Restaurant Review: Big Parma [CLOSED]

BBQ Parmigiana

A twist of Italian cuisine heritage brought fresh from Australia. Mr. Johann Tirtha, inspired by his experience back in Melbourne, introduces the art of enjoying an affair between Parmigiana and beer. Proudly he presents his modest but honest venture of Big Parma in Bandung.

It’s reassuring to know that Bandung has now started to possess budding entrepreneurs with idealistic insights to deliver what’s inspired during their study abroad or whatever their experience was. No matter how small the scale is I think it’s something to be proud of and that’s actually what I felt after I heard about this establishment.

Big Parma might not be your typical big and fancy restaurant. The placement of this cafe itself even feels more like an additional section instead of being an independent outlet. Located outside a dominating clothing outlet which has always been a big business in Bandung. Taking an advantage from that situation, Big Parma aims not only to quench the thirst of shoppers but also higher than that. It might even one day serve the purpose of why people coming to shop there.

So what exactly is this parmigiana?

Parmigiana is a derivative version of Italian dish of breaded cutlets topped with cheese and tomato sauce then to be baked for completion. It’s very different than it’s counterpart namely Chicken Cordon Bleu where ham and cheese inserted inside then fried or optionally, baked.

It’s pretty much quite unknown in Bandung even though I know that Suis Butcher’s already got that in its menu for years but I bet that nobody still not get the idea of what a parmigiana is.

Here Big Parma offers three main parmigiana dish alongside other options that mostly contain chicken as well and some pasta. We chose two of the three namely Original Parmigiana layered with homemade Napolitana sauce instead of our other choice, the Smoked Beef Parmigiana which was using BBQ Sauce. The latter was also layered with thinly sliced smoked beef all over the surface. With a small gap of price between each of these signature dishes, I suppose that it’s better to just choose the best one which in my case was the one with BBQ sauce.

Smoked Beef Parmigiana

Once they came, all the dishes served with French fries and salad seasoned with light salad oil. Though the fries were not homemade, I was hoping that one day Big Parma would also serve other variants of taters for example mashed or hash brown. But probably the most recent good variant of potato dish I tasted came from Ya Udah Bistro with its German modifications using onions and was a bit oily. Though lacking in taste, we can always pour more salt or pepper. The best one is still the mashed potato from Chili’s. Unbeatable during the last three years of my endeavor.

In terms of looks I suppose Big Parma could strive to also bring more color to the dish which is perhaps at the most minimum can be achieved by covering the gaps between the chicken, potatoes, and salad. Use a bigger cut of chicken, or beat the chicken black and blue just to widen up its length, or spread the potatoes more, or more salad, or use smaller plates, or anything just to treat the eyes of the diners.

I don’t have any objection nor admitting extreme brilliance from the dishes. But as for those with BBQ sauce, well I have to say that it tasted quite sharp and quite inviting. If you press the chicken a bit with your cutlery then the sauce will come out all over and that my friend, was mouthwatering. The one with Napolitana sauce however was too mild for my liking and you might want to put more energy with additional sauces or pepper. Then again, this is something to do with your preference. While I personally chose to lead a savory life then arguably this Original Parmigiana would not be something I’d pick again next time.

Italian Soda

Drinks? Aside from the beers, Big Parma offers extensive choice of coffee and Italian soda with many fruity flavors. If that’s not enough then you might want to experience Roppan taste here with Big Parma’s Toasty Bread flavored with either blueberry or strawberry. Quite rich and fulfilling yet the best part is to know that everything there was very affordable.

Blueberry Toasty Bread

It was quite unfortunate however that Big Parma is so damn close with the street so you might found it cacophonous, especially added with unsuitable soundtracks it play.

No matter what, there’s plenty room to improve and improvise especially with parmigiana where as we know, Italian culinary world has always been known to have room for improvisations. Bandung with its unique challenges might be a big obstacle right now but there’s no telling that the tide will turn for you. There you go, big guy!

Big Parma

Halal-friendly

Address: Jl. Cemara no. 83, Bandung, Indonesia

RSVP: TBA

Atmosphere: Half baked terrace cafe still fighting to keep the patrons hang out as long as they can.

Ambiance: Loud thanks to the inches-away traffic and unsuitable background music.

Service: Should be okay.

