4 Hidangan Yang Menggambarkan Kekayaan Kuliner Timur Tengah

Timur Tengah selama ribuan tahun menjadi saksi sejarah bangkit serta runtuhnya begitu banyak kebudayaan dunia. Buku-buku sejarah biasanya selalu memulai kepingan cerita peradaban dari wilayah ini. Sejak zaman sebelum Masehi hingga kini, bercampurlah banyak pengaruh di negeri-negeri sepanjang Timur Tengah hingga sejauh Afrika Utara bahkan India. Tak pelak, apa-apa yang dihasilkan sepanjang sejarah manusia dari Timur Tengah selalu terasa kehadirannya di berbagai belahan dunia lainnya.

Begitupun untuk dunia kuliner. Timur Tengah yang lebih dulu mengecap puncak peradaban manusia tidak hanya menghasilkan kekayaan budaya maupun teknologi. Warisan kuliner dari sub-benua Asia ini ternyata sangat kaya dan sayangnya masih terbilang minim kehadirannya di Indonesia.

Kali ini mari kita menapak tilas sejarah kuliner di Timur Tengah dan warisannya yang kini terasa kehadirannya di seantero dunia. Berikut adalah lima diantaranya yang selalu hadir di bulan Ramadhan.


1. KOPI

Tidak ada yang bisa menyangsikan bahwa kopi dipopulerkan berkat sumbangsih masyarakat Timur Tengah di abad pertengahan dan kemudian oleh bangsa Turki dalam persinggungannya dengan negara-negara Eropa sebagai kelanjutannya.

Sumber: thespruce.com

Awalnya kopi bukan diminum seperti masa kini ketika tumbuhannya pertama ditemukan di Ethiopia pada abad ke 11. Namun pada ratusan tahun berikutnya, kopi berubah menjadi minuman dan populer di seluruh Jazirah Arab berkat kultivasinya di negeri Yaman yang subur. Abad-abad berikutnya pada masa hegemoni Kesultanan Turki Utsmaniyah, kopi menjadi minuman favorit seluruh rakyat dan melebar pengaruhnya hingga ke Eropa.

Konon Gubernur Turki di Yaman adalah yang berjasa membawa kopi pertama kali ke Istanbul. Dari kota ini, kopi mulai dikenal oleh para pedagang Venesia dan mulai merambah masuk ke kehidupan para bangsawan di Perancis, Austria, serta Inggris dan Belanda – baik melalui jalur diplomasi maupun jalur peperangan. Kopi memberikan warna tersendiri di tengah-tengah deru berkecamuknya konflik dan persahabatan antara kebudayaan Islam dan Eropa di masa lalu.


2. SALAD / MEZZEH DINGIN

Salad. Terdengar sangat lazim bukan? Namun jangan salah, salad di masakan Timur Tengah memiliki sejarah panjang dalam persinggungannya dengan kebudayaan kuno seperti Yunani dan Romawi.

Sumber: libanesisch.ch

Mungkin bagian yang mengukuhkan seni kuliner dunia modern datang dari seorang bernama Ziryab pada abad ke 9 Masehi dari negeri Andalusia. Kala itu Ziryab menggagas pentingnya menikmati makanan dalam tiga fase yaitu mulai dari makanan pembuka, menu utama, dan makanan penutup.

Sejak itulah masyarakat Timur Tengah sepertinya lebih mengapresiasi kembali seni kuliner mereka. Kebudayaan Islam yang berpusat di wilayah Sham (atau yang kini meliputi Palestina, Lebanon, dan Suriah) dikenal memiliki beragam menu makanan pembuka. Contohnya adalah roti-rotian yang dimakan bersama salad fattoush (potongan beragam jenis sayuran, keju, dan minyak zaitun), baba ghanoush (salad terong), tabbouleh (potongan kecil tomat, peterseli, bawang, bulgur, daun mint, dan minyak zaitun), hingga yang paling legendaris adalah hummus (cocolan yang terbuat dari kacang chickpeas, tahini, dan minyak zaitun)


3. BAKLAVA

Percampuran unik antara berbagai kebudayaan mulai Romawi Timur, bangsa pengembara di Asia Tengah sebelum mereka menetap di Anatolia, serta kemiripan dengan dessert khas Persia menjadikan baklava satu hidangan kebanggaan bangsa Turki.

