Tag Archives: Australian

Apparently There is a Thing Out There Called “Finger Lime”

Sebut saja jeruk limau jari, if you will, tapi memang sepertinya tidak ada varian semacam ini di Indonesia. Negeri terdekat yang diberkahi oleh tanaman satu ini adalah Australia, dan umumnya finger lime tumbuh secara liar di sana serta musimnya konon pendek saja.

Jim Shanley asal Amerika Serikat menjadi yang pertama berhasil membudidayakan tanaman ini di negerinya. Buah yang berbentuk lonjong namun kecil-kecil ini berisikan bulir-bulir limau asam yang mengingatkan kita pada caviar atau salmon roe pada sushi.

Eater mengabadikan sedikit cerita mengenai finger lime ini dan satu cara untuk menikmatinya di video berikut ini.


Video credit: Eater
Image credit: Shanley Farms

Advertisements

Weekend Brunch at Salt Grill by Luke Mangan, Jakarta

Not more than a decade ago, several restaurants ruled the skies of Jakarta but probably only less than a handful of them survived. Even I would call that an overstatement provided perhaps only one or two survivors left remaining, but safe to say, certainly there’s a time when Jakartans were probably not into sky dining anymore.

However, things started to change and sky dining becomes a trend anymore. One of the pioneers is of course, Altitude with its four star-studded restaurants located on the 46th floor of The Plaza, right in the heart of the city.

Fate brought me at last to Australian celebrity chef Luke Mangan’s Salt Grill to experience Altitude’s initiative of a weekend brunch that features some of the finest dishes for you to choose to your heart’s content and topped with fresh additions from the buffet.

Salt Grill 8

Highlighting the ala carte dishes, one must surely know where to start and that goes for the eggs benedict – done marvelously with good crumpets and hollandaise sauce. My wife was the one who chose it and certainly she opted for that good salmon gravlax. Interestingly for the substitute, you can choose for the avocado.

A fellow blogger friend of mine, Verdi a.k.a The Hungry Doctor picked the Sydney crab omelette, which was an interesting subject because of the Asiatic and of course, the crab, but we agreed that other choices we made that day were better.

Salt Grill 9

Salt Grill 3

Take it for example – the baked barramundi or the chicken roast, starred as the roast of the day. Both of these exemplify how Australian cuisine can incorporate well with its neighboring continent’s influences but deliver a degree of finesse only found in five-star establishments.

On a lighter note, you can also opt for buttermilk pancakes or pappardelle pasta alternatively, but please do make room for desserts as Salt Grill offers an interesting poached peaches, mascarpone sorbet, with berry consomme, which I failed to try, as well as commendable mocktails and iced teas.

Salt Grill 2

This delightful opportunity of having a solid brunch from 46th floor overseeing the skyscrapers and the blue skies are for only IDR 350,000++. It’s a real bargain I must say and many places do offer brunches as well, but certainly not with this kind of ambiance and atmosphere.

So, next stop would be another great brunches at Salt Grill’s neighbors – Enmaru and Gaia. Hop on with me, lads!

—–

SALT GRILL BY LUKE MANGAN
Halal-friendly (some of the menu items contain alcohol and pork)
Suitable for vegetarians

Address:
Altitude at The Plaza, 46th fl, Jalan MH Thamrin Kav. 28-30, Jakarta – Indonesia
T: +62.21.2992.2448

Opening hours:
Everyday, TBA
Weekend brunch is only available on weekend and public holiday, 11am – 3pm

Website (ALTITUDE) | Website (Salt Grill) | Facebook | Twitter (ALTITUDE) | Instagram

Spend: IDR 350,000++ (Weekend Brunch only)

—–

Meet George Calombaris (Farrago Indonesia – November 24, 2012)

Farrago beruntung bisa bertemu dan berdiskusi dengan chef berkelas Internasional yang satu ini. George Calombaris, chef yang biasa kita jumpai di berbagai serial Master Chef versi Australia.

Sosok George Calombaris yang kita kenal sebagai TV personality memiliki pembawaan karakter yang begitu alami dan dari mulutnya mengalir deras cerita-cerita seru yang menggambarkan dunia kuliner yang ia tekuni. Karier seorang George sebetulnya berawal dari menjadi juru masak di sebuah hotel di Melbourne, Australia, hingga keberhasilannya meroket berkat bakat dan ketekunannya. Hanya selang beberapa tahun saja ia sudah mengantongi berbagai penghargaan, mengecap pengalaman bekerja dengan para chef kelas atas, hingga bekerjasama membuka beberapa restoran.