Opening Hours: 10 am – 9 pm (daily)

Pricing: Tea and coffee at around IDR 15K, food and snacks at around IDR 20K

Facebook: BigParma

Twitter: @Big_Parma

Xin Hwa, Where Cantonese Cuisine Challenged (perempuan.com – 2011)

http://www.perempuan.com/xin-hwa-where-cantonese-cuisine-challenged/

Dua puluh tiga tahun dan telah melanglangbuana ke berbagai hotel serta restoran ternama mulai dari kota asalnya Hong Kong hingga Singapura dan Malaysia, Chef Chan Yiu So akhirnya melabuhkan dirinya di Jakarta menjadi nakhoda baru di Xin Hwa, Mandarin Oriental Jakarta.

Alasan kedatangannya ini diyakini oleh Budi Cahyadi, F&D Operations Manager dengan alasan latar belakang Chef Chan Yiu So serta penampilan baru dari Xin Hwa. Diharapkan dengan relaunching secara menyeluruh ini dapat mempertahankan Xin Hwa sebagai pilihan terbaik untuk Chinese cuisine di Jakarta.

Setelah menjalani renovasi dan mendatangkan chef baru, Mandarin Oriental Jakarta juga berkesempatan mengundang berbagai media dan tokoh-tokoh kedutaan negara sahabat untuk sebuah dinner invitation perdana peluncuran Xin Hwa yang baru pada Kamis, 6 Oktober 2011 lalu.

Saya pribadi memiliki pengalaman yang cukup memuaskan pada kunjungan-kunjungan sebelumnya dengan menjajal berbagai restoran di Mandarin Oriental Jakarta selain Xin Hwa. Tentu normal untuk berekspektasi khusus pada acara yang satu ini.

Para hadirin diperkenankan untuk mencicipi berbagai sajian canapés khas China seperti lumpia, dim sum, serta minuman Champagne sebelum acara dimulai. Tidak terburu-buru tentunya, pagelaran barongsai juga sempat dipertontonkan terlebih dahulu sembari mengajak para hadirin untuk memasuki Xin Hwa di lantai dua.

Terang saja banyak yang cukup terkagum-kagum dengan penampilan Xin Hwa kali ini. Semuanya terkesan lebih terang namun tetap mempertahankan sisi kemewahannya. Selain itu, cita rasa interior khas China juga tetap dipertahankan dengan baik, menjadikan Xin Hwa terasa tetap otentik secara penampilan. Namun bagaimanakah untuk makanannya?

THE FASCINATING APPETIZER

Dimulailah sebuah perjalanan yang menarik dengan sebuah appetizer berupa chilled shrimps yang disusupi dengan asparagus diantaranyadengan ikan cod hitam yang digoreng serta diimbuhi XO sauce di sisi lainnya. Sebuah kreasi yang terlihat sederhana namun sangat berhasil menggugah selera melanjutkan dengan sajian-sajian lainnya.

Bagaimana tidak? Dengan udang yang juicy dan sedikit chewy serta diiringi salah satu jenis sayuran favorit saya nan lezat dan eksotis yaitu asparagus, sebetulnya saya sendiri sudah sangat berbahagia. Namun kebahagiaan itu ditambah berlipat kali dengan penampilan apik dari ikan cod yang lembut dan ditumpangi dengan saus XO yang lezat. Meski penampilannya hanya seperti ikan yang dibumbui abon tapi justru perpaduan dari keduanya itu yang merajai menu pembuka kami semua malam itu.

Deep-Fried Prawn With Bread Crumbs Served with Mayonnaise

Tidak lama disajikan pula sebuah sup dengan cita rasa kaldu yang tidak asing bagi lidah saya. Sebuah kuah bening nan gurih yang dilengkapi oleh scallop dumplings, tahu, dan yang paling menarik adalah bamboo fungus atau sejenis jamur unik berbentuk seperti spons yang kerap dipakai untuk masakan khas China yang mewah. Selain kaya dengan protein dan serat, jamur ini menambahkan suatu kekhasan yang tidak hanya telah menggugah rasa ingin tahu tentang apakah bahan makanan unik ini namun juga sangatlah lezat rasanya.

SEBUAH ANTIKLIMAKS

Meskipun awal dari perkenalan keahlian Chef Chan Yiu So terbilang seru namun berbagai pertanyaan muncul seiring berjalannya waktu dan hidangan yang bermunculan berikutnya. Yaitu adalah sebuah ekspektasi bahwa masakan Kanton ini akan diperkenalkan secara otentik lebih jauh ataukah tidak. Karena tampak dari berbagai masakan selanjutnya lebih berbau sebuah aliran fusion ketimbang sebuah otentisitas yang hendak diperkenalkan seorang native chef baru yang baru saja tiba di Jakarta.

