Category Archives: Feature

4 Hidangan Yang Menggambarkan Kekayaan Kuliner Timur Tengah

Timur Tengah selama ribuan tahun menjadi saksi sejarah bangkit serta runtuhnya begitu banyak kebudayaan dunia. Buku-buku sejarah biasanya selalu memulai kepingan cerita peradaban dari wilayah ini. Sejak zaman sebelum Masehi hingga kini, bercampurlah banyak pengaruh di negeri-negeri sepanjang Timur Tengah hingga sejauh Afrika Utara bahkan India. Tak pelak, apa-apa yang dihasilkan sepanjang sejarah manusia dari Timur Tengah selalu terasa kehadirannya di berbagai belahan dunia lainnya.

Begitupun untuk dunia kuliner. Timur Tengah yang lebih dulu mengecap puncak peradaban manusia tidak hanya menghasilkan kekayaan budaya maupun teknologi. Warisan kuliner dari sub-benua Asia ini ternyata sangat kaya dan sayangnya masih terbilang minim kehadirannya di Indonesia.

Kali ini mari kita menapak tilas sejarah kuliner di Timur Tengah dan warisannya yang kini terasa kehadirannya di seantero dunia. Berikut adalah lima diantaranya yang selalu hadir di bulan Ramadhan.


1. KOPI

Tidak ada yang bisa menyangsikan bahwa kopi dipopulerkan berkat sumbangsih masyarakat Timur Tengah di abad pertengahan dan kemudian oleh bangsa Turki dalam persinggungannya dengan negara-negara Eropa sebagai kelanjutannya.

Sumber: thespruce.com

Awalnya kopi bukan diminum seperti masa kini ketika tumbuhannya pertama ditemukan di Ethiopia pada abad ke 11. Namun pada ratusan tahun berikutnya, kopi berubah menjadi minuman dan populer di seluruh Jazirah Arab berkat kultivasinya di negeri Yaman yang subur. Abad-abad berikutnya pada masa hegemoni Kesultanan Turki Utsmaniyah, kopi menjadi minuman favorit seluruh rakyat dan melebar pengaruhnya hingga ke Eropa.

Konon Gubernur Turki di Yaman adalah yang berjasa membawa kopi pertama kali ke Istanbul. Dari kota ini, kopi mulai dikenal oleh para pedagang Venesia dan mulai merambah masuk ke kehidupan para bangsawan di Perancis, Austria, serta Inggris dan Belanda – baik melalui jalur diplomasi maupun jalur peperangan. Kopi memberikan warna tersendiri di tengah-tengah deru berkecamuknya konflik dan persahabatan antara kebudayaan Islam dan Eropa di masa lalu.


2. SALAD / MEZZEH DINGIN

Salad. Terdengar sangat lazim bukan? Namun jangan salah, salad di masakan Timur Tengah memiliki sejarah panjang dalam persinggungannya dengan kebudayaan kuno seperti Yunani dan Romawi.

Sumber: libanesisch.ch

Mungkin bagian yang mengukuhkan seni kuliner dunia modern datang dari seorang bernama Ziryab pada abad ke 9 Masehi dari negeri Andalusia. Kala itu Ziryab menggagas pentingnya menikmati makanan dalam tiga fase yaitu mulai dari makanan pembuka, menu utama, dan makanan penutup.

Sejak itulah masyarakat Timur Tengah sepertinya lebih mengapresiasi kembali seni kuliner mereka. Kebudayaan Islam yang berpusat di wilayah Sham (atau yang kini meliputi Palestina, Lebanon, dan Suriah) dikenal memiliki beragam menu makanan pembuka. Contohnya adalah roti-rotian yang dimakan bersama salad fattoush (potongan beragam jenis sayuran, keju, dan minyak zaitun), baba ghanoush (salad terong), tabbouleh (potongan kecil tomat, peterseli, bawang, bulgur, daun mint, dan minyak zaitun), hingga yang paling legendaris adalah hummus (cocolan yang terbuat dari kacang chickpeas, tahini, dan minyak zaitun)


3. BAKLAVA

Percampuran unik antara berbagai kebudayaan mulai Romawi Timur, bangsa pengembara di Asia Tengah sebelum mereka menetap di Anatolia, serta kemiripan dengan dessert khas Persia menjadikan baklava satu hidangan kebanggaan bangsa Turki.