Sumber: sbs.com.au

Baklava lazimnya dijadikan sebagai kudapan pendamping kopi Turki yang pahit dan berkarakter. Terbuat dari berlembar-lembar filo pastry tipis yang dibubuhi mentega dan diisikan kacang-kacangan, baklava kemudian dipanggang dan disiram dengan sirup madu dan air mawar.

Kerap dijuluki sebagai “The Queen of Desserts”, kemewahan baklava yang mendominasi kuliner Turki di abad Renaisans hingga masa kini ternyata telah berkembang ke seluruh dunia dan memberikan sentuhan tersendiri pada seni kuliner modern.


4. UMM ALI

Masih dari ranah dessert, tentu sulit untuk menafikan betapa populernya hidangan Umm Ali atau Om Ali di dunia perkulineran Timur Tengah. Hidangan khas Mesir ini kerap disamakan dengan bread & butter pudding versi Barat, namun Umm Ali ternyata memiliki perbedaan yang cukup mencolok.

Sumber: dinnerwithjulie.com

Meskipun asal mula umm ali konon didasari sebuah cerita konspirasi, dessert yang satu ini menutup sejarah gelapnya berkat penggunaan bahan-bahan segar dan berkualitas dalam pembuatannya. Misalnya saja penggunaan pastry yang baru dipanggang ketimbang roti lama pada versi bread & butter pudding.

Begitupun dalam hal lainnya; umm ali menggunakan madu, kismis, kacang-kacangan, serta susu kerbau ketimbang susu kental manis. Bersanding dengan baklava, fakta ini tentu menjadikan umm ali sebuah dessert berkelas yang tidak boleh dilewatkan setelah bersantap hidangan khas Timur Tengah.

Referensi:

1. thespruce.com
2. eatlikeanegyptian.com
3. turkishcoffeeworld.com
4. lostislamichistory.com

Gambar sampul: libanesisch.ch


Original link: wm.ucweb.com (gastroficionado)

Chef Jacob Burrell: Surprises Await You at Attarine (Passion, 2017)

Attarine is undoubtedly among Jakarta’s most creative dining scenes to date. At its helm is Executive Chef Jacob Burrell, a man of many talents who skillfully incorporates different cuisines, techniques, and ingredients that uniquely defines the restaurant’s genre. He shares Passion about himself, the restaurant, and a recipe for you to try.

Jacob Burrell has always been a curious person, but becoming a professional chef was never his real intention at the beginning. He wanted to become a teacher since his secondary school days – and that’s a noble aspiration that he still holds dearly until now. You can tell from certain angles that he does look like a teacher and he will thank you for the praise – with a big smile.

He has solid know-how in chemistry and mathematics – the very subjects he wishes to be a teacher of initially. When he received extra credits during his university days, he even took musical theory class. His imposed height came from his fondness of basketball, and he used to coach as well. Not just basketball, but also soccer.

One day he came to a realization that becoming a chef would be the ultimate test of his skills. Not just because he has some basics in cooking back then, but it could be the answer to his endless curiosity. “Cooking is not just physical. There’s history, science, art, business, creativity, people, and psychology involved. It encompasses everything and I fell in love more and more about it”, according to the chef.

So why venture too far at the beginning, one might ask. Mr Burrell will simply answer that he likes to learn about everything. But certainly it would be hard to focus on all that, I then ask. “Yes, but by becoming a chef – it keeps me locked in, excited, and ready to come to work the next day. It’s not boring, I’m still learning, and yet I know absolutely nothing”, replies the chef modestly.

