Food Court Review: Urban Kitchen (Plaza Indonesia)

Photo by: anakjajan.wordpress.com

Urban Kitchen kini hadir di jantung kota Jakarta dan kali ini bertempat di Plaza Indonesia. Menempati lokasi luas di lantai 5 yang sebelumnya dihuni Food Kulture, di sini Urban Kitchen kini mengadaptasi sistem food court terbuka atau tanpa menggunakan kartu masuk yang biasanya digunakan sebagai akumulasi kredit pembelian untuk dibayar kemudian di kasir yang tersentralisasi. Hal ini meniru kesuksesan sebelumnya di Urban Kitchen Central Park. Yang menggembirakan adalah kali ini Urban Kitchen menggandeng tenants yang lebih dikenal masyarakat pada umumnya serta menyuguhkan harga makanan yang lebih affordable.

Meski menggunakan layout yang sama dengan pendahulunya, kini Urban Kitchen mengangkat tema Jakarta tempo doeloe untuk interiornya. Tema ini dibagi menjadi tiga ruangan besar. Yang pertama adalah tema ngopi sore, ciri khasnya adalah ruangan tersebut dihiasi seolah-olah berada di teras depan rumah beserta sangkar-sangkar burung yang tergantung. Kali ini pemandangannya justru cukup mengesankan, yaitu arah Jalan Thamrin dengan gedung-gedung bertingkatnya.

Pada ruangan kedua berisikan berbagai tempelan berbagai iklan, stiker serta foto-foto jadul yang terkenal pada masanya. Pada masa awal hingga pertengahan abad 20, muncul berbagai kemasan khas iklan yang dirancang dengan gambar-gambar klasik serta kata-kata yang catchy. Pada ruangan inilah Urban Kitchen mencoba menghadirkan kembali suasana nostalgia tersebut.

Terakhir, Urban Kitchen memunculkan suasana pelabuhan dan perkapalan dengan berbagai aksen dan hiasan tali tambang, desain dinding batu bata, serta karung-karung berisi kopi. Mengapa kopi? Selain merupakan salah satu komoditas kebanggaan Indonesia, pada segmen inilah Urban Kitchen secara khusus menggandeng Anomali untuk sebagai ponggawa coffee lounge-nya.

Dalam pemunculannya yang masih terbilang singkat, ternyata konsep baru yang dihadirkan Urban Kitchen mampu untuk menarik banyak pengunjung khususnya dari kalangan eksekutif muda, pegawai kantoran serta tentunya pengunjung mall itu sendiri. Eksklusivitas masih terasa di sini namun dengan berbagai suguhan dari tenants yang familiar dan berbagai jajanan pasar, membuat Urban Kitchen menjadi alternatif menarik dan murah di tengah-tengah kemewahan Plaza Indonesia.

Selain hanya sekedar untuk makan-makan, Urban Kitchen juga berusaha menghadirkan sesuatu yang berbeda seperti bazaar dan live music. Promosinyapun terbilang aktif dan menggunakan media social network seperti Facebook dan Twitter. Jadi buat siapa saja yang ingin berpartisipasi pada acara di Urban Kitchen seperti bazaar hingga menggunakan tempatnya sebagai media gathering dan press conference. All is customizable!

So, just anticipate berbagai kegiatan menarik yang seru di Urban Kitchen. Sementara ini kita nikmati saja dulu program afternoon high tea atau kudapan ringan yang tentunya bercirikan khas masakan masing-masing tenant-nya serta menjelang Ramadhan, Urban Kitchen juga mempersiapkan tajil gratis untuk pengunjungnya. Sisanya, tentu segudang pilihan makanan lezat untuk dicoba!

—–

URBAN KITCHEN PLAZA INDONESIA

Address: Plaza Indonesia Lv. 5, Jakarta

RSVP: 021 – 7278 1571

Website: http://urbankitchen.co.id

Facebook: http://www.facebook.com/UrbanKitchenJKT

Twitter: @UrbanKitchenJkt

—–

-Featured in HANG OUT JAKARTA August 2011 edition-

Photo by anakjajan.wordpress.com

Restaurant Review: Never Been Better

Photo by: jenzcorner.net

Nowadays, desain interior cafe modern bergaya industrial semakin merajalela dan mampu membuktikan diri dapat membuat nyaman pengunjungnya. Sebut saja KOI Kemang, The Goods Cafe, dan berbagai tempat lainnya. Kembali perasaan sama itulah yang saya alami ketika masuk ke sebuah kafe baru di bilangan Kemang Selatan dengan nama Never Been Better, sebuah nama yang catchy sekaligus ambisius.

Seketika saja saya teringat sebuah eatery cilik di Bandung dengan nama Q di dekat Universitas Parahyangan. Konsepnya adalah open kitchen yang dikelilingi oleh bar stools layaknya sebuah diner di Amerika Serikat. Desainnya sendiri simple dan menggunakan juga barang-barang reuse seperti kursi yang terbuat dari peti bekas serta berbagai nuansa kayu untuk furniture-nya. Hal yang sama ditemui juga di Never Been Better namun dengan konsep yang lebih matang, modern, elaborated, dan bersifat eksperimental.

Soal harga, terkadang dengan mudah kita terjebak dengan ‘stigma negatif’ bahwa rata-rata kafe di Kemang biasanya mahal. Tapi tidak dengan Never Been Better. Selain memang didesain cozy untuk berlama-lama hang out ternyata makanan dan minuman yang disajikan juga sangat affordable. Ragamnya memang tidak terlalu banyak tapi pasti ada saja yang bisa dipilih dari menunya.

Photo by: jenzcorner.net

Mulai dari panganan ringan teman hang out dan wifi seperti Omelette, Sandwich, dan juga selera lokal yaitu Bala-Bala atau lebih dikenal dengan Bakwan di Jakarta serta Tempe Mendoan. Yang langsung saya coba malam itu adalah Never Been Better signature dishes yaitu Pasta Aglio Olio dengan smoked beef dan Chicken Oregano yang konon katanya dibumbui heavily dengan dedaunan tersebut.

