Eid Mubarak 1438 H!

The Gastronomy Aficionado wishes you and your family a very warm Eid Mubarak and a very happy holiday!

Taqabbalallahu minna wa minkum,

 

Rian Farisa

Advertisements

Iftar Experience 2017: Grand Hyatt, Jakarta

Sukses dengan sajian-sajian khas Ramadhan di tahun yang lalu, kali ini Grand Hyatt Jakarta mengulang kembali sukses serupa dengan mempersembahkan masakan Turki sebagai menu andalan selama bulan ini.

Selama bulan Ramadhan ini, Grand Hyatt Jakarta khusus bekerja sama dengan Hyatt Regency Istanbul Ataköy yang mengirimkan dua ahli masakan Turki terbaiknya. Kontingen Turki dipimpin oleh Chef Gokhan Alkan dan seorang chef Indonesia yaitu Irba Sabarudin.

Grand Cafe khusus menjadi ajang perhelatan menu-menu iftar terbaik dari hotel kenamaan ini. Bila ingin berkesempatan mencoba masakan khas Turki yang hanya ada selama bulan Ramadhan tahun ini, maka sekaranglah waktunya.

Terakhir berkunjung, semua lini masakan Turki tersaji dengan lengkap. Mulai dari barisan meze dan salata sejuk dan segar, pengiring yang tepat adalah roti bazlama khas Turki yang rupanya lebih empuk dibandingkan roti-roti khas Timur Tengah lainnya. Sederetan meze tersaji berupa haydari (yogurt dengan daun mint dan bawang putih), çoban salatası yang mirip dengan salad hummus fatoush berupa potongan sayuran kotak-kotak yang saya pribadi sangat gemari, serta hummus yang sudah tidak asing lagi.

Dari bagian sajian utama, tidak ada yang lebih menggoda selain dua hal. Yang pertama adalah bütün kuzu tandır & iç pilav atau kambing yang telah dibumbui dimasak perlahan selama berjam-jam dan disajikan bersama nasi pilaf. Kedua adalah bagian döner yang kali itu menyajikan daging ayam. Seperti biasa daging yang telah diiris-iris disajikan dengan sayuran dan ditangkap oleh roti pita.

Pengiring masakan utama hari itu adalah kofte (bola daging), zeytinyağlı enginar (artichoke yang dimasak dalam minyak zaitun dan sayuran), serta karnıyarık (terong dengan daging sapi dan daun mint), dan banyak lainnya.

Satu hal yang sangat khas dari Ramadhan tahun ini adalah penampilan menarik dari pastrami serta sosis sapi khas Turki yang cocok dipadukan dengan roti. Sedikit usil, tentu kali itu saya padukan saja dengan nasi pilaf dan hasilnya tetap lezat!

Terakhir iftar ditutup dengan sederetan dessert khas Turki seperti buah pir yang dicelup dengan saus gula yang khas, cookies khas Turki dengan kacang badam, dan banyak lainnya.

Tidak hanya masakan Turki, seperti biasa Grand Cafe juga menyajikan sederetan masakan internasional lainnya yang sepertinya tetap sulit dilewatkan. Namun terakhir jangan lupa tutup dengan pilihan pastry ciamik Grand Hyatt Jakarta yang termashur, homemade ice cream, serta tentunya kopi Turki!


GRAND HYATT JAKARTA | Jalan MH Thamrin no. 30, Jakarta | +62 21 2992 1234 | jakarta.grand.hyatt.com

Podomoro University Gelar Event “Pesona Pedas Nusantara”

Podomoro University kembali menyelenggarakan event tahunan persembahan dari mahasiswa Hotel Business Program angkatan 2015 (HBP 2015) bertajuk “Pesona Pedas Nusantara”.

Dengan tema “Mengenal Lebih Dekat Cita Rasa Sambal Indonesia”, kegiatan ini diselenggarakan pada hari Jumat 16 Juni 2017 dan bertempat di kampus Podomoro University, Jakarta. Acara serupa akan diadakan setiap tahunnya dengan tema yang berbeda.

