Apparently There is a Thing Out There Called “Finger Lime”

Sebut saja jeruk limau jari, if you will, tapi memang sepertinya tidak ada varian semacam ini di Indonesia. Negeri terdekat yang diberkahi oleh tanaman satu ini adalah Australia, dan umumnya finger lime tumbuh secara liar di sana serta musimnya konon pendek saja.

Jim Shanley asal Amerika Serikat menjadi yang pertama berhasil membudidayakan tanaman ini di negerinya. Buah yang berbentuk lonjong namun kecil-kecil ini berisikan bulir-bulir limau asam yang mengingatkan kita pada caviar atau salmon roe pada sushi.

Eater mengabadikan sedikit cerita mengenai finger lime ini dan satu cara untuk menikmatinya di video berikut ini.


Video credit: Eater
Image credit: Shanley Farms

Halal 101: The Ingredient Substitutes – Almond Extract

Tetap berjuang mempromosikan gaya hidup halal nan sehat dan berkualitas, TGA kini mencoba mencari dari seantero dunia untuk informasi-informasi yang bermanfaat bagi mereka yang mencari pengganti dari bahan-bahan memasak yang lazimnya non-halal.

Beberapa artikel mendatang akan TGA coba pilah-pilah bahan per bahan untuk mempermudah referensi para pembaca yang budiman sekalian untuk memasak. Kesemua bahan ini kami referensikan dari situs Eat Halal dengan sedikit suntingan bila diperlukan.

Selamat memasak!


ALMOND EXTRACT

Substitutes:

  • Bitter almond oil: gunakan 1/8 sendok teh minyak sebagai pengganti 1 sendok teh ekstrak almond. Tambahkan hingga rasa sudah cocok.
  • Ekstrak vanili: tambahkan hingga rasa sudah cocok. Pastikan halal sebelumnya.

Information credit: Eat Halal

Sydwic, The Whitewashed Hipster Kahvehane from Bandung

Datang begitu pagi ke sebuah cafe untuk menikmati sarapan ringan serta secangkir kopi bisa menjadi pengalaman menarik tersendiri, terkhusus bagi saya yang sudah cukup lama berjalan-jalan ke sana kemari dan menulis mengenai gaya hidup perkulineran di Indonesia selama bertahun-tahun.

sydwic-11 sydwic-3 sydwic-14

Adalah Sydwic, sebuah coffee shop kekinian di Bandung yang tidak jauh dari rumah. Ide untuk merapat begitu pagi ke sini tiada lain karena begitu penuhnya kedai kopi mutakhir ini ketika siang hari telah datang hingga malam menjelang. Tidak hanya itu, Sydwic memang khusus telah buka sejak pukul 7 pagi dan tetap buka hingga selarut pukul 10 malam.

Tiba sekira pukul 7.30, suasana cafe masih kosong melompong. Belum ada barisan pastry yang mengisi display di counter namun sang barista dengan ramah mempersilakan saya duduk terlebih dahulu. Sementara melihat-lihat menu, kondisi cafe sepertinya memang belum siap karena masih ada beberapa hal yang tengah dibersihkan. Tidak hanya itu, banyak juga menu makanan yang belum siap dan sang La Marzocco masih dalam proses kalibrasi.

sydwic-1

Walhasil, pilihan akhirnya hanya jatuh pada sepiring chicken quesadillas dan secangkir cappuccino untuk saya serta teh untuk sang istri.

Lama berselang, sekira 45 menit, sepiring quesadilla akhirnya tiba setelah saya menanyakan sekitar dua kali. Chicken quesadilla tampil dengan penampilan minimalis dengan tomato salsa yang kurang melimpah.

sydwic-8 sydwic-13 sydwic-9

Sementara house blend yang digunakan Sydwic berasal dari Jack Runners dan menggunakan tiga jenis biji kopi. Secangkir cappuccino hangat tiba tidak lama setelah makanan hadir, sesuai permintaan saya. Suhu dan rasa ternyata cukup memuaskan dan Sydwic dari secangkir ini saja sudah cocok untuk kapan-kapan bertandang lagi di lain waktu.