Sumber: sbs.com.au

Baklava lazimnya dijadikan sebagai kudapan pendamping kopi Turki yang pahit dan berkarakter. Terbuat dari berlembar-lembar filo pastry tipis yang dibubuhi mentega dan diisikan kacang-kacangan, baklava kemudian dipanggang dan disiram dengan sirup madu dan air mawar.

Kerap dijuluki sebagai “The Queen of Desserts”, kemewahan baklava yang mendominasi kuliner Turki di abad Renaisans hingga masa kini ternyata telah berkembang ke seluruh dunia dan memberikan sentuhan tersendiri pada seni kuliner modern.


4. UMM ALI

Masih dari ranah dessert, tentu sulit untuk menafikan betapa populernya hidangan Umm Ali atau Om Ali di dunia perkulineran Timur Tengah. Hidangan khas Mesir ini kerap disamakan dengan bread & butter pudding versi Barat, namun Umm Ali ternyata memiliki perbedaan yang cukup mencolok.

Sumber: dinnerwithjulie.com

Meskipun asal mula umm ali konon didasari sebuah cerita konspirasi, dessert yang satu ini menutup sejarah gelapnya berkat penggunaan bahan-bahan segar dan berkualitas dalam pembuatannya. Misalnya saja penggunaan pastry yang baru dipanggang ketimbang roti lama pada versi bread & butter pudding.

Begitupun dalam hal lainnya; umm ali menggunakan madu, kismis, kacang-kacangan, serta susu kerbau ketimbang susu kental manis. Bersanding dengan baklava, fakta ini tentu menjadikan umm ali sebuah dessert berkelas yang tidak boleh dilewatkan setelah bersantap hidangan khas Timur Tengah.

Referensi:

1. thespruce.com
2. eatlikeanegyptian.com
3. turkishcoffeeworld.com
4. lostislamichistory.com

Gambar sampul: libanesisch.ch


Original link: wm.ucweb.com (gastroficionado)

Advertisements

Ziryab: Sang Musisi, Fashionista, Desainer, dan Ahli Gastronomi dari Al Andalus

Dikarenakan sudah merupakan bagian dari keseharian, tentu kita tidak berepot-repot lagi memikirkan siapa sih sebetulnya yang menciptakan shampoo, siapa sih yang awalnya menentukan gaya fashion yang selalu berubah-ubah setiap musimnya, hingga siapa sih yang sebetulnya menetapkan makanan mana yang menjadi menu pembuka atau menu penutup. Semua seolah sudah terformat dengan sendirinya dan berfungsi demikian seiring berjalannya waktu.

Percaya atau tidak, semua inovasi tersebut datang dari ide satu orang brilian yang hidup di abad ke 9 Masehi. Ya betul, semua inspirasi itu hadir sejak lebih dari 1000 tahun yang lalu dari seseorang yang dijuluki dengan nama Ziryab atau “Burung Hitam” dalam bahasa Arab. Ia mendapatkan julukan tersebut karena kulitnya yang berwarna gelap dan suaranya yang sangat merdu. Asal usul Ziryab sendiri masih diperdebatkan apakah ia seorang Arab, Kurdi, Persia, ataupun Afrika. Mengingat prestasinya yang luar biasa, tentu wajar apabila ia diperebutkan mengenai perkara asal usulnya.

Ziryab (sumber: muslimheritage.com)

Ziryab memiliki nama asli Abu Al-Hassan dan merupakan seorang budak yang telah dibebaskan. Ia berguru pada seorang musisi istana kenamaan bernama Ishaq al-Mawsili yang merupakan anak dari Ibrahim al-Mawsili yang sebelumnya juga menempati posisi sebagai musisi resmi kerajaan pada masa kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad. Setelah diperkenalkan ke dalam lingkaran istana, Ziryab memperlihatkan kebolehannya dalam bernyanyi dan bermain gitar. Tidak tanggung-tanggung, penampilannya mengundang decak kagum sang khalifah ternama Harun Al-Rasyid.

