Fun Food Facts #11

Fun Food Facts #11:
FOOD FROM THE OLD AMERICAS #1

There were no tomatoes in Italian food, peanuts in Thai food, or chili peppers in Indian food before the 15th century.

Prior to the great voyages around the world, these three crops were only found native from South Americas. Tomatoes came from Peru and spreading to Mexico, peanuts from the Amazon, and chili peppers from South and Central America.

—–

Assorted from the facts provided from “25 Amazing Facts About Food” by Mike Adams and David Guiterrez of naturalnews.com

Staycation: DoubleTree by Hilton – Jakarta, Indonesia (Hilton Hotels & Resorts)

Sudah beberapa waktu berselang sebuah gedung tinggi menghiasi langit di kisaran Cikini. Baru kali ini sepertinya saya melihat sebuah sosok hotel bintang lima yang serius hadir di sisi kota Jakarta bagian ini. Kini saya perkenalkan, DoubleTree by Hilton.

Berkesempatan mencicipi keramahtamahan DoubleTree by Hilton menjadi hal yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Beruntung setelah berkecimpung sekian tahun di dunia jurnalistik dan khususnya kuliner, beberapa waktu yang lalu saya diajak bergabung untuk menjadi juri kompetisi internal grup Hilton Hotels & Resorts.

Terlepas dari kompetisi yang sangat konstruktif ini, sejurus pandangan ketika mengunjungi DoubleTree by Hilton untuk kesekian kalinya tetap membuat saya cukup terkagum-kagum. Strukturnya begitu masif dan begitu terasa karismanya ketika berbelok dari jalan raya lalu masuk menuju lobby-nya.

Kedua pohon ikonik yang menjadi trademark nama DoubleTree by Hilton menghiasi bagian depan hotel. Memasuki lobby,  suasana penuh cahaya alami dan luasnya ruangan seakan memenuhi pengunjungnya dengan energi. Tepat di depan meja resepsionis, T Lounge siap setiap harinya untuk menerima para pengunjungnya dengan berbagai kudapan dan minuman penyegar.

DoubleTree by Hilton Jkt 1

Berkompetisi di dunia MICE yang kini begini buas diantara para hotel berbintang lima, rupanya DoubleTree by Hilton juga tidak ketinggalan berpartisipasi dengan amunisi yang mumpuni dari begitu banyaknya ruangan yang tersedia dengan berbagai ukuran untuk function maupun meeting kecil

Turun satu lantai ke bawah, OPEN selalu menyambut kedatangan saya. Beberapa ulasan sebelumnya mengenai hotel ini telah saya bahas sebelumnya dan saya mohon agar Anda tidak ketinggalan menikmati pizza rendang-nya yang lezat!

Menuju ke kamar, rupanya saat itu saya sangat beruntung mendapatkan view ke arah pusat kota dengan banyak pencakar langitnya yang berbaris. Ini adalah pemandangan yang tak jemu saya nikmati dari sudut ini dan kalau boleh jujur, banyak waktu yang saya luangkan hanya di kamar ini, meskipun kolam renang milik hotel ini terlihat luas dan seru untuk diarungi.

DoubleTree by Hilton Jkt 3

Kedatangan kami langsung disambut oleh berbagai snack khas Nusantara dan buah-buahan segar, layaknya penyambutan hotel bintang lima sesungguhnya. Suasana kamar terasa segar dan modern serta tentunya sudah dilengkapi dengan sambungan internet complimentary, cocok untuk pekerjaan saya sebagai penulis yang selalu butuh koneksi cepat.

Selain itu, suasana menginap terasa lebih nyaman lagi dengan tempat tidurnya yang berkelas. Meskipun kamar mandinya saat itu tidak terdapat bath tub, tapi fungsi kamar mandi cukup memenuhi dengan baik. Terkadang masih saja ada permasalahan dengan lamanya air panas muncul serta hal-hal lain. Beruntung segalanya lancar pada kunjungan saya waktu itu.

DoubleTree by Hilton Jkt 2

Menginap di koridor HHonors memberikan saya kesempatan berkunjung ke bagian lounge yang berada di lantai paling atas. Karena satu dan lain hal, fungsi lounge memang belum berfungsi maksimal, baik sebagai tempat bersantai sore dan malam hari maupun untuk makan pagi. Namun saya tetap berkesempatan untuk menikmati kopi sambil melayangkan pandangan pada Jakarta di malam hari.

Waktu berjalan tak terasa dan larut malam telah tiba. Kini saatnya saya bersiap-siap untuk menjadi juri di pagi harinya. Terima kasih untuk keramahtamahannya, DoubleTree by Hilton Jakarta! Sampai berjumpa di kesempatan berikutnya.

—–

DOUBLETREE BY HILTON – JAKARTA

Address:
Jalan Pegangsaan Timur no. 17, Jakarta – Indonesia

T: +62.21.3190.4433

Website

Dish That I Crave: Chef Gianluca Visciglia’s Burrata

I miss Scusa and everything about it. It has been awhile since I had an exciting Sunday brunch back then where everyone could enjoy the food from both Scusa and Java (now Rasa).