Berikutnya adalah fried chicken yang dimarinasi dengan saus Kikkoman, menjadikannya lebih terasa bumbunya sekaligus lembut. Meskipun terlihat crispy tapi tingkat kegurihannya tampak belum begitu terasa dengan selera lidah Indonesia. Chef Chan Yiu So-pun berkeliling dari satu tamu ke tamu lainnya untuk mendapatkan input atas bagaimana respon hadirin dengan makanan yang dimasaknya. Satu hal yang pasti bahwa taste buds kebanyakan orang Indonesia ataupun ekspat yang telah cukup lama di Indonesia adalah sebuah selera yang rumit dan penuh pengharapan atas sebuah cita rasa yang lebih tajam.

Suatu tantangan bagi Chef Chan Yiu So namun tentu tidak sulit karena sang chef sendiri konon ahli dalam masakan Szechuan. Semoga ini menjadi salah satu input yang bermakna bagi Xin Hwa juga secara keseluruhan.

Kelanjutannya adalah tahapan main dishes yang dimulai dengan lamb chop dengan black pepper sauce serta julienned capsicums. Ini adalah fase yang menyenangkan bagi saya dimana secara preferensi pribadi, saya memang sangat menyukai saus lada hitam yang kental dan pedas. Tapi pertanyaan mengenai otentisitas itu muncul kembali bahwa apakah masakan seperti inikah yang memang dimaksudkan sebagai masakan khas Kanton ataukah memang beginikah wajah masakan China masa kini? Jelas sekali tergambar bahwa unsur Barat begitu kentara masakan yang satu ini.

Pada tahapan akhirpun, dimana sebetulnya saya telah sedikit dibuat lelah dengan deep fried chicken yang berlebih jumlahnya, maka telah dapat dipastikan bahwa masakan terakhir ini menjadi terasa sangat berat. Adalah sebuah porsi cukup besar berisi nasi goreng dengan dua king prawn yang literally besar namun juga sebetulnya menggoda. Sebagai penyegar, keduanya didampingi oleh kailan Hong Kong.

Sungguh sayang pada misi ini kaidah the law of diminishing return semakin menjadi-jadi namun untung rasa dari udangnya yang cukup baik, tapi jelas nasi gorengnya sudah menjadi terlalu sulit untuk dituntaskan. Selain itu untuk penggemar rasa asin dan gurih, tampaknya akan menjadi ekspektasi yang tidak terpenuhi untuk masakan ini.

Semuanya namun diakhiri dengan ketidakcemerlangan pada sago yang dipadukan dengan buah-buahan cantik seperti mangga, strawberry dan kiwi. Meskipun tersaji indah, yang kurang adalah sebuah kuah manis atau bahkan krim, mengutip seorang rekan media satu meja saya, yang sebetulnya bisa sangat menambah cita rasa manis atau suatu esensi yang dicari umumnya dari sebuah dessert.

Tentunya dalam waktu singkat seorang Chef Chan Yiu So memang belum berhasil menyajikan apa yang sebenarnya dapat ditemukan dari sebuah masakan China yang khas, namun usahanya untuk mencoba menyatukan berbagai kreativitas sebetulnya tetap harus dihargai. Memang tidak mudah tentunya untuk mencoba memuaskan berbagai pihak dengan satu per satu menanyakan selera mereka dan beradaptasi dengan keseluruhan. Tapi justru di sinilah Chef Chan Yiu So kelak akan lebih menguji kemampuan dan pengalamannya lebih lanjut.

Xin Hwa

Address: Mandarin Oriental Jakarta. Jl. MH Thamrin PO BOX 3392, Jakarta

RSVP: 021 – 2993 8888

Email: mojkt-dine@mohg.com

Twitter: @MO_JAKARTA

Opening Hours: Mon-Sat Lunch 11.30 am – 2.30 pm, Mon-Sun Dinner 6.30 pm – 10.30 pm, Sunday Brunch 10 am – 2.30 pm

By:
Rian Farisa
Vox Populi Syndicate

http://www.perempuan.com/xin-hwa-where-cantonese-cuisine-challenged/

Restaurant Review: Ten Ten (Hang Out Jakarta, September 2011) [CLOSED]

Ada sebuah ekspektasi lebih yang saya harapkan dari kunjungan berikutnya ke Ten Ten baru-baru ini. Pada pengalaman sebelumnya Ten Ten sebetulnya menawarkan sesuatu yang menyenangkan meski tidak sempurna. Maklum pada hari grand opening pastinya mengundang kejutan dan ketegangan bagi pihak penyelenggaranya. Meski demikian, pengalaman pertama waktu itu cukup baik. Ada perasaan ingin kembali lagi dan itu adalah salah satu yang terpenting dari sebuah restoran seberapa cheesy makanannya hingga mahal sekalipun.