Cita rasa pedas sambal merupakan salah satu warisan budaya Indonesia, yang mana pada umumnya masakan Indonesia menggunakan cabai sebagai salah satu bahan terpenting dalam beragam masakannya.

Melalui event ini, para mahasiswa mengharapkan agar masyarakat luas semakin mengapresiasi cita rasa sambal Indonesia dan mengangkatnya tidak eksklusif dari sisi rasa saja, namun juga dari sisi seni. Warisan budaya cita rasa pedas ini merupakan salah satu keunggulan dari kuliner tradisional Indonesia.

Pesona Pedas Nusantara memiliki rangkaian acara mulai dari Bazaar, Pameran, Talk Show, dan berbagai kompetisi. Talk show tersebut menghadirkan beberapa narasumber, yaitu: Chef Marco dari restoran Marco Padang Peranakan, Anak Jajan sebagai food blogger dan Togi Panjaitan sebagai food photographer.

Masing-masing narasumber akan membawakan materi seputar demo masak, food photography yang saat ini sedang digandrungi oleh kaum millennials, dan pembahasan dari sisi pecinta kuliner. Selain itu, acara ini juga menggelar Food Bazaar dan pameran aneka sambal Nusantara yang dapat dicicipi secara langsung oleh pengunjung secara gratis. Panitia khusus menyiapkan 25 jenis sambal dan dapat dicoba semua pengunjung.

Kali ini Podomoro University berkolaborasi dengan Samyang dan OPPO dalam mengadakan Kompetisi Masak Kreasi Samyang, Kompetisi Makan Mie Cabai dan Lomba Selfie atau Group untuk semua yang hadir. Diperkirakan sekitar 300 peserta hadir di acara Pesona Pedas Nusantara, terdiri dari pelajar dan mahasiswa, masyarakat sekitar area kampus, serta keluarga besar Podomoro University.

 

Iftar Experience 2017: Le Méridien, Jakarta

Dengan semangat yang terbarukan akhirnya Ramadhan di tahun 2017 telah tiba! Sehari penuh bekerja keras dan beribadah, tentu memberikan semangat untuk berbuka puasa dengan sesuatu yang menyenangkan. Kali ini giliran Le Meridien Jakarta yang unjuk gigi dengan segudang pilihan.

Al Nafoura (image by Le Meridien Jakarta)
Haruf Ouzi (image by Le Meridien Jakarta)

Lama tidak bertandang ke Le Meridien Jakarta, tentu ada dua pilihan besar menanti untuk berbuka puasa. Yang pertama adalah Al Nafoura yang dikawal oleh Chef Ahmad Jamil asal Yordania yang muda namun kaya dengan pengalaman. Di Al Nafoura, keceriaan saat iftar dimulai dari pilihan mezzeh dingin berupa hummus, fatoush, taboule, dan babaghanoush dengan roti pita. Lalu lanjutkan dengan haruf ouzi yang menjadi kebanggaan Al Nafoura dan mixed grills dengan shawarma. Tutup dengan dessert khas Timur Tengah dan Turki berupa umm ali serta baklava.

Indonesian dishes (image by Le Meridien Jakarta)

Kali ini namun yang mendapat giliran dari saya adalah kunjungan Le Brasserie, all-day dining kebanggaan hotel ini. Berlokasi di lobby level, La Brasserie pada malam itu terasa lebih homey dari biasanya. Memang suasana restoran ini, khususnya yang berada di pojok terasa lebih syahdu dan cocok untuk acara santap malam.

Malam itu pilihan sangat beragam terhadir untuk para tamu La Brasserie, yang sepertinya bahkan lebih meriah dari biasanya. Tambahan-tambahan meja buffet dipersiapkan dan jenis-jenis makanan diperbanyak. Bulan Ramadhan memang selalu spesial!