Namun sayangnya ketenaran Ziryab tidak bertahan lama karena Ishaq cemburu pada kesuksesannya. Setelah mendapat tekanan, Ziryab memilih untuk keluar dan berkelana menjajakan keahliannya di berbagai negeri sepanjang perjalanannya ke barat. Mendengar keberadaannya di Tunisia, ia kemudian diundang untuk tampil di hadapan Abdul Rahman II – Emir dari keturunan kekhilafahan Umayyah yang berlokasi di Cordoba, Al Andalus.

Hanya dalam hitungan waktu singkat Ziryab menjadi favorit para pembesar istana di Cordoba berkat bakatnya yang luar biasa. Ia kemudian digaji tinggi, dihadiahi sebuah istana, dan diberikan kebebasan untuk memajukan dunia musik dan kebudayaan di Al Andalus oleh sang Emir. Abdul Rahman II sendiri memang berambisi untuk menjadikan Spanyol pusat kebudayaan baru yang bisa bersanding dengan Baghdad dan Damaskus. Ziryab yang seorang idealis sudah merasa gerah dengan Spanyol yang kondisinya masih tertinggal dibanding belahan dunia Islam lainnya yang tengah berkembang pesat. Berbekal kepercayaan sang emir dan kebebasan berkreasi, lahirlah inovasi-inovasi cemerlang dari seorang Ziryab dan akan diapresiasi hingga hari ini, lebih dari 1000 tahun kemudian.

Ziryab tengah mengajar musik (sumber: islamicspain.tv)

Di bidang musik, Ziryab telah menambahkan senar kelima pada alat musik lute (sejenis gitar) yang dimilikinya. Bahkan lute miliknya dibuat lebih ringan dan terdiri dari senar dengan bahan-bahan yang unik. Bahkan plektrum gitar yang dimilikinya terbuat dari cakar burung elang. Bisa dibilang bahkan lute ciptaannya merupakan cikal bakal dari gitar modern. Kemudian ia mendirikan sekolah musik pertama di dunia, serta merombak dan menciptakan berbagai teori musik, vokal, dan orkestra pada masa itu. Sebagai seorang jenius, Ziryab juga hafal berbagai komposisi lagu hingga berjumlah ribuan. Tujuh dari sepuluh anaknya meneruskan bakat ayahnya kelak sebagai musisi.

Sebuah buku mengenai kuliner Arab masa lalu dengan kredit khusus untuk Ziryab (sumber: amazon.com)

Inovasi-inovasi hebatnya juga ditemukan di bidang kuliner. Ziryab menggalakkan penggunaan gelas kristal untuk menggantikan gelas logam yang sudah kuno. Selain itu Ziryab juga memperkenalkan penggunaan taplak meja dan merancang kegiatan bersantap dalam beberapa fase. Sup dipilih sebagai menu pembuka. Kemudian dilanjutkan dengan menu utama berupa ikan, daging, atau makanan berat lainnya. Sebagai menu penutup, ia memilih buah-buahan dan berbagai makanan manis lainnya serta kacang-kacangan sebagai menu paling akhir. Terakhir, ia memperkenalkan asparagus sebagai makanan baru dan membudidayakannya di kebun miliknya di luar kota Cordoba.

Pakaian empat musim (sumber: islamicspain.tv)

Revolusi kebudayaan dari Ziryab juga rupanya menyentuh bidang fashion dan hygiene. Ia memperkenalkan tema pakaian berbeda untuk setiap musimnya. Misalnya di musim dingin, pakaian dirancang lebih berwarna gelap. Di musim gugur, pakaian memiliki warna-warna seperti merah, kuning, atau oranye – merefleksikan berubahnya warna dedaunan di musim itu. Di musim semi, pakaian dirancang dengan warna-warna cerah seperti bunga yang bermekaran. Sementara di musim panas, pakaian warna putih disarankan untuk dipakai.

Selain tema pakaian yang berbeda setiap musimnya, Ziryab juga mengenalkan konsep bahwa pakaian di pagi, siang, dan malam hari haruslah dibedakan. Khusus untuk para bangsawan, Ziryab memperkenalkan satu set wewangian yang harus dimiliki para pembesar yang terdiri dari shampoo, deodoran, pasta gigi, dan beberapa jenis kosmetik. Gaya rambut orang Arab pada masa itu umumnya dibiarkan panjang dan terurai, maka Ziryab memperkenalkan gaya baru berupa potongan rambut yang lebih pendek untuk laki-laki dan rambut berponi untuk kaum Hawa.

