chief barista” ini dan ada yang berkarir hingga sebagai Wazir Agung (Perdana Menteri).

Sumber: turkishcoffeegear.com

Tidak lama tren kopi kemudian menjalar ke kalangan bangsawan dan orang kaya. Akhirnya kopi menjadi santapan sehari-hari segenap rakyat Turki Utsmani. Kedai kopi menjadi tempat masyarakat berkumpul, membaca buku, bermain catur dan backgammon, berdiskusi mengenai literatur dan puisi, dan tentunya untuk berbicara soal bisnis. Mengiringi kegiatan-kegiatan tersebut, muncullah banyak pertunjukan seni seperti Karagoz (wayang khas Turki), pantomim, serta acara musik.

Ketika rakyat jelata menemukan kesenangan baru dan banyaknya potensi untuk membuka cakrawala keduniawian, rupanya ini mengundang kernyitan dari beberapa pihak – khususnya bagi yang memiliki kepentingan dengan kekuasaan. Bahkan tidak lama sejak kopi menanjak popularitasnya, pemerintah kemudian membredel gaya hidup ini bahkan dengan ancaman hukuman mati!

Ketika kopi menjadi tabu

Bila diperhatikan lebih jauh, permasalahan yang dipandang saat itu sebetulnya cukup akrab dengan apa yang terjadi di masa kini. Begitu banyaknya pilihan gaya hidup kekinian seolah membuat mereka yang baru mencobanya langsung seperti tenggelam dalam keseruannya.

Contoh, berapa banyak misalnya orang tua yang tidak senang bila anaknya terlalu berlama-lama bermain online game atau bermain dengan teman-teman barunya hingga larut malam. Ini adalah kasus klasik yang selalu berulang formulanya dengan presentasi yang berbeda-beda.

Sumber: twitter.com/HalicPostasi/status/504777794086109185

Rakyat Turki saat itu lazimnya mengunjungi tiga tempat dalam kesehariannya: rumah, tempat kerja, dan mesjid. Kedai kopi hadir menjadi tempat keempat dimana banyak dari mereka yang telah begitu menikmatinya malah menjadi abai dengan kewajiban-kewajibannya yang lain.

Masalah ini disuarakan awalnya oleh para ulama dan mereka menghimbau rakyat untuk tetap meluangkan waktu ke mesjid ketimbang terlalu berlama-lama di kedai kopi. Banyak kesempatan dimana para ulama bekerja sama dengan pemerintah untuk menata masyarakat dengan cara yang persuasif. Namun bagi pihak istana, ada yang memandang bahwa terlalu betahnya rakyat di kedai kopi justru malah mengundang munculnya percakapan yang mengarah ke arah-arah subversif sehingga mereka mempersiapkan hukuman keras bagi para pelakunya.

Kopi menjadi minuman terlarang pada kekuasaan Sultan Murad IV. Konon sang sultan sendiri akan berpatroli di malam hari dengan menggunakan baju preman dan akan menghukum mati mereka yang kedapatan tengah menyeruput kopi. Setiap saat ia akan membawa algojo untuk menghukum mati di tempat.

Penerus Sultan Murad bersikap lebih lunak dan melalui Wazir Agung Köprülü Mehmed Pasha, tetap melarang keras keberadaan kedai-kedai kopi dan mengancam pelakunya dengan hukuman cambuk hingga ditenggelamkan bila kedapatan melakukan pelanggaran secara berulang.

Menurut Stewart Allen, penulis dari The Devil’s Cup: Coffee, The Driving Force in History, Sang Wazir sendiri sempat mengunjungi kedai kopi dan mendapati bahwa mereka yang meminum kopi berbeda dengan yang meminum alkohol. “Orang yang meminum alkohol akan mabuk dan bernyanyi, sementara yang meminum kopi akan tetap tersadar dan berkomplot melawan pemerintah”, begitu sahutnya.

Sumber: twitter.com/hayalleme/status/661798805549936640

Seperti yang bisa diduga, peraturan ini kemudian dibatalkan akibat adanya perlawanan keras dari masyarakat. Tentu tidak gratis, pemerintah kemudian memberlakukan pajak tinggi untuk konsumsi kopi. Meskipun demikian, keadaan berangsur-angsur pulih di Kesultanan Turki Utsmani.

Ketika kelak kopi merambah ke negeri-negeri Eropa, para penguasa juga menjadi kegerahan karena potensi-potensi subversif dikarenakan gaya hidup ngopi masyarakatnya. Para dokter di Eropa hingga mengatakan bahwa terlalu banyak minum kopi akan menghisap semua cairan di otak dan menyebabkan kelumpuhan. Para wanita di Inggris juga menghardik para lelaki yang meminum kopi karena justru itu akan membuat mereka impoten.

Konon terdapat satu cerita mengenai Paus Clement VII ketika pertama kali mencoba kopi. Yang ia rasakan sesudahnya adalah kekaguman, penasaran, dan kemudian ia menangis. Ketika ditanya mengapa ia kemudian menjawab, “Minuman setan ini sangat nikmat sehingga sayang bila hanya dinikmati oleh orang Muslim saja. Kita akan menipu para iblis dengan membaptis mereka dan menjadikan minuman ini minuman Kristen!”

