Berburu Makanan Khas Kota Kembang (Linked, March 2013)

Dengan reputasi besar sebagai kota wisata paling sibuk di Jawa, Bandung tidak serta merta memanjakan pengunjungnya dengan sisi modernitas kulinernya semata. Justru berbagai sajian klasik maupun tradisional kota ini kian hari semakin memberikan warna warni dinamika kuliner kota Bandung dengan segala keunikan serta kelezatannya.

—–

THE TRADITIONALS

  • LUMPIAH BASAH

Lumpiah Basah Stall Lumpiah Basah

Lumpiah basah memang selalu cocok sebagai kudapan di setiap saat. Bayangkan saja tumisan bengkoang, tauge, dan telur bercampur dengan sambal dan bumbu serta diisikan ke dalam kulit lumpiah yang telah dilumuri saus manis kental gula merah dan sagu kemudian digulung menjadi satu. Nikmat dan murah meriah! Rasanya kedai manapun yang menyajikan ini akan selalu menjadi incaran!

Where? – All over Bandung!

  • LOTEK

Lotek Kelenteng - Lotek

Berbagai versi lotek mulai dari perbedaan komposisi sayuran serta citarasa yang berbeda di setiap penjualnya memang menjadikan masakan ini selalu kaya dengan variasi. Salah satunya yang paling nikmat adalah versi Encim Tan sejak tahun 1960an yang menyajikannya bersama potongan nangka muda yang lezat sebagai tambahan dari sayur-sayuran lain seperti kangkung, tauge, kol serta tahu goreng. Selain lotek, Encim Tan juga menyediakan hidangan sayuran khas lainnya seperti tahu petis serta petis kangkung yang tidak kalah menggiurkannya.

Where? – Lotek Kelenteng – Jalan Klenteng Dalam no. 34

  • KUPAT TAHU

Kupat Tahu Gempol - Kupat Tahu

Bukan ketoprak, bukan juga lontong balap. Dibandingkan saudara-saudaranya dari Jakarta dan Surabaya itu, kupat tahu cenderung lebih sederhana dalam penyajiannya. Bermodalkan komposisi irisan ketupat/lontong  serta tauge dan tahu saja, kupat tahu lebih berimprovisasi dengan sausnya – kacang atau petis. Kelezatan dari kesederhanaan ini tetap menjadi idaman warga Bandung bersantap pagi maupun siang. Salah satu yang paling favorit di Bandung adalah Kupat Tahu Gempol dengan rasa gurih dan kaya dari saus kacangnya yang bersanten, tahu Cibuntu nan lezat, dan diracik oleh keahlian Ibu Yayah sejak tahun 1965!

Where? – Kupat Tahu Gempol – Jalan Gempol (depan pasar)

  • MIE KOCOK

Mie Kocok Mang Dadeng - Mie Kocok

Lain dengan mie bakso yang terkenal menjadi santapan siapapun di berbagai penjuru di pulau Jawa, mie kocok menggunakan jenis mie kuning pipih serta kaldu gurih dari kaki sapi. Dalam penyajiannyapun bakso hanyalah pendamping tambahan belaka. Bintang utamanya di hidangan ini justru adalah kikil. Salah satu yang terkenal di Bandung, Mie Kocok Mang Dadeng, menyajikan juga mie kocok yang dilengkapi sumsum yang pastinya makin memanjakan lidah penikmatnya!

Where? – Mie Kocok Mang Dadeng – Jalan Banteng no. 67

  • SOTO BANDUNG

Soto Bandung Ojolali - Soto Bandung

Keunikan soto khas Kota Kembang ini adalah kuahnya yang bening dan dilengkapi potongan tipis-tipis dari lobak dan kacang goreng. Selain itu soto ini menggunakan potongan daging sapi sebagai sumber proteinnya. Paduan rasanya lebih berirama gurih dan cocok untuk ditambahkan kecap manis. Pengusung paling legendarisnya sejak tahun 1940an adalah Soto Bandung Ojolali. Penggunaan kata Jawa untuk sebuah masakan khas Bandung? Kenapa tidak? Buktinya kenikmatan soto ini kini semakin dikenal dengan beberapa cabangnya Ojolali yang sudah tersebar di berbagai wilayah kota Bandung.