Ten Ten sendiri merupakan salah satu brand yang dimiliki oleh grup dengan spesialisasi pada makanan khas Jepang khususnya. Contohnya adalah Pepper Lunch dan Sushi Tei yang sudah sangat sukses dan dikenal masyarakat. Sehingga tidak heran kalau Ten Ten juga ternyata berkecimpung di dunia yang sama namun jelas terbaca dari namanya yaitu mengkhususkan diri pada Tempura.

Setelah sebelumnya telah cukup dikenal warga Jakarta dengan pemunculannya di Pondok Indah Mall serta kualitas tempura-nya yang cukup meyakinkan apalagi dengan eksperimennya yang menggunakan dua tipe ‘saus’ yaitu spicy dan black pepper, bagaimana bila kita coba saja hal lain yang juga tidak kalah menariknya?

Ten Don

Untuk pembuka selain Ten Ten Hot Dog-nya yang unik, cobalah membandingkan sedikit takoyaki-nya dengan yang lain. Memang ukurannya kecil dan terlalu padat, namun citarasa dan kekenyalan unik dari gurita-nya sudah cukup merepresentasikan rasa yang baik.

Main dish shall we? Kali ini tampaknya semangkuk beef bowl terdengar seru. Jelas terlihat bahwa for some reason, Yakiniku Don milik Ten Ten lebih unggul dari saudaranya di Sushi Tei bahkan dengan porsi berukuran sedang. Potongan daging lembut yang dibalur bumbu serta rasa manis berpadu dengan kegurihan yang begitu menggelora ternyata mampu membuat satu mangkuk tersebut ludes hingga butiran nasi yang terakhir. Boleh saja sebut saya berlebih, namun kenikmatan itu benar-benar kentara apalagi dengan dilengkapi miso shiru dan togarashi.

Pilihan lain adalah satu hotplate besar berisi telur yang dimasak dengan chicken katsu di tengahnya. Pendamping setianya yaitu kembali semangkuk nasi serta miso shiru dengan rumput laut berlimpah serta tofu di dalamnya. Memang ini adalah pemandangan yang lazim terlihat, namun tentu anda akan tergiur dengan ukuran hotplate berdiameter besar berisi telur masak yang berlimpah bawang bombay, daun bawang, serta chicken katsu yang hangat dan lezat. Hasilnya ternyata menjamin lajunya suapan demi suapan saya pada waktu menikmatinya.

Sudah cukup lama rasanya tidak menikmati hidangan dengan citarasa yang kaya seperti ini. Mungkin memang tidak seotentik rasa yang anda bisa pahami dari selera orang Jepang asli yang biasanya tidak segurih ini, namun kekuatan komposisi dan konsistensi Ten Ten dalam penyajian makanannya patut diberi jempol. Dari suasananya sendiri cukup nyaman meski selalu penuh pengunjung. Entah mengapa it feels like home there, mungkin karena setelah menyimak kartun keluarga Tempura yang ceritanya bisa dibaca pada kertas alas makanan di setiap mejanya. One thing for sure, I’ll be back!  

PLAZA INDONESIA, JL MH THAMRIN 28-30, JAKARTA

Twitter: http://twitter.com/tentenjakarta

Facebook:http://www.facebook.com/tentenjakarta

Opening Hours: Mall opening hours

Rating: 3/5

PRICE: IDR 100,000 – 150,000 for two

-Featured in HANG OUT JAKARTA September 2011 edition-

Link: http://hangoutjkt.com/food/168/Ten-Ten

TGA Milestone: The hit reached 50,000!

Dear oh dear, how could I have missed such an important moment that I have been anticipating so much?

Anyway, after two and a half years of a wonderful journey so here we are then! It may not be much but it’s a wonderful achievement for me and I’m again and again thankful for it.

So it is my hope and it’s never too late for hope, to keep on learning and yearning more about food and to share it with you all until forever.

I bid you again thanks for being my loyal patrons and let’s keep on grazing until God knows when. Salute!

Restaurant Review: Cinnamon (Aquila Asia, Sep-Oct 2011)

What’s more extravagant than having a dinner affair in a five-star hotel at the most prestigious address in Jakarta? The inconspicuous restaurant with a catchy name of Cinnamon tempts Aquila Asia to unveil what’s behind the exclusivity of Mandarin Oriental Jakarta.

The hotel itself is one of the classic alternatives among other five-star competitors that exclusively surround the Bundaran HI, known as the landmark that defines Jakarta. Mandarin Oriental Jakarta itself had undergone almost two years of interior refurbishment and appeared again stylishly in 2009. Apart from the vintage exterior look, the insides look stunningly modern and extravagant.

