The Halal Food Campaign 2017: A Prologue

Berbicara sebagai seseorang yang telah sekian tahun berkutat dengan pekerjaan yang berhubungan langsung dengan cicip mencicipi makanan, bisa dibilang bahwa kini masyarakat Indonesia semakin akrab dengan kegiatan jelajah kuliner atau meminjam istilah TV show ternama – “Wisata Kuliner”.

japan-food-festival-2016-7

Tak terhitung begitu cepatnya pemunculan tren maupun masakan asing, terkhusus di Jakarta serta Bali yang senantiasa menjadi trendsetter di Indonesia. Kota-kota besar seperti Bandung, Medan, Surabaya, dan banyak lainnya juga tidak ketinggalan dengan ciri khas mereka masing-masing.

Yang dahulunya kegiatan makan di restoran adalah sebuah kemewahan tersendiri, kini aktivitas tersebut bisa terjadi setiap hari atau beberapa kali dalam seminggu. Makanan kaki lima maupun masakan rumahan di banyak warteg juga sudah semakin beragam dan warga dari berbagai lapisan tidak segan menikmatinya secara rutin.

Hanya saja dari pesatnya perkembangan dunia kuliner kaki lima hingga bintang lima, masih saja di Indonesia ini informasi maupun kesadaran akan pentingnya sertifikasi halal terbilang terbatas. Meskipun demikian geliat perorangan maupun lembaga dan bisnis untuk menggalakkannya semakin terasa juga kehadirannya.

Untuk tahun 2017 saya terdorong untuk mulai membawa blog saya ini ke arah yang lebih ‘serius’, terkhusus yang berkaitan dengan kuliner halal. Tentu kesukaan saya mencoba produk baru, tempat makan baru, atau bertemu tokoh-tokoh kuliner akan tetap berlanjut dan diwartakan; tapi tentu ada kontribusi lebih yang mudah-mudahan bisa bermanfaat tidak hanya bagi para foodies Muslim namun juga bahwasanya kehalalan makanan bisa saja menjadi peluang bisnis menarik.

Namun hanya sekedar sharing untuk para pembaca perorangan, kini saatnya bagi saya untuk berbagi tentang makanan secara lebih mendetil. Beberapa rekan bergerak di social media untuk mengingatkan perkara pentingnya makanan halal serta menginformasikan kehadiran makanan halal baru di jagat perkulineran Indonesia, namun dikarenakan kesukaan saya terhadap hal yang detil, mari kita coba bersama beberapa percontohan artikel kuliner baru di tahun depan.

japan-food-festival-2016-9

Sebagai contoh, mari kita ambil masakan Jepang, satu cabang kuliner dunia yang telah teruji hubungan eratnya dengan masyarakat Indonesia selama bertahun-tahun. Yang dahulunya orang Indonesia hanya mengetahui masakan Jepang dari makanan cepat saji yang sebetulnya tidak otentik, kini kehadiran masakan Negeri Sakura ini menjadi luar biasa beragam di sini.

Kini tidak heran para foodies semakin selektif sekaligus eksploratif dalam menikmati masakan Jepang. Makan malam hari ini teman-teman bisa jadi mengajak untuk bersantap sushi, namun di lain waktu, giliran udon yang menjadi pilihan. Bahkan pengetahuan mengenai bahan serta mencoba pilihan berbeda dari buku menu sudah menjadi keniscayaan tersendiri di kalangan foodies.

Sejak beberapa tahun belakangan ini, mulailah muncul pertanyaan di kalangan foodies yang semakin mawas perkara kehalalan makanan. Sekilas bisa disimpulkan, rupa-rupanya banyak elemen dari masakan Jepang yang menggunakan bahan tidak halal meskipun tanpa menggunakan protein non-halal.

Mari kita ujicobakan para artikel berikutnya berupa sedikit latar belakang cerita makanan tersebut, resep dan cara membuatnya, hingga bahasan mengenai elemen-elemen yang menjadikannya halal ataupun tidak. Sebagai contoh, wacana yang mungkin saya angkat adalah semisal karaage atau takoyaki. Yang jelas kita coba kupas satu per satu agar kita mengetahui tidak hanya secara umum atau dengar dari orang lain saja, namun memang kita memiliki pengetahuan itu secara mandiri.

Bismillah, mari kita melangkah bersama untuk Indonesia yang lebih teredukasi mengenai makanan halal dan menjalankan gaya hidup halal.

 

Bakmi Win, The Wonder Noodle Shop in Southern Jakarta

Jarang bisa menemui gagrak bakmi yang tidak luntur gaya Chinese sekaligus rasa lezatnya karena tanpa hadirnya MSG. Itulah Bakmi Win yang dikomandoi oleh Oom Win sendiri yang selalu tampil antusias dan bergaya sporty ini.

Hadir di kawasan yang tidak terlalu banyak memiliki warisan mie selain legenda mie dari negeri Korea di bilangan Senopati tidak jauh dari situ (pun intended), Bakmi Win juga tidak gentar menghadapi kedai soto populer yang tepat berada di depannya. Sebagai salah satu fans Bakmi Win, terkadang dalam hati saya ingin semacam berseru kepada mereka yang tengah bersantap di kedai soto itu, “Hey guys, you don’t know what you’re missing here. Come here once in a while!” Well, that’s just to show how much I like this place.

bakmi-win

Sang mie sendiri tampil kenyal dengan rasa gurih dan dilengkapi taburan ayam. Potongan daun bawang memang opsional tapi harus tentunya ditambahkan. Sebagai pendamping, biasanya saya memesan bakso kuah dan uniknya Bakmi Win menemaninya dengan potongan lobak. Sungguh segar dan selalu panas. Menyenangkan sekali.