Where? – Soto Bandung Ojolali – Jalan Cibadak no.79

—–

DO YOU KNOW

Sumber Hidangan (d/h Het Snoephuis) di Jalan Braga adalah salah satu dari sedikit toko roti di pulau Jawa dengan status legendaris karena keberadaannya sejak jaman kolonial Belanda. Kini Sumber Hidangan dengan penampilan klasiknya yang timeless namun tetap konsisten menyajikan produk-produk pastry beragam dengan nama-nama unik berbahasa Belanda serta cita rasa yang tidak berubah sejak tahun 1929.

FAST TRACK

Oleh-oleh dari Bandung tidak jauh dari sebutan pisang molen Kartika Sari atau brownies kukus khas Amanda serta kue-kue dari Soes Merdeka maupun Prima Rasa. Khusus untuk Kartika Sari dan Amanda, keduanya kini telah membuka dua gerai terbesarnya yang terletak strategis di Jalan Ir. Haji Juanda (Dago) dan selalu padat dikunjungi para wisatawan khususnya di akhir pekan.

FUN FACT

Martabak Manis yang menjadi kudapan malam istimewa di Indonesia kerap juga dikenal sebagai Martabak Bandung. Konon para imigran dari Hakka yang awalnya berlabuh di Pulau Bangka menciptakan masakan ini di sana, namun beberapa di antaranya bermigrasi ke kota Bandung dan menjadikan makanan ini semakin populer hingga dikenal luas ke mancanegara.

—–

ONE STOP DINE-OUT

Opsi-opsi lain untuk menikmati berbagai keunikan kuliner kota Bandung? Jangan lupa untuk mengunjungi tempat-tempat sebagai berikut!

  • Paskal Food Market (Paskal Hypersquare – Jalan Pasir Kaliki)

Paskal Hypersquare - Signboard Paskal Hypersquare - Hawkers and Dining Tables

Dengan suasana alfresco, tertata cantik, dan membanggakan diri dengan 1100 menu masakan khas dari berbagai kedai maupun restoran ternama di kota Bandung, Paskal Food Market adalah one-stop place untuk pesiar kuliner yang tidak boleh dilewatkan.

  • Braga Permai d/h Maison Bogerijen (Jalan Braga)

Sumber Hidangan - Interior

Bicara kuliner Eropa ‘jadul’ dan es krim klasik, Braga Permai yang dulunya adalah tempat hang out kaum priyayi dan kolonialis Belanda ini memang satu-satunya di kota Bandung. Nikmati keunikan Jalan Braga sembari bersantap di sini.

  • The Kiosk (Braga Citywalk, Toko Setiabudhi, Jalan Ir. H. Juanda)

The Kiosk - Facade

Terinspirasi dari konsep hawkers center, The Kiosk berinisiatif sejak beberapa tahun lampau untuk mengumpulkan berbagai kuliner lokal terkenal untuk turut membuka ‘kios’ makanan di sentra kuliner yang kini bertempat di beberapa lokasi strategis di kota Bandung.

  • Pusat Kuliner Jalan Cibadak (Jalan Cibadak)

Jalan Cibadak yang ramai dan padat oleh aktivitas bisnis di siang hari disulap menjadi sebuah wisata kuliner tradisional pada malam harinya. Di kawasan yang banyak ditinggali etnis Tionghoa ini ternyata memberikan sentuhan tersendiri pada berbagai pilihan kulinernya.

—–

Linked Mar 2013 - Street Food (1) Linked Mar 2013 - Street Food (2)

—–

Published on Linked – Citilink in-flight magazine, March 2013 (unedited)

Advertisements

Quikskoop™: Yuky Penkeik

Yuky Penkeik - Banana & Honey Pancake

Several years have passed and the pancake fever may have not yet subsided here in Indonesia. It was all began with Pancious and now we have Nanny’s Pavillon, a more ambitious player who keeps on opening new stores of different theme even until this very day. Aside from them are mostly the give-it-a-shot opportunists, some ended their endeavor quite swiftly and the rest survives until God knows when.