Meskipun tempatnya elok, minimalis, bercahaya, dan kekinian; yang agak disayangkan adalah ketidaksiapan produk-produknya di pagi hari padahal Sydwic buka begitu awal. Terlebih kunjungan ini terjadi di hari Sabtu, hari dimana sebuah usaha F&B semestinya lebih sigap melayani pengunjung yang biasanya lebih membludak dibanding hari biasanya.

sydwic-15 sydwic-12 sydwic-7

Selain ketidaksiapan banyak produk-produknya, saya juga mempertanyakan mengenai waktu penyajian. Ini sebetulnya yang berpotensi menjadi masalah di waktu-waktu ramai. Apakah Sydwic selama ini ternyata memiliki masalah di situ? Sedikit observasi di dunia maya ternyata membuktikan jawaban tersebut dan tidak sedikit yang mengeluh mengenai lambatnya pelayanan. Setidaknya itu lumayan terbukti dari pengalaman saya pagi itu dimana saya menanti hingga pukul 8.30 untuk makanan yang saya pesan padahal saya pesan sejak 7.45 dalam kondisi dimana pengunjung baru saya saja yang hadir.

Sebagai sesama urang Bandung dan aficionado kuliner serta kopi, saya tetap mendukung Sydwic untuk bebenah kekurangan yang satu ini. Sayang sebetulnya tempat yang cantik dan kopi nikmat yang dimilikinya ini malah menjadi kurang berkesan gegara masalah lambat dan servis yang kurang memuaskan.

sydwic-5 sydwic-4 sydwic-2

Semoga di lain kesempatan berkunjung di sini dan setelah beberapa perbaikan, saya berharap Sydwic menjadi destinasi ngopi pilihan saya ketika di Bandung.


SYDWIC
Not halal-certified but halal-friendly
Some dishes are suitable for vegetarians

Address: Jalan Cilaki no. 63, Bandung

Opening hours: Daily, 7am – 10pm


European Butter & American Butter, So What’s The Difference?

Seiring semakin terbukanya akses untuk pabrikan asing dalam menjual produknya di Indonesia, tentunya rak-rak supermarket kini berisi lini produk yang semakin beragam – tak terkecuali tentunya adalah mentega.

Mentega dan margarin lokal tradisional kini bersaing ketat dengan mentega yang datang dari berbagai belahan dunia. Bagi yang awam tentu akan memilih apa yang dirasa sebagai kebiasaan atau sesuai budget, namun bagi mereka yang lebih selektif ataupun para profesional, tentu pilihan mentega menjadi proses yang krusial ketika tengah berbelanja bahan-bahan.

Secara umum pasaran dunia biasanya didominasi mentega-mentega dari Eropa serta Amerika Serikat. Namun apa sih yang sebetulnya membedakan keduanya?

Berbicara mentega asal Eropa, lazimnya gaya produsen di sana mengolahnya dengan cara berbeda dibandingkan mentega Amerika Serikat yang telah diatur standarisasinya oleh USDA. Mentega Eropa biasanya melalui proses mengocok (churning) lebih lama sehingga menghasilkan sekitar 82% butterfat (lemak susu).

Secara tradisional bahkan mentega Eropa dibiarkan terfermentasi untuk menghasilkan sedikit rasa asam, sehingga hasil akhirnya tidak hanya wanginya lebih kentara namun juga secara rasa lebih kaya. Selain itu secara tekstur juga lebih lembut, lebih mudah lumer, dan cocok sekali untuk baking.

butter-1

Semetara itu untuk mentega Amerika, USDA menetapkan bahwa mentega harus memiliki setidaknya 80% butterfat dan itulah yang biasanya kita dapatkan ketika membeli unsalted butter serta salted butter pada umumnya. Karena tidak diberi kultur tambahan maka rasanya menjadi lebih netral.

Pada akhirnya semua tergantung dari tujuan awal kita memasak. Sekiranya kita mencari kekayaan rasa dari jenis makanan tertentu yang mengedepankan fungsi mentega, tentu mentega Eropa-lah yang cocok. Namun untuk hal-hal dimana mentega bukanlah hal yang esensial seperti misalnya pada brownies atau sekadar untuk meminyaki wajan, maka mentega pada umumnya tentu lebih ekonomis.

Terlepas apapun pilihannya, ada satu quote yang wajib kita percayai,

“Everything is better with butter”
– Julia Child