QuikSkoop™: Happy Falafel

A catchy name and an alien dish for me. While I prove myself not prone to catchphrases but certainly I cannot resist the temptation whenever I hear of Middle Eastern delight namely falafel. The name of the establishment may sound ridiculous, Happy Falafel, but still a temptation nonetheless.

I was strolling around Caplak Tanduk street to search for the secret way and get myself straight to Drupadi street up to Mama San by just walking. It was a ridiculous attempt until finally I had to succumb by choosing taxi as my final means of transportation. Meanwhile, another pressing matter required a swift respond – my wife’s growling stomach. You might find plenty of choices around that street but then again, one must feel comfortable with it. So where to now since Warung Italia was a bit too far and it had to be nearby our hotel (Fave Hotel), so then I can rush for the appointment with ease?

Then came.. Happy Falafel! Oh dear..

With a neat and fresher appearance than its neighbors and moreover, offers intriguing dishes, I convinced my wife right away to choose this place for a quick dinner. Instantly we opted for a sandwich falafel and it came to hit us hard with its enormous size. For the fillings, Happy Falafel is more than happy to serve you plenty of choices from its salad bar. Clearly the falafel meatballs were the most important part of the sandwich and to accompany those lots, we picked couscous, carrots, hummus, cabbages, bell peppers, with yogurt.

Rich and deserving I suppose?

Not really, especially with non-vegans like us. It felt just like eating salad but with a strange sauce and unusual vegetables. Clearly an adventure for both of us but I expected the falafel could be more appetizing than that. Even so, a comparison study will make a fairer judgment even though I have to go as far as Al Quds!

Falafel Sandwich

The best part probably was the carrot with its distinctive taste and crispness but if that’s the reason why, seriously, it didn’t feel as if I’m wholly enjoying the traditional Middle Eastern food.

In all, it was still quite a decent appetizer but evidently with that size alone my wife was still craving for more! For those of you who doesn’t like falafel, there’s no need to worry. Plenty of other dishes available and mostly they’re quite healthy. Pita bread, sandwiches, and not to forget the lassi for a fresh ending.

As for me, I got the chance to know a bit more about the exotics and rarities you won’t find that easy back in Java.

———-

HAPPY FALAFEL

Halal-friendly (pork dishes and liquors available)

Suitable for vegetarians

Wi-fi available

Address: Jalan Caplak Tanduk, Seminyak – Bali

Opening Hours: Daily, TBA

RSVP: TBA

BB Pin: N/A

Email: N/A

Website: http://happyfalafelbali.com

Facebook: Happy Falafel Bali

Twitter: TBA

Atmosphere: Relaxing but may be a bit humid since they only provide fans, but it’s Bali! People love getting sweaty!

Ambiance: A vibrant street in front of the cafe but not inside.

Service: They will just warm up the bread and the rest is up to you baby!

Pricing: Around IDR 100,000 for two.

———-

Restaurant Review: Kahyangan (Teppanyaki)

Kiprah Pullman Hotel yang menggantikan Hotel Nikko di kawasan Bundaran HI yang merupakan lokasi prestisius di Jakarta ini tentu diikuti dengan akuisisi salah satu restoran paling terkenalnya. Siapa yang tidak mengenal Kahyangan? Sebuah restoran dengan sejarah panjang dan reputasinya yang legendaris.

Menempati lantai 28, 29, dan 30 di Wisma Nusantara dengan pemandangan luas ke seluruh penjuru Jakarta memang merupakan daya tarik tersendiri dari Kahyangan. Ternyata bukan tanpa alasan memang Kahyangan dipilih sebagai nama tempat ini. Bahkan nama Kahyangan yang kurang lebih diartikan sebagai ‘negeri di langit’ saja cukup untuk membuat sebuah imej yang berkelas dan menarik untuk ditelusuri.