With his man bun and a casual outfit behind the apron, his relaxed manner and inventive creations have won the hearts of many at Attarine. He drew his experience mostly from the stints back with Big Sur Bakery and Restaurant in California, where he also learned a lot about pastry and mastering the wood-fired oven, and working for the three-Michelin starred restaurant Manresa under Chef David Kinch himself.

Our visit to Attarine coincides with the unveiling of the latest menu lineup. The opener started with Market Ceviche that features fresh catch of the day and the use of turmeric for the lime juice. Very refreshing and certainly appetizing. There’s also a stroke of genius found on jackfruit on sourdough toast. Sweet and pleasantly familiar, this one easily dominates the appetizer section.

For the main course, there’s the BBQ whole squid which was done immaculately and it sits over a bed of what one would call as “sambal ijo” and paired curiously with crispy baby pototoes. The clincher came from six hours long braised short ribs with oyster sauce and shiitake mushrooms. Suddenly it’s Chinese now and how wonderful could that be!

So come and converse with the chef, ask for his recommendations, and have the starters and the mains together for everyone. You’ll find that an adventure across the world awaits you here. Back home, don’t forget to try the recipe for Market Ceviche, courtesy of the chef himself.


BAHASA:

Attarine menjadi satu restoran yang paling kreatif di Jakarta saat ini. Dipimpin oleh Chef Jacob Burrell yang penuh talenta; dengan lihai ia menggabungkan berbagai jenis masakan, teknik, serta bahan-bahan yang menjadikan Attarine unik. Kali ini sang chef berbagi cerita tentang dirinya dan satu resep untuk Anda coba.

Sejatinya seorang Jacob Burrell adalah orang yang penuh rasa penasaran, namun berkarir menjadi seorang chef profesional belum terpikirkan di saat ia masih muda. Jacob muda ingin menjadi seorang guru, dan cita-cita yang mulia itu masih ia simpan hingga hari ini.

Dengan latar belakang mumpuni di bidang kimia dan matematika, Jacob sebagai mahasiswa juga belajar mengenai musik. Selain itu ia juga hobi bermain bola basket dan memiliki pengalaman menjadi seorang pelatih. Tidak hanya basket, namun juga sepak bola.

Satu hari Jacob menyadari bahwa menjadi seorang chef adalah sebuah aspirasi yang akan menguji segala kemampuannya yang dimilikinya. Berbekal hanya pengalaman memasak di masa kuliahnya, ia merasa menjadi seorang chef adalah jawaban dari segala rasa penasarannya.

“Memasak bukan sekadar membutuhkan kekuatan fisik. Ada sisi sejarah, sains, seni, bisnis, kreativitas, ilmu SDM, dan psikologi di dalamnya. Profesi chef menuntut kita mengetahui semuanya dan ini menjadikan saya semakin jatuh cinta berkarir di sini”, ujar sang chef.

Namun mengapa mencoba segala hal terlalu jauh? Chef Jacob menjawab bahwa ia ingin mempelajari segala hal. Tentunya sulit untuk bisa belajar segala hal, tapi baginya memasak menjadikannya tetap bersemangat dan siap meniti hari esok. “Saya tidak pernah merasa bosan dan saya terus belajar menjadi chef yang baik. Namun semakin saya belajar, justru semakin saya tidak tahu”, sahutnya rendah hati sembari berkelakar.

Penampilan Chef Jacob terlihat santai tapi ia begitu mumpuni untuk menelurkan berbagai hidangan kreatif ternyata membuat pengunjung Attarine kepincut. Sang chef dahulunya pernah bekerja untuk Big Sur Bakery and Restaurant di California, serta untuk Manresa – sebuah restoran berbintang tiga Michelin dan dibimbing langsung oleh Chef David Kinch sendiri.

Kunjungan Passion ke Attarine ternyata bertepatan dengan diperkenalkannya menu-menu baru. Sebagai pembuka ada Market Ceviche yang menggunakan ikan segar hari itu serta penggunaan kunyit pada jus limaunya. Selain itu ada kreasi jenius berupa nangka dengan roti sourdough yang begitu manis dan rasa yang sangat bersahabat untuk orang Indonesia.

