How Sealicious! Learn Your Seafood, Compete, and Win a Trip to Singapore!

Begitu luasnya dunia Internet di masa kini semakin membukakan opsi tanpa batas bagi kita. Melalui jejaring social media dan informasi dari search engine, kita semakin mudah mendapati bahwa begitu banyak kesempatan di luar sana untuk belajar tentang berbagai hal dan in my case, of course it’s all about food and cooking!

Betapa sebuah kebetulan bagi saya yang kini sedang mempersiapkan diri untuk meliput berbagai hal berbau seafood, mengingat edisi berikut dari majalah yang saya kerjakan secara rutin setiap bulannya akan menggunakan tema seafood. Begitu banyak hal yang bisa dicari sebagai referensi dari Internet tapi ternyata baru kali ini saya menemukan situs yang all-in-one informasinya!

Fiesta Sealicious 1

Dalam hal ilmu mengenai makanan dan masak memasak, jujur baru kali ini saya menemukan kesempatan untuk belajar sekaligus bersaing secara konstruktif dan kesemuanya memberikan added value yang berharga bagi pesertanya, termasuk bagi saya yang kebanyakan hanya menumpang mampir dan belakangan tertarik ikut juga dengan modul kuliah online-nya serta sekadar iseng-iseng ikut berkompetisi juga.

Situs yang saya temukan ini tercipta melalui inisiatif dari Fiesta Sealicious yang mengajak para pesertanya untuk berkompetisi sekaligus belajar memasak dalam berbagai jenjang modul mulai dari istilah-istilah dalam dunia memasak, cara menakar bumbu, mengasah pisau, membuat kaldu maupun sup, hingga berbagai tips dan teknik dalam mengolah seafood. Sebagai ikonnya, Fiesta Sealicious juga merangkul seorang chef muda berbakat Arnold Poernomo yang kita kenal pemunculannya di Jakarta Culinary Festival 2012 silam serta tentunya, di MasterChef Indonesia.

Fiesta Sealicious 2 Fiesta Sealicious 3

Selain mempelajari berbagai modul online yang komprehensif, peserta juga ternyata diajak mengumpulkan point untuk memenangkan kompetisi melalui berbagai cara seru seperti menjawab trivia seputar kuliner dan seafood serta mengunggah berbagai masakan yang kita buat di rumah untuk bobot point yang lebih besar.

Tidak tanggung juga ternyata hadiahnya adalah berbagai peralatan dapur serta sebagai grand prize-nya adalah mengikuti culinary trip dan cookery course di Singapura!

Resep memasak di Online Class Fiesta Sealicious
Resep memasak di Online Class Fiesta Sealicious

Jadi meskipun sekarang tahapan kompetisinya sudah berada di babak Top 100 dan kemudian semakin mengerucut untuk menemukan juara sejatinya, tapi bagi kita-kita yang sedang sibuk sekalipun mari kita sempatkan mampir untuk belajar memasak dan mendukung para kontestannya melalui voting. Selain itu, banyak ide-ide seru juga melalui masakan-masakan yang di-share oleh para pesertanya loh.

Hmmm.. This kinda reminds me to continue my online lesson again from Fiesta Sealicious. Udah sampai modul berapa yah kemarin-kemarin? 😉

—–

http://www.fiestaseafood.com/sealicious/

Advertisements

Under The Radar: Another Two Indonesian Delights! (Linked, February 2014)

  • KOKO BOGANA

Koko Bogana - Interior 1 (photo by Dennie Benedict)

What

Ingin menikmati banyaknya pilihan hidangan nasi dari berbagai penjuru Indonesia serta jajanan khas pasar di satu restoran yang nyaman? Koko Bogana menjadi solusinya bila Anda berada di daerah Kebayoran Baru, Jakarta.

Koko Bogana - Nasi Langgi (photo by Dennie Benedict)
Nasi Langgi

Why

Usaha yang berawal dari skala rumahan ini telah mengalami transformasi yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Lokasinya yang dekat dengan kawasan usaha di daerah Kebayoran Baru ternyata ramai dikunjungi saat bersantap siang maupun untuk sekadar take away.