Selain bakmi, sering juga Bakmi Win menyediakan siomay maupun nasi ayam. Tidak lupa yang wajib dipesan adalah es jeruknya yang benar-benar menggunakan satu butir jeruk besar sehingga memang rasanya fulfilling banget. Tapi itulah Oom Win, sepertinya memang beliau senang memberikan yang terbaik untuk pelanggannya.


BAKMI WIN
Halal-friendly
Unsuitable for vegetarians

Address: Jalan Tulodong Atas no. 16, Jakarta – Indonesia

Opening hours: Daily, breakfast – late lunch time


A Drinkable Shopping Bag? Let’s Try!

Avani Eco Bags, sebuah perusahaan start-up yang mawas terhadap lingkungan hidup, baru-baru ini memperkenalkan kantong belanja nabati yang bisa dilarutkan lalu diminum! Konon kantung belanja yang biodegradable ini terbuat dari akar tanaman singkong.

Simak penjelasan dari Kevin Kumala mengenai berbagai terobosan inisiatif dari Avani yang bisa jadi adalah kunci dari permasalahan sampah plastik di Indonesia yang begitu menggunung.


Video is courtesy of Al Jazeera English

Anomali Coffee: Bringing Up Local Flavours (mise en place, Vol 13 – 2015)

The first decade of the 21st century saw Jakarta heading its way to become one of the coffee culture capitals of the world. This period saw a major expansion of Starbucks as the proponent of second wave coffee movement in Indonesia, as followed also by The Coffee Bean and Gloria Jean’s Coffees.

However, it was also the time when Indonesians realize that coffee is more than Starbucks. The decade showed us the emergence of local coffee shops with one noble aim, and that is to promote the rich variety of Indonesian coffee beans.

Anomali 2

In 2007, Anomali Coffee was born from the hands of the two co-owners, Mr Irvan Helmi and Mr Muhammad Abgari (Agam). Their first shop back then at Jalan Senopati operated as both a roaster as well as brew bar. Since the beginning, it has received a warm welcome from the crowd but from what we see today, it was clear that Anomali never settles in with only selling beverages. It took more than just that to run an enduring, successful business.

As Irvan tells us, they started everything from a scratch for Anomali and he remembers the time when he utilized whatever opportunity he got out of his unrelated full time occupation for the business. He admits that he was purely only bringing his curiosity, as based on the memories of his grandmother’s habit of brewing coffee for the family from ground beans bought from oldest known stores in Jakarta.

Anomali 5

However over the years, the two owners have made a monumental groundwork by working with the farmers directly to share them what the future market needs. What they have done regularly aside from that is also buying the beans in coffee auctions and promoting fair trade.

Realizing it or not, the result of their hard work is what we actually see today in Indonesia’s coffee scene. “Back then our best seller was blended iced drinks, but now people are crazy over the classic choices. Indonesia now have better quality beans”, says Irvan. This trend is also promoted by the rising of gourmet coffee shops around the globe, or what people would call as ‘third wave coffee movement’.

Anomali 4

In addition to that, people are now becoming discerned over specifics and this is something that Anomali has prepared all this time. “To actually say that we were able to predict this would be an exaggeration. We are simply evolving to become better every time”, explains Irvan modestly.

“To ensure the quality, we have established a professional barista school for our staffs and public. We have regular examinations for our baristas and our company has also established a grading system so that everyone can have a career here”, Irvan further adds.

Anomali 3

Today, the coffee shop competition became fiercer than ever. The appearance of the slick and stylish third wave coffee bars all over Jakarta does not worry Anomali Coffee at all. Whatever the hipster market dictates now, Anomali Coffee is ready. Its Indonesian coffee beans quality is at its peak, the baristas well-trained, and they are also up with the popular use of manual brewing techniques.

Lastly, more than that, the wholesale division of Anomali Coffee is now serving the needs of hundreds of companies around Indonesia and abroad. Anomali Coffee has also become the sole distributor of the famous Synesso espresso machines and Hario manual brewing gadgets.

Anomali 1

Being thankful at what Anomali Coffee has achieved so far, Irvan in modesty says, “This is all part of our learning process. We are simply evolving to become better and better.”

—–

ANOMALI COFFEE

Addresses:
Jalan Senopati no. 9, Jakarta
Jalan Teuku Cik Ditiro no. 52, Jakarta
Setiabudi One, Jakarta
Jalan Kemang Raya no. 72G, Jakarta
Bali White House, Jalan Dewi Sri no. 23, Kuta – Bali
Jalan Raya Ubud no. 88, Ubud – Bali

Opening hours: Daily, 8am – 12am


Link: http://miseenplaceasia.com/anomali-coffee-bringing-up-local-flavours/

The Secret of Success from Chobani – America’s Leading Yogurt Manufacturer

Banyak yang mungkin tidak mengetahui bahwa Chobani adalah salah satu merk produsen Greek yogurt yang sangat sukses di Amerika Serikat. Yang menarik adalah cerita sukses dari pemiliknya yang notabene adalah seorang imigran Kurdi.

Adalah seorang Hamdi Ulukaya asal Turki yang mendirikan Chobani di tahun 2005. Tanpa berbekal pengetahuan bisnis, Hamdi membeli pabrik yogurt yang bangkrut dan mempekerjakan para imigran sebagai pegawainya. Nah, inilah konon yang menjadi kunci kesuksesannya. Some say, kedermawanan Hamdi-lah yang menjadikan Chobani besar.

Ingin tahu seperti apa ceritanya? Zinc telah merangkum video yang sangat baik mengenai kisah suksesnya. Selamat menyaksikan!


Video is courtesy of Zinc