Just around two months ago, Scusa appointed a native chef to revive everything again that I and many other Italian cuisine fans had been waiting for. My encounter with the chef Gianluca Visciglia was for another affair but upon knowing that I had missed my lunch, he decided to whip in some cool stuff to go with his main dish.

Chef Gianluca Visciglia's Burrata 1

As a starter, he made some kind of less creamy burrata, which he named something that I unfortunately did not remember or unable to find any similarity with burrata (oh come on, you’re a journo Rian!) and he put the glorious cheese on top of sliced tomatoes. Around the tomatoes, he placed lightly fried fennel with garlic and butter. As a finisher, he drizzled extra balsamic vinegar and of course, the olive oil.

It was lighter than the magnificent burrata that I just had several weeks ago at Caffe Milano but it was impressive still. The use of fennel is what that elevates the whole thing and if it wasn’t for the chef’s finesse in the kitchen, it would just be another appetizer in some Italian restaurant.

Kudos, Chef Gianluca!

—–

SCUSA

Address:
InterContinental Jakarta MidPlaza
Jalan Jend. Sudirman Kav. 10-11, Jakarta – Indonesia

T: +62.21.251.4188

Website

Yestereats: Cuanki (as featured by Ubud Food Festival)

Cuanki 1

Mari masuk ke dalam mesin waktu bersama para food blogger ternama Indonesia dalam serial #Yestereats, dimana mereka mengenang makanan favorit masa kecilnya. Mulai  dari makanan kantin sekolah, kue jajan pasar, sampai santapan tradisional, inilah menu-menu yang menimbulkan kecintaan mereka pada dunia kuliner.

—– 

Saya banyak mengenal panganan kaki lima dari kedua orang tua saya. Pertama kali mencicipi bakso Cuanki tiada lain karena melihat ibu dan kakak-kakak saya masing-masing memesan seporsi bakso kuah dan tahu. Tidak mau kalah, saya ikut memesan juga. Ternyata saya malah ketagihan.

Cuanki, yang sepertinya terdengar seperti serapan dari Bahasa Cina, ternyata adalah singkatan dari “Cari Uang Jalan Kaki”. Begitulah memang para pedagangnya yang berkeliling tanpa lelah mencari pelanggan. Baksonya sendiri berukuran lebih besar, terasa lebih daging daripada bakso masa kini yang sudah dicampur ini dan itu. Kuah kaldunya sudah berasa kaya tanpa tambahan banyak penyedap rasa. Biasanya saya memesan satu mangkok berisi sepuluh bakso, tanpa tahu!

Pada umumnya, pedagang bakso Cuanki berkeliling di kompleks-kompleks perumahan kota Bandung dengan memikul panci penuh berisi kuah kaldu, bakso, tahu, dan siomay. Tatkala ia membunyikan kentungan kayu kecil atau mangkuknya, biasanya saya langsung berhamburan keluar rumah untuk memanggilnya.

Sepertinya di siang hari Bandung yang terik sekalipun, bakso Cuanki tetap terasa nikmat!


Let’s travel back in time with top Indonesian food bloggers for our series #Yestereats, a nostalgic ode to favorite childhood eats. From school lunches to sticky sweet cakes and traditional dishes, find out the meals that started their love affair with food.

—– 

My parents introduced me to a lot of street food. The first time I tried Cuanki Beef Balls was when I saw my mum and sisters ordering a bowl each, and I, wanting to be included in the action, ordered a bowl for myself. I was hooked.

Cuanki sounds like a word of Chinese origin, but it’s actually short for ‘Cari Uang Jalan Kaki’ (walk and earn some money), which is what the vendors do, tirelessly circling the neighborhoods for consumers. The beef balls are bigger, meatier than the modern-day beef balls (which have so many additives). The soup is already rich without MSG.

I usually order a bowl of 10 beef balls, leave the tofu out, please!

Usually the Cuanki man circles the neighborhoods of Bandung carrying a pot of soup, beef balls and tofu on his shoulder. Whenever he knocks his wooden stick (note: I don’t know what the English word for it, but it looks like this), I rush out to buy a bowl.

Even the hot Bandung sun doesn’t take away from the deliciousness that is Cuanki!

>>><<<

About the Author

Enam tahun kini telah berselang sejak Rian Farisa memulai The Gastronomy Aficionado. Blognya berisi kunjungan restoran, makanan kaki lima, hingga berbagi resep, dan cerita pertemuan-pertemuannya dengan para tokoh F&B dari berbagai pelosok dunia. Selain itu ia juga menjadi kontributor untuk The Foodie Magazine, Femina, Time Out Jakarta, Morning Calm, Tiger Tales, serta Jakarta Post.

www.gastronomy-aficionado.com
Instagram/Twitter: @gastroficionado

—–

It’s been five years since Rian Farisa started The Gastronomy Aficionado, a collection of restaurant and street food reviews, recipes, stories on food and beverage stars from different corners of the world.

He’s also a contributor for The Foodie Magazine, Femina, Time Out Jakarta, Morning Calm,Tiger Tales, and The Jakarta Post.

www.gastronomy-aficionado.com
Instagram/Twitter: @gastroficionado

>>><<<

This article is featured in Ubud Food Festival website