Sesuai namanya, nasi bogana khas Tegal menjadi jawara di sini. Nasi yang dibungkus daun serta berisikan telur pindang, ayam suwir, sambal goreng ampela, tumis kacang panjang, serta serundeng daging ini tampil menggoda. Meskipun datang dengan ukuran sedang, dapat dipastikan bahwa rasa kompleks yang dimilikinya akan memenuhi ekspektasi siapapun. Terlebih lagi karena duet sambal matah serta sambal kecombrang selalu setia mendampingi setiap masakan di sini.

Pilihan menarik lainnya juga layak untuk dieksplorasi. Sebut saja misalnya nasi pagongan khas Cirebon, nasi langgi khas Solo, nasi kuring khas Sunda, nasi Singaraja khas Bali, nasi pecel hingga nasi gudeg atau nasi liwet. Tidak hanya masakan-masakan yang sudah disebutkan tadi, ternyata Koko Bogana masih memiliki banyak pilihan nasi lainnya yang akan membuat siapapun kesulitan untuk memilihnya!

Sehabis bersantap nasi bogana, pastikan untuk membawa pulang berbagai jajanan pasarnya seperti arem-arem, klepon, sosis solo, bugis, kue mangkok, kue pepe, risoles, dan banyak pilihan lainnya. Terakhir, jangan lewatkan untuk mencoba bacang spesialnya yang terkenal.

Koko Bogana - Nasi Bogana (photo by Dennie Benedict)
Nasi Bogana

How

Di tengah ramainya suasana jalan Cipaku, Wolter Monginsidi, dan Pasar Santa, Koko Bogana tampil menempati sebuah rumah lama yang terlihat klasik sehingga berkesan homey bagi siapapun yang mengunjunginya. Selain itu terlihat kesederhanaannya tetap terpelihara namun dengan suasana khas Jawa yang nyaman serta bersih. Terkadang hadir juga seorang pemain kecapi serta sindennya mengiringi waktu makan siang di Koko Bogana.

Meskipun terletak di tengah keramaian, ada suatu hal yang menjadikan Koko Bogana tampil low profile dan membuatnya ‘tersembunyi’. Meskipun tetap ramai dikunjungi pada waktu makan, sesekali nikmatilah suasana santai bila kebetulan makan siang Anda sedikit terlambat.

Where
Jalan Cipaku I no. 2, Jakarta – Indonesia
Telp: +62.21.720.3754

Facebook      : Koko Bogana

Operational Hours
Setiap hari, 9 am – 6 pm (tutup hari Minggu dan hari-hari besar)

Price Range
IDR 25,000 – IDR 50,000 / orang (F&B)

—–

  • GRIYA KULO

Griya Kula - Facade 2

What

Berbagai pilihan kuliner terbaik Cirebon berkumpul menjadi satu di sebuah restoran tersembunyi yang berlokasi di Jakarta Timur ini.

Why

Cirebon rasanya tidak pernah sedekat ini berkat Griya Kula. Menempati sudut di pelataran parkir kolam renang Bojana Tirta di Jakarta Timur ini, kuliner Kota Udang yang beragam itu kini dapat ditemukan bersamaan dalam satu restoran saja.

Berbagai hidangan khas seperti bubur sop ayam, empal gentong, mie koclok, nasi lengko, gado-gado uleg, nasi jamblang, hingga tahu gejrot tersedia di sini. Sekejap terasa suasananya adalah percampuran sebuah restoran dengan konsep food court masa kini, yaitu dikelilingi berbagai gerobak kaki lima yang merepresentasikan setiap masakan dari Cirebon.

Nasi Jamblang
Nasi Jamblang

Usut punya usut, ternyata berbagai masakan di Griya Kula sendiri menggunakan bahan-bahan asli dari Cirebon yang dikirimkan melalui kereta api setiap harinya pada waktu pagi dan siang. Sehingga tidak saja ini menjadikan bahan makanan di sana tetap segar namun juga memiliki citarasa asli yang berhasil dipertahankan dengan baik.

Mulai dari kecap manisnya saja berbeda dan memberikan sentuhan rasa manis yang lembut serta cocok dengan bumbu kacang unik yang jarang diaplikasikan pada sate kambing pada umumnya di Jakarta. Atau contoh lain misalnya tahu yang dipakai untuk hidangan populer tahu gejrot-pun berasal dari Cirebon, hingga bahkan cumi saus tinta, jambal roti, atau sate kerang yang disajikan untuk nasi jamblang.

