Category Archives: Interviews

The Multicultural MasterChef, Adam Liaw (Hang Out Jakarta, January 2012)

TGA and Adam Liaw

Kecintaannya pada memasak membuat Adam Liaw memutuskan untuk mengikuti audisi MasterChef Australia hampir dua tahun yang lalu. Siapa yang menyangka keputusannya meninggalkan profesi tetapnya sebagai lawyer justru akan membawanya menuju kesuksesan cepat di usia muda setelah menjuarainya?

Waktu bergulir dan berbagai kegiatan telah dilaluinya setelah menjuarai kompetisi tersebut. Selain telah meluncurkan buku memasaknya yang sukses berjudul Two Asian Kitchens, Adam Liaw juga kini tengah mempersiapkan diri untuk membuka sebuah restoran di Jepang.

Portico beberapa waktu yang lalu mengundang Adam Liaw untuk sebuah event selama dua hari dimana ia memasak hidangan-hidangan khasnya untuk 400 pengunjung. Hanya dalam waktu kurang dari seminggu dan tanpa promosi selain lewat Twitter, event ini langsung fully booked dalam sekejap.

Sebelumnya HOJ mendapatkan kesempatan untuk mewawancarainya dalam sebuah press conference yang intimate dan mendengar langsung kiat-kiatnya untuk menjadi seorang ahli masak yang seru dalam kesehariannya serta kisah saat berkompetisi pada MasterChef Australia.

Apa sih konsep dari buku Anda?

Konsepnya sangat personal. ‘Two Asian Kitchens’ terdiri dari dua bagian yaitu New dan Old. Di bagian Old Kitchen, ceritanya mengenai masakan-masakan khas keluarga saya sejak kecil dan juga masakan-masakan favorit saya saat perjalanan saya ke China, Jepang, serta Korea, Vietnam dan Thailand.

New Kitchen bercerita bagaimana pengalaman kuliner saya selama ini berpengaruh langsung ketika saya berada di perantauan. Contohnya ketika saya berada di Jepang, saya yang tumbuh dari pengaruh masakan Malaysia, Peranakan, Chinese, dan juga Australia harus menyesuaikan apa yang saya masak dengan kondisi di Jepang yang memiliki situasi dan bumbu yang berbeda-beda.

Bagaimana tanggapan masyarakat ketika buku Anda terbit?

Banyak respon bagus dari berbagai kalangan termasuk para penulis berpengaruh di Australia. Rencananya dalam waktu dekat ini buku saya akan diterjemahkan ke bahasa Belanda dan akan diterbitkan di Eropa serta Afrika Selatan.

Proses penyusunannya sangatlah menyenangkan. Semua orang yang mencintai makanan akan berharap bisa menulis suatu buku kelak dan saya mendapatkan kesempatan itu. Penyusunannya sangat sulit tapi saya sangat menikmatinya.

Apakah Anda membaca buku-buku masakan lainnya?

Ya dan sangat banyak. Salah satu yang sering saya baca waktu kecil dulu adalah ‘Complete Asian Cookbook’ oleh Charmaine Solomon yang sangat klasik. Tapi favorit saya adalah ‘Cooking Bold and Fearless’ dari sebuah penerbit di California yang saya temukan di toko loak di Jepang seharga satu dollar saja! Diterbitkan pada tahun 1950an saat dimana Amerika mungkin hanya mengenai hot dog dan hamburger tapi justru di buku ini banyak dikenalkan masakan seperti char siu, kari India, sushi, dan teriyaki!

Bagaimana hubungan Anda dengan peserta MasterChef lainnya sekarang?

Callum (Hann) dan saya baru saja bermain sepak bola kemarin. Kami kalah 7-1 (tertawa) dan dia yang menciptakan gol semata wayang itu. Saya tetap berhubungan dengan semuanya sejak MasterChef selesai syuting tapi juga saya menjadi sangat sibuk. Terhitung sejak selesai satu setengah tahun yang lalu, saya sering mengadakan perjalanan kemana-mana seperti baru-baru saja saya kembali dari food and wine Show di Johannesburg, pembukaan restoran di Sydney dan lain-lain.

