Food For Thoughts: Serabi (Linked, February 2014)

Surabi, begitu kami menyebutnya di Tatar Sunda, adalah satu menu santapan pagi tradisional yang digemari banyak orang layaknya pancake bagi warga belahan dunia Barat. Puluhan tahun berlalu dan kini serabi telah dikenal oleh siapapun di Indonesia.

Serabi 1

Kisah saya bersama serabi dimulai dari udara Bandung begitu sejuk di pagi hari. Sang ibu membawa saya yang masih kecil untuk membeli satu kotak berisikan serabi dari pedagang pinggir jalan langganan keluarga kami di daerah Cihapit. Secara alami saya selalu penasaran dengan proses masaknya yang menggunakan wajan kecil nan bulat yang terbuat dari tanah liat serta menggunakan kayu bakar, meskipun kini telah berubah menjadi wajan modern dengan bahan bakar gas.

Adonan yang terbuat dari tepung beras, santan, dan parutan kelapa ini tersaji polos maupun dibubuhi oleh oncom, bahkan ada juga yang dimasak bersama telur. Bayangkan bila tersaji bersama teh hangat atau kopi sebelum pergi beraktivitas atau untuk kudapan sore. Sungguh berkesan!

Salah satu varian tradisional lainnya adalah serabi hijau dengan kuah gula santan atau yang berasal dari kota Solo di daerah Notosuman. Serabi dari Solo ini biasanya diimbuhi potongan pisang atau nangka dan memiliki citarasa yang berbeda dengan saudaranya dari Bandung.

Serabi 2

Sekitar satu dekade lalu, serabi bertransformasi menjadi panganan modern dengan pengaruh dari Barat. Serabi kini telah dibubuhi oleh keju parut, sosis, kornet, hingga Oreo maupun es krim. Sejatinya pengaruh ini berasal dari bagaimana masyarakat kini menyantap pancake maupun waffle. Tren ini tetap bertahan dan terdapat satu restoran dengan menu beragam ini yang memiliki cabang di berbagai kota di Indonesia.

Meskipun asal mulanya serabi tidak banyak diketahui, kemungkinan besar pengaruh ini datang ketika era kolonial Belanda yang terkenal dengan kue pannekoek-nya. Jelas perbedaannya dengan serabi adalah karena penggunaan tepung beras ketimbang tepung terigu yang menjadi bahan pokok di Eropa. Kini, selain serabi berbagai saudaranya dapat juga dinikmati di berbagai penjuru Indonesia, seperti misalnya kue ape khas Jakarta atau kue apam.

Jadi, serabi manakah yang menjadi favorit Anda?

—–

Linked - Serabi

—–

Featured in LINKED (Citilink inflight magazine), February 2014 Edition (unedited)

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s