Basically, what they do revolve around serving pancakes or its derivatives by creating eye candy combinations from sweet to savory toppings. Even so, what’s best for me is still the traditional version with butter on the top and flooded with maple syrup, sometimes I add a good old scoop of vanilla ice cream there. Sounds good right?

Okay, with all these ravings over this Western staple dish which usually consumed during breakfast time there and that we can compare it with the all time favorite nasi uduk  or bubur ayam, it became obvious that things have slowed down after a few years of its existence. Even so, Yuky Penkeik arrived boldly and flourishes ever since much to my surprise.

Yuky Penkeik resides just beside a courtyard in a salubrious neighborhood nearby Jalan Dago, Bandung and presented itself in a small wooden hut. Around the neighborhood also, we can find similar endeavors using the same presentation. I didn’t know who started it but this concept clearly feels cleaner than the usual hawker but also less intimidating than a restaurant and in the end, everybody likes it a lot!

Yuky Penkeik - Sugar & Vanilla Ice Cream Pancake

Its pancakes may be too simple and not that satisfying if compared with other established compadres I mentioned earlier but then again Yuky Penkeik easily attracts students mostly since it is of close proximity with two famous national universities and Jalan Dago and of very affordable price. Make no mistake, even from this humble exterior, a full-house is pretty much guaranteed especially during lunchtime and afternoon tea time.

Well, I cannot guarantee full satisfaction from its dishes especially that last time I had a very salty spaghetti bolognese. Even so, I had a really good time enjoying a hot tea time there with my wife after a rainy afternoon. So next, I am aiming for Yuky Penkeik’s comrade just across the street, Bestik Demang.

—–

YUKY PENKEIK

Halal-friendly

Unsuitable for vegetarians

Address: 

Jl. Buah Batu 205, Bandung – Indonesia

Jl. Teuku Angkasa No. 28 B , Bandung – Indonesia

Opening hours: Everyday, 8 am – 12 am

Spend: IDR 10,000 – IDR 25,000 / person

Website: http://yukypenkeik.com/

Facebook: Yuky Penkeik

Twitter: @yukypenkeik

Quikskoop™: Lotek Kelenteng

I remember that one of my ‘spiritual’ teachers said jokingly that Sundanese people are too fond of vegetables and that it has become a special trait awarded only for people from this tribe. Well, in that case I have to agree although many parts of Indonesia savor vegetables on daily basis as well, but often I found that Sundanese are arguably the people who cannot enjoy their particular cuisine without the accompaniment of lalapan, for instance.

Anyway, if we’re talking about veggies then lotek would be the staple dish that Sundanese people, well, Bandungnese people cannot separate from their diet. You can find it almost anywhere in the city from hawkers, food courts, individual sellers, or even established Sundanese restaurants. The choice of vegetables used may vary and either served raw or with already boiled veggies. My mom urges me to always eat the boiled version but call me a bad boy for that!

Lotek Kelenteng - Facade

Deep in the old downtown of Bandung, you will find a street called Jalan Klenteng and it’s because upon that very street you will encounter a huge Chinese temple (klenteng). On a the corner of the temple’s courtyard you’ll find several houses and one of them turned out to be one of the oldest lotek makers in Bandung. Although you won’t find any signboard saying that here’s the best lotek in the whole Bandung but you gotta come in first and give it a try for yourself.

Grandma Tan
Grandma Tan

Grandma Tan is her name and she has been in the business since time immemorial, well I mean since around 1965 but it’s been like forever! She lives with mortar and pestle way longer than anybody else but she takes care of everything by herself and not only she produces quality ingredients for her food but she also manages to keep her small canteen super duper clean.

It’s just amazing! Not only that you’ll find a small, quiet haven in the middle of nowhere but you could also taste her indomitable creation with vegetable dishes such as lotek (vegetables and peanut sauce served with rice cakes), petis tahu (tofu with shrimp paste), petis kangkung (water spinach with shrimp paste)rujak and the local desserts of kolak (sliced banana with coconut milk) and cendol (worm-like jellies with coconut milk and palm sugar)all of which constitutes homemade processed ingredients supervised by Grandma Tan herself.