Selain kelezatannya yang teruji, ternyata Griya Kula sendiri disponsori langsung oleh Sultan Cirebon sendiri yang konon berperan dalam menamai restoran ini. Dari segi promosi restorannya saja ikut dilakoni oleh sang putri kesultanan sendiri. Ternyata Griya Kula datang ke Jakarta benar-benar membawa sebuah misi yang menarik, yaitu memperkenalkan kuliner Cirebon secara lengkap dan istimewa.

Tahu Gejrot
Tahu Gejrot

How

Suasana santai menghiasi sekeliling Griya Kula, khususnya pada hari-hari kerja. Namun pada waktu akhir pekan, bersiaplah untuk bersaing mendapatkan tempat duduk dengan para pengunjung kolam renang maupun lapangan tenis yang kelaparan sehabis berolahraga. Kapasitas Griya Kula tidaklah besar namun cukup untuk menampung beberapa puluh orang.

Meskipun restoran ini terlihat menyendiri, tapi justru benar adanya bahwa dengan berbagai kelebihan yang dimilikinya maka inilah yang layak disebut sebagai hidden culinary gem dan menjadi sebuah kewajiban untuk dikunjungi oleh para pecinta makanan Imdonesia.

Where
Kompleks Kolam Renang Bojana Tirta, Jalan Bojana Tirta Raya, Jakarta – Indonesia
Telp: +62.21.7042.1591

Operational Hours
Setiap hari, 8 am – 10 pm

Price Range
IDR 25,000 – IDR 50,000 / orang (F&B)

—–

Linked - Kuliner Indonesia II 2 Linked - Kuliner Indonesia II 1

—–

Featured in LINKED (Citilink inflight magazine), February 2014 Edition (unedited)

Cover Feature: A Chef and His Love Bug (The Foodie Magazine, Feb 2014)

Everybody has their own extra-curricular activities. Some turn to collectibles, others get involved with in organizations or charities. The Park Lane Hotel’s chef Deden Gumilar shares with us his Volkswagen Kombi activities. But on top of that, we found out that the affable chef is also a romantic.

Oftentimes we found ourselves admiring the crafty culinary creations in a restaurant without really knowing who the mastermind behind it all. In my line of work, I happen to be fortunate enough to have that chance to get to know the players personally and appreciate their efforts directly.

My visits to The Park Lane Jakarta have given me that particular enjoyment, especially with the grills of their Stix restaurant or the all-day dining options at Café One. However I never really had the chance to meet Executive Chef Deden Gumilar for some reason. Probably it was just a course of fate.

The Foodie Magazine - Chef Deden Gumilar 1

One gloomy morning, I busted my way through Jakarta’s infamous hustle and bustle and seized the opportunity to meet the chef! He brought along his pride and joy – the Volkswagen Type 2 or what we often know as VW Kombi, and took us all for a small picnic on the park. Chef Deden has been in the thick for preparations for the reopening of Riva Grill, Bar and Terrace, so much so that he has been spending long hours in the office and kitchen. With Valentine’s approaching, he was thinking of throwing his wife a surprise on V Day, and we were invited for the ‘trial’!

For many occasions, Chef Deden cooks from his beloved car. He brings portable stove, a small table, table ware, utensils, and other chef’s equipments. That morning while he prepared us the food, he told us his journey so far with his camper car.

The Foodie Magazine - Chef Deden Gumilar 2

“Volkswagen has always been my thing and this Kombi dates back since I was still in high school”, he admitted proudly. Truly, it’s rare to see VW Kombi nowadays considering the maintenance variables and how religious you can take care of it, but Chef Deden enjoys the challenges and manages to keep it up and running. He has even given it a rustic touch by installing wooden panels inside the car to make it homey.

“There was a time when I took her to office everyday but the traffic has been getting unbearable for the past few years”, he said. “So instead, I took it out only for club gatherings and picnics with my family”.

The Foodie Magazine - Chef Deden Gumilar 3

 

Chef Deden says that he never uses his Kombi for long journeys like some club members he knows, he’s afraid that the antique will not be able to withstand such a trip. Instead he usually takes his family for shorter trips around West Java. “Sometimes we take the trip for mere change of scenery and fresh air to Selabintana, just nearby Sukabumi, or to visit my family in Majalaya”, said the chef.