Ketika datang, hidangan semacam aglio e olio biasanya menimbulkan kesan kering sehingga kebiasaan meminta olive oil langsung saja diajukan. Hasilnya adalah kekecewaan dan simple saja alasannya, olive oil tidak tersedia untuk pengunjung.

Dari segi rasa ternyata cukup beruntung karena diselamatkan oleh kuantitas keju yang mencukupi serta perimbangan yang baik dari keseluruhan bahannya. Tentu yang saya maksud adalah tidak perlu adanya tambahan saus sambal yang telah menjadi kebiasaan orang Indonesia di berbagai jenis makanan.

Spaghetti Aglio Olio (Photo by: jenzcorner.net)

Untuk Chicken Oregano-nya sendiri ternyata disajikan setelah dipanaskan oleh microwave sehingga suhunya lumayan bisa membakar bibir dan lidah apabila langsung disantap. Ayamnya sendiri seperti ayam bakar yang telah direndam oleh bumbu yang rasanya cukup kuat. Meski dalamnya agak basah dan beberapa bagian kurang meresap rasa gurihnya namun dari segi ukuran ayamnya mampu untuk menyeimbangkan kekurangan di porsi keseluruhannya. Temannya memang hanya sebatas nasi putih dan sayur cabikan seperti di Solaria dan Hoka Hoka Bento dengan saus mayo-nya.

Terlepas dari kekurangannya, penutupnya justru yang lumayan menggembirakan. Itulah Fried Ice Cream yang mendendangkan tema nostalgia. Isiannya adalah strawberry ice cream serta roti gorengnya sendiri dilumuri saus coklat. Dengan harga yang murah dan memuaskan, tentu ini adalah opsi wajib untuk mengunjungi Never Been Better.

Sungguh tempat nyaman yang layak dikunjungi kembali. Mudah-mudahan lain waktu crowd-nya tidak hanya sesepi waktu itu saya datang namun berisi orang-orang kreatif yang sedang berdiskusi tentang karya-karya yang tengah mereka kembangkan karena atmosfirnya terasa cocok untuk itu. Me? I’ll just bring my notebook and start to write. Coffee please!

—–

Never Been Better

Rating: **

Halal-friendly (no halal certification seen)

Unsuitable for vegetarians

Address: Jl. Kemang Selatan no. 31, Jakarta

RSVP: 021 – 2725 2445

Twitter: @nevbeenbetter

Opening Hours: 10 am – 1 am (weekday), 10 am – 3 am (weekend)

Pricing: IDR 75,000 – 100,000 for two

Atmosphere: A customized industrial interior with recycled furniture and panels fit for teens and architectural geeks.

Ambiance: Relatively quiet though suitable for hang outs.

Service: Nothing to complain so far.

—–

-Featured in HANG OUT JAKARTA August 2011 edition-

Photos by jenzcorner.net

Restaurant Review: Umaku

Assorted Sushi (Photo by: jenzcorner.net)

Who doesn’t like sushi and sashimi nowadays? Demam yang dahulu dibawa pertama kali oleh Sushi Tei kini tersedia hampir dimana-mana dengan berbagai konsep dan harga yang bermacam-macam. Salah satunya adalah Umaku, pemain lokal yang sukses dengan beberapa cabangnya di berbagai tempat di Jakarta.

Ketika demam itu sedang berada di puncaknya, bermunculanlah berbagai gerai sushi dimana-mana. Dengan mengandalkan harga murah ketimbang kualitas tetap saja warna-warninya memikat mata siapa saja yang memandang. Pernah saya temukan gerai di mall yang menggunakan air yang mengalir pengganti sushi-go-round yang lazim kita lihat di Kiyadon atau Sushi Tei. Ada pula yang menggunakan mobil box yang dimodifikasi khusus sebagai kedai. Selain itu juga ada juga yang memugar halamannya menjadi sebuah sushi bar bahkan hingga yang menyajikan sushi siap saji di atas beberapa tray besar di pinggir jalan.

Jatuh bangun usaha seperti ini masih sering terjadi hingga detik ini dan salah satu pemain sukses yang saya temui adalah Umaku. Konon sukses membuka beberapa cabang pasca usaha perdananya di Cibubur, saya menjadi tertarik karena Umaku kerap dibicarakan orang karena reputasinya. Selain itu, entah karena memiliki kedekatan tertentu atau tidak, dua cabangnya yang relatif baru tersebut dibuka bersebelahan persis dengan Kopitiam Oey yang terletak di Tebet dan Duren Tiga.

Various Japanese Dishes (Photo by: jenzcorner.net)

Umaku Tebet terlihat cukup segar dengan space memanjang yang terlihat luas. Meski telah diusahakan agar terasa atmosfir Jepang dengan dinding besar yang beraksen koran-koran Jepang, ambiance lagu Jepang dan satu dua sentuhan lainnya namun tetap kehangatan sebuah izakaya atau restoran asli Jepang masih belum terasa sepenuhnya.

Dari segi harga ternyata masih cukup bersaing dengan Sushi Tei khususnya pada bagian sushi, sashimi dan maki. Tidak hanya berkutat di dunia sushi ternyata banyak juga pilihan lain seperti grills, menrui (mie ala Jepang), yakimeshi (nasi goreng), dan yang paling seru tentunya adalah set menu!