Lively yet intimate, the international cuisine restaurant Cinnamon flaunts a casual theme but also romantic scene for dining. Not to mention also about the good suitability for both lunch and dinner in business attire. The use of natural materials such as raw woods with marble flooring, limestone walls, and sisal carpeting brings the rustic side of Cinnamon, especially with the ‘jungle’ scenery that camouflaged the restaurant. But with a wonderful composition of calm colours of cream and gold fused with warm lighting both artificial and natural brings also a multitude of modern touch of nowadays interior style.

Oxtail Soup

The one thing that welcomes everyone first is the display of colourful cakes and hampers from The Mandarin Oriental Cake Shop. What comes next is the feeling of the urgency to really test what Cinnamon has to offer and for that opportunity what’s better than being seated just beside the window to see the soothing greeneries just outside.

So Cinnamon may bring international theme but it is clear that they emphasize the Asian culture. For instance the highlight dishes are the majestic set of Hainanese Chicken Rice or the scrumptious Sampler of many Asian delights such as chicken tikka with mint and cucumber, crab cake with papaya pickles, sautéed prawn skewers and grilled beef salad. Both of them prove to be an excellent choice for a brief business lunch.

For that reason as well, Cinnamon doesn’t rely too much on having a wide variety for their food stations. Aside from some of their notable competitors that present the opposite, Cinnamon appears content with such degree of simplicity. When asked, Mr. Gono Soegiono the restaurant manager explains that, ‘Business lunch takes time only for about 30 to 45 minutes therefore we only serve what the guests need and as the compensation for that, rest assured that what we serve is of the best quality’.

Hainan Chicken Rice

This does makes sense although more options wouldn’t hurt especially judging from the reputation and the history of Mandarin Oriental Jakarta, yet most of all, the expectations. The course starts mainly from the openers such as salads or the Japanese style appetizers like sushi and sashimi. Let us never also miss the cheese station to boost up the morale. From there, some inviting options are there especially for the carving table of roast beef and pasta station that offers homemade tagliatelle, penne, linguini, and rigatoni.

What amuses me is actually the sandwich station which is quite rare in Jakarta hotels for as far as I know. Deriving from the goals to deal with the appetite of brief diners, Mandarin Oriental Jakarta has devised this small station with plenty of options. You can actually pick the already made ones with tuna and cheese for example, but also you can choose from variety of ciabatta, white, and whole wheat bread then decide the fillings. Make it plain or panini according to your liking and have it delivered directly to your table.

To end it all, simply choose the tempting variety of desserts yet the must-pick from all of those is definitely the one and only, the indisputable for the past 15 years, and that would be the American Chocolate Cake. Velvety and luscious, though came in small size! It’s best to spare more room for this one and load them all to your table before they simply vanish into thin air. Complete the excitements with crepes paired with homemade ice cream and sorbet or make it a worthy companion if the cakes ran out.

After two years of its existence, Cinnamon may still feel like a myth despite the imposing presence of the hotel. It’s a hidden jewel to be exact despite its small and modest selections of food. It’s beautiful nonetheless and now I feel like romantic dinner already but now I know one of those worthy for my next pick.

CINNAMON

Jl. MH Thamrin, PO BOX 3392, Jakarta 10310

Website: http://mandarinoriental.com/jakarta

Facebook: http://facebook.com/MandarinOrientalJakarta

Twitter: @MO_JAKARTA

RSVP: 021 – 2993 8888

Halal Meter: Halal-friendly. For dishes using pork are well indicated as well as those that contain alcohols.

Vegetarian Friendly: Yes and plenty of options for that.

Reservation: Recommended especially for lunch.

Opening Hours:

–          Breakfast:                   6 am – 10 am (Mon-Sat), 6 am – 10.30 am (Sun)

–          Lunch:                          11.30 am – 2.30 pm (Mon-Sat)

–          Brunch:                        11 am – 3 pm (Sun)

–          Afternoon Tea:         2.30 pm – 6 pm (Mon-Sun)

–          Dinner:                         6 pm – 10.30 pm (Mon-Sun)

Price:

–          Breakfast Buffet IDR 170,000++

–          Lunch & Dinner:

  1. Lunch Buffet IDR 175,000++
  2. Dinner Buffet IDR 195,000++
  3. Sunday Brunch IDR 195,000++
-As seen in Aquila Asia Sep-Oct 2011 Edition (unedited)-
-Photos courtesy of Mandarin Oriental Jakarta and Aquila Asia Magazine-