Seperti biasa yang selalu menarik perhatian adalah cold cuts yang terdiri dari beberapa jenis ikan, grilling station untuk menikmati surf & turf, variasi menarik dari masakan-masakan Indonesia, Eropa, serta China, dan terakhir tentunya sentuhan Timur Tengah dan India yang menjadi tema bulan ini.

Selamat berbuka puasa di Le Meridien Jakarta!


LE MERIDIEN JAKARTA | Jalan Jend. Sudirman Kav. 18 – 20, Jakarta | +62 21 251 3131 | www.lemeridienjakarta.com

From Malang to Surabaya: Best Western Knows it Best (Day 2)

Tidaklah lengkap pengalaman bertandang ke Jawa Timur tanpa mengunjungi kota terbesar kedua di Indonesia. Ya, Surabaya menjadi destinasi berikutnya setelah kami dimanjakan oleh Best Western OJ Hotel di Malang!

Hari kedua dibuka dengan zumba (bagi mereka yang terlalu bersemangat) dan sarapan (yang ternyata lebih saya pilih) sebelum kita beranjak menuju Surabaya sekitar pukul 10 pagi. Kurang rasanya memang menginap semalam, terlebih karena lokasi Best Western yang strategis – tentu saja ingin rasanya menjelajahi Kota Apel itu. Beruntung setidaknya kami dibekali satu kotak berisi lapis Malang kekinian sebagai tanda mata untuk keluarga yang menanti di rumah.

Surabaya yang terakhir saya lihat bertahun-tahun lampau tampak semakin elok saja. Meskipun siang hari begitu terik dan kemacetan sepertinya sudah menjadi santapan sehari-hari, tanpa ragu kami merangsek ke jantung Kota Pahlawan untuk menikmati makan siang yang kami nanti-nantikan.

Adalah Lontong Balap Rajawali yang terletak di wilayah kota tua yang sepertinya jauh lebih rapi tertata ketimbang Jakarta maupun Semarang ataupun Bandung. Jam makan siang telah lewat dan sepertinya seluruh isi restoran hanya dipenuhi rombongan kami.

Perjalanan beberapa jam yang disertai kemacetan dan kerinduan pada lontong balap membuat sebagian dari kami memesan dua piring. Tentunya termasuk saya juga!

Bayangkan sepiring lontong balap yang dipenuhi tauge, tahu, lontong, lenthuk, dan kuah hangat serta diiringi sajian sate kerang yang telah dibumbui kecap sungguh mewarnai siang itu. Setelah makan siang yang super memuaskan ini, waktunya untuk akhirnya bertemu dengan Best Western Papilio Hotel yang terletak di Jalan Ahmad Yani.

Ada banyak keunikan tersendiri dari Best Western yang mewakili kota Surabaya ini. Seolah mengingatkan dengan yang terletak di Cawang, Jakarta – Best Western Papilio Hotel dengan lihai menempatkan diri di pinggir kota Surabaya juga. Terletak tidak jauh dari jalan tol yang menghubungkan dengan bandara dan berhadapan langsung dengan akses jalan utama, ini tentu sangat memudahkan bagi para business traveler yang wa bil khusus tidak ingin berepot-repot bermacet-macetan di dalam kota.

Best Western Papilio Hotel sendiri menempati sebuah gedung bertingkat 35 dengan fasilitas penunjang milik swasta seperti restoran, kedai kopi, serta adanya pemunculan A&W tepat sebelum memasuki lobby.

Tidak terasa hari telah menjelang sore dan kamipun sekeluarga dipertemukan dengan para pejabat teras di hotel yang bertemakan kupu-kupu dalam segala penamaannya ini. Fasilitas MICE di BW Papilio Hotel terbilang lengkap. Selain terdapat ruang meeting berbagai ukuran ternyata dilengkapi juga dengan sarana musholla yang berukuran cukup besar dan nyaman. Selain itu area MICE juga bersebelahan langsung dengan restoran all-day dining yang dinamakan Mariposa. Kita akan bersantap di sini esok harinya.