Istana Alcazar di Seville, dari masa puncak kejayaan Al Andalus (sumber: fuertehoteles.com)

Terakhir, gebrakan Ziryab ternyata tidak hanya di bidang kebudayaan saja. Emir Abdul Rahman II mempercayakan juga Ziryab dalam berbagai urusan administrasi dan politik. Atas inisiatifnya, sang Emir kemudian mengundang para astronom India dan para dokter Yahudi dari Afrika Utara. Rupanya para tamu dari India inilah yang pertama kali memperkenalkan permainan catur dan dipopulerkan Ziryab kepada segenap penghuni istana sang Emir. Selebihnya Cordoba tidak hanya menjadi pusat kebudayaan, andil Ziryab untuk mengundang segenap ilmuwan ini kelak menjadikan Cordoba sebagai pusat ilmu pengetahuan. Beberapa abad kemudian bahkan Cordoba menjadi tujuan utama para pelajar dari negeri-negeri jauh di Asia dan Eropa untuk sekolah dan mengunjungi perpustakaannya yang memiliki lebih dari 600,000 judul buku.

Sepeninggal sang Emir dan Ziryab, Cordoba menjadi simbol toleransi – dimana para penduduknya yang beragama Islam, Kristen, dan Yahudi dapat hidup berdampingan dengan damai. Pencapaian-pencapaian yang dilakukan Ziryab lebih dari sepuluh abad silam sayangnya seolah seperti hilang ditelan waktu, meskipun banyak dari temuannya sangat berpengaruh pada kehidupan modern. Inilah waktunya bagi kita untuk dapat mengapresiasi kembali jasa-jasa para ilmuwan dan insan kreatif pada tempatnya dan terkhusus dari mereka yang hidup di era keemasan Islam pada abad pertengahan. Karena inilah masa dimana ilmu-ilmu dari zaman Yunani dan India kuno berhasil disempurnakan dan dikembangkan secara masif sehingga mendefinisikan teknologi maupun pengetahuan yang ada di zaman sekarang.

Era keemasan Islam, saat dimana ilmu pengetahuan berkembang pesat (sumber: historybuff.com)

Referensi:

  1. http://lostislamichistory.com/the-cultural-icon-of-al-andalus/
  2. http://www.islamicspain.tv/Arts-and-Science/flight_of_the_blackbird.htm
  3. http://www.muslimheritage.com/article/ziryab
  4. http://www.thedailystar.net/news/ziryab-the-blackbird-of-al-andalus
  5. https://thedailybeagle.net/2013/02/15/the-forgotten-blackbird/
  6. http://www.newhistorian.com/ziryab-forgotten-innovator-music-gastronome-style/7548/
  7. http://www.lisapoyakama.org/en/ziryab-the-black-scholar-who-has-revolutionized-europe/

Gambar sampul: http://www.muslimheritage.com


Original link: wm.ucweb.com (gastroficionado)

Kopi Turki: Tetap Dinikmati Meski Dengan Ancaman Hukuman Mati

Peradaban ini melaju kencang berkat kopi. Konon minuman bersejarah ini yang menjadikan manusia melek secara lahiriah maupun secara intelektual. Manusia berkumpul di depan banyak cangkir kopi untuk sekadar menemani kesendirian, bercengkerama, hingga menyelamatkan dunia!

Tidak salah bila mungkin terselip di antaranya, ngopi menjadi bagian dalam budaya keseharian agar disebut “keren” ataupun tergolong dalam jamaah “hipsteriyah”. Sehingga diakui maupun tidak, kopi menjadi pemicu lahirnya banyak gagasan. Kopi menjadi titik tengah sebuah negosiasi alot, kopi menjadi teman hidup di kala tenggat waktu mulai memberikan tekanan, dan kopi menjadi pusat perhatian di era yang sangat mementingkan gaya hidup ini.

Kopi adalah segalanya! Di masa ini dan ternyata di masa lalu juga.

Sumber: food52.com

Adalah abad ke 16 dan ke 17 yang menjadi saksi bisu pertama bahwasanya kopi adalah dua sisi mata uang berbeda – sebuah ritual yang sakral bagi sebagian kalangan dan banyak manusia sesudahnya. Sekaligus juga kopi dianggap menjadi deviasi dari beberapa perspeksi yang spesifik.