Ternyata yang saya temukan adalah sebuah tempat yang sulit dicarikan pesaingnya di Jakarta meskipun di tengah tren sky lounge atau sky dining yang sedang marak. Meskipun kini telah berusia 39 tahun, Kahyangan tetap memertahankan berbagai ciri khasnya sebagai restoran dengan suasana formal dan konservatif. Sedianya memang Kahyangan secara tradisional dikenal sebagai restoran khas Jepang yang berspesialisasi di masakan shabu-shabu, namun kali ini saya berkesempatan untuk mencicipi restoran teppanyaki-nya yang baru-baru ini diresmikan.

Dengan mengutamakan berbagai bahan makanan dan bumbu-bumbu berkualitas tinggi serta didatangkan dari manca negara serta didukung oleh pengalaman segudang Chef Hidemaro Hodaka yang sudah 35 tahun mendedikasikan dirinya untuk Kahyangan, rasanya siapapun tidak akan sabar akan apa yang akan disajikan pada pengalaman kuliner kali ini.

Paket fine-dining saya siang itu dimulai dari zensai atau yang biasa kita kenal dari istilah Perancis sebagai hors d’oeuvre yakni menu pembuka yang biasanya berukuran kecil dan biasanya berubah setiap harinya tergantung dari kreasi sang chef. Setelah merasakan kreasi nikmat berupa semacam kroket salmon, lalu selanjutnya adalah sajian lazim yakni salad sayuran dengan saus yuzu yang masam segar dan dilanjutkan lagi dengan sebuah sup krim kembang kol bergaya fusion dengan taburan telur ikan berukuran sangat kecil sehingga memperkaya tekstur yang lembut gurih tersebut dengan kerenyahan telur tersebut.

Sembari menikmati menu pembuka tersebut, datanglah sang teppanyaki chef yang akan memasak berbagai hidangan berikutnya. Membayangkan live cooking seperti ini saja rasanya sudah menggiurkan apalagi menyaksikannya. Di Benihana, salah satu teppanyaki franchise restaurant asal Amerika Serikat, justru mengandalkan chef-nya untuk beratraksi dan menghibur pengunjungnya ketika memasak, namun di Kahyangan rasanya tidak perlu seperti itu. Dengan kombinasi skill memasak yang apik, menu yang menggoda, dan suasana romantis yang berlukiskan panorama kota Jakarta tentu sudah lebih dari apa yang kita harapkan.

Apalagi ketika mengetahui bahwa hidangan selanjutnya adalah foie gras atau hati angsa yang ditumis dan digabungkan dengan buah pir, zucchini atau timun Italia, serta saus balsamic teriyaki asam gurih serta saus buah cranberry yang manis segar. Tidak cukup di situ saja, sang chef melanjutkannya dengan lobster Kanada segar yang didampingi oleh rumput laut, paprika, dan saus yang dibuat dari bulu babi yang merupakan salah satu bahan makanan yang eksotis dan biasanya mahal. Lobster segar memang tiada duanya, khususnya karena rasa segar manisnya yang ditambah pengolahan tepat yang membuatnya semakin nikmat. Saus bulu babi-pun terasa gurih dengan aroma dan rasa khas yang jarang didapatkan dari bahan manapun. Sebagai saus atau condiment tambahan, Kahyangan juga menyediakan wasabi, saus ponzu, serta garam yang berasal dari Himalaya. Semakin eksotis saja rasanya pengalaman makan di sini!

Sebelum menghampiri menu pamungkasnya, sorbet dari jeruk limau disajikan terlebih dahulu untuk menyegarkan indera pengecap dari berbagai hidangan sebelumnya. Cukup menyegarkan rasanya mengingat bahwa selanjutnya saya akan menjajal daging sapi wagyu dengan tingkatan marbling di level 9+. Sayangnya saya tidak berkesempatan mencicipi daging sapi dengan varian yang lebih eksklusif lagi yaitu jenis wagyu dari provinsi Ohmi dikarenakan permintaan yang selalu tinggi dari para pengunjung Kahyangan.