Lotek
Lotek
Lotek Kelenteng - Petis Kangkung
Petis Kangkung
Petis Tahu
Petis Tahu

The secret is that you gotta taste all these babies all at once. My advise is, forget the rice cakes so that you won’t get full too quick and give it a try to all her signature dishes of lotek and the duo petis. Fresh, rustic, but simply amazing, and boy oh boy, she’s really good at making these.

It’s best though to come early as she may ran out of things before noon and especially during weekends. Besides, you don’t wanna mingle too long with the traffic around here which has been quite notorious even in Bandung. So, find your way to this hidden haven and enjoy a really good time there with Grandma Tan.

—–

Must eat: Lotek, petis tahu petis kangkung kolak , and es cendol 

Price: IDR 15,000 – IDR 20,000

Address: Jalan Klenteng Dalam no. 34, Bandung – Indonesia

Opening hours: Everyday, 8 am – finish

Staycation: The Park Lane Jakarta (Park Lane Hotels International)

The Park Lane - Facade

The Park Lane Jakarta telah menjadi sebuah simbol elegansi hotel bintang lima dengan gayanya tersendiri setelah kehadirannya di Jakarta di usianya yang kini menginjak hampir 15 tahun. Kini saatnya menyimak kiprah The Park Lane berikutnya yang tengah menjalani fase perubahan menuju tampilan yang lebih segar dan menarik. Kesemuanya ini dipadukan dengan keunggulan tersendiri The Park Lane khususnya dari segi kuliner dengan keberadaan Riva sebagai salah satu restoran Perancis terbaik di Jakarta, Stix sebagai steakhouse-nya dan Café One sebagai restoran internasionalnya.

Lokasi The Park Lane yang dekat dengan bilangan megah Rasuna Said atau biasa disebut Kuningan sebagai bagian dari Segitiga Emas Jakarta, diyakini memiliki keunggulan tersendiri apalagi kini perkembangan bisnis properti seperti apartemen dan mall serta daya tarik lainnya semakin berkembang di sekitarnya.

Satu hal unik lainnya selain sebuah pelayanan hospitality yang mengesankan adalah berbagai sudut landskap yang dihadirkan dari jendela kamar-kamarnya yang begitu beragam. Mulai dari hehijauan bagian asrinya Jakarta di sudut bilangan Casablanca dan lingkungan perumahan Tebet, para pencakar langit kota Jakarta yang mengesankan di sepanjang Kuningan, hingga sebuah tempat perziarahan klasik sejak zaman kolonial Belanda. Dengan ini The Park Lane telah selalu siap untuk memenuhi berbagai kebutuhan para pengunjungnya mulai para pebisnis, diplomat, hingga turis sehari-hari yang ingin menikmati dinamika kota Jakarta yang sibuk dan berwarna.

Suasana klasik dengan sentuhan kontemporer

Dengan suasana dan desain umum klasik tahun 90an, The Park Lane secara keseluruhan menjaga penampilannya dengan apik bahkan di banyak bagian tengah dan telah mengalami berbagai pembaharuan.

The Park Lane - Junior Suite

Berbagai jenis kamar juga telah diperbaharui dengan pemilihan interior baru yang berkelas seperti ranjang King Koil, kursi kerja ergonomis, sofa serta karpet baru. Dari segi warna, perpaduan elegan dan rileks terlihat dari pilihan warna putih, krem, abu-abu, coklat tua, dan hitam. Tidak lupa tentunya terdapat fasilitas-fasilitas pendukung lainnya seperti akses internet cepat, televisi layar datar 40 inch, DVD dan lain-lain.

Baru-baru ini The Park Lane juga meluncurkan satu jenis suite baru sebagai tambahan dari lima kategori yang sudah ada. Adalah Junior Suite yang didesain khusus dengan memisahkan kamar tidur dengan ruang keluarga. Jon Richards selaku General Manager berujar, ‘Suite ini dirancang bagi para tamu yang menghendaki privasi dengan adanya pemisahan dua ruangan. Dahulu kami hanya menyediakan Executive Business Room yang tidak memiliki pemisahan ini. Sekarang kami senang sekali dapat menampilkan suite baru yang tidak hanya cocok untuk kebutuhan para pebisnis yang sedang bertandang ke Jakarta namun juga bagi para delegasi kedutaan’.

