Restaurant Review: Luna Negra (HOJ, May 2011)

Sang greeter baru saja mengangkat telepon untuk melayani pelanggan yang mungkin hendak reservasi ketika saya datang di Luna Negra. Beruntung dari dalam saya langsung disambut oleh greeter lainnya yang langsung membawa saya menuju meja makan di area non-smoking.

Ternyata bagian depan Luna Negra dihiasi sebuah wine cellar terbuka bertingkat, sebuah bar panjang dan beberapa tempat duduk nyaman yang menghadap jendela langsung menuju Jalan Jendral Sudirman. Asumsi saya adalah bahwa selain menjadi tempat dining yang sedang hip di Jakarta, tentu pada malam hari khususnya akhir pekan, Luna Negra menjadi layaknya tempat sosialita berkumpul dengan suasana lounge yang elegan.

Hingga akhirnya saya mencapai ruang makan besar yang didesain klasik dan mewah. Dengan furniture serba hitam, para pelayan dan manager berbaju rapi, dan kesibukan jam makan yang ramai namun dengan ambiance yang tetap berada di jalur conversational versus lounge music, setidaknya memberikan rasa nyaman di saat kedatangan saya. Setelah duduk, tibalah saatnya untuk menjajal esensi dari kedatangan saya ini. Let’s order something good then!

Dengan sigap sang waiter memberikan rekomendasi dan menjawab berbagai pertanyaan saya mengenai detail makanan. Awal yang bagus tentunya. Akhirnya saya memutuskan untuk memilih smoked beef carpaccio dengan baluran olive oil serta dihiasi salad rucola dan potongan parmesan. Tak lupa juga setengah buah lemon untuk digunakan sebagai perasan agar memberikan rasa segar untuk menu pembuka ini.

Ternyata hasilnya luar biasa! Beef carpaccio-nya terasa lezat, lumer di mulut dan silky karena olive oil. Perpaduannya dengan potongan keju dan salad membuatnya menjadi lebih nikmat lagi. Sebuah appetizer yang sangat layak didaulat sebagai salah satu yang terbaik yang pernah saya rasakan.

Untuk main dish, Luna Negra menyombongkan diri dengan koleksi menu pasta yang sangat melimpah. Tidak lama saya langsung ditawari dan menerima dengan senang hati salah satu menu spesial saat itu yaitu ravioli berbentuk segitiga yang diisi oleh keju ricotta dan jamur porcini. Sausnya kali ini adalah tipe creamy yang terbuat dari keju parmesan. Hasilnya adalah sebuah pasta yang decent dengan rasa yang tidak terlalu mengejutkan, surprisingly tidak terlampau padat dengan komposisi keju yang banyak itu, namun akumulasinya menghasilkan rasa terlalu penuh pada akhirnya. Penampilannya sendiri terlihat heavily creamed dan berat namun ternyata masih dapat dinikmati.

Selain pasta sebagai unggulannya, Luna Negra juga memiliki berbagai macam pilihan pizza yang tak lazim ditemuidi pizzeria yang biasa kita pesan untuk delivery. Tak sulit untuk memilih karena kecenderungan saya untuk memilih pizza dengan komposisi berdaging dan kali ini adalah pizza dengan dried beef atau bresaola, dedaunan rucola, parmesan dan mozzarella. Tipikal pizza di sini adalah yang tipis namun dengan komposisi yang saya pilih ternyata mampu memberikan rasa berisi. Bresaola-nya terbukti membawa peranan penting dan familiaritas saya dengan rucola membuat saya lebih menikmati meskipun pada akhirnya terasa ada penurunan dari sebuah appetizer yang luar biasa menjadi tidak menonjolpada episode main dish kali ini.

Untuk babak terakhir, saya memutuskan untuk memilih Shaksoukla sebagai dessert, suatu tema yang agak melenceng dari genre Italiano siang itu. Shaksoukla memiliki struktur menarik yaitu berlapis-lapis filo pastry yang biasanya lazim digunakan sebagai bahan utama untuk kudapan ala Timur Tengah seperti baklava dari Turki. Namun kali ini filo pastry tersebut disusun lebar dan rapi serta ditambah oleh ‘jutaan’ kacang almond di seluruh penjuru serta di sela-selanya lapisannya terdapat potongan buah strawberry. Lalu di paling atas diakhiri olehsemacam whipped cream, daun mint, buah strawberry dan semacam sirup kental vanilla yang mengingatkan kita pada condensed milk alias susu kental manis putih.

Sungguh penampilan yang sangat menggoda namun justru menjadikannya berat dan tak terkendali. Jumlah kacang yang terlalu banyak dan rasa manis dari sirup vanilla yang diharapkan dapat membantu appetite saya menghabiskan dessert menjadi sia-sia karena kelelahan mengunyah dan sirup yang ternyata tidak manis. Tidak ada yang dominan kecuali kacang dan kacang sehingga saya melihatnya menjadi seperti tumpukan rempeyek kacang tanpa rasa yang berarti.

Antiklimaks. Itulah kata yang paling tepat menggambarkan keseluruhan pengalaman di Luna Negra. Agak disayangkan karena semuanya dimulai dari ekspektasi bagus ketika datang dan disambut dengan baik oleh greeter yang dengan sigapnya menunjukkan tempat duduk kita, lalu dilayani dengan ramah oleh waiter yang helpful dan knowledgeable, terlebih lagi oleh sebuah appetizer yang sangat lezat ternyata harus diakhiri oleh main dishes dan dessert yang getting less brilliant. Meski demikian, kreativitas dan usaha Luna Negra patut dihargai, mengingat pilihan makanan yang begitu banyak serta penataan dan penampilan makanan yang indah dan berisi. Rasanyapun saya yakin secara overall masih layak untuk dijajal kembali lain kali.