Wagyu yang tersaji diiringi penampilan cantik dari saus barbeque beserta sayuran warna warni yang memesona. Ada warna oranye muda dari baby carrot yang tampil dengan cantik, ada warna kuning dari squash yang renyah, jamur yang berwarna kegelapan, bawang putih tipis yang digoreng gurih, serta warna hijau sayuran lainnya. Tentunya tingkat kematangan medium saya pilih untuk mencari jati diri sang daging dalam keadaan derajat aman namun juga tetap juicy. Sungguh hasil yang luar biasa, apalagi ketika sebagai penutup disajikan semangkuk nasi goreng yang menggunakan beras Hitomebore yang berkualitas tinggi serta sebagai pendampingnya adalah sup dari bagian lobster yang tersisa. Rasa gurih menyeruak dari kedua penutup tadi. Fantastis!

Untuk dessert-nya tentu telah dipersiapkan banana flambé yang legendaris. Dengan teknik memasak unik dan pisang yang dibubuhi kayu manis serta es krim vanilla, rasanya pengalaman hari itu lengkap sudah serta penuh dengan kesan manis. Pelayanan prima, hasil memasak yang nyaris sempurna, serta suasana yang nyaman dan indah memang mampu mencuri hati siapapun yang datang ke Kahyangan. Bahkan konon banyak sekali para tokoh terkenal dari selebritis hingga para pembesar sering berkunjung ke Kahyangan untuk mencari suasana tenang serta tentunya keinginan mencicipi makanan yang luar biasa. Sungguh layaknya seperti berkunjung ke negeri idaman dari tepian langit nun jauh di atas sana!

Dengan bahan-bahan yang telah disebutkan saja bisa disimpulkan bahwa Kahyangan memang mencari kualitas terbaik dari bahan-bahan yang didapat dari seluruh penjuru bumi. Mungkin alangkah baiknya ini juga bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk suatu waktu dapat berkontribusi dalam memajukan hasil produksi dalam negeri kita sehingga bisa lebih bersaing secara kualitas serta dapat memenuhi juga kebutuhan semua lapisan masyarakat. Jujur saja bahwa pengalaman dari Kahyangan yang membahagiakan ini telah membawa tingkat apresiasi saya terhadap makanan dan kualitasnya menuju jenjang yang lebih tinggi lagi.

———-

KAHYANGAN (Teppanyaki)

Halal-friendly (please check if there’s any alcohol on the ingredients used for cooking and please note that alcohol is also served as beverage here)

Some menu are suitable for vegetarians

Address: Wisma Nusantara 28th fl., Jl. MH Thamrin, Jakarta

Opening Hours: Daily 11.30 am – 2.30 pm & 6 pm – 10 pm

RSVP: 021 – 3190 7012

BB Pin: N/A

Email: N/A

Website: http://www.pullmanhotels.com/gb/hotel-8491-pullman-jakarta-indonesia-formerly-hotel-nikko-jakarta-/restaurant.shtml

Facebook: N/A

Twitter: N/A

Atmosphere: The sky high shabu-shabu and teppanyaki fancy restaurant with fantastic view of Bundaran HI and Jakarta!

Ambiance: Pristine with relaxing classic Chinese tunes. Wait.. What?

Service: Full of patience and precision.

Pricing: Around IDR 2,000,000 – IDR 3,500,000 for two

———-

Pictures courtesy of Pullman Hotel Thamrin & Kahyangan Restaurant

Restaurant Review: Downtown Bistro (Kabare, July 2012) [CLOSED]

Kiprah Penuh Kreasi ala Downtown Bistro

http://kabaremagazine.com/2012/07/kiprah-penuh-kreasi-ala-downtown-bistro/

Bagaimanakah bila beberapa mahasiswa kreatif dan passionate bersama-sama mewujudkan impian dari pengalaman kuliah di mancanegara? Hasilnya, sebuah restoran baru dengan nama Downtown Bistro yang digarap berdasarkan idealisme dari keempat pemiliknya serta tercermin jelas dari penampilannya yang klasik dan makanan yang lezat.