Pada menu utama, cumi panggang dengan sambal ijo serta baby potato krispi menjadi sebuah hidangan yang sangat menarik. Makan malam ditutup dengan hidangan memukau berupa iga yang dimasak perlahan selama enam jam dan dibumbui dengan saus tiram serta jamur shiitake. Seketika anda seperti makan Chinese food!

Mari berkunjung ke Attarine dan jangan lupa menyapa sang chef. Tanyakanlah rekomendasi Chef Jacob untuk hari itu dan bersantaplah bersama dengan teman maupun keluarga. Menikmati hidangan sang chef menjadi sebuah petualangan tersendiri yang tak terlupakan. Terakhir, jangan lupa juga untuk mencoba resep Market Ceviche, yang dipersembahkan khusus oleh sang chef sendiri.


Attarine Jakarta
Jl. Gunawarman No.11 A,
RT.6/RW.3, Selong, Kby. Baru,
Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12110
https://www.attarine.com/
0812-8602-6142


Original link:
http://www.passionmedia.co.id/b/surprises-that-awaits-you-at-attarine-

Images by: Dwi N. Hadi

Recipe: Es Pisang Ijo – by Chef Woro Prabandari (Passion, 2017)

When challenged to create a modern Indonesian take on dessert, Chef Woro showed no signs of hesitation when she chose Southern Sulawesi’s pride and joy – es pisang hijau.

Her contemporary take for this dessert is to create the klepon-based sphere that contains the banana itself. Rather than the usual banana-shaped klepon, she chose the sphere shape as a more elegant approach for the street dessert.

Chef Woro also shaped the bubur sumsum into noodles, creating a nest to put the sphere in place. Additionally, she added dots of sweet frambozen syrup as an important representation of the much-loved syrup from the traditional version. To give the extra crunchiness, there are banana biscuits – crushed and spread all over the plate.


INGREDIENTS

Pisang hijau sphere
150 gram Pisang tanduk, steamed
100 gram Rice flour
50 gram Glutinous rice flour
50 gram Sagoo flour
50 gram Granulated sugar
50 ml Suji leaf extract
50 ml Pandan leaf extract
150 ml Coconut milk

Coconut milk porridge / bubur sum sum
25 gram Rice flour
60 gram Granulated sugar
5 gram Salt
500 ml Coconut milk

Frambozen syrup
100 gram Granulated sugar
50 ml Water
To taste Frambozen essence

METHOD

Pisang hijau sphere:
1. Steam pisang tanduk for 15 to 20 minutes until it becomes smooth. Make into round shapes.
2. Mix well other ingredients and cook until sticky and spherical. Fill it with the round-shaped steamed banana.
3. Steam for additional 15 to 20 minutes. Cool it down and ready to serve.

Bubur sum sum:
1. Mix all ingredients together.
2. Cook until bubbly and cool it down for 5 minutes.
3. Chill first before served.

Frambozen syrup:
1. Bring sugar and water to boil for 10 minutes.
2. Add frambozen essence into it and cool it down.

How to style the dish:
1. On the plate, make the bubur sum sum into pasta shape.
2. With the bubur sum sum as the foundation, put the banana sphere on the top.bi
3. Decorate the dish with frambozen syrup drops. You can decorate it with biscuits to make it crunchy or other garnish if you like.
4. Enjoy!


Original link:
http://www.passionmedia.co.id/b/es-pisang-hijau

Images by: Dwi N. Hadi

Ziryab: Sang Musisi, Fashionista, Desainer, dan Ahli Gastronomi dari Al Andalus

Dikarenakan sudah merupakan bagian dari keseharian, tentu kita tidak berepot-repot lagi memikirkan siapa sih sebetulnya yang menciptakan shampoo, siapa sih yang awalnya menentukan gaya fashion yang selalu berubah-ubah setiap musimnya, hingga siapa sih yang sebetulnya menetapkan makanan mana yang menjadi menu pembuka atau menu penutup. Semua seolah sudah terformat dengan sendirinya dan berfungsi demikian seiring berjalannya waktu.

