Jelajah Kuliner Negeri Kincir Angin di Jakarta (Linked, April 2013)

Paviljoen Kota - Exterior Paviljoen Kota - Interior 1

  • PAVILJOEN KOTA

What

Warisan resep kolonial a la Paviljoen Kota di antara suasana glamor sebuah shopping mall paling mutakhir di Jakarta.

Why

Kehadiran Paviljoen Kota di tengah begitu banyaknya pilihan bersantap tradisional Indonesia maupun kuliner modern di Kota Kasablanka ternyata mengundang tetap mengundang rasa penasaran. Tidak hanya restoran ini menyajikan berbagai santapan lokal seperti nasi goreng hingga semur jengkol, tapi ternyata aspek nostalgia secara penampilan serta hadirnya berbagai pilihan sajian dengan pengaruh kental Negeri Belanda.

Misalnya saja terdapat Selat Sunda (biasa lebih dikenal dengan Selat Solo) yang merupakan hidangan steak dengan aksen Belanda  seperti keberadaan kentang tumbuk, sayuran yang dipotong dengan rapi, mayones, telur goreng, serta saus gurih kental yang khas. Untuk pilihan lainnya opsi-opsi menarik makanan pembuka khas Belanda seperti huzarensla (salad Belanda), bitter ballen dan rissole (cemilan khas Belanda yang sudah sangat dikenal), bruine boon soup (sup kacang merah), hingga hidangan utama lainnya yang khas seperti bistik lidah dan masakan dengan pengaruh Jerman seperti beef stroganoff yang ternyata cocok dengan tema nostalgia Paviljoen Kota.

Selat Sunda
Selat Sunda
Beef Stroganoff
Beef Stroganoff

How

Area indoor didesain dengan aksen-aksen dinding yang menggambarkan suasana era kolonial, namun di bagian luar ternyata suasana itu tetap dipertahankan dengan penggunaan berbagai meubel dengan kesan Eropa klasik. Suasana hangat dan intim di bagian outdoor ternyata menarik para pengunjung dan suasana rileks di sayap khusus pesiar kuliner di Kota Kasablanka ini ternyata membuat betah para penggemar makanan untuk tinggal berlama-lama.

Where
Kota Kasablanka, 1st floor FS – U29
Jalan Casablanca Raya Kav. 88 – Jakarta
Telp: +62.21.2948.8502

Operational Hours
Setiap hari, jam 10 pagi hingga 10 malam (sesuai jam operasional mall)

Price Range
IDR 75,000 – IDR 100,000 / orang (F&B)

Website:              http://www.paviljoenkota.com/
Facebook:           https://www.facebook.com/PaviljoenKota
Twitter:                https://twitter.com/PAVILJOENKOTA (@PAVILJOENKOTA)

—–

Dijan's - Interior 2 Dijan's - Interior 1
  • DIJAN’S PANNEKOEKEN & POFFERTJES

What

Resep-resep sajian Belanda a la Dijan’s yang tersembunyi di balik kesejukan dan ketenangan dinding-dinding rumah bernuansa art deco.

Why

Dijan’s memang dikenal sebagai salah satu restoran yang menjadikan panekuk (pannekoeken) serta poffertjes dan berbagai varian serta topping yang digunakan begitu banyak dan menggiurkan, tapi tentu hidangan utama khas Belanda menjadi ciri khas tersendiri juga yang dimiliki restoran ini.

Misalnya saja dua hidangan legendaris Belanda yang berpenampilan rustic tapi berlimpah dengan bahan serta bumbu yang mengundang selera yaitu pada hutspot dan stamppot. Kali ini hutspot yang biasa menggunakan kentang tumbuk diganti dengan tumisan kentang dan berbagai macam sayuran serta dipadukan dengan gehaktballen atau bola-bola daging sapi cincang dan saus manis gurih khas Belanda.

