FCK™: Fish & Co. (Hang Out Jakarta, April 2012)

Fish & Co. tentu bukan nama yang asing lagi di Jakarta dan Surabaya. Bisa jadi karena kehadirannya, semua orang kini sudah mengenal baik istilah ‘fish and chips’. Setelah pemunculannya selama sekian tahun, HOJ kini mencari tahu bagaimanakah konsistensi dari franchise brand asal Singapura ini.

Pertemuan pertama saya dengan Fish and Co. terjadi beberapa tahun silam di salah satu outlet-nya di Pacific Place. Tentunya menu waktu itu belum seberagam seperti sekarang ini tapi tetap yang harus dipesan adalah hidangan fish and chips yang paling tradisional. Rasanya saat itu tentu begitu memesona dan apalagi di kala lapar pasti porsi sebesar itu dapat dihabiskan hingga licin tandas.  Tapi bagaimanakah dengan Fish and Co. yang sekarang?

Ternyata teori pribadi saya bahwa lidah adalah ‘pengkhianat terbesar’ dalam seumur hidup seorang manusia memang benar adanya but rest assured, tentu bukan karena bahwa Fish and Co. mengalami kemerosotan rasa apalagi kualitas. Justru ini terjadi lidah manusia umunya seiring berjalannya waktu kian ‘terasah’ dan untuk pecinta makanan, sudah sangat alami untuk menuntut sebuah rasa yang lebih menantang atau bahkan kompleks.

New York Fish & Chips

Kali ini yang dipesan tentunya sama tapi fish and chips di Fish and Co. sudah terdiri dari beberapa varian yang disesuaikan dengan karakteristik berdasarkan negara. Perbedaannya lebih terdapat pada isian ikan tersebut yang menggunakan jenis keju yang berbeda, tapi tentu default-nya berada pada pilihan New York Fish & Chips yang menggunakan isi keju parmesan pada ikannya yang dibalut tepung renyah serta disiram dengan saus lemon butter. To make it even more colorful, pendampingnya kali ini kita bisa memilih antara french fries, mashed potato, atau paella.

Tapi untuk sekaligus menjajal ‘semua’ yang dimiliki oleh Fish and Co., pilihan yang paling bijak tentunya adalah seafood platter dimana terdapat tambahan ikan, grilled squids with ‘black’ spices dan udang dalam satu hidangan sekaligus. Selain itu serunya juga adalah berkesempatan mencicipi paella yang digabungkan juga dengan kentang goreng.

So it’s the verdict time then. Secara keseluruhan semua menu yang tersedia kini semakin beragam dan menarik, selain juga Fish and Co. senang bermain-main pada eksperimen bumbu dan rempah dari berbagai negara. Meskipun secara pelayanan masih menunjukkan pengetahuan baik tetapi mereka tidak ingat untuk memberitahukan sejak awal apa-apa saja menu yang saat itu tidak tersedia.

Seafood Platter for 1

Sebagai contoh ikan halibut tidak tersedia dengan alasan pasokannya sedang mengalami kesulitan. Meskipun bila diperhatikan sebetulnya para pengunjung rata-rata bermain aman dengan memesan fish and chips yang paling standar ketimbang memesan kepiting atau ikan salmon yang harganya terlalu menjulang. Tentu ini bukan menjadi alasan untuk tidak menginformasikan tentang availability produk pada hari tersebut.

Secara rasa sendiri sebetulnya tidak terlalu banyak kejutan dan bersaing ketat dengan pemain lainnya seperti Manhattan Fish Market namun tentu yang didapatkan juga rasanya tidak mengecewakan. Sehingga tidak heran Fish and Co. mampu bertahan sekian lama karena selalu saja ada pengunjung yang ingin big treat or something nostalgic, like me for instance. Dengan budaya menikmati fish and chips dalam takaran ukuran, variasi, dan kualitas seperti yang ditawarkan Fish and Co. ternyata masih cukup langka di Jakarta, bukan tidak mungkin usaha ini akan bertahan sangat lama dan selalu menjadi favorit untuk semua orang.

—–

FISH & CO.

Halal-friendly (not yet certified)
Unsuitable for vegetarians

Address: Various locations in Jakarta and Surabaya
Opening Hours: Mall opening hours
Delivery: N/A
Website: http://fish-n-co.gadingfood.com/
Facebook: FishnCoINDO
Twitter: @FishnCoINDO
Spend: Around IDR 200,000 – IDR 250,000 for two

—–

-Featured in HANG OUT JAKARTA April 2012 edition-

Pictures courtesy of Fish & Co. Indonesia

FCK™: BonChon

Tidak lazim memang menemukan sebuah franchise makanan cepat saji yang berasal dari Korea Selatan di Jakarta ini. Ketika saya mengira-ngira bahwa makanannya tentu tidak jauh dari bulgogi atau Korean barbeque tapi justru yang dibawa adalah ayam goreng!