The Park Lane - Park Lane Suite

Pada beberapa pilihan jenis kamar menengah ke atas, para tamu berkesempatan untuk menikmati fasilitas menggunakan akses ke Premier Club Lounge yang terletak di lantai 16. Di sini tidak hanya fasilitas check-in dan check-out menjadi lebih cepat dan nyaman, namun terdapat juga fasilitas makan pagi dan canapé serta cocktail sore di tengah-tengah suasana eksklusif.

Opsi-opsi kuliner menarik

Adalah Riva, restoran kebanggaan dari The Park Lane dengan tema masakan Perancis yang senantiasa dikomandoi oleh chef asli dari negerinya. Satu tahun terakhir ini Riva tengah dipimpin oleh seorang Mickael Dovan, chef muda Perancis berdarah Korea-Vietnam yang sebelumnya malang melintang di berbagai restoran berprestise seperti Le Cinq – Four Seasons Hotel George V di Paris di bawah Eric Briffard, serta para chef kenamaan lainnya seperti Jean-François Piège dan Bernard Pacaud. Di bawah kepemimpinannya, saya telah menikmati berbagai sajian kreatif dengan gaya klasik yang selalu menggiurkan setiap saatnya.

The Park Lane - Cafe One The Park Lane - Riva The Park Lane - Stix

Selain itu menu-menu kuliner internasional dapat dinikmati di Café One selaku all-day dining restaurant dari hotel ini serta terakhir adalah Stix sebagai lounge dengan fitur live music merangkap steakhouse yang menyajikan beragam steak lezat dengan kualitas tinggi. Yang patut diperhatikan adalah betapa bertaburannya Jakarta dengan berbagai hotel bintang lima namun hanya segelintir pemain yang berani meramaikan kancah bisnis kuliner dengan mengedepankan tema-tema spesialisasi seperti masakan Perancis, Italia, Jepang, maupun China. The Park Lane bersama Riva khususnya tentu harus berbangga dengan kontribusinya dalam kompetisi dunia kuliner yang semakin marak di Jakarta.

=====

Sebagai tambahan, beberapa inisiatif menarik yang telah dijalankan seperti program ramah lingkungan serta penambahan kelas Junior Suite juga merupakan langkah tepat yang mensinergikan semua keunggulan yang telah lama dimiliki hotel ini.

Sulit untuk membantah kepuasan yang saya dapat ketika bertandang ke hotel ini. Kebersihan yang terjaga baik, servis yang cepat dan ramah, berbagai pilihan kuliner menggiurkan, dan terutama prospek menarik yang menanti setelah berbagai pembaruan ini dijalankan rasanya tidak sulit untuk melihat bahwa The Park Lane tetap akan bertahan sebagai salah satu pilihan menginap bintang lima terbaik di Jakarta.

—–

The Park Lane Jakarta

Jalan Casablanca Kav. 18
Jakarta 12870, Indonesia
tel: (62-21) 828 2000
fax: (62-21) 828 2222

http://www.parklanejakarta.com/

—–

Images courtesy of The Park Lane

TGA Guest Post: What Type of Food Blogger Are You? (by: Culinary Bonanza)

Hi there! As you can see, this is probably something which is quite rare to be published on my blog. First of all, it’s not about my recent experience of food tasting, interview, or anything related to that. Secondly, this came from a good friend of mine who happens to be a kewl food blogger (Culinary Bonanza).

This post conveys what I feel as well about the blogosphere of foodies especially in Indonesia nowadays. But safe to say though, this is just for fun. So might as well read it and enjoy the grins! 🙂

By the way, thanks for the article Ellyna!

—–

What Type of Food Blogger Are You? (by: Culinary Bonanza)
http://culinarybonanza.blogspot.com/2013/03/what-type-of-food-blogger-are-you.html

Food blogger (noun): a person who eats, snaps photos of food and drinks, then share it publicly on social media and a blog(s) in the form of “reviews”.