Apakah pencapaian terbesar Anda selama ini?

Buku saya. Itu adalah mimpi saya sejak kecil. Selanjutnya adalah pembukaan restoran baru saya tahun depan (2012).

Banyak yang bilang MasterChef Australia tidak sedramatis versi Amerika, mengapa?

Karena pada dasarnya kita semua bersahabat di acara itu. Orang Amerika mungkin senang melihat Joe (Bastianich) atau Gordon (Ramsay) meneriaki para peserta atau para kontestan saling berseteru satu sama lain. Tapi di Australia itu berbeda karena kita selalu bersama setiap saat dan saling bersahabat. Tentunya kami tetap kompetitif tapi tidak negatif. Kita berusaha yang terbaik untuk bersaing, bukan untuk menjatuhkan sesama.

Bagaimana kiat menjadi juara di MasterChef?

Belajarlah sebanyak mungkin, apalagi karena saya bukanlah juru masak yang terbaik di awal kompetisi dan begitu juga untuk Callum. Proses syuting acaranya berlangsung hampir setahun, kurang lebih 11 bulan dan banyak waktu yang digunakan untuk memasak. Keuntungan terbesarnya adalah setiap hari saya menjumpai chef-chef hebat dan berbagai bahan makanan serta bumbu baru, teknik baru, dan pengalaman baru sehingga itulah yang menjadi kekuatan saya.

-Featured in HANG OUT JAKARTA January 2012 edition-

Advertisements

Interview with Jakarta Globe: My Jakarta – Rian Farisa [Food Blogger] (August 18, 2012)

I know dear readers that I am a day late and a bit narcissistic, but it’s never too late to thank everyone for this blessing and Jakarta Globe for the opportunity.

After a quite thorough interview with Ms. Lydia Tomkiw, it’s settled that I will be on air on August 18, 2011.

On this occasion I’d like to copy paste my engagements and everything I talked about my passion for food back then in case the link someday vanished into thin air.

So here goes!

My Jakarta – Rian Farisa (Food Blogger)

‘A Simple Fix of Fried Rice Will Do Me Any Time of Day’

Rian Farisa comes from a family that loves food. He moved to Jakarta four years ago to work a nine-to-five job in the banking sector. The daily grind started to get to him, so he decided to do something new after work. In 2009 he started writing a food review blog, The Gastronomy Aficionado, covering Jakarta’s dining scene.

The tagline of Rian’s blog reads, ‘The more I eat, the more I criticize. Just let me be severe about it, so they will reflect upon it.’ And Rian isn’t afraid of giving his opinion. He wants to take food reviews ‘to the next level’ and give his readers fearlessly honest assessments.

Rian, how would you describe the dining scene in Jakarta right now? 

Jakarta has really improved a lot. Every day, new restaurants with different themes and genres open. Even things you find more in Singapore and Malaysia, like Indian, are getting to Jakarta. The dining scene is very modern and very pricey as well. There are many varieties now. Two years ago you wouldn’t see coffee shops like Anomali so much in Jakarta. Now I see people who studied abroad and then came here and brought back the concept they found, like Sour Sally’s. Jakarta really is the melting pot of everything.

How did you come up with the name for your food blog, The Gastronomy Aficionado? 

Most people like to write their names. I wanted to use a sophisticated name. I wanted something rare, something people don’t use a lot. It took me two days to think of the name of the blog. The word gastronomy because I want to discuss all aspects of food, not just whether it is yummy or not yummy, but also the things that surround the food — the service, the interior and the price. And, aficionado, because as you can see, I am a big lover of food [laughs].

What’s your favorite type of cuisine to review? 

I do lots of Japanese and Italian. It’s the simplest thing to find in big cities. Not to forget my roots, I also love Sundanese food.

What’s your favorite Indonesian dish? 

I like the simple fix of fried rice, nasi goreng. You can find it anywhere. It’s probably not something you’d expect from someone who calls himself ‘Gastronomy Aficionado,’ but a simple fix of fried rice will do me good any time of the day.