On his way, the family would stop anywhere they want for a quick breakfast or brunch that he would prepare fresh in the Kombi. “My kid usually asks me to make something simple like fried noodles or fried eggs, but when I was alone for trip with my wife, we’d have something nice for a change”, he blushingly admitted.

The Foodie Magazine - Chef Deden Gumilar 5

 

 

The romantic food he’d have with his wife would be something like we enjoyed during the picnicking that time – croissant filled with smoked salmon or slices of bread with pan-seared beef and onions. To make it fancier and more romantic, Chef Deden sometimes cook beef steaks with herbs and eggs.

 

While for almost the past two decades the chef has been working in several kitchens across the country with so many challenges, turns out that Chef Deden retains a warm personality and love for his family. Perhaps only a handful of people would have thought that having a hobby could make someone become more romantic, and that’s what we found out from a chef like Deden Gumilar.

The Foodie Magazine - Chef Deden Gumilar 7

—–

Chef Deden Gumilar is currently working as the Executive Chef for
The Park Lane Jakarta | Jalan Casablanca Kav. 18, Jakarta – Indonesia | +62.21.828.2000 | www.parklanejakarta.com | Facebook: The Park Lane Jakarta | Twitter/Instagram: @parklanejkt

——

Featured in THE FOODIE MAGAZINE February 2014 edition

Download it for free here via SCOOP!

Photos by: Dennie Benedict

Food For Thoughts: Serabi (Linked, February 2014)

Surabi, begitu kami menyebutnya di Tatar Sunda, adalah satu menu santapan pagi tradisional yang digemari banyak orang layaknya pancake bagi warga belahan dunia Barat. Puluhan tahun berlalu dan kini serabi telah dikenal oleh siapapun di Indonesia.

Serabi 1

Kisah saya bersama serabi dimulai dari udara Bandung begitu sejuk di pagi hari. Sang ibu membawa saya yang masih kecil untuk membeli satu kotak berisikan serabi dari pedagang pinggir jalan langganan keluarga kami di daerah Cihapit. Secara alami saya selalu penasaran dengan proses masaknya yang menggunakan wajan kecil nan bulat yang terbuat dari tanah liat serta menggunakan kayu bakar, meskipun kini telah berubah menjadi wajan modern dengan bahan bakar gas.

Adonan yang terbuat dari tepung beras, santan, dan parutan kelapa ini tersaji polos maupun dibubuhi oleh oncom, bahkan ada juga yang dimasak bersama telur. Bayangkan bila tersaji bersama teh hangat atau kopi sebelum pergi beraktivitas atau untuk kudapan sore. Sungguh berkesan!

Salah satu varian tradisional lainnya adalah serabi hijau dengan kuah gula santan atau yang berasal dari kota Solo di daerah Notosuman. Serabi dari Solo ini biasanya diimbuhi potongan pisang atau nangka dan memiliki citarasa yang berbeda dengan saudaranya dari Bandung.

Serabi 2

Sekitar satu dekade lalu, serabi bertransformasi menjadi panganan modern dengan pengaruh dari Barat. Serabi kini telah dibubuhi oleh keju parut, sosis, kornet, hingga Oreo maupun es krim. Sejatinya pengaruh ini berasal dari bagaimana masyarakat kini menyantap pancake maupun waffle. Tren ini tetap bertahan dan terdapat satu restoran dengan menu beragam ini yang memiliki cabang di berbagai kota di Indonesia.

Meskipun asal mulanya serabi tidak banyak diketahui, kemungkinan besar pengaruh ini datang ketika era kolonial Belanda yang terkenal dengan kue pannekoek-nya. Jelas perbedaannya dengan serabi adalah karena penggunaan tepung beras ketimbang tepung terigu yang menjadi bahan pokok di Eropa. Kini, selain serabi berbagai saudaranya dapat juga dinikmati di berbagai penjuru Indonesia, seperti misalnya kue ape khas Jakarta atau kue apam.

Jadi, serabi manakah yang menjadi favorit Anda?

—–

Linked - Serabi

—–

Featured in LINKED (Citilink inflight magazine), February 2014 Edition (unedited)

Quikskoop™: Suntiang (Pondok Indah Mall, Jakarta)

Has it been twenty years? Probably yes, and that’s how long I hadn’t set my foot again at Pondok Indah Mall. My last time was probably during one of those holidays back in my elementary years. Phew!