Kesan modern dengan panel-panel kayu berwarna terang dan ringan, berbagai meja panjang yang bisa menjadi tempat makan bersama-sama with strangers, dan berbagai furniture tidak lazim menjadi simbol baru tentang bagaimana mendesain sebuah restoran fast food. Cukup segar dan unik mengingat banyak restoran cepat saji masih merancang dirinya dengan pakem khas jaman dahulu dan diperbaharui dengan perubahan minor saja.

Dari segi makanan, ternyata BonChon menganut sistem yang sama sekali berbeda dengan ayam goreng Amerika Serikat pada umumnya. Para pembeli diharuskan menunggu beberapa saat agar ayam memang fresh baru digoreng pada saat disajikan. Ini terkait dengan teknik memasak mereka yang menghilangkan lemak menjadikan kulit ayam renyah tapi menjadi tipis.

BonChon memakai bumbu khas Korea yang memadukan soy sauce dengan bawang putih yang menjadikan rasa kulitnya agak manis. Dengan penggorengan langsung saji BonChon tidak menyimpan ayam dalam rak pemanas yang menjadikan ayamnya kering sehingga hal ini mempertahankan bagian dalam ayam tetap segar dan moist.

Konsep penyajiannyapun berbeda. Meskipun tetap menyediakan paket ayam, nasi beserta minuman, originally BonChon mengusung konsep mengkonsumsi ayam lebih terbilang sebagai kudapan sendiri atau beramai-ramai dengan keluarga. Pembeli dapat memilih antara sayap, paha atas, paha bawah atau strips (ayam tanpa tulang) dalam paketan berisi beberapa potong dan kelipatannya. Alternatifnya bisa dipilih juga ikan dory dengan rasa yang sama dengan ayam gorengnya dan tentunya, bulgogi with rice.

Sebetulnya secara keseluruhan BonChon cukup mengundang rasa penasaran saya. Terutama dari rasa ayamnya pun cukup menggiurkan karena citarasanya yang berbeda. Tapi arguably masih belum cukup untuk bisa merubah mindset orang-orang yang telah lama terbiasa dengan citarasa ayam goreng khas Amerika.

Ikan dory sebagai alternatif juga sebetulnya memilki rasa menjanjikan namun pendampingnya yaitu kentang goreng terasa kurang bumbu. Mungkin saja untuk alasan kesehatan atau memang didasari dari resep tradisionalnya dimana BonChon tidak terlalu membumbui layaknya selera Indonesia. Kalau memang mau sesuai selera selalu ada nasi sebagai penggantinya.

Persaingan tentu tidak akan mudah mengingat fast food lain telah bertahan selama puluhan tahun dan telah menanamkan faham yang sudah mendalam di benak  banyak orang. Tapi persaingan yang tidak mungkin dipungkiri adalah fakta bahwa siapapun franchise dari luar negeri harus sadar bahwa ayam goreng khas Indonesia yang memiliki rasa gurih ayam yang telah dibumbui dan sambal kecap tetap menjadi primadona baik yang di jalanan maupun restoran lokal di seluruh negeri.

—–

BONCHON

Halal-friendly
Unsuitable for vegetarians

Address: Various locations in Jakarta and Surabaya
Opening Hours: Mall opening hours
Delivery: +62.21.5000.51
Website: http://bonchonindonesia.com
Facebook: BonChon Indonesia
Twitter: @BonCHon_ID
Spend: Around IDR 50,000 – IDR 100,000 for two

—–

Pictures courtesy of Bon Chon Indonesia

Jakarta’s Coolest Hang Out Joints (Hang Out Jakarta, April 2012)

Looking for cool hang out spots? No worries, HOJ mengumpulkan beberapa tempat seru buat kamu nongkrong, makan, minum, have fun, more laughs, dan pulang dengan senyum tersungging di bibir.

Kali ini HOJ memperkenalkan tempat-tempat baru yang seru dan juga beberapa spot lama yang sebetulnya punya potensi tetapi banyak yang belum tahu or even forgotten. As for the latest trend, Jakarta juga belakangan mulai akrab dengan rooftop lounge atau tempat hang out yang bertemakan eco friendly.

So without further due, here are some fine spots, usual and unusual, that you should try no matter what!