Do you get any advantages or perks from writing your blog? 

My face is not that familiar. People know me from my writing. Sometimes people ask me to review and sometimes there are food blogger gatherings for restaurant openings. It’s not like I go to a restaurant and say, ‘Hi, my name is Rian. I am a food blogger. I want to eat in this restaurant for free.’ It’s not like that.

Do you think food bloggers have a lot of power now? 

They really possess power. Especially if one or two Web sites talk about something. I got an invitation one time to an opening and the restaurant wasn’t organized. One blogger was kept waiting over an hour for food. I don’t know what she wrote, but it can’t be good. People tend to be more expressive these days. Indonesians usually tend to be quite shy about expressing their thoughts, but I guess it’s changing these days.

You’re definitely not shy on your blog. 

Yeah. That’s the real purpose. When I made the blog I knew I wanted to be a bit harsh and a bit vocal in expressing my thoughts. I’ll be the judge. Bloggers now are getting powerful and now there are plenty of them. But the majority of them are still a bit kind.

How do you choose the restaurants you are going to review? 

Randomly, actually. But I tend to review new restaurants because with new restaurants people usually Google them right away and want to know all about them. That’s the thing about blogging, you have to keep it up to date. How do I do it? Well, I bring my notebook and camera. I don’t have to tell them I am a food blogger. I do it anonymously. I don’t have to be sneaky.

Sometimes you write in Bahasa Indonesia sometimes you write in English. Tell me about making that choice. 

Mainly I write in English. But a few magazines have asked me to write in bahasa so that’s why I’m doing it. I need to expand myself as well. I need to expand in different languages and expand my knowledge.

How much money do you spend a month on eating out? 

Well, sometimes if I’m reviewing for a magazine, I get reimbursed. I’d say up to Rp 1 million ($120). A few hundred thousand rupiah will usually do. Most of the time I am going with my wife. She likes that I have a food blog. It’s a blessing in disguise. She can come whenever I want to try something new.

What’s the best thing you’ve eaten recently in Jakarta? 

About a month ago I was invited to the Mandarin Oriental Hotel and Michelin star Chef Fabien Lefebvre was there. We got a chance to test his food and publish something about it in the media. That was probably the first time I had eaten a Michelin star chef’s food in Indonesia and it was really good.

Rian Farisa was talking to Lydia Tomkiw. 

Link: http://www.thejakartaglobe.com/myjakarta/my-jakarta-rian-farisa-food-blogger/459799

Chef On The Block: Executive Chef Firdaus Fadly (HOJ, May 2011)

Hidup penuh petualangan! Begitulah kurang lebih perjalanan karir dari Chef Firdaus Fadly bahkan setelah kembali ke peraduannya di Jakarta. Terhitung sudah 20 tahun Chef Fadly malang melintang di dunia persilatan masak-memasak dan gelar prestisius Executive Chef sudah direngkuhnya sejak beberapa tahun belakangan ini.

Dengan penampilan ala chef namun tetap dengan ramah dan santai, Chef Firdaus bercerita mengenai perjalanan karirnya dimulai sejak lulus dari BPLP atau lebih dikenal dengan sekolah pariwisata NHI Bandung menjadi seorang Commie di Hotel Hilton, Jakarta pada tahun 1991. Selanjutnya hampir setiap antara satu atau dua tahun, Chef Firdaus berpindah-pindah dan memperkaya pengalamannya ke berbagai tempat. Dimulai ke Mövenpick di Swiss sebagai stagier atau trainee. Karirnya menanjak terus ketika kembali ke Hotel Aryaduta Jakarta sebagai Chef de Partie.

Petualangan berikutnya menetapkan keahliannya sebagai Chef de Partie di Grand Hotel Stockholm serta Hilton Brussels. Lalu sekembalinya ke Indonesia lagi untuk seterusnya, Chef Firdaus menanjaki karirnya menjadi seorang Sous Chef di dua hotel terkenal bahkan sempat menjajali menjadi seorang Restaurant Chef di Amigo’s. Keputusannya ke Amigo’s adalah suatu hal yang cukup mengejutkan mengingat Chef Firdaus memiliki basis sebagai seorang chef di dunia perhotelan. Kedua adalah bahwa Amigo’s sendiri adalah restoran dengan spesialisasi Tex-Mex cuisine, lain dengan yang biasa ditekuninya yaitu masakan Eropa dan Barat pada umumnya.