Finally, just around a month ago, I decided to come here and the credit goes for Suntiang. Well, literally suntiang is a really heavy crown usually worn during Minangnese wedding by the bride. It is believed that after she endured such weight the whole party, she’s entitled for a happily ever after marriage.

Suntiang 9

But the Suntiang I meant here is the latest addition on Jakarta’s culinary scene and by this name, they are offering something interesting aside from your usual nasi kapau. The owners are, from what I heard, are creative young people who wish to preserve the grandmother’s traditional recipes on one side, and to make it interesting, they bring Suntiang to a whole new dimension as a place to enjoy fusion sushi!

Fusion sushi is not a big deal anymore as everybody enjoys their California rolls, the phoenix, or the dragon, but in Suntiang, they intertwine Japanese and Minang in its sushis and other stuffs. So how about that?

The process itself was actually an elaborated one as they hire a sushi chef with 20 years of experience, crash-coursed him with the grandma back in Solok – West Sumatra for a month or so to learn anything Minangnese, back to Jakarta for the whole experiments, try-and-tested it, until finally Suntiang opens its doors. All of that fuss took nearly a year and it’s something you must not take lightly as the result.

Gyoza Duo Raso
Gyoza Duo Raso

So, during my virgin flight, the six gyozas was the starter that ignited it all.  It was all filled with rendang and chicken and came in with the gulai and balado dipping sauces. Lucky it came in evenly so my wife and I didn’t need to fight over it!

Secondly, the fusion rolls. Much to my amazement, the sushi came in so colorful and I can’t believe how Minangnese touch could also give the unique beauty the way we always perceive traditional Japanese food. The philosophy on how to make people pleased with the looks first and then the taste in Japanese cuisine can also be achieved by Suntiang through their rolls!

Sambal Chicken Teriyaki Rolls
Sambal Chicken Teriyaki Rolls

Over the three, I favored most the sambal chicken teriyaki rolls which incorporate kyuri and chicken teriyaki inside the roll and topped each with sambal merah and sambal hijau a la Minang! To make it even more beautiful, they also sprinkled rendang telur all around the sushi. How majestic!

Rendang Rolls
Rendang Rolls

The rendang roll was also fun to play with and personally I’d have it a tad spicier to my liking but not to worry from Suntiang as they tone down the level of spiciness a bit to make it favorable for any tongue.

Salmon Skin Rolls Balado
Salmon Skin Rolls Balado

The last roll was the salmon skin roll balado. This one has its potentials especially with the balado sauce but since the salmon skins were buried inside the rolls, this made them not crispy anymore and a bit hard to chew. Hopefully, Suntiang can do something about this in the future.

Gulai Ramen
Gulai Ramen

Additionally, I also enjoyed my gulai ramen a lot. It was a rich one and came in generously with an egg, slices of chicken karaage, fish cakes, and the usual vegetables in Japanese-style ramen. For a price of IDR 58,000, it came in so big and you’d best ask one or two of your friends to conquer this one than by yourself, unless well, you’re really that hungry.

Suntiang 7

For the closure, we were honored with the grandma’s specialty dessert of laman katan sarikayo. It’s basically a sticky rice dessert topped with the highly prized sugar-apple jam that any Indonesians would die for and the other one came in topped with grated coconut and brown sugar sauce. This one will definitely seal the deal!

Green and Red Suntiangs
Green and Red Suntiangs

However, if you prefer something fresh though, Suntiang can also prepare you their signature mocktails of strawberry, passion fruit, orange and apple juice for the one they called Red Suntiang and a mix of kiwi, green tea, orange, and apple juice for Green Suntiang. I have to say that both of these are made of clever arrangements and will definitely sooth you during the hot days ahead of Jakarta’s summer.

Well, next time, it’s going to be the all-out battle for me against the delightful recipes of Suntiang on its nasi kapau. It’s back to basic first for me before heading again for the sushi. I shall return!

——

SUNTIANG

Halal-friendly (self-claimed halal)
Some dishes may be suitable for vegetarians

Address:
Pondok Indah Mall 2, 3rd Floor #346
Jln. Metro Pondok Indah, Jakarta – Indonesia
Opening Hours: Mall opening hours
Telp: +62.21.7592.0529

Spend: Around IDR 50,000 – IDR 75,000 / person