Percaya atau tidak, semua inovasi tersebut datang dari ide satu orang brilian yang hidup di abad ke 9 Masehi. Ya betul, semua inspirasi itu hadir sejak lebih dari 1000 tahun yang lalu dari seseorang yang dijuluki dengan nama Ziryab atau “Burung Hitam” dalam bahasa Arab. Ia mendapatkan julukan tersebut karena kulitnya yang berwarna gelap dan suaranya yang sangat merdu. Asal usul Ziryab sendiri masih diperdebatkan apakah ia seorang Arab, Kurdi, Persia, ataupun Afrika. Mengingat prestasinya yang luar biasa, tentu wajar apabila ia diperebutkan mengenai perkara asal usulnya.

Ziryab (sumber: muslimheritage.com)

Ziryab memiliki nama asli Abu Al-Hassan dan merupakan seorang budak yang telah dibebaskan. Ia berguru pada seorang musisi istana kenamaan bernama Ishaq al-Mawsili yang merupakan anak dari Ibrahim al-Mawsili yang sebelumnya juga menempati posisi sebagai musisi resmi kerajaan pada masa kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad. Setelah diperkenalkan ke dalam lingkaran istana, Ziryab memperlihatkan kebolehannya dalam bernyanyi dan bermain gitar. Tidak tanggung-tanggung, penampilannya mengundang decak kagum sang khalifah ternama Harun Al-Rasyid.

Namun sayangnya ketenaran Ziryab tidak bertahan lama karena Ishaq cemburu pada kesuksesannya. Setelah mendapat tekanan, Ziryab memilih untuk keluar dan berkelana menjajakan keahliannya di berbagai negeri sepanjang perjalanannya ke barat. Mendengar keberadaannya di Tunisia, ia kemudian diundang untuk tampil di hadapan Abdul Rahman II – Emir dari keturunan kekhilafahan Umayyah yang berlokasi di Cordoba, Al Andalus.

Hanya dalam hitungan waktu singkat Ziryab menjadi favorit para pembesar istana di Cordoba berkat bakatnya yang luar biasa. Ia kemudian digaji tinggi, dihadiahi sebuah istana, dan diberikan kebebasan untuk memajukan dunia musik dan kebudayaan di Al Andalus oleh sang Emir. Abdul Rahman II sendiri memang berambisi untuk menjadikan Spanyol pusat kebudayaan baru yang bisa bersanding dengan Baghdad dan Damaskus. Ziryab yang seorang idealis sudah merasa gerah dengan Spanyol yang kondisinya masih tertinggal dibanding belahan dunia Islam lainnya yang tengah berkembang pesat. Berbekal kepercayaan sang emir dan kebebasan berkreasi, lahirlah inovasi-inovasi cemerlang dari seorang Ziryab dan akan diapresiasi hingga hari ini, lebih dari 1000 tahun kemudian.

Ziryab tengah mengajar musik (sumber: islamicspain.tv)

Di bidang musik, Ziryab telah menambahkan senar kelima pada alat musik lute (sejenis gitar) yang dimilikinya. Bahkan lute miliknya dibuat lebih ringan dan terdiri dari senar dengan bahan-bahan yang unik. Bahkan plektrum gitar yang dimilikinya terbuat dari cakar burung elang. Bisa dibilang bahkan lute ciptaannya merupakan cikal bakal dari gitar modern. Kemudian ia mendirikan sekolah musik pertama di dunia, serta merombak dan menciptakan berbagai teori musik, vokal, dan orkestra pada masa itu. Sebagai seorang jenius, Ziryab juga hafal berbagai komposisi lagu hingga berjumlah ribuan. Tujuh dari sepuluh anaknya meneruskan bakat ayahnya kelak sebagai musisi.

