Restaurant Review: Collage (Hang Out Jakarta, January 2012)

Grup Accor asal Perancis dengan jaringan hotel-hotelnya yang ternama di seluruh dunia kini menghadirkan salah satu upscale brands-nya dengan nama Pullman. Hadir di Jakarta baru-baru ini, Pullman tidak segan-segan membawa kemewahan itu dengan kehadiran Collage sebagai restoran internasionalnya.

Pengalaman memasuki Pullman bisa jadi adalah suatu hal yang tidak lazim. Pada umumnya ketika memasuki sebuah hotel bintang lima, biasanya kita merasakan kesan mewah yang terkadang intimidatif. Lain halnya dengan Pullman yang sengaja didesain dengan suasana kreatif dan casual namun juga masih menghadirkan suasana classy di dalamnya.

Dengan perpaduan gaya antara kontemporer, pop art dan berbagai display hiasan yang tidak lazim untuk hotelnya, tentu Collage sendiripun tidak kalah funky dan dilengkapi dengan open kitchens yang mengetengahkan berbagai sajian kuliner internasional serta sedikit sentuhan ala Jepang, Peranakan, India, dan tentunya Indonesia.

Pimpinan orkestra kuliner dari Collage adalah warga negara Perancis dengan nama Chef Eric Baudru yang berdarah Korea Selatan. Chef Eric meluangkan waktu untuk menjelaskan mengenai masakan-masakannya untuk Collage yang memang banyak dipengaruhi hidangan ala Mediterania yang segar dan banyak menggunakan sea food di dalamnya. Tentu saja demikian, karena kota asalnya adalah Avignon terletak tidak jauh dari Marseilles yang berbatasan langsung dengan Laut Tengah.

Sebagai pembuka, Collage mempersembahkan sushi dan sashimi segar yang bisa dipesan sesuai keinginan. Selain itu tentu berbagai micro food seperti foie gras brulee dan kawan-kawan serta raw oysters mungkin saja justru terlalu tajam dan berat sebagai pembuka karena rasanya yang khas. Alternatively, berbagai macam keju, salmon gravalax, pastrami dan cold cuts bisa menjadi pilihan menu pembuka anda.

Melangkah ke bagian berikutnya tentu akan membuat anda sedikit bingung karena pilihan yang tersedia begitu banyak. Anda bisa melangkah ke bagian Asia Timur yang terdiri atas bebek char siu, dim sum, hingga India dengan roti naan, nasi biryani, dan berbagai pendamping dagingnya dengan assorted chutneys.

Tapi yang menjadi juara dari semuanya adalah justru menu tradisional Indonesia dengan nama nasi bakar yang berisi daging sapi dan beraroma wangi khas rempah-rempah Indonesia. Tentunya yang tidak boleh terlewat juga adalah carving tables dengan grilled shortribs-nya yang telah melewati fase slow cooking selama 72 jam dan berhasil menjadikannya lezat sekaligus lembut dan juicy.

Ternyata bukanlah sebuah pengalaman isapan jempol belaka dengan apa yang akan anda rasakan bersama Pullman Hotel. Selain menikmati sisi artistik hotel ini, suasana belanja lengkap di mall-mall sekitarnya serta pemandangan kota yang menakjubkan, pengalaman di Collage menjadi satu hal yang juga tidak boleh dilewatkan.

Collage

Halal-friendly

Address: Podomoro City,  Jl. Letjen S. Parman Kav. 28, Jakarta

RSVP:

Atmosphere: Funky modern pop art museum turned into hotel.

Ambiance: Conversational.

Service: A five star hotel. You expect more?

Pricing: TBA

Opening Hours: TBA

Twitter: @Pullman_Jkt_CP

Facebook: pullmanjakartacp

-Featured in HANG OUT JAKARTA January 2012 edition (unedited)-

Advertisements

TGA Milestone: The Gastronomy Aficionado in 2011

Ah it’s just an annual survey of how my blog’s doing in 2011 and I wanna thank you guys again for visiting my modest home here. I wouldn’t be here if it weren’t up to you guys!

Thanks again and let’s savor 2012 together! 🙂

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 48,000 times in 2011. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 18 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

The Multicultural MasterChef, Adam Liaw (Hang Out Jakarta, January 2012)

TGA and Adam Liaw

Kecintaannya pada memasak membuat Adam Liaw memutuskan untuk mengikuti audisi MasterChef Australia hampir dua tahun yang lalu. Siapa yang menyangka keputusannya meninggalkan profesi tetapnya sebagai lawyer justru akan membawanya menuju kesuksesan cepat di usia muda setelah menjuarainya?

Waktu bergulir dan berbagai kegiatan telah dilaluinya setelah menjuarai kompetisi tersebut. Selain telah meluncurkan buku memasaknya yang sukses berjudul Two Asian Kitchens, Adam Liaw juga kini tengah mempersiapkan diri untuk membuka sebuah restoran di Jepang.