Kita lalui cepat asal mula legenda kopi yang datang dari negeri Ethiopia hingga ia bersandar di Yaman selama berabad-abad lalu kemudian ditemukan oleh seorang gubernur Kesultanan Turki Utsmani bernama Ozdemir Pasha. Masalah waktu spesifiknya masih diperdebatkan hingga sekarang, namun intinya sang gubernur memperkenalkan kopi ke kalangan istana pada masa kekuasaan Sultan Suleiman Yang Agung.

Agar lebih informatif, ada juga versi yang menceritakan bahwa kopi awalnya diperkenalkan dua pedagang dari Damaskus dan Aleppo yang kemudian membuka kedai kopi pertama dengan nama Kiva Han di distrik Tahtekale di ibukota Istanbul. Yang jelas dari kedua versi ini, Kesultanan Turki Utsmani memiliki peranan awal yang penting dalam persebaran kopi di dunia pada abad-abad berikutnya.

Ketika kopi dianggap sebagai sebuah tren positif

Sultan Suleiman Yang Agung dengan cepat mengapresiasi kenikmatan secangkir kopi. Ia kemudian memerintahkan agar kopi disempurnakan penyajiannya dan menjadi minuman wajib di istana.

Maka lahirlah sebuah profesi yang dinamakan “kahveci usta” atau “kahvecibaşı” yang padanannya di masa kini adalah semacam “barista” atau yang bertanggung jawab atas kopi dan seduhannya khusus untuk kalangan istana. Konon bahkan terdapat catatan adanya para petinggi istana yang awalnya merupakan para “chief barista” ini dan ada yang berkarir hingga sebagai Wazir Agung (Perdana Menteri).

Sumber: turkishcoffeegear.com

Tidak lama tren kopi kemudian menjalar ke kalangan bangsawan dan orang kaya. Akhirnya kopi menjadi santapan sehari-hari segenap rakyat Turki Utsmani. Kedai kopi menjadi tempat masyarakat berkumpul, membaca buku, bermain catur dan backgammon, berdiskusi mengenai literatur dan puisi, dan tentunya untuk berbicara soal bisnis. Mengiringi kegiatan-kegiatan tersebut, muncullah banyak pertunjukan seni seperti Karagoz (wayang khas Turki), pantomim, serta acara musik.

Ketika rakyat jelata menemukan kesenangan baru dan banyaknya potensi untuk membuka cakrawala keduniawian, rupanya ini mengundang kernyitan dari beberapa pihak – khususnya bagi yang memiliki kepentingan dengan kekuasaan. Bahkan tidak lama sejak kopi menanjak popularitasnya, pemerintah kemudian membredel gaya hidup ini bahkan dengan ancaman hukuman mati!

Ketika kopi menjadi tabu

Bila diperhatikan lebih jauh, permasalahan yang dipandang saat itu sebetulnya cukup akrab dengan apa yang terjadi di masa kini. Begitu banyaknya pilihan gaya hidup kekinian seolah membuat mereka yang baru mencobanya langsung seperti tenggelam dalam keseruannya.

Contoh, berapa banyak misalnya orang tua yang tidak senang bila anaknya terlalu berlama-lama bermain online game atau bermain dengan teman-teman barunya hingga larut malam. Ini adalah kasus klasik yang selalu berulang formulanya dengan presentasi yang berbeda-beda.

Sumber: twitter.com/HalicPostasi/status/504777794086109185

Rakyat Turki saat itu lazimnya mengunjungi tiga tempat dalam kesehariannya: rumah, tempat kerja, dan mesjid. Kedai kopi hadir menjadi tempat keempat dimana banyak dari mereka yang telah begitu menikmatinya malah menjadi abai dengan kewajiban-kewajibannya yang lain.

Masalah ini disuarakan awalnya oleh para ulama dan mereka menghimbau rakyat untuk tetap meluangkan waktu ke mesjid ketimbang terlalu berlama-lama di kedai kopi. Banyak kesempatan dimana para ulama bekerja sama dengan pemerintah untuk menata masyarakat dengan cara yang persuasif. Namun bagi pihak istana, ada yang memandang bahwa terlalu betahnya rakyat di kedai kopi justru malah mengundang munculnya percakapan yang mengarah ke arah-arah subversif sehingga mereka mempersiapkan hukuman keras bagi para pelakunya.