Sebuah buku mengenai kuliner Arab masa lalu dengan kredit khusus untuk Ziryab (sumber: amazon.com)

Inovasi-inovasi hebatnya juga ditemukan di bidang kuliner. Ziryab menggalakkan penggunaan gelas kristal untuk menggantikan gelas logam yang sudah kuno. Selain itu Ziryab juga memperkenalkan penggunaan taplak meja dan merancang kegiatan bersantap dalam beberapa fase. Sup dipilih sebagai menu pembuka. Kemudian dilanjutkan dengan menu utama berupa ikan, daging, atau makanan berat lainnya. Sebagai menu penutup, ia memilih buah-buahan dan berbagai makanan manis lainnya serta kacang-kacangan sebagai menu paling akhir. Terakhir, ia memperkenalkan asparagus sebagai makanan baru dan membudidayakannya di kebun miliknya di luar kota Cordoba.

Pakaian empat musim (sumber: islamicspain.tv)

Revolusi kebudayaan dari Ziryab juga rupanya menyentuh bidang fashion dan hygiene. Ia memperkenalkan tema pakaian berbeda untuk setiap musimnya. Misalnya di musim dingin, pakaian dirancang lebih berwarna gelap. Di musim gugur, pakaian memiliki warna-warna seperti merah, kuning, atau oranye – merefleksikan berubahnya warna dedaunan di musim itu. Di musim semi, pakaian dirancang dengan warna-warna cerah seperti bunga yang bermekaran. Sementara di musim panas, pakaian warna putih disarankan untuk dipakai.

Selain tema pakaian yang berbeda setiap musimnya, Ziryab juga mengenalkan konsep bahwa pakaian di pagi, siang, dan malam hari haruslah dibedakan. Khusus untuk para bangsawan, Ziryab memperkenalkan satu set wewangian yang harus dimiliki para pembesar yang terdiri dari shampoo, deodoran, pasta gigi, dan beberapa jenis kosmetik. Gaya rambut orang Arab pada masa itu umumnya dibiarkan panjang dan terurai, maka Ziryab memperkenalkan gaya baru berupa potongan rambut yang lebih pendek untuk laki-laki dan rambut berponi untuk kaum Hawa.

Istana Alcazar di Seville, dari masa puncak kejayaan Al Andalus (sumber: fuertehoteles.com)

Terakhir, gebrakan Ziryab ternyata tidak hanya di bidang kebudayaan saja. Emir Abdul Rahman II mempercayakan juga Ziryab dalam berbagai urusan administrasi dan politik. Atas inisiatifnya, sang Emir kemudian mengundang para astronom India dan para dokter Yahudi dari Afrika Utara. Rupanya para tamu dari India inilah yang pertama kali memperkenalkan permainan catur dan dipopulerkan Ziryab kepada segenap penghuni istana sang Emir. Selebihnya Cordoba tidak hanya menjadi pusat kebudayaan, andil Ziryab untuk mengundang segenap ilmuwan ini kelak menjadikan Cordoba sebagai pusat ilmu pengetahuan. Beberapa abad kemudian bahkan Cordoba menjadi tujuan utama para pelajar dari negeri-negeri jauh di Asia dan Eropa untuk sekolah dan mengunjungi perpustakaannya yang memiliki lebih dari 600,000 judul buku.

Sepeninggal sang Emir dan Ziryab, Cordoba menjadi simbol toleransi – dimana para penduduknya yang beragama Islam, Kristen, dan Yahudi dapat hidup berdampingan dengan damai. Pencapaian-pencapaian yang dilakukan Ziryab lebih dari sepuluh abad silam sayangnya seolah seperti hilang ditelan waktu, meskipun banyak dari temuannya sangat berpengaruh pada kehidupan modern. Inilah waktunya bagi kita untuk dapat mengapresiasi kembali jasa-jasa para ilmuwan dan insan kreatif pada tempatnya dan terkhusus dari mereka yang hidup di era keemasan Islam pada abad pertengahan. Karena inilah masa dimana ilmu-ilmu dari zaman Yunani dan India kuno berhasil disempurnakan dan dikembangkan secara masif sehingga mendefinisikan teknologi maupun pengetahuan yang ada di zaman sekarang.