Portico beberapa waktu yang lalu mengundang Adam Liaw untuk sebuah event selama dua hari dimana ia memasak hidangan-hidangan khasnya untuk 400 pengunjung. Hanya dalam waktu kurang dari seminggu dan tanpa promosi selain lewat Twitter, event ini langsung fully booked dalam sekejap.

Sebelumnya HOJ mendapatkan kesempatan untuk mewawancarainya dalam sebuah press conference yang intimate dan mendengar langsung kiat-kiatnya untuk menjadi seorang ahli masak yang seru dalam kesehariannya serta kisah saat berkompetisi pada MasterChef Australia.

Apa sih konsep dari buku Anda?

Konsepnya sangat personal. ‘Two Asian Kitchens’ terdiri dari dua bagian yaitu New dan Old. Di bagian Old Kitchen, ceritanya mengenai masakan-masakan khas keluarga saya sejak kecil dan juga masakan-masakan favorit saya saat perjalanan saya ke China, Jepang, serta Korea, Vietnam dan Thailand.

New Kitchen bercerita bagaimana pengalaman kuliner saya selama ini berpengaruh langsung ketika saya berada di perantauan. Contohnya ketika saya berada di Jepang, saya yang tumbuh dari pengaruh masakan Malaysia, Peranakan, Chinese, dan juga Australia harus menyesuaikan apa yang saya masak dengan kondisi di Jepang yang memiliki situasi dan bumbu yang berbeda-beda.

Bagaimana tanggapan masyarakat ketika buku Anda terbit?

Banyak respon bagus dari berbagai kalangan termasuk para penulis berpengaruh di Australia. Rencananya dalam waktu dekat ini buku saya akan diterjemahkan ke bahasa Belanda dan akan diterbitkan di Eropa serta Afrika Selatan.

Proses penyusunannya sangatlah menyenangkan. Semua orang yang mencintai makanan akan berharap bisa menulis suatu buku kelak dan saya mendapatkan kesempatan itu. Penyusunannya sangat sulit tapi saya sangat menikmatinya.

Apakah Anda membaca buku-buku masakan lainnya?

Ya dan sangat banyak. Salah satu yang sering saya baca waktu kecil dulu adalah ‘Complete Asian Cookbook’ oleh Charmaine Solomon yang sangat klasik. Tapi favorit saya adalah ‘Cooking Bold and Fearless’ dari sebuah penerbit di California yang saya temukan di toko loak di Jepang seharga satu dollar saja! Diterbitkan pada tahun 1950an saat dimana Amerika mungkin hanya mengenai hot dog dan hamburger tapi justru di buku ini banyak dikenalkan masakan seperti char siu, kari India, sushi, dan teriyaki!

Bagaimana hubungan Anda dengan peserta MasterChef lainnya sekarang?

Callum (Hann) dan saya baru saja bermain sepak bola kemarin. Kami kalah 7-1 (tertawa) dan dia yang menciptakan gol semata wayang itu. Saya tetap berhubungan dengan semuanya sejak MasterChef selesai syuting tapi juga saya menjadi sangat sibuk. Terhitung sejak selesai satu setengah tahun yang lalu, saya sering mengadakan perjalanan kemana-mana seperti baru-baru saja saya kembali dari food and wine Show di Johannesburg, pembukaan restoran di Sydney dan lain-lain.

Apakah pencapaian terbesar Anda selama ini?

Buku saya. Itu adalah mimpi saya sejak kecil. Selanjutnya adalah pembukaan restoran baru saya tahun depan (2012).

Banyak yang bilang MasterChef Australia tidak sedramatis versi Amerika, mengapa?

Karena pada dasarnya kita semua bersahabat di acara itu. Orang Amerika mungkin senang melihat Joe (Bastianich) atau Gordon (Ramsay) meneriaki para peserta atau para kontestan saling berseteru satu sama lain. Tapi di Australia itu berbeda karena kita selalu bersama setiap saat dan saling bersahabat. Tentunya kami tetap kompetitif tapi tidak negatif. Kita berusaha yang terbaik untuk bersaing, bukan untuk menjatuhkan sesama.

Bagaimana kiat menjadi juara di MasterChef?

Belajarlah sebanyak mungkin, apalagi karena saya bukanlah juru masak yang terbaik di awal kompetisi dan begitu juga untuk Callum. Proses syuting acaranya berlangsung hampir setahun, kurang lebih 11 bulan dan banyak waktu yang digunakan untuk memasak. Keuntungan terbesarnya adalah setiap hari saya menjumpai chef-chef hebat dan berbagai bahan makanan serta bumbu baru, teknik baru, dan pengalaman baru sehingga itulah yang menjadi kekuatan saya.