Sedangkan kentang tumbuk pada stammpot dipadukan dengan spinazei (bayam) sehingga warna pada masakan ini semakin menarik apalagi setelah digabungkan dengan potongan sosis sapi serta saus dengan dasar tomat yang sedikit pedas dan dilimpahi bawang bombay. Ditambah dengan panekuk dan poffertjes, tentu masakan-masakan ini mengukuhkan Dijan’s sebagai salah satu restoran pilihan untuk sajian khas Negeri Belanda di Jakarta.

Stammpot met Spinazei
Stammpot met Spinazei
Hutspot met Gehakt
Hutspot met Gehakt

How

Suasana rumah dengan pengaruh arsitektur art deco ini tidak hanya luas dan nyaman namun diimbuhi berbagai dekorasi dan pernak pernik yang mengingatkan segera suasana pedesaan di Negeri Kincir Angin. Meskipun beberapa sisi memerlukan perbaikan tapi secara keseluruhan, suasana yang homey dan tenang yang tersembunyi di balik riuh rendahnya jalanan Kemang ternyata memberikan kenyamanan tersendiri bagi pengunjungnya.

Where
Jalan Kemang Selatan no. 102A
Telp: +62.21.7179.3538

Operational Hours
Setiap hari, jam 10 pagi hingga 10.30 malam (weekday), 11.30 malam (weekend)

Price Range
IDR 75,000 – IDR 100,000 / orang (F&B)

—–

Paviljoen Kota - Outdoor Paviljoen Kota - Interior 2

DO YOU KNOW

  • Rijstaffel, meskipun memiliki nama dari kosakata Bahasa Belanda, adalah hidangan legendaris nan mewah peninggalan era kolonial Belanda yang terdiri dari belasan hingga puluhan masakan terbaik Nusantara yang disajikan bersamaan oleh belasan pelayan sekaligus.
  • Konon hidangan ini merupakan kebanggaan Belanda atas kekayaan tanah yang dikuasainya dan sempat dicekal oleh Sukarno, presiden pertama Republik Indonesia, karena mengandung nilai-nilai penjajahan. Kini rijstaffel masih dapat ditemukan di beberapa restoran di Indonesia khususnya di Bali dan di manca negara seperti Belanda sendiri, Amerika Serikat, dan Afrika Selatan.
  • Karena rijstaffel merupakan hidangan mahal dan mengandung banyak elemen masakan Nusantara yang memerlukan proses lama dalam pembuatannya, maka warga Belanda lebih senang menyajikan masakan-masakan simpel sebagai penggantinya seperti nasi goreng, sate, pisang goreng, sambal, dan lain-lain.
  • Pertukaran budaya sebagai akibat dari penjajahan Belanda secara tidak sadar diteruskan hingga kini. Misalnya saja seperti yang disebutkan tadi, warga Belanda mengadopsi sajian khas Nusantara yang simpel namun di sisi lain, warga Indonesia gemar untuk membuat kue-kue khas Belanda khususnya ketika menjelang hari raya seperti nastaar, kaastengels, dan kue-kue lain yang unik dan lezat yang ternyata masih dapat ditemui di berbagai toko roti klasik seperti Braga Permai (Bandung) atau Toko Oen (Semarang, Malang).

—–

Linked - Kuliner Belanda

—–

Published on Linked – Citilink in-flight magazine, April 2013 (unedited)

Advertisements

Restaurant Review: Standing Sushi Bar

SSB - Interior 2

Konsep restoran yang menikmati sushi sembari berdiri memang bukan hal yang baru di Jepang, namun seorang Howard Lo memperkenalkan Standing Sushi Bar dengan konsep tersebut kepada khalayak Singapura tepat di wilayah business district di seputaran Raffles Place serta Marina Bay yang merupakan jantung ekonomi kota ini. Di kawasan yang notabene berisi para pekerja kerah putih, Standing Sushi Bar menjadi sebuah solusi untuk mengisi perut di tengah kesibukan mereka. Dengan kekuatan kecepatan penyajian, kapasitas restoran yang cukup bagi siapa saja yang tidak keberatan makan sembari berdiri, dan diiringi kualitas makanan yang baik, tidak butuh lama bagi Standing Sushi Bar untuk memperoleh berbagai penghargaan dan popularitas di sana.

