Food Blogging: Hobby, Idealisme, Jurnalisme Tentang Rasa (Fimela – September 21, 2012)

My thanks to Fimela.com and Mr Stanley Dirgapradja for the brief but meaningful phone interview last September. Hereby I wish to share you all the article here and this is definitely a milestone for me to keep on pursuing my passion in writing and to share it with you all.

—–

FOOD BLOGGING: HOBBY, IDEALISME, JURNALISME TENTANG RASA

By: Stanley Dirgapradja

Beberapa tahun terakhir blogging sudah menjadi bentuk media segar di mana siapapun bisa menulis tentang apapun yang mereka inginkan. Fashion blogger perlahan diperhatikan oleh media lain yang lebih serius. Di luar sana, blogger-blogger itu juga menulis tentang hal lain, termasuk makanan.

Menarik untuk melihat pesatnya perkembangan media saat ini. Beberapa tahun lalu, tidak ada yang menganggap serius apa yang ditulis oleh para blogger. Menganggap mereka hanya sekumpulan hipster yang menemukan mainan baru dan isi blog mereka hanya curahan hati tidak penting. Now? Tidak seperti itu lagi.

Saat ini sudah banyak fashion blogger yang menjadi referensi media besar dan bahkan menjadi konsultan untuk media-media tersebut. Bagaimana dengan counterpart mereka? para food blogger. Sama halnya seperti fashion blogger, hanya saja mereka menulis tentang makanan di blog mereka.

FIMELA.com berbincang dengan Rian Farisa. Rian memiliki food blog gastronomy-aficionado.com (sebelumnya bernaung di domain wordpress) dan sedang merintis sebuah blog lain yang diharapkan mampu menaungi food bloggers (fbiters.wordpress.com) lain di tanah air.

Rian mengaku ‘baru’ menjadi food blogger selama 3,5 tahun terakhir. Laki-laki yang memiliki latar belakang pendidikan di bidang perbankan ini awalnya hanya menulis blog sebagai hobi. “Saya suka menulis. Saat itu memutuskan untuk menulis blog dalam bahasa Inggris karena keinginan pribadi saja. I have other blogs about my other interests, tapi food blog ini juga saya tangani dengan serius,” jelas Rian yang kami hubungi via telepon.

Rian ingat bahwa restoran pertama yang ia review adalah sebuah restoran Jepang di daerah Sudirman, di dekat kantor lamanya. ”Sekarang sudah tutup. Dan sudah saya cantumkan di blog saya juga kalau restoran itu sudah tutup,” cerita Rian sambil tertawa.

Rian mengatakan dari awal memulai blog ia sudah ingin agar tulisan yang ia pakai di blognya tetap memenuhi standar jurnalisme, tapi juga tetap kasual. “Blog harus punya ciri khas pribadi pemiliknya. Standard proper writing, but with personal touch. Dulu banyak yang bilang review makanan saya lebih nyinyir, tapi setahun terakhir malah pada nanya kok nggak nyinyir lagi,” Rian tertawa di ujung kalimatnya.

Food blogger sudah pasti harus suka makan. Malah kalau kita bertemu food blogger yang makannya cuma sedikit kita merasa aneh,” dia tertawa lagi. “Pengalaman tentunya akan membantu kita untuk semakin artikulatif dalam menulis. Jadi tulisan kita juga semakin berkembang. Masalah jam terbang dan juga aktivitas di blog.”

“Lima tahun lebih yang lalu sudah ada food bloggers sebenarnya, tapi memang sangat sedikit. Social media platform juga belum ada, jadi tidak banyak interaksi. Setahun terakhir jumlahnya semakin banyak, makanya saya dan teman-teman menginginkan supaya ada wadah ini. Konsep ke depannya masih harus kita bahas, tapi paling tidak semua sudah memiliki arah yang jelas bahwa komunitas food blogger ini ingin kita seriuskan,” jelas Rian yang akhirnya memilih untuk meninggalkan pekerjaannya di bidang perbankan dan menjadi full time blogger/writer.

Sudah seserius itu sampai meninggalkan pekerjaan hariannya? “Aktivitas semakin banyak dan rasanya mustahil membagi waktu dengan pekerjaan menulis saya,” aku Rian yang sesekali menjadi kontributor (tetap untuk makanan) dan beberapa kali muncul di Televisi dalam kapasitasnya sebagai food reviewer. Rian sudah menyikapi food blog nya secara profesional sejak tahun 2010. Saat ia mulai menerima undangan-undangan untuk me-review makanan di restoran dan blog nya semakin banyak dibaca orang.

Secara pribadi Rian menjadikan Sam Sifton, seorang kolumnis di New York Times. “Tulisannya tentang makanan panjang, tapi punya style. Tulisannya renyah, tajam, tapi tetap dekoratif. Saya banyak belajar dari tulisannya.”

Being acknowledged is nice. Bukti bahwa tulisan kita diapresiasi. Tapi saya nggak ingin kehilangan kepribadian saya. Kalau ada blogger yang menulis dan dibayar itu sudah ranah yang sangat pribadi. Itu terserah mereka. Sekarang bukan hanya restoran yang melirik kita untuk datang dan menulis tentang makanan mereka. Resorts juga sudah aware akan keberadaan food blogger,” papar Rian yang baru kembali dari Marina Bay Sands juga atas undangan sebuah resort di di sana.

“Saya memilih untuk fokus dengan pekerjaan menulis saya karena akhirnya saya bisa memiliki waktu lebih untuk keluarga saya. Saya juga bisa menulis apa adanya dan berkesempatan untuk lebih belajar tentang tulis menulis,” lanjut Rian lagi. “Tentunya kita senang saat media yang lebih besar sudah memperhatikan kita dan apa yang kita tulis. But the bloggers have to keep their standard, live up their passion,” tandasnya.

Hanya bersenjatakan notebook dan kamera atau perangkat handset buat Rian cukup untuk menulis review sebuah hidangan. “Saya juga selalu me-refresh tampilan blog ini. Saya akhirnya membeli domain khusus dan tiap beberapa waktu mengubah layout.” Tampilan paling akhir blog miliknya sudah mengadopsi layout kebanyakan situs media sekarang ini.  Latest updates sudah menjadi highlight dengan teaser sendiri.

“Saya juga nggak menyangka semua akan jadi seperti sekarang ini. Food blog ini menjadi portfolio berjalan saya. Saya masih menulis yang lain juga, di mana saya mendapatkan honor. Kini blog saya nggak hanya tentang review makanan tapi juga bisa wawancara dengan chef, food product review. Sudut pembahasan tentang kuliner itu sendiri terus berkembang. Keterbukaan pada kreatifitas akan membuka sudut pandang baru.”

Saat ini, menurut Rian, food bloggers ada yang fokus pada review (tulisan) tapi juga ada yang lebih menyenangi food photography sehingga review makanan pun porsinya lebih sedikit. “It’s quite a journey,tergantung tiap penulis lebih menyukai style yang mana – lebih banyak foto atau lebih banyak tulisan, and being acknowledged in the end is definitely a privilege.”

—–

Link: http://www.fimela.com/read/2012/09/21/food-blogging-hobby-idealisme-jurnalisme-tentang-rasa

Advertisements

2 thoughts on “Food Blogging: Hobby, Idealisme, Jurnalisme Tentang Rasa (Fimela – September 21, 2012)”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s