Namun malam ini, kami diajak berkunjung ke lantai 8 dan menikmati Surabaya di malam hari dengan suasana outdoor, tepat di sebelah kolam renang. Area yang dinamakan Bantimurung Sky Pool ini menjadi ajang menikmati santap malam yang menyenangkan. Selain didukung udara sejuk Surabaya yang hari itu tidak terlalu lembab, BW Papilio Hotel juga mengerahkan segenap lini masakan terbaiknya!

Beberapa jenis salad digelar sebagai menu pembuka, namun malam yang istimewa itu seolah mengarahkan saya langsung ke bagian grilling untuk menikmati sajian Surf & Turf. Dimulai dari sosis, seafood, dan dikombinasikan dengan steak. Terakhir, beragam pilihan kue dan dessert telah menanti. Secara keseluruhan, BW Papilio Hotel memiliki pilihan dan kualitas santapan yang sangat layak dicoba!

Malam kini telah menyapa dan seolah memberikan pilihan. Apakah kita akan kembali ke kamar untuk beristirahat dan melewatkan malam ini dengan sunyi, ataukah bergabung dengan teman-teman untuk menyusuri jalanan kota Surabaya hingga menuju Jembatan Suramadu?

Sebuah tantangan yang tanpa berpikir lama langsung kami sanggupi. Tak lama mobil hotel menanti dan sang driver mengajak kami menembus kota besar ini menuju pesisir utaranya untuk mencapai jembatan legendaris ini.

Surabaya yang berangsur semakin modern kini memiliki beberapa pilihan shopping mall baru dan tentunya semakin banyak coffee shop kekinian. Setelah menempuh lebih dari setengah jam perjalanan, akhirnya tiba jugalah kita di mulut Jembatan Suramadu.

Yang warga umumnya lakukan di sini adalah menikmati sinar-sinar lampu dari jembatan raksasa ini, air lautan yang tenang menghanyutkan, dan secangkir kopi serta gorengan sambil duduk-duduk di tepian. Tidak lama, kami kembali ke hotel untuk beristirahat.

Setelah beristirahat malam dengan nyaman, acara pagi diisi dengan yoga dan kembali saya memilih untuk langsung bersantap di Mariposa. Pilihan makanan ternyata sangat beragam dan cukup untuk membuat saya betah berkeliling mencoba yang berbeda.

Jelang siang, kami berdarmawisata kembali masuk ke kota tua untuk mengunjungi House of Sampoerna, sebuah tempat bersejarah dimana sang pendiri Sampoerna pertama mendirikan pabriknya. Kini tempatnya yang bergaya klasik Belanda telah disulap menjadi sebuah museum keren yang menampilkan rekam jejak perusahaan ini dari titik nol hingga terakhir dijual kepada sebuah perusahaan multinasional.

Sebelum kami kembali ke hotel untuk bersiap-siap beranjak menuju Jakarta sore harinya, tidak lupa tentunya saya dan Mas @burhanabe membeli banyak oleh-oleh dan bersantap siang nasi bebek Sinjay, yang salah satu cabangnya terletak sangat dekat dengan hotel. Kini tidak perlu kita berkelana sejauh Pulau Madura – namun bila berkesempatan, tentulah tetap wajib hukumnya.

Seakan belum puas, kamipun tetap melanjutkan kudapan siang kami di Mariposa sebelum akhirnya berpisah sejenak untuk kelak bertemu kembali dengan teman-teman blogger dan segenap kru Best Western OJ Hotel, Malang beserta tentunya sang tuan rumah dari Best Western Papilio Hotel.

Selamat tinggal Surabaya. Kami akan pergi untuk kembali lagi kelak!


BEST WESTERN PAPILIO HOTEL | Jalan Ahmad Yani no. 176 – 178, Surabaya | +62 31 9904 3000 | www.bwpapilio.com