SSB - Facade SSB - Interior 1

Tidak lama berselang, Standing Sushi Bar membuka cabang luar negeri pertamanya di Jakarta, tepatnya di La Piazza – Mall Kelapa Gading. Meskipun konsep makan berdiri ini tidak diaplikasikan secara khusus di Jakarta, namun kapasitas restoran yang besar dan khazanah yang sangat beragam dari menu-menu makanan khas Negeri Sakura ini membawa Standing Sushi Bar untuk siap bersaing di ibukota.

Yakiniku Salad
Yakiniku Salad

Malam itu saya berkesempatan mencoba berbagai masakan dari tema-tema berbeda termasuk tentunya, sushi dengan percampuran pengaruh kuliner Barat yang disebut juga dengan fusion. Misalnya saja pembukaan yang cukup baik ditampilkan dengan aburi shake mentai nigiri atau sushi ikan salmon setengah matang yang diberikan saus mayonnaise.

Tapi menu pembuka paling berkesan adalah yakiniku salad atau salad modern yang berisi sayur-sayuran dengan kyuri (timun Jepang) dan cherry tomato sebagai bintangnya, dicampur dengan daging sapi yang dimasak dengan cara yakiniku. Rasa saus yakiniku ini saya yakini sebagai salah satu yang terbaik yang pernah saya rasakan! Rasa asam yang lembut dan tingkat kegurihan sausnya berada pada level yang sangat seimbang. Selain itu jumlah dagingnyapun sangat mencukupi sehingga segala sesuatunya menjadi terpenuhi.

Shake Kawa Maki
Shake Kawa Maki

SSB - Fusion Roll 1

Begitu pula kepuasan saya semakin terasa  dengan mencicipi tori teriyaki atau daging ayam yang diimbuhi saus teriyaki yang lebih dominan manis gurih. Apalagi ketika kesemuanya ini ditambahkan dengan duet fusion sushi baru yaitu antara aburi hotate mentai (sushi roll berisi alpukat, crab roll, kyuri, dan ditaruh scallop serta mayonnaise di atasnya) serta spicy shake toro (salmon pedas, tuna, dan mayonnaise). Luar biasa!

SSB - Sanma Shioyaki

Dengan tampilan seperti ini rasanya kurang bila tidak menikmati nasi khas Jepang yang selalu tampil pulen dan sedap. Apalagi bila disandingkan dengan sanma shioyaki atau ikan sanma (sauri) yang digoreng hanya dengan penyedap berupa garam saja. Ikan yang terlihat kurus dan memanjang ini di luar dugaan sangat berisi dan padat rasanya. Bagi penikmat masakan Jepang pada umumnya, mungkin menu ini bukan yang lazim dipesan di restoran Jepang dan lebih banyak yang lebih memilih ikan yang lebih familiar seperti salmon. Namun justru ikan sanma ini memiliki rasa yang khas dan lezat, apalagi bila disantap bersama-sama.

Kulitnya yang garing dan isinya yang padat saja cukup untuk membuat siapapun kenyang apalagi bila ikan sanma ini tersaji sempurna. Hanya saja waktu itu saya harus memilah lemaknya yang cukup banyak dengan dagingnya yang layak disantap. Namun secara keseluruhan saya berhasil menuntaskannya dengan baik dan nasi semangkukpun habis tersantap.

SSB - Assorted Sushi 1 SSB - Omakase Sashimi SSB - Assorted Sushi 2

Ditutup dengan semangkuk es krim matcha (rasa teh hijau) yang diimbuhi kacang merah serta segelas kopi susu khas Jepang, senang rasanya kerinduan terhadap masakan Jepang yang tampil kaya, berlimpah, dan penuh warna ini terpenuhi. Maklum saat itu memang saya sudah beberapa waktu tidak mencicipi masakan Jepang yang rasanya belakangan ini merupakan satu kewajiban pilihan kuliner yang harus dipenuhi setiap beberapa waktu berselang.

