Restaurant Review: Churreria (HOJ, March 2011)

Churreria datang membonceng ketika invasi budaya makanan Barat mulai mendominasi konstelasi kuliner di Jakarta. Setelah semua pengaruh Perancis dan Amerika dengan semua pancake, burger, strudel, waffle, galette, crepesdan fro-yoitu, Spanyol tidak mau ketinggalan dan sekarang diwakili oleh Churreria yang bertempat di sebuah sudut sepi Grand Indonesia Shopping Mall.

Mudah untuk menerka apa yang mereka tawarkan. Betul! Mereka melahirkan kembali churrosyang sudah sempat dikenal sebelumnya dan mereka tiba di Jakarta dengan penampilan yang sederhana dan bersahaja.

Churrosatau dikenal juga sebagai Donat Spanyol sebetulnya adalah adonan tepung yang digoreng seperti yang lebih dikenal orang Indonesia menyerupai Cakweyang berasal dari warisan budaya Tiongkok. Cakwebiasanya diiris kecil-kecil dan ditaburkan di atas bubur ayam atau dikonsumsi langsung dengan saus asam pedas. Namun tidak dengan churros, versi cakweyang satu ini dibuat dengan menggunakan semacam alat dengan sebuah selan. Churros dibentuk seperti bintang dan berukuran panjang, menyerupai bintang jatuh karena langsung masuk ke penggorengan di bawahnya.

Biasanya, churrosditemani dengan saus cocolan yang dibuat dari cokelat dan begitulah yang terjadi di Churreria! Pilih saus cokelat kesukaan anda dimulai dari dark chocolateyang agak pahit atau mungkin anda lebih memilih milk chocolateyang lezat dan lembut atau white chocolateyang terlihat cantik dan manis? Semuanya bisa dipesan pada saat bersamaan namun pastikan untuk memesan juga dulce de lechealias karamel kental yang manis dan menggoda sebagai saus pendamping cokelat yang lain.

Churros sendiri bisa dipesan untuk dibuat polos, disemai oleh gula bubuk, atau ditaburi kayu manis. Masing-masing memiliki chemistrysendiri dengan saus cocolan cokelat atau karamelnya. Sebagai contoh, saya lebih memilih untuk memasangkan churroskayu manis dengan saus karamel, churrosgula bubuk dengan saus milk chocolate, tapi juga jangan ragu untuk mencelupkan churroske semua saus tersebut! Meski mungkin bakal diprotes lantaran sausnya ternodai dengan yang lainnya tapi sungguh sayang apabila semua kebaikan cokelat tersebut anda abaikan begitu saja! Be adventurous there!

Yang disayangkan adalah churrosyang saya harapkan adalah tidak seperti yang dilihat di negara-negara asalnya yaitu berukuran lebih besar, lebih berbobot, dan secara harafiah memang disiram oleh cokelat, tidak hanya sekadar dicelup! Dimana semua itu menjadikan churrossebagai pilihan untuk makan pagi yang mengenyangkan. Namun tidak di Churreria, churrosdi sini terasa seperti dikekang (mungkin karena harga sewa Grand Indonesia yang selangit) sehingga berukuran lebih kecil. Meskipun demikian, kualitasnya cukup baik dimana renyahnya terasa di bagian kulitnya namun terasa lembut seperti roti di dalam. Benar-benar pasangan cokelat yang sempurna!

Kekecewaan lain juga datang dari servis yang saya alami dari seorang traineeyang seolah-olah tahu semua yang mesti dilakukan pada seorang pengunjung. Beruntung saya langsung meminta untuk dilayani dengan yang lebih profesional dan kualitas servis pun beralih menjadi jauh lebih baik.

Jangan lupa untuk menemani kudapan churrosanda dengan pilihan berbagai minuman cokelat. Saya memesan secangkir besar cokelat panas yang dicampur dengan single shot espresso yang disebut Mayan Mocha. Churreria mengklaim intensitas 65% cokelat dengan lapisan couverturedalam minuman-minuman cokelat mereka tapi tenang saja apabila anda merasa terlalu ‘penuh’, pilihan mocktaildi Churreria cukup banyak dan yang tampil luar biasa adalah Lychee Blizzard. Sebuah moctail dengan paduan brilian antara rasa manis dari buah leci dicampur dengan kesegaran daun mint. Hasilnya adalah tentu saja perasaan seperti muda kembali, ceria dan segar meski telah melewati sehari penuh rutinitas yang melelahkan.

Akhirnya, Churreria memang tidak menyuguhkan sesuatu yang teramat baru tapi harus diakui bahwa khazanah dunia makanan di Jakarta menjadi lebih kaya, dimana Jakarta memang sudah menjadi tempat berbaur dan menjadi hilir dari berbagai kultur lokal maupun internasional. Kultur Spanyol ini memang datang begitu saja tanpa gembar gembor ataupun kemeriahan berlebih, apalagi iklim di Jakarta yang begitu didominasi oleh kultur Amerika. Tapi tidak pernah ada kata terlambat untuk makanan. Orang akan tetap mendatangi dengan antusiasme tinggi ke tempat-tempat baru namun apakah Churreria dapat mempertahankan trend churrosdan cokelat ini? We shall see.

Rating: 3/5

Grand Indonesia West Mall, UG #03A
Jl. M.H. Thamrin No. 1, Jakarta
Tel: 021 – 23581805

-Featured in HANG OUT JAKARTA March 2011 edition- (photo changed)

Advertisements

2 thoughts on “Restaurant Review: Churreria (HOJ, March 2011)”

    1. Ahahaha…. Harganya kurang lebih 20 ribu ampe 30 ribuan lah. Tergantung mau paketan churros yg seberapa banyak. Kalo coklatnya sih bebas.
      Met coba ya gan! 😀

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s