—–

OTEL LOBBY

WHY:

Dark and stylish, Otel Lobby adalah fenomena baru yang sukses dengan hidangan fusion yang seru ala Chef Raj dan surprising drinks courtesy of master mixologist, Mr. Ben Browning. Eat and be merry dengan suasana resto seperti lobi hotel dengan lounge-nya yang memikat and enjoy chill out R&Bs played by the DJ.

WHERE:

Bakrie Tower – South Gate Entrance, Jl. Epicentrum Tengah // 021 – 2994 1324

—–

UNION BRASSERIE, BAR AND BAKERY

WHY:

Easily one of the hottest spots since last year di Jakarta, Union tidak hanya memenuhi kebutuhan dining experience kamu dengan menu-menu handal ala Chef Adhika Maxi, tetapi juga terdapat bakery dengan berbagai panganan kue modern lezat ala Chef Karen Carlotta and most of all the bar, a great place for drinks and hang outs overseeing fountains and vast courtyard. Feel the breeze!

WHERE:

Plaza Senayan, Jl. Asia-Afrika no. 8 // 021 – 5790 5861

—–

LUCY IN THE SKY

WHY:

Suasana hehijauan, udara terbuka and awesome skyscrapers view menjadi daya tarik tersendiri dari Lucy in the Sky yang menjadi simbol baru SCBD. Dengan sederetan menu makanan dan minuman yang kreatif serta cool ambiance-nya, Lucy in the Sky adalah tempat menikmati city lights dengan suasana baru yang asyik.

WHERE:

Fairgrounds (ex-Bengkel) SCBD Lot 14, Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53 // 021 – 5152 308

—– 

SHELTER

WHY:

You got a cool French bistrot downstairs to fill up your palate and head next upstairs for rooftop lounging experience. Dengan pemandangan ke seluruh kota dan suasana Kemang yang santai, Shelter is  a relaxing hang out spots also fueled with cool live music.

WHERE:

Kemang 89, Jl. Kemang no. 89 // 021 – 7179 4538

—– 

FACEBAR

WHY:

Although it’s a covert lair great for chilling out and foreign atmosphere, Facebar sebetulnya bukan nama baru tapi justru lokasinya yang terbilang sentral ternyata masih terbilang misterius. Once inside it’s a different world, bar yang santai, dan dua restoran otentik lengkap dengan native chef of Thai and Indian cuisine.

WHERE:

Jl. Kusuma Atmaja no. 85 // 021 – 3192 5037

—– 

TAPAS MOVIDA

WHY:

Tired of spending your hang out time just drinking with only the usual snacks? How about variety of Spanish tapas and a jug full of sangria? Tapas Movida sebagai salah satu restoran anyar dan terkenal dengan menu-menu khas Spanyol ini memang menyuguhkan sesuatu yang masih jarang di Jakarta.

WHERE:

Jl. Cipete Raya no. 66 // 021 – 751 0851

—– 

CAFÉ ARIA

WHY:

Café Aria is easily a place to satisfy your palate dengang suguhan makanannya yang lezat tapi tapas bar yang buka di sore hari hingga malam menjadi pilihan asyik di tengah kota untuk menikmati bersama minuman-minuman kesukaan kamu. Check out this hip, new establishment right away!

WHERE:

Panin Bank Building, Jl. Jend. Sudirman Kav. 1 // 021 – 739 5828

—–

-Featured in HANG OUT JAKARTA April 2012 edition- (unedited)

The Haute Cuisine Experience: An Encounter with Chef Nicolas Isnard, The Duke of Burgundy

March. A month that still counts as a fresh start for exciting 2012 culinary adventures and nothing is more tempting than enjoying the wizardry of a Michelin-starred chef, Mr Nicolas Isnard. Again, Mandarin Oriental Jakarta hosted an elaborate, ambitious project of inviting Michelin-starred chefs this year and what’s more intriguing than having the last year’s initial success bringer as a start.

I may call it a sheer luck to be the first to experience these tears of joy but I also happened to miss Mr Isnard’s last year performance. Well nevertheless, I and a handful group of journalists were also those among who had the honor of enjoying such privilege this year. I wouldn’t call myself a hardened veteran with my third time feasting upon Michelin-starred quality dishes. It has always been special and full of surprises. I would even resign myself back to rookie and enjoy it all like a child but with enlightened knowledge about haute cuisine.

Some people tweeted my experience still asking about what’s the satisfaction of having small-portioned dishes of skyrocketed price. I simply answered that having the honor of appreciating years of immense culinary background and perfection of these chefs is a great pleasure itself, but the pleasure is even greater by experiencing those attributes shown in beautiful dishes like poetry.