Meski demikian peranan tersebut berhasil dijalaninya dengan sukses dan tetap pada akhirnya membawanya kembali ke dunia perhotelan serta merengkuh gelar Executive Chef di Novotel Bogor untuk pertama kalinya. Gelar yang terus dibawanya mengarungi Hyatt Yogya, Bintan Lagoon, Acacia Jakarta, Ritz-Carlton Mega Kuningan Jakarta, Santika Bali, dan akhirnya ke peraduannya sekarang di Sheraton Media Jakarta.

Kesempatan korespondensi dengan Chef Firdaus di Sukhothai juga merupakan pengalaman yang berwarna. Selain merupakan bagian unik dari Sheraton Media dan arguably restoran authentic Thai terbaik di daerah Jakarta Utara, Sukhothai juga tertata dengan indah dan nyaman. Dengan kelihaian Chef Sidik selaku tangan kanan Chef Firdaus di Sukhothai, makan malam saat itu terasa istimewa.

Ceritanya dimulai dari sajian yam mamuang atau salad mangga yang menyegarkan, ayam kukus daun pandan yang sedap dan lembut, tom som thalay ruamtir atau sup tom yum seafood dengan tingkat keasaman yang segar, kaya, dan disertai kepiting, udang, ikan, dan cumi yang lezat. Tidak hanya sampai di situ, Sukhothai juga mengajak saya menapaki tahapan selanjutnya yang jauh lebih menggiurkan.

Pertama adalah, dua jenis khao pad atau nasi goreng yang pertama disajikan di atas separuh buah nanas sehingga membuatnya wangi menggoda. Tak lupa terdapat daging ayam dan king prawn dipadukan juga membuatnya lalu semakin menggiurkan untuk dinikmati. Sedang nasi goreng yang satunya juga terasa istimewa karena perpaduannya dengan ikan asin.

Untuk menambah kepuasan main course yang sudah melimpah itu, saya juga berkesempatan menikmati pla kao atau ikan kerapu goreng saus asam manisnya. Dengan luar biasa masakan ini mampu memutarbalikkan persepsi saya akan masakan ikan yang biasanya hanya mengandalkan saus luar untuk menambah rasa. Perwakilan dari meat section adalah tumis daging cincang dengan daun basil. Terdengar sederhana namun terasa sekali kemampuannya dalam meramaikan suasana kelezatan santap malam waktu itu.

Kesemuanya diakhiri dengan manis oleh tab tin krob atau dessert berkuah menggunakan chestnut dan sirup kelapa. Rasanya yang manis dan ringan membuat siapapun akan menghabiskan hingga tetes terakhir.

Pada akhirnya Chef Firdaus menutup cerita malam itu dengan kiat-kiatnya menjadi seorang chef sejati yaitu bahwa sejatinya selain hal-hal yang biasa kita ketahui wajib dijalankan seperti teamwork dan dedikasi serta curiosity to learn something new all the time, seorang chef juga harus menganggap bahwa cuisine is an art. Yaitu sebuah aspek dimana selain menuangkan kreativitas, kita juga harus sanggup menerima kritikan serta saran dan terus belajar.

Meski sudah merasakan asam garam kehidupan, tinggal jauh dari tanah air, dan bekerja tiada lelahnya, rasa cinta Chef Firdaus pada dunia yang membesarkannya inilah yang saya rasakan orisinalitasnya dimana kesemuanya membentuk sebuah kekuatan dan passion yang tidak akan pernah reda karena satu hal yang kita sadari adalah bahwa di sinilah kita mencintai aspirasi kita dan mengejar terus apa yang kita impikan.

-Featured in HANG OUT JAKARTA May 2011 edition-

Link: http://hangoutjkt.com/food/13/Chef-On-The-Block