Kopi menjadi minuman terlarang pada kekuasaan Sultan Murad IV. Konon sang sultan sendiri akan berpatroli di malam hari dengan menggunakan baju preman dan akan menghukum mati mereka yang kedapatan tengah menyeruput kopi. Setiap saat ia akan membawa algojo untuk menghukum mati di tempat.

Penerus Sultan Murad bersikap lebih lunak dan melalui Wazir Agung Köprülü Mehmed Pasha, tetap melarang keras keberadaan kedai-kedai kopi dan mengancam pelakunya dengan hukuman cambuk hingga ditenggelamkan bila kedapatan melakukan pelanggaran secara berulang.

Menurut Stewart Allen, penulis dari The Devil’s Cup: Coffee, The Driving Force in History, Sang Wazir sendiri sempat mengunjungi kedai kopi dan mendapati bahwa mereka yang meminum kopi berbeda dengan yang meminum alkohol. “Orang yang meminum alkohol akan mabuk dan bernyanyi, sementara yang meminum kopi akan tetap tersadar dan berkomplot melawan pemerintah”, begitu sahutnya.

Sumber: twitter.com/hayalleme/status/661798805549936640

Seperti yang bisa diduga, peraturan ini kemudian dibatalkan akibat adanya perlawanan keras dari masyarakat. Tentu tidak gratis, pemerintah kemudian memberlakukan pajak tinggi untuk konsumsi kopi. Meskipun demikian, keadaan berangsur-angsur pulih di Kesultanan Turki Utsmani.

Ketika kelak kopi merambah ke negeri-negeri Eropa, para penguasa juga menjadi kegerahan karena potensi-potensi subversif dikarenakan gaya hidup ngopi masyarakatnya. Para dokter di Eropa hingga mengatakan bahwa terlalu banyak minum kopi akan menghisap semua cairan di otak dan menyebabkan kelumpuhan. Para wanita di Inggris juga menghardik para lelaki yang meminum kopi karena justru itu akan membuat mereka impoten.

Konon terdapat satu cerita mengenai Paus Clement VII ketika pertama kali mencoba kopi. Yang ia rasakan sesudahnya adalah kekaguman, penasaran, dan kemudian ia menangis. Ketika ditanya mengapa ia kemudian menjawab, “Minuman setan ini sangat nikmat sehingga sayang bila hanya dinikmati oleh orang Muslim saja. Kita akan menipu para iblis dengan membaptis mereka dan menjadikan minuman ini minuman Kristen!”

Akhirul kalam

Ya, begitulah kopi. Sebuah minuman yang populer untuk khalayak ramai, namun selalu ditantang keberadaannya oleh para penguasa.

Coffee shop di Turki masa kini
Sumber: https://id.pinterest.com/khalilmfb/turkish-coffee-shop

Tapi bagaimana dengan masa kini menurut Anda? Semakin banyaknya kedai kopi tentu akan menjurus masyarakat membicarakan banyak hal mulai dari bisnis, kreatif, hingga politis dan ideologis. Selama itu sehat dan aman, bisa saja pemerintah manapun tidak perlu kuatir – terlebih kini di era demokrasi yang memberikan kepuasan “semu” bagi rakyatnya atas pejabat yang mereka pilih.

Mungkin saja akan selalu ada agen-agen pemerintah yang selalu berjaga di satu sudut seperti yang kita lihat di film-film masa Perang Dingin. Ataukah di era kapitalisme ini, rakyat sudah cukup terpuaskan dulu dengan derasnya pembangunan infrastruktur dan banyaknya tunjangan? Mari kita lihat kiprah kedai kopi dan kaitannya dengan masyarakat di era modern ini untuk selanjutnya.