Meskipun menempati sebuah gedung perkantoran lama, namun tidak dapat disangkal nilai strategis letak Downtown Bistro ini bagaikan ladang emas. Bayangkan saja penempatan brilian Landmark Building, tempat dimana bistro ini berada, begitu dekat dengan dua jalan utama yaitu Sudirman dan Kuningan serta ditopang oleh beberapa jalur arteri, jalur Transjakarta, serta stasiun KRL Sudirman.

Dengan berbekal pengalaman kuliah di Amerika Serikat, Monico Lim dan kawan-kawan membangun sebuah restoran yang tidak hanya menekankan rasa makanan atau minuman saja namun juga menerjemahkan kultur Amerika dan menyampaikannya secara utuh dan indah. Terlihat jelas pada kedatangan saya malam itu bahwa Downtown Bistro tidak didesain secara asal-asalan. Segala sesuatunya dirancang dan dipesan secara khusus. Mengenai ini Monico khusus mencatat, ‘Kita ingin menampilkan gaya restoran Amerika di era 1960an’, dan seolah pikiran saya melayang teringat pada sinetron Amerika berjudul Mad Men dan betapa classy-nya masa itu.

Downtown Bistro menyajikan penampilan layaknya perpustakaan dengan pencahayaan temaram serta begitu banyak cermin kehitaman yang seolah tua karena waktu terpasang di seluruh langit-langitnya. Selain kursi meja dan sofa café yang didesain khusus dan membuat nyaman, Downtown Bistro juga menampilkan meja-meja panjang ala perpustakaan klasik yang dilengkapi dengan lampu serta soket listrik khusus untuk memanjakan pelanggannya yang notabene gemar berinteraksi di dunia maya. Langsung saja terbayang nyamannya bekerja selepas waktu brunch setelah menikmati berbagai sajian big breakfast ala Barat yang tersedia di sini, yang ditemani secangkir kopi dari mesin La Marzocco yang berkelas serta hembusan angin sepoi-sepoi dari terasnya yang luas nan cantik.

Perkara memilih musik yang diputar juga bukan sembarang hal bagi Downtown Bistro. Ada masa santai ketika mereka memutar lagu-lagu jazz klasik untuk pagi dan siang hari namun ketika kegelapan menyelimuti bumi, Downtown Bistro langsung mengubahnya menjadi suasana yang upbeat namun tetap hangat dengan playlist berisi lagu-lagu beraliran deep house atau nu-jazz. Dengan latar belakang ini saja sudah cukup untuk menilai bagaimana Downtown Bistro menyulap sebuah sudut dari gedung perkantoran tua ini menjadi sebuah café yang nyaman sekaligus menawan.

New York Breakfast

Lalu bagaimanakah cerita perjamuan makannnya? Sungguh luar biasa!

Dimulai dari semangkuk mushroom sauce dengan kegurihan yang pas dan tekstur yang velvety dilengkapi aroma dan ketajaman khas dari truffle oil. Lalu dilanjutkan dengan kepiawaian dan paduan mengejutkan dari racikan pesto segar dan escargot dengan pasta jenis linguine. Itu saja sudah sedemikian menggoda untuk ukuran hidangan pembuka.

George Sandwich

Namun jangan sampai melewatkan spesialisasi dari Downtown Bistro berupa panganan khas Barat seperti turkey sandwich yang dilumuri saus cranberry serta didampingi coleslaw segar dan French fries berbumbu untuk sebuah kudapan yang casual. Selain itu berbagai hidangan dengan imbuhan ‘George’ juga sangat layak untuk diperhatikan seksama. Monico kembali berujar bahwa, ‘Kami menggunaan kata George untuk makanan andalan kami. Tentunya ini berasal dari kata George Washington yang dianggap sebagai nama besar di Amerika sana’.