Unagi Sushi (Photo by: jenzcorner.net)

Adalah Jyo Sushi Moriawase yang saya pilih waktu itu dan paketan ini terdiri dari nasi hangat, chawan mushi dan miso shiru. Terlihat warna warni segar ketika disajikan dan terdiri dari shake, maguro, shiromi, tako, dan saba. Sungguh semuanya memberikan kekayaan rasa yang khas dan segar terutama ikan saba (mackerel) yang nikmat dengan tingkat kegurihannya yang unik serta tidak terlalu lazim disediakan sebagai bagian dari set menu. Hanya sayang untuk chawan mushi-nya tidak terlalu berisi dan agak tawar namun justru kebalikannya bagi miso shiru yang agak kelewat asin.

Mungkin yang tersisa hanyalah penyajian menu yang bersifat lebih visual dan indah dilihat yang diharapkan dapat membantu pengunjung yang tidak terbiasa dengan istilah dalam bahasa Jepang. Dengan tambahan satu dua sentuhan yang berbau lebih otentik yang saat ini masih kurang terasa, mungkin tidak lama Umaku akan menjadi pemain lokal yang lebih representatif lagi sebagai duta makanan Jepang di Indonesia.

—–

Umaku

Rating: ***

Halal-friendly (some dishes may contain mirin)

Unsuitable for vegetarians

Address & RSVP:

  1. City Walk Blok CW 1 no. 26, Citra Gran Estate, Cibubur (021 – 843 037 33)
  2. Jl. Tebet Raya no. 141, Jakarta (021 – 837 091 32)
  3. Jl. Duren Tiga Raya no. 32, Jakarta (021 – 791 703 37)

Opening Hours: Thu-Sun (12 pm – 3 pm, 5 pm – 10 pm), Monday closed

Website: http://umakuresto.com/

Facebook:

  1. http://www.facebook.com/umaku.tebet
  2. http://www.facebook.com/pages/Umaku/

Twitter:

  1. @umaku_tebet
  2. @umaku_duren3

Atmosphere: An air-conditioned low budget Japanese restaurant with wallpapers full of Japanese newspapers (Tebet).

Ambiance: All Japanese songs with the cashier singing along!

Service: Nothing to complain nor acclaim so far.

Pricing: Around IDR 100,000 for two

—–

-Featured in HANG OUT JAKARTA December 2011 edition-

Photos courtesy of jenzcorner.net

Restaurant Review: Sinou Steak

Sinou memang bukan sebuah nama baru. Kita sudah lama mengenalnya sebagai kaffee hausen yang terletak di bilangan Panglima Polim. Di sisi lain tak ayal perkembangan steakhouse lokal sudah menjadi komoditas yang sangat digandrungi oleh semua kalangan. Salah satunya tentu saja ini melahirkan apa yang kini kita lihat sebagai Sinou Steak.

Konsepnya bukan sebuah steakhouse dengan harga selangit dan suasana yang mahal tapi Sinou tetap memperlihatkan konsep klasik dalam sebuah kesederhanaan yang sebetulnya dikuasai oleh daging-daging sapi impor!

Oh betapa cepatnya perkembangan kuliner Indonesia di dekade kedua millennium ketiga ini!

Rasanya baru beberapa tahun sebelumnya our dining scene masih berisi steakhouse impor yang overpriced ataupun steakhouse lokal yang belum banyak beragam kreasinya. Tapi kali ini, seberapa tidak beragam kelihatannya, kita sudah bisa merasakan steak dari berbagai bagian tubuh sapi. Sempat teringat sejak masa hanya tren bagian sirloin, tenderloin, dan T-bone namun kali ini kita sudah bisa merasakan berbagai bagian lain seperti rib eyes, short ribs, rump, dan lain-lain bahkan varian US Beef, Black Angus, hingga Wagyu.

Bolar Blade Steak

Seperti halnya juga di Sinou Steak, selain suasananya relatif lebih tenang dan nyaman untuk bersantap ternyata ada pilihan daging dari bagian chuck yaitu Wagyu Bolar Blade Steak beserta tetangganya Wagyu Short Ribs Steak yang tanpa basa-basi langsung saja saya pesan. Pendampingnya adalah Sinou Sauce yang konon berbeda dari trio saus yang sudah kita kenal seperti BBQ, mushroom, dan black pepper.

Sayang sungguh mengecewakan bahwa pada tengah hari seperti saat itu belum tersedia pilihan mashed potato sebagai sidekick sang daging karena masih dipersiapkan sehingga pilihan French fries biasa menjadi alternatif terakhir.

Short Rib Steak

Namun untungnya tak ada penyesalan dari apa yang saya pesan! Selain ditemani iced lemon tea berukuran raksasa yang segar, steak yang saya pesan juga terasa nikmat sekali. Masing-masing berukuran 200 gram dan dimulai dari short ribs yang menjadi favorit saya. Semuanya ludes tak bersisa hingga sekeliling tulangnyapun bersih!

Untuk bolar blade steak juga tak kalah serunya. Selain di luar dugaan bahwa bagian chuck biasanya lebih alot, justru daging yang dipesan begitu empuk, kaya rasa, serta cukup juicy. Nyawa kedua tentunya terletak pada Sinou Sauce yang terasa gurih dan creamy serta cocok untuk segala jenis daging.

Sungguh start yang cukup baik telah diperagakan oleh Sinou Steak apalagi secara harga juga masih cukup affordable. Semoga ke depannya beragam promosi, menu baru, dan kemajuan di bagian lain yang lebih positif demi persaingan yang semakin seru dengan steakhouse lain yang tidak kalah serius juga. Keep it up, Sinou!

—–

Sinou Steak

Rating: **

Halal-friendly (imported beef)

Unsuitable for vegetarians

Address: Jl. Senopati Raya no. 35

RSVP: 021 – 521 3011

Opening Hours: 11 am – 11 pm

Email: sinousteak@gmail.com

Twitter: @SinouSteak

Atmosphere: Cantina a la Wild Wild West with kitschy toilet.

Ambiance: TV buzzing all the time.

Service: Inconsistency may occurs.