-Featured in HANG OUT JAKARTA January 2012 edition-

Restaurant Review: Katsusei (Hang Out Jakarta, November 2011)

Sekarang adalah era dimana setiap restoran berlomba untuk berspesialisasi atau hanya mengambil ranting kecil dari sebuah pohon raksasa kuliner suatu daerah atau negara. Salah satu yang melakukannya dengan khusus adalah Katsusei dan bagaimanakah mereka menspesialisasikan dirinya dalam salah satu cabang makanan khas Jepang yang terkenal ini?

Kekhasan Katsusei ini adalah pada satu cabang makanan Jepang yang berkutat dengan dunia goreng menggoreng. Selain itu, masakan ini konon adalah bawaan para kaum kolonial Portugal di masa lampau ke negeri Matahari Terbit itu dan telah ‘disempurnakan’ oleh masyarat Jepang. Ya, dengan mudah itulah katsu atau deep fried cutlets seperti yang biasa kita kenal dalam bahasa Inggris. Nama Katsusei jelas mengambil dari kata dasar tersebut sebagai namanya kemudian dengan formula khasnya kini telah merambah hingga ke Indonesia.

Beef Katsu Nabe Set

Sejak beberapa tahun yang lalu Katsusei datang ke Jakarta sebagai franchise dari Utsunomiya yang terkenal sebagai ibukota gyoza di Jepang. Meskipun tidak ada sama sekali jejak gyoza di dalam menunya, Katsusei tampak puas dengan berbagai variasi menu pada area spesialisasinya ini.

Sangat mungkin bahwa selama ini kita terjebak dalam paradigma dimana bahan katsu biasanya didominasi oleh ayam atau beef saja. Namun tentunya tidak di Katsusei karena beragam pilihan lainnya seperti pork, oyster, shrimp, dan scallop katsu dapat dipilih beserta kombinasi side dishes-nya. Untuk ikan terdapat juga pilihan salmon juga dory.

Deeper into the deep fried goodness

Katsu selalu dimulai dari penggunaan panko atau breadcrumbs yang dibalut pada daging sebelum digoreng dan nantinya menghasilkan permukaan crispy. Di Katsusei, perbedaannya adalah pada penggunaan bahan panko yang basah ketimbang yang biasa kita kenal. Setelah digoreng sempurna, herannya tepung ini tidak hanya tetap mampu memberikan kesan crispynamun juga memperkaya citarasa daging yang tengah dinikmati. Rasanya mengingatkan pada ayam goreng bertipikal tekstur basah yang dilengkapi semacam kremesan. Tentunya suatu yang sulit dilewatkan!

Sebagai sausnya, Katsusei menyediakan mangkuk berisi goma atau biji wijen yang bisa ditumbuk sesuai selera sebelum dicampurkan dengan saus tonkatsu yang asam, segar, sekaligus gurih. Langkah penting yang diambil oleh Katsusei untuk dapat menjangkau semua selera masyarakat adalah selain melakukan pemisahan proses dan penyajian antara pork dan daging lainnya, Katsusei juga menciptakan jenis saus tonkatsu yang menggunakan bahan dasar halal.

Beef Katsu Set

Secara keseluruhan petualangan saya saat berkutat dengan chicken katsu dan shrimp katsuberakhir cukup puas dimana volume ayam yang tebal dan memenuhi ekspektasi ternyata tampil dengan apik. Dari segi rasapun masih terbilang comforting. On the other hand, sang udang yang justru tampil besar dan menggiurkan justru belum tampil secemerlang compatriot-nya.

Untungnya, untuk menambah semangat makan tentu sang katsu didampingi satu set lengkap penuh dengan sidekicks yang terdiri dari salad yang bisa diimbuhi antara saus ponzu atau gomasesuai selera. Tidak hanya itu seperti biasa rekan-rekannya adalah semangkuk nasi ketan panas,tsukemono (pickles) dan miso shiru yang hangat dan kental. Ketika semuanya berakhir, jangan lupa untuk menikmati segelas teh hojicha hangat sebagai penetralisir dan penutup yang menenangkan dari petualangan di Katsusei kali ini.

Di saat cerita ini berakhir, ada rasa ingin kembali mencoba berbagai hidangan lainnya namun juga terbersit godaan lain untuk menjajal tetangga satu saudaranya yaitu Toranomon. I’d better put it for my next schedule then because it’s gonna be another adventure. Let’s go!

—–

Katsusei

Address:

  1. Grand Indonesia, East Mall – Garden District 2, Level 5 #16
  2. Plaza Indonesia, L1 #E19-19A

RSVP: 021 – 235 800 60 (Grand Indonesia), 021 – 299 235 60 (Plaza Indonesia)

Email: katsusei.pi@ipw.co.id, katsusei.gi@ipw.co.id

Facebook: katsusei.indonesia

Twitter: @katsusei_jkt

BB Pin: 21AB756F

Opening Hours: Mall opening hours (Daily)

Pricing: Around IDR 300,000 for two

-Featured in HANG OUT JAKARTA November 2011 edition (unedited)-