Food bloggers come in all sizes, shapes, looks and background. In Indonesia alone, I can see a pattern among my fellow food bloggers, and out of boredom, I’m writing this post about my observation. Disclaimer: this is purely for fun and exaggerated for an extra punch and it is by no means intended to mock anyone I know. Please read ahead if you’re the type who can laugh at your own follies, but if you’re an HSP (Highly Sensitive Person), I’ll advise you to close this tab immediately.
So, the big question is:
—–
1. The Purists
The food blogger royalties; the Volturi clan in Edward Cullen’s worldPurists started out using blogging platforms and never joined member-generated-content food guide websites such as this or this. You did not start out blogging to get recognised by other members or to win prizes. Deep down, as the ‘revered’ ones in the community, you are secretly proud of yourself and feel piqued by the misbehaviour of other food bloggers or food-blogger-wannabes who you deem are tarnishing the group reputation.

You have a moral obligation to stay true to your calling; food tastings / tryouts will not buy your positive review. On the other hand, you are wise enough to know that people (especially in Indonesia) cannot take criticism, so you play nice. Occasionally, you would show up at events / invitation by restaurants. You filter the invitations, because you are bombarded with those; you will only show up IF you know the owner/whoever invited you or IF it’s a premium restaurant / event. You roll your eyes in exasperation looking how some newbies or free riders suddenly claim to be food bloggers just to get invitations to food tastings.

2. The Graphic Geeks
Foodies who own gadgets that’ll cost someone’s annual salary.

You take mouthwatering photos that look as if the food is jumping out of the screen straight to your face. Being photography literate, you are very particular about the angle, lighting, arrangement & setting of your subject. If possible, you’ll even have the salmon tilt at an angle and pose for you. Usually, you’re always the last to finish taking photos, because you’ll go all the trouble to move your plate by the window or ask someone pick up the dumpling or tear the bun apart, so u can capture the most delicious moments.

Your blog receive visitors who droll on your Martha Stewart-worthy pictures, but they can’t be bothered to read your story, which is exasperating. “Excuse me, I’ve commented on the taste right after the photo, did you not read it?!”

3. The Hunters
Quizzes, vouchers, giveaways, coupons are your breakfast, brunch, lunch, tea time, supper and dinner.

You go to sleep and wake up, watching your social media timeline just to make sure that you are the first to know / hear about a contest. After all, the  early bird (usually) gets the worm, no?
This class of food bloggers can be further divided into sub-classes:
– Lucky hunters (always win without much effort)
– Persistent hunters (you work hard to win; sometimes you win, sometimes you lose)
– Shameless hunters (Travel quiz? Giveaways? Tweeting competition? Science trivias? Bring it on!)
You follow almost every restaurants, promotional news, discounts on all social media. Doesn’t matter if you are using the internet connection at the office (so long as the boss doesn’t know!).
4. The New Converts
Who finally realize that they’re better than the folks who copy-paste reviews from other blogs.

You can never become a Purist, because you have an (embarassing) past. But that’s where you started from and since you take pride in your work (they are decent, after all), you choose to convert to a proper food blogger. Of course, the community welcomes you, as long as you’ve never reproduced other people’s work illegally or write a review about mint-glazed Dunkin Donut in 5 paragraphs. Oh yes, you still attend their gatherings and have won the cool prizes from their competitions, we’re talking about prizes like iPad, DSLR cameras and MacBook,  folks…(I wonder who sponsor these websites? Can you sponsor mine too?)

5. The Newbies
Hello there, my blog is xxx, can we exchange links please?

You aggressively drop comments at others’ blogs & hoping (or sometimes explicitly ask) for a return visit. You request to exchange links, which is sometimes welcomed with warm hand, but other times ignored on purpose (ugh, those snob Purists!). A newbie checks the stats every now & then and will do anything to get the page visits hike up. Some also like to mark the “milestone” of the blog by self-congratulatory note of Nth page visits.

Um, will you ever upgrade? Yes you will. When someone else asks to exchange links with you, that’s when you know that you have ‘graduated’ from the Newbies group.

—–

So, did you have fun laughing at yourselves? I certainly had fun writing this and I’d smirk every now and then, remembering the same things I (used to) do or did. The point is, does not matter which group you think you fall into, you are still a food blogger. It’s a challenging hobby that requires a serious commitment and investment (a digital camera no matter how cheap, still costs money!). You deserve a pat on the back for all the commitment you have dedicated so far. Cheers! =)
Chelsea Handler – “Laugh loudly, laugh often, and most important, laugh at yourself.”