Luna Negra, Plaza Bapindo (Citibank Tower), Ground floor, Jl. Jend. Sudirman Kav. 54-55, Jakarta

RSVP: 021 – 2995 0077

Rating: 3/5

Price: IDR 400,000 – IDR 500,000 for two

-Featured in HANG OUT JAKARTA May 2011 edition-

Kahvehane: Kopi Javva (HOJ, May 2011) [CLOSED]

Siapa yang mengira di dalam sebuah supermarket barang pecah belah di bilangan Senopati terdapat sebuah kedai kopi yang bahkan tidak menorehkan namanya di depan bangunan ini? Bahwa kita kerap mengakhiri kegiatan kita berbelanja di mall dengan kegiatan ngopi, itu sangat kerap terjadi. Namun untuk sebuah toko pecah belah? Hmmm… That’s intriguing.

Ya, itulah Kopi Javva. Sebuah reputasi yang saya dengar dari mouth to mouth basis. Long story short, tibalah juga saya di sana. Dalam perjalanan yang hanya memakan beberapa langkah saja dari pintu masuk, saya harus cukup berhati-hati agar tidak menabrak barang pecah belah yang berada di jalur saya.

Agak sedikit berandai-andai juga seandainya jalan itu sedikit dikosongkan untuk mempermudah pengunjung yang hanya ingin nongkrong sore untuk ngopi di Kopi Javva dan bukan untuk berbelanja. It appears Kopi Javva is not the one to make such decisions and definitely only me who pays attention to such details.

Desain kafe-nya sendiri terlihat modern dan fresh. Tempat duduk yang tersedia memang tidak banyak dan jumlahnya pas untuk sebuah café yang tidak high-profile seperti ini. Bahkan di tempatnya yang sudah mungilpun, Kopi Javva memiliki space untuk tempat bermain anak-anak.

Kekhasan Kopi Javva adalah bahwa mereka menyediakan biji kopi lokal, thanks to jiwa nasionalisme pemiliknya yang konon adalah seorang konsultan kopi dan sparking semacam perseteruan sehat dengan Anomali Coffee, tetangga dekatnya yang memang gemar mempertunjukkan dirinya sebagai herald kopi Indonesia. Nah ini memperkaya khazanah ‘perkopian’ di Jakarta and that’s a good thing!

Berikutnya adalah mereka menyediakan kopi yang dibuat menggunakan syphon coffee maker. Metoda pembuatan kopi vakum yang masih terbilang jarang terlihat ini menjadi trademark Kopi Javva.

Tentu saya tidak segan-segan langsung memesan segelas black coffee dengan memilih biji kopi dari Papua dengan pertimbangan segi eksotisnya. Selain menggunakan syphon coffee maker, Kopi Javva juga menyediakan metode pour over atau menggunakan French press bagi yang tak sabar hendak meminum kopi dengan segera.

Ternyata hasilnya lumayan, kopi Papua yang lembut dan ringan cocok untuk mengakhiri hari setelah makan malam. Kebetulan Kopi Javva memang tutup pada pukul 8 malam. Dengan suasana yang terbilang sepi dan nuansa lagu yang didominasi oleh genre jazz a la Indra Lesmana, tampaknya saya cukup menikmati suasana malam itu.

Selain black coffee, Kopi Javva juga menyediakan menu-menu kopi inventive lainnya seperti Encek’s Coffee (semacam kopi susu khas Kopi Javva), Orange Scented Coffee (kopi susu dengan perasan jeruk), dan sayangnya blunder terbesar malam itu yaitu Iced Lemongrass Coffee alias kopi dingin dengan sereh.

Sereh yang notabene merupakan jodoh dari teh digunakan pada kopi di sini. Meski tampil segar dan menarik, berbuih, penuh dengan es batu, dan tampak segar (reminds of beer actually), ternyata hasilnya sangat tidak berimbang. Rasa sereh yang terlalu dominan tampak menutupi rasa kopi yang biasanya punya kecenderungan overpowering any elements. Hal yang lain adalah penyajian kopi untuk sebuah kondisi dimana seorang pelanggan datang di malam hari, dalam keadaan tidak berkeringat, dan berada di ruangan dingin or in other words, too much ice cubes!

But anyway, kedatangan saya ke Kopi Javva merupakan kunjungan yang cukup menghibur, hanya sayang saja Kopi Javva tidak memiliki sebuah jendela dimana kita dapat nyaman berlama-lama menikmati secangkir kopi, teman mengobrol, atau sembari browsing the net dengan sebuah pemandangan ke jalan Senopati. Dengan rencana ekspansi dalam waktu dekat ini ke sebuah tempat peristirahatan kondang di jalan tol arah Jakarta-Cikampek, Kopi Javva akan menjadi tempat yang semakin dikenal dan mudah-mudahan terus berkembang seiring berjalannya waktu. Viva local coffee shops! 

Jl. Senopati no. 71-73, Jakarta

Rating: 3/5

Price Range: IDR 50,000 – IDR 100,000 for two

-Featured in HANG OUT JAKARTA May 2011 edition-

Link: http://hangoutjkt.com/food/11/Kopi-Javva