Meskipun persaingan tampak tidak mudah di Jakarta bagi Standing Sushi Bar dengan begitu banyaknya restoran Jepang mumpuni sebagai kompetitornya, tetap menarik untuk disimak bahwa kualitasnya ternyata memadai dan berbagai inisiatif menarik dapat diserukan restoran ini untuk tetap bertahan dalam kompetisi ini. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana tetap memperkuat kualitas citarasa makanannya serta menampilkan khazanah sushi-nya yang kaya dengan sebaik-baiknya untuk tetap menghidupi nama Standing Sushi Bar.

STANDING SUSHI BAR (JAKARTA)

Halal-ness to confirmed (the use of mirin and other alcoholic essence within the dishes, the use of cutlery, etc)

Some menu suitable for vegetarians

Address: La Piazza Kelapa Gading, 1st Fl, Unit 3B1, Kelapa Gading Permai – Jakarta, Indonesia

Opening hours: Daily, mall opening hours

Website: http://standingsushibar.com/

Twitter: @standingsushi

Pinterest: standingsushi

Spend: IDR 50,000 – IDR 100,000 / person

—–

Images are courtesy of Standing Sushi Bar

Halal Facts: Halal Status of Food in Indonesia (by: Epicurina)

My dear readers,

A few days ago I came up with a subject about the halal status of my reviews so far. I understand this is not an easy task as it requires further study and it may give quite an impact on how we should perceive food in the future. To note also that this is an issue which a friend of mine said, may be quite confusing, even for a country of Muslim majority such as Indonesia.

By the way, another good friend of mine Bayu has formulated the halal rating for his blog and in the meantime before I finally formulate mine, hopefully this might be useful for your judgment.

—–

Halal Status of Food in Indonesia (by: Epicurina)
http://blog.epicurina.com/2011/11/halal-status-of-food-in-indonesia.html#.UXNs3aJmiSo

Halal is a term used by Moslem around the world to indicate its conformity with the Islamic rules of diet. There are some food groups that fall into non-halal status; however much more are fall into halal status.

Basic non-halal (or “haram” i.e., forbidden) food group are consisting of:

  • Pork – both farm raised pork, and wild ones or hogs
  • Blood – running blood, while traces on meat are acceptable
  • Carrion – including carcass of animal dead not by proper butchering
  • Sacrificial animals – animals used for ritual killings, or slaughtered not in the name of God
  • Top land predators  – animals which hunts by its claws, fangs, or combination of both
  • Frogs
  • Khamr – alcoholic beverages, i.e. either fermented or distilled drinks which causes drunk

Included on the list are also food products that mimics, or originated from those forbidden eats; hence a 0% beer made from de-alcoholized regular beer would still be considered as haram for both reasons.

Excluded from the list are carcass from dead sea animals, i.e. fishes, whales, which is allowed to be consumed — given that its condition is still good for consumption.

Halal status in Indonesia

As the case with Indonesia, despite of having 85% of its 240 million population moslem, Indonesia are still considered lacked behind in Halal standardization, this is due mostly because people are still having comfort relying on ethnic stereotyping; if you looks like pribumi (natives), you’re most likely to produce (and eat) halal food.

However this is a false assumption since there are many food related practices, even traditional ones from a moslem dominant population, that actually contradict with Islamic rules of diet. Especially since Islam teaching in many parts of Indonesia are still mixed with traditions, and other belief system from the pre-Islamic era, e.g. animism and dynamism. For example, the consumption of marus ordadih, which is a coagulated blood that’s seasoned and cooked into a firm consistency; it is forbidden in Islam but traditionally it’s a delicacies.

Also taking into concern the foul practices merchant does in the name of profit, or other misbehaves caused by simply naive unawareness.

Without too much dissecting or validating its appropriateness, following are the types of Halal status that commonly applies in Indonesia, and works on general situation elsewhere as well:

HL1 – Halal by personal observation & assumption

Food in this category are considered Halal by observer’s assumption, with observation mostly based on main ingredients used; that it is not from the forbidden group of food.