George adalah pengusaha di balik The Press Club, restoran pertamanya di Australia, dan ketika itu usianya baru saja menginjak 25 tahun. Lewat restorannya ini, ia memperkenalkan publik Australia pada masakan Yunani yang merupakan warisan leluhurnya. Berbekal kesuksesannya dengan The Press Club, kini George telah membuka berbagai restoran di Australia dan akhirnya ia juga merambah ke percaturan kuliner internasional dengan membuka The Belvedere Club yang berada di pulau Mykonos, Yunani.

‘Saya menggunakan citarasa klasik untuk masakan saya namun saya berikan sentuhan modern tanpa menciptakan sesuatu seperti Frankenstein’, jelas George sembari bercanda. ‘Tapi tentu di level seperti ini, kita ingin para pengunjung datang bukan hanya semata karena makanannya saja. Semuanya adalah mengenai pengalaman menarik seperti sebuah perjalanan kecil yang menakjubkan—karena semua berasal dari inspirasi yang menggabungkan kreativitas dan unsur nostalgia’.

Meski demikian, misi yang tengah dijalani George tidaklah mudah karena masakan Yunani belum sepopuler masakan Prancis, Italia, China, atau Jepang. ‘Yang terpenting adalah saya mendapat kesempatan mengekspresikan mengenai apa yang saya lakukan di berbagai forum. Contohnya, MasterChef adalah sebuah forum bagi saya untuk mengkomunikasikan kepada masyarakat tentang masakan Yunani dan latar belakang budaya saya’, ujar pemenang Young Chef of The Year tahun 2002 ini.

Sejauh ini, hanya ada segelintir chef saja di seluruh dunia termasuk dirinya yang tengah memopulerkan masakan Yunani di tingkatan ini, tapi George optimis bahwa masakan Yunani akan dikenal seiring berjalannya waktu. Tantangan lainnya adalah saat ini masakan Yunani masih dianggap sebagai masakan rumahan ketimbang sebagai kuliner modern, sehingga di sinilah tugas George untuk mengasah kreativitasnya.

‘Para pengunjung The Press Club ada saja yang berkata bahwa masakan ibu mereka lebih enak dari ini. Saya tidak menyangkalnya karena masakan ibu saya saja lebih enak dari masakan saya sendiri’, sahut George sambil tertawa. Saya tahu sekali, George hanya merendah lewat leluconnya, mengingat begitu tinggi pencapaiannya meski masih di usia 34 tahun kini.

Berikutnya, berbagai rencana bisnis seperti memperbarui The Press Club dengan berbagai tambahan baru di dapur dan restorannya sudah mulai dijalankannya selain berbagai kesibukannya sebagai celebrity chef. ‘Di sela-sela waktu saya ingin sekali menyempatkan untuk pergi ke Istanbul. Era Konstantinopel dan Kekaisaran Ottoman/Utsmaniyah dari Turki banyak menjadi pengaruh masakan Yunani. Semuanya merupakan bagian besar yang masih ‘hilang’ dari pengetahuan kuliner saya’, tukas George.

Terakhir, George berbagi filosofinya yang sederhana namun penuh makna. ‘Di akhir hari tidak peduli apakah tempat merupakan restoran fine-dining, brasserie, bistro, ataupun kantin, makanan haruslah lezat’.

Kita nantikan kiprah George berikutnya dan besar harapan kita bahwa kelak masakan Yunani dan juga berbagai masakan dari Nusantara juga semakin dikenal dan bahkan mensejajarkan diri dengan para pendahulunya yang sudah populer di level dunia. Masa penantian itu jelas akan segera berakhir.

—–

Featured by Farrago Indonesia (November 24, 2012)

Pictures courtesy of George Calombaris’ personal documentations (first and second photos only)

The Multicultural MasterChef, Adam Liaw (Hang Out Jakarta, January 2012)

TGA and Adam Liaw

Kecintaannya pada memasak membuat Adam Liaw memutuskan untuk mengikuti audisi MasterChef Australia hampir dua tahun yang lalu. Siapa yang menyangka keputusannya meninggalkan profesi tetapnya sebagai lawyer justru akan membawanya menuju kesuksesan cepat di usia muda setelah menjuarainya?

Waktu bergulir dan berbagai kegiatan telah dilaluinya setelah menjuarai kompetisi tersebut. Selain telah meluncurkan buku memasaknya yang sukses berjudul Two Asian Kitchens, Adam Liaw juga kini tengah mempersiapkan diri untuk membuka sebuah restoran di Jepang.