Pricing: Around IDR 150,000 – IDR 200,000 for two

———-

-Featured in HANG OUT JAKARTA February 2012 edition-

Restaurant Review: Nuria’s Deli

Bahkan sejak awal saya mengetahui kekuatan Nuria’s Deli adalah pada pastry-nya. Lihat saja pengalaman Nuria Said yang pernah mengecap pendidikan di Perancis. Targetnya adalah tentu, sang pujaan hati, Red Velvet Cupcake.

Tapi marilah kita simpan dulu cita-cita itu dan lihat dulu apa yang Nuria’s Deli tawarkan selain kue-kuenya yang terkenal. Nuria’s Deli uniknya buka mulai pukul empat sore dan saat saya berkunjung adalah kurang lebih baru lewat waktu Maghrib, tapi justru yang saya lihat adalah beberapa kue sudah sold out yaitu seperti Mille Feuille, Choux Crumble, Mini Tartlette, serta Nutella Crème Brulee.

Padahal ini adalah sebagian besar dari menu spesialnya dan ini cukup mengecewakan mengetahui bahwa pada jam yang masih terbilang awal ternyata sudah habis dengan cepatnya. Tapi setidaknya kita mulai dulu dari makanan utama lainnya terlebih dahulu.

Untuk itu Nuria’s Deli mencoba berspesialisasi di sushi dan sashimi dengan harga yang sangat affordable. Tanpa berlama-lama, langsung saja pilihan berbagai Sushi Roll yang bertemakan fusion sajalah yang tampak jelas menjadi jawara di sana. Meskipun menunya tidak menjelaskan dengan detail tentang apa saja yang dimaksud dengan Titanic, Aichan Roll, atau Philadelphia tapi untung saja para waiter dan waitress bisa menjelaskannya dengan baik.

Sushi roll yang datang tersaji agak berantakan dan jelas tidak mengutamakan penampilan visual, setidaknya pilihan Flying Dragon Roll tampil tetap menggoda dengan pilihan bahan-bahannya yang terdiri dari mangga, alpukat, melon, udang serta salmon. Dari segi ukuran tentu lebih kecil tapi dari segi rasa setidaknya masih tetap enak dan unggul dengan berbagai gerai-gerai affordable sushi lainnya.

Untuk makanan Jepang lainnya seperti Donburi (nasi yang dibubuhi pilihan lauk seperti beef teriyaki atau chicken katsu) terbilang lumayan memuaskan meskipun dengan rasa yang tidak segurih apa yang bisa kita dapat dengan harga yang lebih mahal dan jumlah potongan daging yang agak alot dan tidak banyak. Apalagi untuk pilihan Doria/Gratin (baked rice dengan lelehan keju dan krim serta potongan ayam) yang  sayangnya berasa tawar serta terlalu berat untuk dihabiskan.

Maka sebagai pelipur lara, pilihan Macarons atau Cupcakes tersedia di counter untuk dipilih. Red Velvet yang saat ini tengah kondang di segenap usaha bisnis cupcake di Jakarta tampak sebagai pilihan yang bijak. Rasa manis yang seimbang serta cream cheese yang kental sekaligus nikmat sebagai topping-nya yang ditambah taburan warna warni coklat cilik terasa saling melengkapi kenikmatan cupcake tersebut. Pertemuan pertama indra pengecap saya begitu berkesan bahkan hingga titik penghabisan.

Akhirnya saya teryakinkan bahwa Nuria memang berspesialisasi di bidang pastry dengan meyakinkannya dan usahanya untuk merambah meskipun belum bisa tampil meyakinkan tapi patut dipuji. Apalagi ketika kunjungan saya ada pesanan delivery hingga sejauh Kemang. Semoga saja usaha bisnis seperti ini, sebagaimana sederhananya, mampu menyajikan kenikmatan dalam kejujuran yaitu dalam format yang terus berkembang lebih baik dan harga yang tidak memberatkan pembelinya. Good value!

———-

Nuria’s Deli

Rating: **

Halal-friendly (to be confirmed but some cakes may use rum)

Unsuitable for vegetarians

Address: Jl. Tebet Utara no. 28, Jakarta

RSVP and Delivery: 021 – 8291 546

Opening Hours: 11 AM – 11 PM (Daily, closed on Monday)

Website: http://www.nuriaskitchen.com

Facebook: http://www.facebook.com/pages/Nurias-Kitchen/

Twitter: @NuriasDeli

Atmosphere: No sound system apart from employees playing alay music on their radio or cellphone .

Ambiance: Oh it’s so quiet!

Service: Some hesitation may occurs but helpful nonetheless.

Pricing: Around IDR 50,000 – IDR 100,000 for two

———-

-Featured in HANG OUT JAKARTA February 2012 edition-

Main Feature: Jakarta’s Best New Openings in 2011

Jakarta is indeed never running short of cool, new places. Therefore, HOJ memilih 10 di antaranya dari sekian banyak pilihan keren untuk tempat nongkrong seru dengan keluarga atau teman-teman kamu. Have fun hanging out there!

—–

Monolog Coffee

Berduet dengan saudaranya De Luca di seberangnya yang berspesialisasi Italian, Monolog Coffee membuat trend ngopi menuju ranah yang lebih elegan, berkelas dan diiringi hidangan big breakfast and most of all, great pastries. It’s cool to hang out here for a cup of Jo!

Plaza Senayan CP 101B Palm Gate Entrance, Jl. Asia-Afrika no. 8, Jakarta // 021 – 575 2144 // http://monolog-coffee.com // @MonologCoffee // FB: Monolog-Coffee

—–

Liberica Coffee

Berbeda dengan Monolog, Liberica yang datang membawa produk kopi lokal dan siap bersaing dengan berbagai coffee shops lainnya yang berhaluan nasionalis. Not only that, Liberica juga turut serta menjual produk biji kopi lokal. The similar thing with the former? Good coffee and enticing desserts!