It is usually applies when a more convincing level of halal is absence, while the observable parts of the food/drink are considered as halal. It also applies when further detailed inspections are not able to be performed.

However due to different understanding and level of halal knowledge Moslem have, expect a diverse opinion on the conclusion. And even though there are examples of this kind of practice done in the prophet’s presence, some would prefer to ditch food fell into this category in thinking that it’s better to leave a doubt and choose what’s firm.

HL2 – Halal by seller’s claim

Food in this category are claimed Halal by the seller’s claim, and most halal food in Indonesia are fall into this category. This kind of claim is usually good, and should violation of halal dietary rules ever happens, i.e., usage of seasoning thought to be halal while they are not, they most likely are not intended.

HL3 – Halal by certification from legitimate bodies

Food in this category are proclaimed Halal by one or more legitimate bodies that eligible to do formal certification. Most halal food products sold for mass consumption in Indonesia fall into this category, and is considered as the strongest level of Halal status by most people.

In Indonesia, though the general food inspection and standardization are done by the Health Department, specific for Halal certification it is done by LPPOM MUI, a branch of the MUI (Majelis Ulama Indonesia) — Indonesian Council of Muslim Clerics.

Some moslem though, who applies a very strict halal diet, or does not acknowledge the legitimate bodies, would still prefer to use the combination of HL1 & HL2, that is only buying similar products from a vendor they validate themselves, where they’re able to inspect the whole process themselves, and mostly known the vendor personally, or recommended by other brothers of the same strictness.

Beside of the main three, there is also one type of Halal-related status that grows more popular these days in Indonesia, especially in the big cities:

HL0 – Halal by no-pork claim 

Since pork is the “superstar” of non-halal foods, and it’s the main judgement criteria used in Indonesia, a lot of new restaurants who don’t certificate themselves as halal, but tries to appeal to as wide customers as possible, i.e.: Moslem, excluding pork from their menu and uses the claim of “no pork”.

This usually applies with restaurants specializing in modern and foreign food opening in big cities where as though Moslem is still the majority population, they are less stricter or are not really religious. For example: low cost Steak houses, Hip Sushi restaurants, modern Chinese restaurants, budget Italian restaurants.

While claiming they serves no pork, those who serves imported meats usually provide no clarity on its halal status either; they don’t guarantee the absence of other non-halal substances as well, which usually presented in the form of liquor-based seasoning such as wines, wine-based vinegars, sake, mirin, etc. Hence halal status in this “no-pork” claim usually is only loosely perceived, while the fact is questionable.

Halal Food in Bali

Outside of the popularity of Babi Guling (Suckling Pig), Balinese cuisines are also rich with dishes containing chicken and salt water fishes. There are also conventional meat producers that guarantees halal status of their food, and their main market is the halal food vendors around Bali. However most chicken used in Balinese traditional dishes are brought from traditional market which are not specifically prepared to Islamic standards – but does not known to contradict either. Hence of halal status, HL1 are most common.

As with other kind of traditional dishes beside Balinese, you need to pay special attention since Halal is a lesser standard applied in Bali, so the non-halal non-Balinese dishes are also abundantly sold here, including the Cwi Mie Malang with pork oil (haram substance) we encountered in one East Javanese restaurant near Renon area.

Those that applies HL2 standards usually includes Islamic connection in their business name, i.e. “Warung Muslim Banyuwangi”, and so far this is your best chance of encountering halal food in Bali. Other choice in this HL2 category is the ethnic-stereotype based that is always guaranteed halal 100%: the Padangnese restaurants.

They never put “halal” in their restaurant names or stated claims as it would be considered laughable for stating something so obvious — though not 100% people from Padang region (Western Sumatera) are muslim.

100% Halal

On a lighter note, it’s a common thing in Indonesia to label halal food with “100% Halal” claim, however such claims are more of an exaggeration than fact, since: even a 0.1% inclusion of a known non-halal substance would waive the halal status, i.e. no such thing as “99% halal” label; and in practice no one can truly examines every parts or process that goes or included in the food preparation to warrant the claim.