Era keemasan Islam, saat dimana ilmu pengetahuan berkembang pesat (sumber: historybuff.com)

Referensi:

  1. http://lostislamichistory.com/the-cultural-icon-of-al-andalus/
  2. http://www.islamicspain.tv/Arts-and-Science/flight_of_the_blackbird.htm
  3. http://www.muslimheritage.com/article/ziryab
  4. http://www.thedailystar.net/news/ziryab-the-blackbird-of-al-andalus
  5. https://thedailybeagle.net/2013/02/15/the-forgotten-blackbird/
  6. http://www.newhistorian.com/ziryab-forgotten-innovator-music-gastronome-style/7548/
  7. http://www.lisapoyakama.org/en/ziryab-the-black-scholar-who-has-revolutionized-europe/

Gambar sampul: http://www.muslimheritage.com


Original link: wm.ucweb.com (gastroficionado)

Chef Woro Prabandari: Aspiring Beyond Loyalty (Passion, 2017)

There’s more to it than just loyalty from the prolific chef Woro Prabandari. For more than two decades now and a title of Executive Pastry Chef at Grand Hyatt Jakarta, the motherly chef shared PASSION the recipe for excellence in career and balancing it with family and pastime.

How did you find out about your passion with pastry?

I think it’s because at one point during my childhood, I started giving a hand to my mother when she’s in the kitchen. For some reason, I had always been keen with baking and we started by making the classic stuff. My mother used to cook for events at my father’s office, so that’s how I became accustomed with the know-hows in the kitchen and became serious at it.

How was the beginning of your love story with Hyatt?

After some time seeing myself really into cooking, my parents decided to enroll me to hospitality school and ever since day one I already focused myself with pastry. Before my graduation, I applied for internship at Hyatt and got accepted. As you can see, the rest is history.

Care to tell us a bit about your career here until you reach this height?

Initially I was assigned as part of the pre-opening team for Grand Hyatt Jakarta and received training at Hyatt Aryaduta. In the early nineties perhaps only a handful of five-star hotels can be found in Jakarta and expatriates were so many back then. However, seeing that only a few women were in professional pastry industry at that time, I decided to prove my mettle and spend the extra hours refining my skills.

I took the opportunity to train also whenever I can with fellow pastry chefs after hour, and the veterans. For example since the beginning of my career there’s Mr Gottfried Schützenberger, Hyatt international pastry legend, and one time I was also tutored by Pierre Hermé himself.

Chef Passion Media

What was the turning point of your career?

Professional competitions. Singapore was hosting 1992 Salon Culinaire and I volunteered to participate in the tournament with a small team. Working in the kitchen requires me at least 12 hours a day and we had to focus only with work. Only then after working hours, the team gathered to spend the extra time for planning and practicing. I usually got home late around midnight and had to be back at work again at 7am the next day!

Our sacrifice was not without reward. We won the gold medal for dessert platter category and I got promoted not long. Apparently the company appreciated the effort!

The following Salon Culinaire competitions were held in Jakarta and I participated again, until finally I was appointed as Pastry Chef back in 1998. Now I’m giving the rein to younger chefs and enjoy tutoring them for competitions.

What are your plans after you retire in the future?

There are so many offers asking me to teach. I’d really like do that in the future!

We heard that you like traveling. Tell us a bit about that.

Traveling is something that I do from time to time with the family. I take pleasure by dedicating myself for the company and rarely take a leave. That’s why I have so many days to spend for holiday!

Recently we went to Bali with the whole family – me, my husband, and our three sons. We prefer visiting beaches and of course, eating. Having a privilege as part of Hyatt family enables me to visit their properties everywhere in the world. Certainly going with the whole family is important to maintain the work-life balance.


Original link:
http://www.passionmedia.co.id/b/woro-prabandari-aspiring-beyond-loyalty

Images by: Dwi N. Hadi