Pacific Place 4th Fl, Unit 4-40 & 41, Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53, Jakarta // 021 – 5797 3375 // http://libericacoffee.com // @libericacoffee // FB: Liberica-Coffee

—–

Madeleine Bistro/Shelter

We have seen sprawling French cuisine establishments all over Jakarta tapi Madeleine Bistro datang menbawa masakan Perancis dengan cara santai, rustic, tapi juga affordable. How about a plate full of sinful Duck Confit over an orange salad or delicious lamb chops with perfect ratatouille? Afterwards, feels like hanging out a bit longer? Shelter is the answer upstairs.

Kemang 89, Jl. Kemang Raya no. 89, Jakarta // 021 – 7179 4538 // http://madeleinebistro.co.id // @madbistrojkt // @sheltersky // FB: Madeleine-Bistro

—–

Michelin Starlights at Lyon, Mandarin Oriental Hotel Jakarta

Lyon memang bukan tempat baru tapi proyek ambisius Mandarin Oriental Jakarta inilah yang anyar. Tahun ini Mandarin Oriental telah sukses mengundang dua chef ternama yaitu Chef Fabien Lefebvre dan Chef Jerome Laurent, yang telah restoran-restorannya telah memperoleh gelar prestisius Michelin Star, untuk memasak di Lyon dalam waktu singkat saja. As for you, anticipate 2012 for another extravagant dine out and a bit of classy hang out there.

Mandarin Oriental, Jl. MH Thamrin, Jakarta // 021 – 2993 8888 // http://mandarinoriental.com // @MO_JAKARTA

—–

Ocha & Bella

Secantik namanya, Ocha & Bella memang berpenampilan menarik juga. Dengan desain yang stylish dan bagian outdoor-nya yang keren, Ocha & Bella dengan mudah menarik perhatian banyak orang. Temanya adalah menggabungkan izakaya dan ristorante, hasilnya bisa jadi beragam namun yang terenak adalah minuman racikan yang terbuat dari ocha. Give it a try!

Jl. KH Wahid Hasyim no. 70, Jakarta // 021 – 3105 7770 // http://ochaandbella.com // @Ocha_and_Bella // FB: OchaandBellaJakarta

—–

Turkuaz

Turkuaz wakil terbaru dari ranah Asia Kecil dengan sang kapten Sezai Zorlu di Jakarta. Dengan pengalaman panjang sang  chef dan disertai pilihan makanan khas Turki yang berwarna, berbumbu, wangi, dan suasana restoran yang unik, Turkuaz adalah pilihan yang sulit diabaikan apalagi baklava sebagai penutup klasiknya. Luscious!

Jl. Gunawarman no. 32, Jakarta // 021 – 7279 5846

—–

Magnum Café

The place has seen long, queuing crowds and still crowded at times but it’s the ice cream that matters! Dengan sejumlah pilihan makanan yang menarik serta paduan dessert yang menggoda tentu tidak sulit untuk lebih berlama-lama lagi di sini.

Grand Indonesia West Mall Level 5, Jl. MH Thamrin No. 1 // http://mymagnum.co.id/index.php/page/cafe  // @mymagnumID // FB: magnumcafe

—–

The Butcher

While steakhouses tend to be rustic and good for brief dine in only, The Butcher tampil dengan serta tempat yang nyaman untuk makan santai dan dilengkapi kekayaan saus serta berbagai jenis steak. Not just the entrées tapi justru hidangan pembukanya yang lezat jugalah yang akan membawa senyum untuk semua!

Gandaria City Mall, South Main St. Lobby, Jl. Sultan Iskandar Muda, Jakarta // http://culinaryconcepts.asia // 021 – 2900 8038 // @Th_Butcher // FB: TheButcherIndonesia

—–

The Goods Cafe

What’s better than one stop shopping slash hanging out at the same time? Jawabannya adalah The Goods Dept. dan The Goods Café. What a cool place! And drinks? Cobain saja Baileys Milkshake khas The Goods Café that will keep you glued there.

Plaza Indonesia L4 #14, Jl. MH Thamrin Kav. 28-30, Jakarta // 021 – 2992 3628 // http://thegoodsdept.com // @thegoodscafe // FB: The-Goods-Department

—–

The 3 House

Al fresco dining, cool place to hang out, live music, and most of all, great view? The 3 House adalah jawaban terbaru dari Kuningan Village. Selain itu dengan suasana serba hijau dan dipenuhi tetumbuhan, The 3 House adalah pilihan nyaman bersantai di antara concrete jungle of Jakarta.

Jl. Karbela Timur No. 1, Jakarta // 021 – 5290 3131 // http://kuninganvillage.com // @KunVill // FB: kuninganvillage

—–

-Featured in HANG OUT JAKARTA December 2011 edition (unedited)-

Main Feature: Valentine’s Dinner Spots (a la Jakarta’s Food Enthusiasts)

Looking for a cool place to celebrate your romantic dinner? HOJ menanyakan beberapa food enthusiasts di Jakarta mengenai pendapat-pendapat mereka tentang tempat makan paling romantis di Jakarta. So, here’s the list and some of their story behind their picks.

—–

JAVA BLEU BISTROT

Jl. Cikini Raya no. 15 // 021 – 314 4545

@gastroficionado

Picked by: @gastroficionado (food/movie blogger and journalist) –

http://gastronomy-aficionado.com // http://sassyraconteur.wordpress.com

“Hidden and rustic. Java Bleu mungkin bukan sebuah gambaran suasana bergelimang kemewahan tapi justru with its quiet ambiance, this might be what you really need for your romantic dinner. Kalau beruntung bertemu Chef Antoine Audran, nikmati keahilannya dalam meracik masakan Perancis khasnya dalam suasana santai di bangunan era kolonial Belanda dengan masakan seperti escargot, beef entrecote, dan diakhiri oleh coffee and vanilla profiteroles yang lezat.”