Portico beberapa waktu yang lalu mengundang Adam Liaw untuk sebuah event selama dua hari dimana ia memasak hidangan-hidangan khasnya untuk 400 pengunjung. Hanya dalam waktu kurang dari seminggu dan tanpa promosi selain lewat Twitter, event ini langsung fully booked dalam sekejap.

Sebelumnya HOJ mendapatkan kesempatan untuk mewawancarainya dalam sebuah press conference yang intimate dan mendengar langsung kiat-kiatnya untuk menjadi seorang ahli masak yang seru dalam kesehariannya serta kisah saat berkompetisi pada MasterChef Australia.

Apa sih konsep dari buku Anda?

Konsepnya sangat personal. ‘Two Asian Kitchens’ terdiri dari dua bagian yaitu New dan Old. Di bagian Old Kitchen, ceritanya mengenai masakan-masakan khas keluarga saya sejak kecil dan juga masakan-masakan favorit saya saat perjalanan saya ke China, Jepang, serta Korea, Vietnam dan Thailand.

New Kitchen bercerita bagaimana pengalaman kuliner saya selama ini berpengaruh langsung ketika saya berada di perantauan. Contohnya ketika saya berada di Jepang, saya yang tumbuh dari pengaruh masakan Malaysia, Peranakan, Chinese, dan juga Australia harus menyesuaikan apa yang saya masak dengan kondisi di Jepang yang memiliki situasi dan bumbu yang berbeda-beda.

Bagaimana tanggapan masyarakat ketika buku Anda terbit?

Banyak respon bagus dari berbagai kalangan termasuk para penulis berpengaruh di Australia. Rencananya dalam waktu dekat ini buku saya akan diterjemahkan ke bahasa Belanda dan akan diterbitkan di Eropa serta Afrika Selatan.

Proses penyusunannya sangatlah menyenangkan. Semua orang yang mencintai makanan akan berharap bisa menulis suatu buku kelak dan saya mendapatkan kesempatan itu. Penyusunannya sangat sulit tapi saya sangat menikmatinya.

Apakah Anda membaca buku-buku masakan lainnya?

Ya dan sangat banyak. Salah satu yang sering saya baca waktu kecil dulu adalah ‘Complete Asian Cookbook’ oleh Charmaine Solomon yang sangat klasik. Tapi favorit saya adalah ‘Cooking Bold and Fearless’ dari sebuah penerbit di California yang saya temukan di toko loak di Jepang seharga satu dollar saja! Diterbitkan pada tahun 1950an saat dimana Amerika mungkin hanya mengenai hot dog dan hamburger tapi justru di buku ini banyak dikenalkan masakan seperti char siu, kari India, sushi, dan teriyaki!

Bagaimana hubungan Anda dengan peserta MasterChef lainnya sekarang?

Callum (Hann) dan saya baru saja bermain sepak bola kemarin. Kami kalah 7-1 (tertawa) dan dia yang menciptakan gol semata wayang itu. Saya tetap berhubungan dengan semuanya sejak MasterChef selesai syuting tapi juga saya menjadi sangat sibuk. Terhitung sejak selesai satu setengah tahun yang lalu, saya sering mengadakan perjalanan kemana-mana seperti baru-baru saja saya kembali dari food and wine Show di Johannesburg, pembukaan restoran di Sydney dan lain-lain.

Apakah pencapaian terbesar Anda selama ini?

Buku saya. Itu adalah mimpi saya sejak kecil. Selanjutnya adalah pembukaan restoran baru saya tahun depan (2012).

Banyak yang bilang MasterChef Australia tidak sedramatis versi Amerika, mengapa?

Karena pada dasarnya kita semua bersahabat di acara itu. Orang Amerika mungkin senang melihat Joe (Bastianich) atau Gordon (Ramsay) meneriaki para peserta atau para kontestan saling berseteru satu sama lain. Tapi di Australia itu berbeda karena kita selalu bersama setiap saat dan saling bersahabat. Tentunya kami tetap kompetitif tapi tidak negatif. Kita berusaha yang terbaik untuk bersaing, bukan untuk menjatuhkan sesama.

Bagaimana kiat menjadi juara di MasterChef?

Belajarlah sebanyak mungkin, apalagi karena saya bukanlah juru masak yang terbaik di awal kompetisi dan begitu juga untuk Callum. Proses syuting acaranya berlangsung hampir setahun, kurang lebih 11 bulan dan banyak waktu yang digunakan untuk memasak. Keuntungan terbesarnya adalah setiap hari saya menjumpai chef-chef hebat dan berbagai bahan makanan serta bumbu baru, teknik baru, dan pengalaman baru sehingga itulah yang menjadi kekuatan saya.

-Featured in HANG OUT JAKARTA January 2012 edition-