Halal compatible standards

As about compatibility, other diet standards that is widely intersected with moslem’s halal standard and are considered generally save are Kosher, and Vegetarian — regarding the food ingredient choices. Though observation are still required to verify the presence of non-meat restricted substances, such as liquors. (byms)

Halal Facts: Regarding Halal and Non-Halal on The Gastronomy Aficionado’s Reviews

Hi everyone!

It has come to my attention that more and more demands for clear halal-ness notice on every restaurants and even hawkers have grown so much lately in the whole world. Some countries have managed to regulate this much disciplined than Indonesia and honestly, even sometimes I feel safer eating halal food in Singapore or Thailand.

Therefore in order to cater this, I would like to revamp my posts a bit from time to time and inform you all with the halal-ness of the restaurants I’ve been through all this time. Even so, I’m still pondering about how to classify the categories.

I was thinking to easily differ between halal-certified and not halal-certified, as the Islamic rules out that food should be differentiated between halal, haram, and subhat (doubtful). But I also cannot argue that in Islam we must also have good prejudice (husnudzon) after a series of test whether an establishment has performed a separation of cooking, cutlery, and other aspects to rule out the halal-ness of the food.

Another consideration should be also given for restaurants who happen to have not yet received any certification of halal-ness from MUI (Council of Islamic Ulema in Indonesia) and for that they self-proclaimed already that they are serving halal food. Clearly there are many aspects needed to be considered but my resolve is that I am more determined to give my readers the right information regarding this.

So for the time being, I encourage the Muslim readers to always perform self-check upon doing your dine-outs and I am very welcome to any suggestions/additional inputs about this matter. For a start, I will browse through again everything that I have written up until now, perhaps calling every restaurants manually, and asked whether they have a certain certification of halal with its unique ID. Later, I will put the information into each post and the index as well.

Let us work together for the betterment of the society and may Indonesia, in particular, will soon become a country with a high awareness of what’s halal and what’s not. 🙂

Restaurant Review: Bengawan

Keraton at The Plaza kini hadir di Jakarta sebagai bagian baru dari The Luxury Collection yang merupakan brand hotel mewah milik grup Starwood di seluruh dunia. Dengan mengusung Bengawan sebagai restoran kebanggaannya, Keraton at The Plaza telah mempersiapkan diri untuk bersaing ketat di dunia kuliner bintang lima Jakarta.

Tentu secara posisi tidak ada yang bisa menampik keunggulan dari hotel ini. Terletak menempel dengan mall Plaza Indonesia dan berada dalam cakupan lokasi primer Jakarta yakni di kisaran Bundaran HI, Keraton tidak segan untuk tampil cantik berdasarkan inspirasi keberagaman budaya Indonesia yang lekat dengan warna warni serta tampilan khas pola rumit batik di seluruh interior hotelnya. Meskipun demikian persaingan ketat juga dihadapi dari hotel ini dengan keberadaan pesaing-pesaing bintang lima di sekitarnya.

Chef Tony Azhari

Percampuran ciamik antara interior modern serta imbuhan budaya lokal inipun tentunya diterapkan di Bengawan yang terletak di lantai 7 hotel ini. Dengan suasana nyaman dan pemandangan ibu kota, Bengawan menyediakan berbagai hidangan lokal dan internasional di bawah kepemimpinan Chef Tony Azhari yang telah malang melintang ke berbagai penjuru dunia.

Dengan pengalaman lebih dari 14 tahun, chef yang masih terlihat belia dan bersemangat ini telah melanglangbuana ke berbagai jaringan hotel bintang lima internasional seperti JW Marriott Dubai, Four Seasons Macao, dan Ferrari World di Abu Dhabi. Pengalaman lokalnya juga tidak kalah prestisius, yakni bersama Ritz-Carlton Pacific Place serta Grand Hyatt di Jakarta. Beberapa pencapaiannya yang terbaik juga telah diraihnya ketika menjuarai BBC London Food Challenge pada tahun 2006 serta peringkat kedua George Foreman Grill Competition di Dubai pada tahun 2007 yang lalu. Mengenai Bengawan, sang chef berujar, ‘Para tamu lokal dan internasional akan dijamu dengan berbagai sajian Indonesia yang kaya akan rasa kedaerahan’.