Referensi:

  1. turkishcoffeeworld.com/History-of-Coffee-s/60.htm
  2. turkishstylegroundcoffee.com/turkish-style-coffee/turkish-coffee-history/
  3. npr.org/sections/thesalt/2013/04/27/179270924/dont-call-it-turkish-coffee-unless-of-course-it-is
  4. npr.org/sections/thesalt/2012/01/10/144988133/drink-coffee-off-with-your-head
  5. turkishcoffeegear.com/turkish-coffee-history/
  6. turkishcoffee.us/articles/history/ottoman-empire-era/
  7. turkishculture.org/lifestyles/lifestyle/coffeehouses-204.htm
  8. hurriyetdailynews.com/a-history-of-turkish-coffee.aspx
  9. dailyo.in/lifestyle/history-of-coffee-tea-mecca-akbar-mughals-jahangir-wine-ottomans-christians-muslims/story/1/10320.html
  10. perfectdailygrind.com/2015/09/turkish-coffee-a-story-of-mystery-war-romance-empire/

Gambar sampul: ozerlat.com


Original link: wm.ucweb.com (gastroficionado)

Pick of the Month: What It Means to Be a Real Foodie (Vice Munchies)

Foodie poseurs are coming out of the woodwork these days talking a big game about the nuances of food. It’s more than just a word on your Facebook profile or the way you pronounce prosciutto.

I am such a Foodie. Ever since I can remember, I’ve always loved putting edible things into my mouth and chewing them, then swallowing and digesting them. I’m salivating just thinking about it.

Check out my blog if you don’t believe me. That’s where I document my extraordinary journey as a Foodie, and where you’ll see photos of all different kinds of food inside my mouth.

People sometimes tell me they can’t make out what they’re looking at. Well, I’ll tell you what you’re looking at—the early stages of my body metabolizing sustenance into nutrients, that’s what.

A big part of being a Foodie is knowing how to get food into your mouth. A non-Foodie would probably just scream out “Fork!” right now and be done with it. Don’t get me wrong, I use forks. I love forks. But I also might decide to go with a spoon depending on how liquidy the food is, or chopsticks depending on how Asian-y it is, or hands depending on how banana-y it is.

I try to not be one of those Foodies who judges other people for not knowing the things I know, but when I see someone trying to eat a sandwich with a ladle, it’s hard.

People have accused me of jumping on the Foodie bandwagon. They’re like, “I never heard you talk about napkins before they became a thing.” Yeah, I’ll admit to being a little influenced by all the hype. I’m human. But truthfully, napkins have been a major part of my Foodie regimen for years now, I just haven’t felt the need to brag about it.

Foodie poseurs are coming out of the woodwork these days talking a big game about the nuances of food and how they can totally pinpoint when something they’re eating is sweet or salty or even hot or cold. But you can totally hear in their voices that it’s all guesswork. Crunchy? Really? Because that looks a hell of a lot like a yogurt, so let’s cut the Foodie act, shall we?

I’m well aware that being a foodie comes with a responsibility to share my knowledge with others. That’s why I feel compelled to write restaurant reviews on the Internet. Here’s a quote from a recent review I wrote for a local place near my house. “Mmmmm.”

When I’m not writing about food, one of my favorite Foodie things to do is head over to the farmer’s market on a Saturday and jam my tote with as much beautiful local farm crap as it can hold, then walk home and throw it all right into the garbage. All of it. I call that Support and Release. Just my little way of illustrating that a Foodie’s responsibility is far greater than simply eating.

In the end, being a Foodie is more than just a word on your Facebook profile or the way you pronounce prosciutto. It’s also a word on your Twitter profile and the way you pronounce Doritos.


Original link:
https://munchies.vice.com/en_us/article/pgxq5m/what-it-means-to-be-a-real-foodie

Written by: Colin Nissan
Image by: Phil Roeder

Pick of the Month: What Trump’s Budget Means for the Filet-O-Fish (New York Times)

Consider the pollock.

It is the most voluminously caught fish in the United States, accounting for a quarter of everything Americans catch. As such it is the major bulwark against the United States’ multibillion-dollar seafood trade deficit — the second-largest deficit in our trade portfolio, after crude oil. And it is, today, the main component in the McDonald’s Filet-O-Fish, or the “fish delight,” as Donald Trump likes to call it.

Now consider the president’s budget for the people who make his preferred sandwich possible.