—–

THE SRIWIJAYA

The Dharmawangsa // Jl. Brawijaya Raya no. 26 // RSVP: 021 – 725 8181

@ErzaST

Picked by: @ErzaST (senior lifestyle journalist, gourmet aficionado, and opera enthusiast)

“Salah satu dari restoran Perancis terbaik di Jakarta dan tentunya tidak ada yang lebih ‘aphrodisiac’ daripada masakan Perancis. Suasana  The Sriwijaya yang mewah dan juga atmosfirnya yang tenang sangatlah cocok untuk romantic Valentine candle light dinner bersama sang pasangan. Foie gras tetap menjadi pilihan yang paling tepat untuk memulai malam anda di sana”.

—–

PEPeNERO CUCINA ITALIANA

Plaza Pondok Indah 2 Blok BA 25-26, Jl Metro Pondok Indah – 021 750 0959 //

The Energy Building, Jl Jend. Sudirman Lot 11A, SCBD – 021 5296 4006 //

Menara Karya, Jl. HR Rasuna Said Block X-5 Kav. 1-2 – 021 5794 4727  

                                                                    

@ImelB

Picked by:@ImelB (food blogger ) – http://melbudiman.tumblr.com

I just simply love Italian food! Sejauh ini PEPeNERO belum pernah mengecewakan bagi saya. Really in love with the food and the atmosphere”.

 —–

THE EDGE

Kemang Icon by Alila // Jl. Kemang Raya no. 1 // 021 – 719 7989

@danieldeka

Picked by: @danieldeka (food researcher and consultant)

“Great ambiance and has a rooftop pool, which makes it even more romantic for Valentine dinner”.

 —–

INDOCHINE JAKARTA

fX LIFESTYLE X’NTER // JL. Jend. Sudirman – Pintu Satu Senayan // 021 – 300 30 330

@ellynatjohnardi

Picked by: @ellynatjohnardi (food blogger) – http://culinarybonanza.blogspot.com

Make that rooftop dinner watching the sunset at IndoChine, fX”.

 —–

EMILIE – Jl. Senopati No. 39 // 021 – 521 3626

AMUZ – The Energy Building, Jl Jend. Sudirman Lot 11A, SCBD // 021 5296 4006

@gfgfgl

Both picked by: @gfgfgl (food blogger) – http://goodfoodgoodlife.wordpress.com

“Menurut saya, seven course degustation dinner di Emilie atau Amuz sangat cocok untuk malam Valentine yang berkesan”.

 —–

IL MARE

HOTEL MULIA SENAYAN // Jl. Asia Afrika // 021 – 574 7777

@lolo_appetite

Picked by: @lolo_appetite (food blogger) – http://lolo-appetite.blogspot.com

“Untuk saya masakan Italia yang disandingkan dengan wine selalu menjadi pilihan tepat di saat Valentine. Il Mare would be lovely for that!”.

 —–

KINARA

Jl. Kemang Raya no. 78B // 021 – 719 2677

@AnakJajan

Picked by: @AnakJajan (food bloggers couple) – http://anakjajan.wordpress.com

“Dengan menu authentic Indian and Pakistani, Kinara memiliki tempat yang temaram dengan suasana romantic and intimate. Service-nyapun oke, bahkan pelayannya berinisiatif sendiri menawarkan untuk mengambil foto kita berdua”.

 —–

COLLAGE

PULLMAN JAKARTA CENTRAL PARK // Podomoro City, Jl. Letjen S. Parman Kav. 28 // 021 – 29 20 00 88

@BurhanAbe

Picked by: @BurhanAbe (senior lifestyle editor and journalist, wine aficionado) – http://burhanabe.blogspot.com

“Bukan hanya makanannya (dan wine tentu saja) yang memenuhi standar kelas satu, tapi hotel upscale (kata lain dari bintang lima) milik Accor ini mempunyai dekor yang unik. Lukisan-lukisan bergaya pop art ala Andy Warhol mewarnai hampir setiap sudut. Patung-patung dan hiasan layaknya seni instalasi juga bertebaran di sana-sini, tidak sekadar fungsional tapi juga artistik, menjadi pemandangan yang menawan mata”.

—–

-Featured in HANG OUT JAKARTA February 2012 edition (unedited)-

Restaurant Review: The Butcher

Steakhouse fever is all over Jakarta! Setelah pemunculan berbagai steakhouse lokal seperti Abuba yang sempat legendaris beberapa tahun lalu hingga Holycow Steak yang animonya begitu luar biasa, grup yang membesarkan The Apartment kini ikut andil juga membuka steakhouse & deli di Gandaria City Mall dengan nama The Butcher.

Meskipun namanya tidak artistik dan mengikuti konsep nama seperti pendahulunya yaitu The Apartment, tapi ternyata nama yang simpel bisa jadi memiliki nilai jual tinggi untuk percepatan popularitas. Suasana di The Butcher diciptakan sedemikian rupa seperti tempat berjualan daging namun tentunya nyaman dan bersih. Untuk menciptakan suasana yang sesuai, dapat terlihat banyak ‘daging’ yang digantung hingga celemek dan sepatu bot layaknya berada di tukang daging.

Sesuai dengan namanya pula The Butcher memang tidak hanya menjadi steakhouse namun juga memang sungguhan berjualan daging. Untuk membedakannya dengan toko daging pada umumnya, The Butcher menggunakan US Wagyu Beef dengan grade 7+ dan tetap juga tersedia daging jenis lainnya. Tentunya ini dimaksudkan agar harganya dapat lebih terjangkau pula.

Meat Sampler with 7 sauces

Nachos with US Beef Enchiladas and Tomato Salsa

Pilihan menu tersedia cukup beragam. Bagi penggila steak bisa hanya memesan potongan daging striploin, rib eye, dan tenderloin dengan sepaket salad, satu pilihan saus dari berbagai pilihan, and tore yourself between mashed potato, pilaf rice, or French fries. Tentu tidak sulit bagi saya memilih yang terbaik dari The Butcher dan itu adalah Meat Sampler yang terdiri dari empat potongan daging berbeda seberat kurang lebih 60 gram masing-masingnya. Kesemuanya saya pilih untuk dipanggang medium-well dan disajikan bersama tujuh saus yang berbeda.