Dengan spesialisasi Bengawan pada masakan Indonesia seperti yang dijanjikan Chef Tony Azhari sebelumnya, Bengawan juga bereksperimen berani dengan pilihan-pilihan cocktail seru yang diimbuhi kekhasan bahan lokal. Sebagai contoh yang paling utama adalah sajian iga bakar yang disajikan bersama sop konro dan sambal balado. Bila ingin melipir sejenak ke masakan Barat, tentu foie gras atau hati angsa yang terkenal ini tersedia sepanjang hari. Selain itu tersedia juga Nasi Keraton, yang merupakan semacam nasi uduk lezat dengan berbagai kondimen, sebagai panganan utama bersama sajian khas Nusantara lainnya di sela berbagai buffet menarik lainnya.

Sebagai penyegar, tidak hanya Bengawan menyediakan premium tea dari TWG namun juga berbagai racikan cocktail seperti Kiwi Pohpohan Mojito yang terdiri dari silver rum, lime, kiwi, mint, serta daun pohpohan atau pilihan lain seperti Es Cendol – campuran vodka, cendol, serta santan. Racikan menarik lainnya juga adalah martini yang berupa apel Malang segar, bandrek, cengkeh, sour apple liqueur, dan lime juice.

Gado Gado

Salah satu aspek menarik dari berbagai restoran hotel dewasa ini yaitu akan adanya pilihan untuk menikmati Afternoon Tea layaknya para bangsawan di masa lampau. Inipun tidak terlepas dari pilihan untuk menikmatinya dengan selera panganan lokal maupun khas Barat. Secara tradisional dari Barat minum teh sore biasanya diselingi caviar, sandwich, scone, dan berbagai jenis kue. Namun bila diadopsi dengan gaya Indonesia, maka Bengawan menyediakan risoles, uli ketan, tahu pong, lapis legit, bolu kukus, getuk singkong, cendol, nagasari hingga pisang goreng sebagai penggantinya. Tidak hanya itu, kita juga dapat menikmat kedua kutub kuliner tersebut pada saat bersamaan dengan paket yang berbeda.

Cream Brulee & Peach Strussel
Choco Mousse

Konsep The Luxury Collection senantiasa tidak melupakan tradisi lokal dimana hotel tersebut berada. Dengan demikian pengalaman kuliner kali ini terasa lebih memperkaya khazanah tentang masakan lokal maupun menambah apresiasi kita terhadap citarasa kedaerahan yang pada dasarnya penuh ragam dan warna. Tentunya bagi para pebisnis perhotelan atau restoran dari asing maupun lokal, semakin sulit untuk memungkiri begitu besar potensi untuk mensinergikan kekayaan kuliner Nusantara dengan berbagai konsep modern yang ingin diusung oleh mereka. Ini menjadi sebuah kesempatan yang dengan bijak dipilih oleh Keraton at The Plaza beserta Bengawan.

———-

BENGAWAN (KERATON AT THE PLAZA)

Not halal-certified (exercise discretion)

Some menu suitable for vegetarians

Address: Jl. MH.Thamrin Kav.15, Jakarta – Indonesia

Opening Hours: Daily, all day dining.

RSVP: +62.21.5068.0000

Website: http://luxurycollection.com/keraton

Facebook http://www.facebook.com/keratonattheplazajakarta

Twitter:  @KeratonJakarta

Pricing: 

·         Breakfast Buffet Package (Rp. 225.000++)

·         Lunch Buffet Package (Rp. 288.000++)

·         Dinner Buffet Package (Rp. 188.000) – Limited buffet

·         Brunch Package (Rp. 388.000++)

·         Beverage Package (Rp. 288.000++)