Akhirul kalam

Ya, begitulah kopi. Sebuah minuman yang populer untuk khalayak ramai, namun selalu ditantang keberadaannya oleh para penguasa.

Coffee shop di Turki masa kini
Sumber: https://id.pinterest.com/khalilmfb/turkish-coffee-shop

Tapi bagaimana dengan masa kini menurut Anda? Semakin banyaknya kedai kopi tentu akan menjurus masyarakat membicarakan banyak hal mulai dari bisnis, kreatif, hingga politis dan ideologis. Selama itu sehat dan aman, bisa saja pemerintah manapun tidak perlu kuatir – terlebih kini di era demokrasi yang memberikan kepuasan “semu” bagi rakyatnya atas pejabat yang mereka pilih.

Mungkin saja akan selalu ada agen-agen pemerintah yang selalu berjaga di satu sudut seperti yang kita lihat di film-film masa Perang Dingin. Ataukah di era kapitalisme ini, rakyat sudah cukup terpuaskan dulu dengan derasnya pembangunan infrastruktur dan banyaknya tunjangan? Mari kita lihat kiprah kedai kopi dan kaitannya dengan masyarakat di era modern ini untuk selanjutnya.

Referensi:

  1. turkishcoffeeworld.com/History-of-Coffee-s/60.htm
  2. turkishstylegroundcoffee.com/turkish-style-coffee/turkish-coffee-history/
  3. npr.org/sections/thesalt/2013/04/27/179270924/dont-call-it-turkish-coffee-unless-of-course-it-is
  4. npr.org/sections/thesalt/2012/01/10/144988133/drink-coffee-off-with-your-head
  5. turkishcoffeegear.com/turkish-coffee-history/
  6. turkishcoffee.us/articles/history/ottoman-empire-era/
  7. turkishculture.org/lifestyles/lifestyle/coffeehouses-204.htm
  8. hurriyetdailynews.com/a-history-of-turkish-coffee.aspx
  9. dailyo.in/lifestyle/history-of-coffee-tea-mecca-akbar-mughals-jahangir-wine-ottomans-christians-muslims/story/1/10320.html
  10. perfectdailygrind.com/2015/09/turkish-coffee-a-story-of-mystery-war-romance-empire/

Gambar sampul: ozerlat.com


Original link: wm.ucweb.com (gastroficionado)

VIDEO: On Why You Should Try Turkish Coffee (via HHWT)

Have Halal, Will Travel eloquently compiles the greatness of Turkish coffee and why we should not miss the opportunity of having it while in the country.


Video credit: HHWT
Photo credit: Muratore Paulina

Here are the Reasons Why You Should Become a Coffee & Tea Aficionado

We are now becoming more enthusiastic than ever with the art of drinking tea and coffee. I personally still find it fascinating to see some who are willing to go any length for the ultimate pleasure. As someone who enjoys both coffee and tea, here are my thoughts on why we should keep up with the trend based on my observation as a foodie and a global citizen.

Coffee is the talk of the town. Single origin batches from certain estates that produce high quality coffee are highly prized. Albeit some coffee shops would argue about the profitability in the long run when dealing only with single origins, it seems that individual drinkers are too enthusiastic to bother about that. It’s always a hype whenever we encounter geisha beans for example at a local coffee shop and certainly it attracts everyone! At the end of the day, a small batch of this rare find would end up somewhere in the hands of a true aficionado.

While coffee is still pretty much the talk of the town, Jakarta is also celebrating more appearances of tea houses as well. A few years ago, they had seen better days but the age of discerned foodies has arrived and revive the business. Foreign brands have been introducing their products here for quite some time to ride on the momentum. Interestingly, Indonesians brace the competition by also presenting tea more properly this time. Aside from familiarizing people with the concept of drinking tea as an art, we are also exposed with literally limitless variants of tea from all over the world.

Nowadays, coffee aficionados would invest their money on hand grinders, expensive espresso machines, or the popular manual brewing gadgets. Not surprisingly, tea lovers would also do the same to achieve that perfect cup. From learning the techniques to collecting different types of tea from different countries; they would also spend more on cups, affordable electric kettles, and up to the rare, decorative tea pots from all over the world!

One important thing to highlight here is certainly not about how expensive our gadgets should be to appreciate the finer things. Even for starters, you can already enjoy so much from the most affordable gadgets you can spend for now. A word of advice, befriend the experts and you will know what to buy first and why.

In addition to that; classes, competitions, and conferences make us feel more connected with the whole industry. We get to know more about the diversity of the products, the experts who set the examples, about the farmers and how we should appreciate their hard work, and many more. Certainly we can always start with the know-how to maximizing its potential fully in our cups.

I suppose at this point, we might want to agree that the colorful world of tea and coffee is not just about its geeky side or how methodical we should be for perfection. There’s always the sunnier side about it and that is about having fun with it, exploring the endless possibilities, and spending the extra dime for the best beans or the gadget of your dream!