Pertama yang tidak boleh lupa adalah starter berupa nachos kentang dengan campuran saus cakwe, tomato salsa, dan guacamole digabungkan dengan beef enchiladas. Langsung saja itu menjadi salah satu starter yang paling lezat yang pernah saya nikmati! Perpaduan sausnya begitu nikmat, mulai dari asam gurih saus cakwe, segarnya tomat, nanas, alpukat, hingga saus daging serasa bolognaise yang digabungkan dengan kacang merah. It’s everything in one bowl, simply fantastic!

Tapi yang salah adalah penyajiannya yang langsung dilanjutkan dengan main dish bahkan sebelum selesai dengan appetizer-nya itu. Sayang hanya rib eye dan short ribs yang justru tampil prima dan bukannya sang tenderloin karena anehnya terlalu alot ketimbang lembut dan juicy. Meskipun demikian empat potong daging ini ternyata begitu hebat ketika disatukan dengan tujuh saus penuh warna seperti black pepper, BBQ, creamy pesto, chimichurri, creamy horseradish, red wine dan mushroom. Beruntung saus-saus yang miraculous itu menutupi semua kekurangan yang ada!

My personal favorite sauces? It’s the thick and fresh yet ‘herbish’ chimichurri! And you’d better thank the sauces for everything, The Butcher, because I might be back again for that.

—–

The Butcher

Rating: ***

Halal-friendly (no pork, some sauces using liquor, imported beef, but other alternatives available)

Unsuitable for vegetarians

Address: Gandaria City Mall, Jakarta – South Main Street Lobby

Opening Hours: Mall opening hours (Daily)

RSVP: 021 – 2900 8038

BB Pin: 21791D71

Email: thebutcher@culinaryconcepts.asia

Website: http://www.culinaryconcepts.asia/thebutcher/

Facebook: TheButcherIndonesia

Twitter: @Th_Butcher

Atmosphere: A butcher and deli gone clean and comfy.

Ambiance: Conversational.

Service: Knowledgeable but might not understand the importance of sequencing appetizer then mains then desserts.

Pricing: Around IDR 300,000 for two

—–

-Featured in HANG OUT JAKARTA December 2011 edition-

Restaurant Review: Collage

Grup Accor asal Perancis dengan jaringan hotel-hotelnya yang ternama di seluruh dunia kini menghadirkan salah satu upscale brands-nya dengan nama Pullman. Hadir di Jakarta baru-baru ini, Pullman tidak segan-segan membawa kemewahan itu dengan kehadiran Collage sebagai restoran internasionalnya.

Pengalaman memasuki Pullman bisa jadi adalah suatu hal yang tidak lazim. Pada umumnya ketika memasuki sebuah hotel bintang lima, biasanya kita merasakan kesan mewah yang terkadang intimidatif. Lain halnya dengan Pullman yang sengaja didesain dengan suasana kreatif dan casual namun juga masih menghadirkan suasana classy di dalamnya.

Dengan perpaduan gaya antara kontemporer, pop art dan berbagai display hiasan yang tidak lazim untuk hotelnya, tentu Collage sendiripun tidak kalah funky dan dilengkapi dengan open kitchens yang mengetengahkan berbagai sajian kuliner internasional serta sedikit sentuhan ala Jepang, Peranakan, India, dan tentunya Indonesia.

Pimpinan orkestra kuliner dari Collage adalah warga negara Perancis dengan nama Chef Eric Baudru yang berdarah Korea Selatan. Chef Eric meluangkan waktu untuk menjelaskan mengenai masakan-masakannya untuk Collage yang memang banyak dipengaruhi hidangan ala Mediterania yang segar dan banyak menggunakan sea food di dalamnya. Tentu saja demikian, karena kota asalnya adalah Avignon terletak tidak jauh dari Marseilles yang berbatasan langsung dengan Laut Tengah.

Sebagai pembuka, Collage mempersembahkan sushi dan sashimi segar yang bisa dipesan sesuai keinginan. Selain itu tentu berbagai micro food seperti foie gras brulee dan kawan-kawan serta raw oysters mungkin saja justru terlalu tajam dan berat sebagai pembuka karena rasanya yang khas. Alternatively, berbagai macam keju, salmon gravalax, pastrami dan cold cuts bisa menjadi pilihan menu pembuka anda.

Melangkah ke bagian berikutnya tentu akan membuat anda sedikit bingung karena pilihan yang tersedia begitu banyak. Anda bisa melangkah ke bagian Asia Timur yang terdiri atas bebek char siu, dim sum, hingga India dengan roti naan, nasi biryani, dan berbagai pendamping dagingnya dengan assorted chutneys.

Tapi yang menjadi juara dari semuanya adalah justru menu tradisional Indonesia dengan nama nasi bakar yang berisi daging sapi dan beraroma wangi khas rempah-rempah Indonesia. Tentunya yang tidak boleh terlewat juga adalah carving tables dengan grilled shortribs-nya yang telah melewati fase slow cooking selama 72 jam dan berhasil menjadikannya lezat sekaligus lembut dan juicy.

Ternyata bukanlah sebuah pengalaman isapan jempol belaka dengan apa yang akan anda rasakan bersama Pullman Hotel. Selain menikmati sisi artistik hotel ini, suasana belanja lengkap di mall-mall sekitarnya serta pemandangan kota yang menakjubkan, pengalaman di Collage menjadi satu hal yang juga tidak boleh dilewatkan.

