The Poetic Gourmet: Ketoprak (Tahu Telor) Ciragil

Ah ketoprak. Tentu saja tidak ada satu jiwapun di Jakarta yang tidak menyukainya, bahkan banyak orang di pulau Jawa sekalipun. Dengan berbagai versi independennya seperti kupat tahu dari Jawa Barat atau lontong balap dari Surabaya, sepertinya kita sudah kelewat intim dengan hidangan yang satu ini.

Lima dekade telah berselang sejak pembukaan perdana kedai ketoprak yang masih mempertahankan kesederhanaannya ini. Kembali, siapa yang tidak mengenal Ketoprak Ciragil di ibukota ini? Meskipun tersedia dengan porsi yang tidak terlalu mengenyangkan, terkhusus untuk para kaum pekerja lelaki yang terbiasa dengan setumpuk nasi untuk makan siang, rupa-rupanya popularitas kedai satu ini tetap bertahan baik.

Setelah sekian lama tidak berkunjung, akhirnya saya berkesempatan memperkenalkannya kepada sang istri. Beruntung kami datang setelah jam makan siang dan suasana sudah berangsur-angsur menjadi tenang. Mohon maklum, datang tepat pada waktu makan siang; bersiap-siaplah untuk selalu menagih pesanan Anda karena tak kunjung datang.

Kali ini ketoprak yang saya pesan langsung saya sandingkan dengan telur dadar. Maklum, saya ingin menikmati dua hidangan sekaligus dalam satu piring. Yang pertama adalah ketoprak dan yang kedua adalah tahu telur!

Ketoprak Ciragil 1

Sang istri melahap suap demi suap dengan kegairahan yang belum pernah saya saksikan sebelumnya, apalagi untuk sepiring ketoprak. Lain halnya bila melihatnya menikmati fish and chips atau ketika berkunjung ke Chili’s. Padahal baru saja dia menghabiskan sirloin sepiring untuk makan siang!

Memang citarasa Ketoprak Ciragil cocok untuk kita-kita. Dengan bumbu kacang yang di-blender halus, menjadikan semuanya terasa lebih silky sekaligus manis. Sepertinya saat itu sang abang mempersiapkan porsi ekstra sehingga meskipun makan berdua, terasa tetap banyak bila dirasa-rasa kembali.

Ketika sang telur dibiarkan begitu saja, maka itulah kesempatan saya menikmati versi hybrid yang sengaja-tidak sengaja terbentuk dengan sendirinya. Dengan tauge serta tahu, sepertinya persyaratan dasar tahu telur Surabaya sudah lumayan tercapai dan sayapun menikmatinya.

Memang cukup mengejutkan dengan harus membayar Rp 20,000 untuk sepiring penuh ini, tapi saya bersyukur karena sepertinya makan romantis kali ini berjalan sukses. Nah, selanjutnya kita akan menuju Sate Padang Ajo Ramon untuk ronde ketiga!

—–

KETOPRAK CIRAGIL
Address: Jalan Ciragil (across the bridge from Dapur Ciragil), Jakarta – Indonesia

Advertisements

One thought on “The Poetic Gourmet: Ketoprak (Tahu Telor) Ciragil”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s