Years of tears and joy together with utmost effort and passion combined and put into the tiny bits of intricate details intertwined from appetizer to dessert. Everything is designed to make us feel every wee bit of it without getting full too early from start to finish. That alone is mastery of cuisine but to make everything also tasty and full of happiness? That’s a work of magic.

My first and second experience with honorable chefs Fabien Lefebvre and Jerome Laurent were fruitful encounters as you may already read in my earlier posts somewhere in my blog and at perempuan.com. Now it’s time for Mr Isnard’s French cuisine of 2012!

The tuna and the foie gras

The amuse bouche namely the tuna pizza was a perfect teaser but it’s actually not a pizza as you may imagine. Mr Isnard’s gently seared the tuna in two ways, a quarter done on one side and the other only as far as three fourth, which is known as unilateral. The tuna then put to sleep upon the beautiful bed of a fresh tomato concasse with shallots as the pillow and the blanket. I then resigned myself to a beautiful combination of sauces with characters like pesto, balsamic vinegar, and the one made from rockets, olives, and a twist of lemon. Colorful and fresh, the amuse bouche teased our senses naughtily and we’re getting ready for the foie gras.

Tuna Pizza

Much to my surprise, Mr Isnard presented a huge foie gras on a pot alongside what he called as forgotten vegetables. It’s actually more like garden vegetables like carrot, asparagus, sweet potato, and even orange but the surprise was that the pot filled with an aromatic consommé and alongside a bone marrow. An ‘ointment’ of parsnip and lime was put on the corner of the pot and will infuse itself inside the broth to deliver a fresh, sour taste of the soup. The foie gras was immaculate and fulfilling without doubt. Though eventually, I had this mixed feeling between a surprise and an unaccomplished expectation. To see how Mr Isnard treated the foie gras in a good, strange way was actually great but since it also looked like vegetables soup, it felt also somehow too familiar.

Foie Gras Pot Au Feu

One thing about Chef Nicolas Isnard’s palate that may be different than most of us, his is strictly acidic and that’s what he really likes. I grew up knowing and enjoying more savory stuffs than others while most Indonesian probably like spicy things. It’s a matter of preference but knowing that, I prepared myself to stumble upon sour stuffs and look what I got so far. I feel refreshed all the time!

The cod and the beef

The third course was arguably my favorite. Though the dish appeared simple but let us not too hasty to judge. The Atlantic cod was chosen for this honor and he treated it like a beautiful mademoiselle. Again, he skillfully cooked the cod in unilateral way and then roasted it with low temperature to seal the soul. Thus we were presented with a moist, juicy, and tender masterpiece from Atlantic Ocean.

Like most French chefs nowadays, overseas influences now injected to their dishes and fused. That made the cod swims upon a sea of Asiatic influence of lemongrass sauce and Middle Eastern hummus puree. This alone already made the dish staged in different level of texture and taste but not forgetting his roots, Mr Isnard gave the acidic flavor from kumquat and cherry tomato.

After all the seafood showcase now’s the time for the beef, which probably a bit anticlimactic. The US tenderloin beef was without doubt wonderful but Mr Isnard combined it with the usual BBQ sauce you regularly consume though a bit different. There’s this sweet taste that worked well with the overall sour flavor. Why picked BBQ sauce? Well, once again, his trademark.

Beef with BBQ Sauce

The sidekicks were exquisite nonetheless and that would be the artichoke barigoule with gnocchi. I even found the gnocchi very good, which actually a rare occasion for me to come across such thing. Name any gnocchi here in Jakarta and I will vouch only from Mr Isnard ever again or a true Italian cook!

The passion fruit and the au revoir

To close the day, Mr Isnard created a solid cream which I thought earlier to be a sorbet since he used passion fruit but it was also not an ice cream. It’s a texture in-between, almost like a pudding but more subtle. Some of the journalists cannot stand the sourness but actually if you happen to mingle it with the milk chocolate, caramel, Jivara ganache and the chocolate emulsion, you will find it very flavorsome.

Passion/Milky

It’s a good way to say goodbye though I still pretty much fond more of Mr Laurent’s dessert last year. To note, the Jivara ganache was too troublesome to consume and one of the journalists even had the chocolate emulsion accidentally squirted to his cloth since the ganache was a bit too sturdy for a cut.

Though it’s only a short visit but I know that Mr Isnard may not be around again next year and I might get a chance to visit his restaurant one day in France. His self-styled acidic palate and the unilateral technique had been an enlightening experience for me especially since French cuisine nowadays adopts more and more of Asian and African influence into it. My gratitude also extends for Mandarin Oriental Jakarta for organizing such interesting event and I’m of course, rooting for the next chef!

Who would that be? Stay tune and book when available!