The George Steak

Tentunya itu berlaku bagi hidangan utama George steak berupa daging sapi panggang dengan temperatur medium yang berpadu nikmat dalam setiap kunyahannya yang rasanya tanpa sauspun sudah sangat menggiurkan. Uniknya Downtown Bistro menggunakan saus balsamic reduction yang ditambah rasa manis dari kecap sebagai sausnya. Untuk penutupnya tentu tiada lain adalah George pie yg terbuat dari apel. Bayangkan sebuah potongan besar yang bisa dinikmati berdua dengan pasangan anda ditambah dengan rasa manis dari es krim vanilla.

The George Pie

Ternyata perjalanan dari awal hingga akhir saja sudah begitu menggelora tetapi Downtown Bistro ternyata masih menyimpan banyak kejutan. Pertama adalah beragamnya menu breakfast dan brunch khas Barat dengan ciri khas berbeda. Misalnya menu New York breakfast yang terdiri dari dua egg Benedict, bacon, rosti, dan tomat serta jamur atau varian ala Paris dengan French toast lembut dan wangi dari kayu manis bersama maple syrup serta buah-buahan dan bacon. Jangan lupa untuk bertualang dengan menu makan pagi ala London serta Frankfurt juga di sini.

Sticky Toffee Date Pudding

Tren menikmati kopi juga menjadi satu hal yang tidak luput menjadi peluang bisnis bagi Downtown Bistro. Mengingatkan saya dengan counter kopi di Monolog Coffee Plaza Senayan, Downtown Bistro juga berinvestasi untuk menciptakan hal serupa. Dengan mengandalkan para pengunjungnya yang rata-rata adalah pekerja kerah putih yang sibuk, maka Downtown Bistro tidak lupa menyiapkan kemasan untuk take away. Namun yang perlu dicatat adalah rasa kopi yang tersedia di sini justru terasa masam ketimbang rasa pahit yang menjadi ciri khas kesukaan orang Indonesia.

Sungguh Downtown Bistro sudah memunculkan dirinya sebagai one stop dining place yang tangguh. Tidak hanya para anak muda ini berusaha untuk tampil idealis dan perfeksionis, mereka juga mencoba untuk memahami selera dan keinginan para penikmat makanan serta kopi di Jakarta dengan mempersembahkan sesuatu yang baru sekaligus idealis. Dengan modal besar dari segi materi maupun non-materi, tentu saya berharap banyak dengan konsistensi dari Downtown Bistro hingga jauh lama ke depannya. Tapi yang dapat dipastikan, saya akan segera kembali menikmati apa yang sudah saya cita-citakan sebagai quality time saya di sana. Makan pagi yang nikmat, secangkir kopi hangat, dan percakapan seru dengan keluarga serta teman-teman terdekat.

———-

DOWNTOWN BISTRO

Halal-friendly (some of the menu contains pork and many beverages comprise of liquors)

Some menu suitable for vegetarians

Address: Landmark Building, Jl. Jend. Sudirman No. 1, Jakarta

Opening Hours: Daily 7 am – 11 pm (will open for weekends after June 23, 2012)

RSVP: 0821.1000.3000

BB Pin: N/A

Email: info@downtownjkt.com

Website: http://downtownjkt.com

Facebook: Downtown Bistro

Twitter: @downtownjkt

Atmosphere: A glimpse of life from Mad Men era, with classic library interior and cool gimmicks from St. Louis collection of Hermes and a surprise in the toilet.

Ambiance: Jazzy baby jazzy!

Service: Helpful while the owners are also around, so you can pretty much complain should anything happens.

Pricing: Around IDR 200,000 – IDR 300,000 for two

———-

Featured in Kabare (July 2012)

Pictures courtesy of Downtown Bistro