Collage

Halal-friendly

Address: Podomoro City,  Jl. Letjen S. Parman Kav. 28, Jakarta

RSVP:

Atmosphere: Funky modern pop art museum turned into hotel.

Ambiance: Conversational.

Service: A five star hotel. You expect more?

Pricing: TBA

Opening Hours: TBA

Twitter: @Pullman_Jkt_CP

Facebook: pullmanjakartacp

-Featured in HANG OUT JAKARTA January 2012 edition (unedited)-

Interview: The Multicultural MasterChef, Adam Liaw

TGA and Adam Liaw

Kecintaannya pada memasak membuat Adam Liaw memutuskan untuk mengikuti audisi MasterChef Australia hampir dua tahun yang lalu. Siapa yang menyangka keputusannya meninggalkan profesi tetapnya sebagai lawyer justru akan membawanya menuju kesuksesan cepat di usia muda setelah menjuarainya?

Waktu bergulir dan berbagai kegiatan telah dilaluinya setelah menjuarai kompetisi tersebut. Selain telah meluncurkan buku memasaknya yang sukses berjudul Two Asian Kitchens, Adam Liaw juga kini tengah mempersiapkan diri untuk membuka sebuah restoran di Jepang.

Portico beberapa waktu yang lalu mengundang Adam Liaw untuk sebuah event selama dua hari dimana ia memasak hidangan-hidangan khasnya untuk 400 pengunjung. Hanya dalam waktu kurang dari seminggu dan tanpa promosi selain lewat Twitter, event ini langsung fully booked dalam sekejap.

Sebelumnya HOJ mendapatkan kesempatan untuk mewawancarainya dalam sebuah press conference yang intimate dan mendengar langsung kiat-kiatnya untuk menjadi seorang ahli masak yang seru dalam kesehariannya serta kisah saat berkompetisi pada MasterChef Australia.

Apa sih konsep dari buku Anda?

Konsepnya sangat personal. ‘Two Asian Kitchens’ terdiri dari dua bagian yaitu New dan Old. Di bagian Old Kitchen, ceritanya mengenai masakan-masakan khas keluarga saya sejak kecil dan juga masakan-masakan favorit saya saat perjalanan saya ke China, Jepang, serta Korea, Vietnam dan Thailand.

New Kitchen bercerita bagaimana pengalaman kuliner saya selama ini berpengaruh langsung ketika saya berada di perantauan. Contohnya ketika saya berada di Jepang, saya yang tumbuh dari pengaruh masakan Malaysia, Peranakan, Chinese, dan juga Australia harus menyesuaikan apa yang saya masak dengan kondisi di Jepang yang memiliki situasi dan bumbu yang berbeda-beda.

Bagaimana tanggapan masyarakat ketika buku Anda terbit?

Banyak respon bagus dari berbagai kalangan termasuk para penulis berpengaruh di Australia. Rencananya dalam waktu dekat ini buku saya akan diterjemahkan ke bahasa Belanda dan akan diterbitkan di Eropa serta Afrika Selatan.

Proses penyusunannya sangatlah menyenangkan. Semua orang yang mencintai makanan akan berharap bisa menulis suatu buku kelak dan saya mendapatkan kesempatan itu. Penyusunannya sangat sulit tapi saya sangat menikmatinya.

Apakah Anda membaca buku-buku masakan lainnya?

Ya dan sangat banyak. Salah satu yang sering saya baca waktu kecil dulu adalah ‘Complete Asian Cookbook’ oleh Charmaine Solomon yang sangat klasik. Tapi favorit saya adalah ‘Cooking Bold and Fearless’ dari sebuah penerbit di California yang saya temukan di toko loak di Jepang seharga satu dollar saja! Diterbitkan pada tahun 1950an saat dimana Amerika mungkin hanya mengenai hot dog dan hamburger tapi justru di buku ini banyak dikenalkan masakan seperti char siu, kari India, sushi, dan teriyaki!

Bagaimana hubungan Anda dengan peserta MasterChef lainnya sekarang?

Callum (Hann) dan saya baru saja bermain sepak bola kemarin. Kami kalah 7-1 (tertawa) dan dia yang menciptakan gol semata wayang itu. Saya tetap berhubungan dengan semuanya sejak MasterChef selesai syuting tapi juga saya menjadi sangat sibuk. Terhitung sejak selesai satu setengah tahun yang lalu, saya sering mengadakan perjalanan kemana-mana seperti baru-baru saja saya kembali dari food and wine Show di Johannesburg, pembukaan restoran di Sydney dan lain-lain.

Apakah pencapaian terbesar Anda selama ini?

Buku saya. Itu adalah mimpi saya sejak kecil. Selanjutnya adalah pembukaan restoran baru saya tahun depan (2012).

Banyak yang bilang MasterChef Australia tidak sedramatis versi Amerika, mengapa?

Karena pada dasarnya kita semua bersahabat di acara itu. Orang Amerika mungkin senang melihat Joe (Bastianich) atau Gordon (Ramsay) meneriaki para peserta atau para kontestan saling berseteru satu sama lain. Tapi di Australia itu berbeda karena kita selalu bersama setiap saat dan saling bersahabat. Tentunya kami tetap kompetitif tapi tidak negatif. Kita berusaha yang terbaik untuk bersaing, bukan untuk menjatuhkan sesama.

Bagaimana kiat menjadi juara di MasterChef?

Belajarlah sebanyak mungkin, apalagi karena saya bukanlah juru masak yang terbaik di awal kompetisi dan begitu juga untuk Callum. Proses syuting acaranya berlangsung hampir setahun, kurang lebih 11 bulan dan banyak waktu yang digunakan untuk memasak. Keuntungan terbesarnya adalah setiap hari saya menjumpai chef-chef hebat dan berbagai bahan makanan serta bumbu baru, teknik baru, dan pengalaman baru sehingga itulah yang menjadi kekuatan saya.

-Featured in HANG OUT JAKARTA January 2012 edition-