If Congress seriously entertains the White House’s suggestions, the National Oceanic and Atmospheric Administration — a popular target for conservatives, who see it primarily as a source of pesky climate-change research — and the National Marine Fisheries Service it oversees will lose 17 percent of its funding. This despite Secretary of Commerce Wilbur Ross’s desire to “try to figure how we can become much more self-sufficient in fishing and perhaps even a net exporter.”

As the three of us consider this statement, a common wry fisherman’s response comes to our lips: Yeah, good luck with that, buddy.

Because of repeated sacrifices made by American fishermen working with NOAA over the past 40 years, the United States now has the most robust and well-managed wild fisheries in the world. Federal observers oversee 99 percent of the large trawlers fishing for pollock, ensuring that this largest of fisheries maintains an impeccable set of management tools.

But in spite of all of our success, only around 9 percent of the seafood available in American markets comes from American fishermen. In fact, the last traditional fishing communities in the United States are fighting for their very existence. Fair-trade local fishermen remain unable to compete in our domestic marketplace, which is overwhelmed and flooded with cheap, untraceable imported seafood.

More than half the imported seafood here comes from fish farms, mostly in Asian countries, where there is little regulation of food safety. The rest, which is wild, is often from illegal sources. Rates of seafood fraud and deceptive mislabeling in the domestic marketplace are soaring to unprecedented levels.

Which government agency is at the forefront of combating this fraud? NOAA. Any funding for NOAA programs that help consumers reconnect to clean, healthy, sustainable seafood swimming off our shores is funding that we cannot afford to lose. The costs of managing our wild fisheries will not disappear with budget cuts; instead, the financial burden for programs like federal at-sea monitoring will continue to shift onto the shoulders of the last remaining American fishermen.

And it’s not just wild American seafood that risks disaster. Aquaculture, the fastest-growing food sector in the world and one of the most promising new industries in the United States, will be crippled by President Trump’s budget cuts. The United States already ranks 17th in world aquaculture production, behind Myanmar. Yes, sad! Without NOAA, things would be even sadder.

Most Americans probably think NOAA focuses on the weather. It does, but it does much more. NOAA gave birth to domestic shellfish farming in the 1930s and continues to fund innovations like seaweed and land-based salmon farming, which has in turn opened up new horizons for unemployed fishermen and their children. In Rhode Island alone, oyster growers raked in more than $4.3 million and have swelled their ranks by over 20 percent. And if revival of the blue-collar economy is the goal, according to the World Bank, building a network of seaweed farms covering a piece of ocean less than 5 percent of American waters could generate up to 50 million new jobs globally.

The president’s budget also zeros out Sea Grant programs, which provide education and technical assistance for aquaculture and other ocean-based industries. In the last two years these programs generated $575 million in economic impact and created or sustained over 20,000 jobs.

For those who work at sea, economic opportunity is inextricably tied to environmental protection. An Environmental Protection Agency initiative to reduce nitrogen and phosphorus pollution, now on the chopping block, has been the catalyst for more than 500 new ocean farms in the Chesapeake Bay in the last five years.

Last, for everyday Americans who need fish for good nutrition, particularly school-age children, endangering the supply of clean, traceable, healthy American seafood risks our very future. It is estimated by the United Nations’ Food and Agriculture Organization that pregnant women who eat eight to 12 ounces of seafood per week bear children with better brains and eyes, and I.Q. scores 5.8 points higher than the children of mothers who did not eat the recommended amount of seafood.

Cutting NOAA’s budget is a bad idea, both for parents who want their children to realize their full potential and for a president who wants to keep eating his favorite sandwich. And if all that fails to convince, consider this: NOAA tracks storms and wave heights, allowing thousands of fishermen to work safely. Without adequate funding, many could find themselves literally lost at sea.


Correction: April 25, 2017 

An earlier version of this article misstated the percentage of large pollock trawlers overseen by federal observers. It is 99 percent, not 80 percent.


Bren Smith is a kelp and shellfish farmer and the founder of Greenwave. Sean Barrett is a co-founder of Dock to Dish, an international network of community-supported fishery programs. Paul Greenberg is the author of “Four Fish” and the correspondent for the forthcoming “Frontline” special “The Fish on My Plate.”


Original link: https://www.nytimes.com/2017/04/25/opinion/what-trumps-budget-means-for-noaa.html

Written by: Bren Smith, Sean Barrett, Paul Greenberg
Illustration by: Justin Renteria