Restaurant Review: Misticanza

Italian with a touch of Japanese. Sebuah konsep yang cukup berani mengingat sekeliling Misticanza notabene terdiri dari banyak ekspat dari Jepang yang rata-rata seleranya konservatif. Bagi saya, itu suatu catatan tambahan lezat di ensiklopedi pesiar kuliner saya.

Letaknya sebetulnya sangat strategis namun terbilang low profile. Meskipun menjadi tenant di Apartemen Sahid yang baru tapi Misticanza tampak tidak terlalu berepot-repot memunculkan dirinya di Twitter maupun Facebook. Kebetulan ketika saya sehari-hari melewatinya, Misticanza terbilang sepi pendatang baik siang maupun malam.

Photo by: sister.co.id

Sekelilingnya adalah gedung Midplaza yang notabene berisi perusahaan Jepang serta InterContinental Hotel sudah lazim menjadi brand kesukaan turis maupun ekspat dari negeri Sakura sana. Misticanza tampak mencoba memanfaatkan kondisi ‘demografis’ tersebut dan mengusung tema masakan fusion Italia dan Jepang.

Ketika datang pada suatu malam sebetulnya saya berharap banyak sebuah suasana yang homey dan cozy tapi yang saya dapatkan justru penempatan perabotan yang terasa semrawut. Sejujurnya malahan perabotan di Misticanza terlihat terlalu murahan untuk sebuah restoran yang menyajikan makanan dengan harga cukup mahal dan untuk segmen yang ditujukan bagi ekspat.

Pilihan yang eksotis untuk pembuka dengan rasa fusion adalah perpaduan bagna cauda dengan aksen Kyoto. Bagna cauda terdiri dari berbagai sayuran yang direbus ataupun ditumis untuk nantinya dimakan bersama pasta yang terbuat dari miso. Sayurannyapun begitu beragam seperti kol, zucchini, wortel, bawang daun, ubi, selada, cherry tomato, paprika hingga asparagus. Rasa miso yang asin serta aksen bawang yang kental sebetulnya menjadi pembuka yang seru. Tapi lama kelamaan pasta miso tersebut justru agak membuat eneg dan sayurannyapun begitu banyak. Maka di sinilah esensi makan beramai-ramai harus dijalankan layaknya orang Italia!

Prawn Risotto (Photo by: sister.co.id)

Terakhir yang dicoba adalah risotto dengan kari bercitarasa Jepang. Penampilannya gelap dan hanya diiringi oleh sayur-sayuran tapi justru rasa kari yang kencang membuat hidangan ini terasa gurih. Ketimbang berat dengan kekentalannya justru ini adalah satu tipe rasa yang adiktif dan mengajak lidah saya untuk terus menerus menyuapnya. This is a prime example of how fusion genre achieve success!

Mushroom Pizza (Photo by: sister.co.id)

Sebagai pendamping yang saya pesan justru citarasa asli Italia murni dalam bentuk pizza saja. Selain margherita justru funghi yang tampak cocok untuk malam itu. Bentuknya tipis dengan potongan cukup banyak untuk santap berdua atau lebih. Meskipun secara rasa tidak mengejutkan tapi cukup untuk menyimpulkan bahwa Misticanza memang lebih baik dikunjungi dengan semangat mencoba sesuatu yang baru or in other words, its fusion dishes!

Tawaran terakhir sebelum meninggalkan Misticanza adalah bahwa saat ini mereka tengah mengadakan promosi untuk all-you-can-eat-the-desserts sebesar IDR 100,000 per orangnya. Pilihannya juga cukup menggiurkan seperti tiramisu, panna cotta, fruit parfait atau chocolate parfait dan lain-lain. It’s tempting yet challenging. Are you up for it? I am! 

———-

MISTICANZA

Rating: ***

Halal-friendly (some of the menu contains pork and wine)

Some menu suitable for vegetarians

Address: Sahid Sudirman Residence, Jl. Jend. Sudirman Kav. 86, Jakarta – Indonesia

Opening Hours: 11 am – 11 pm

RSVP: 021 – 2902 2837

BB Pin: N/A

Email: info@misticanza.net

Website: http://misticanza.net

Facebook: N/A

Twitter: N/A

Atmosphere: Shabby furniture and awkward placement make Misticanza feel like an alien ship.

Ambiance: Quiet all day.

Service: Highly knowledgeable and helpful to my surprise.

Pricing: Around IDR 150,000 – IDR 200,000 for two

———-

-Featured in HANG OUT JAKARTA May 2012 edition- (unedited)

Pictures by http://sister.co.id

FCK™: Fish & Co.

Fish & Co. tentu bukan nama yang asing lagi di Jakarta dan Surabaya. Bisa jadi karena kehadirannya, semua orang kini sudah mengenal baik istilah ‘fish and chips’. Setelah pemunculannya selama sekian tahun, HOJ kini mencari tahu bagaimanakah konsistensi dari franchise brand asal Singapura ini.

Pertemuan pertama saya dengan Fish and Co. terjadi beberapa tahun silam di salah satu outlet-nya di Pacific Place. Tentunya menu waktu itu belum seberagam seperti sekarang ini tapi tetap yang harus dipesan adalah hidangan fish and chips yang paling tradisional. Rasanya saat itu tentu begitu memesona dan apalagi di kala lapar pasti porsi sebesar itu dapat dihabiskan hingga licin tandas.  Tapi bagaimanakah dengan Fish and Co. yang sekarang?

Ternyata teori pribadi saya bahwa lidah adalah ‘pengkhianat terbesar’ dalam seumur hidup seorang manusia memang benar adanya but rest assured, tentu bukan karena bahwa Fish and Co. mengalami kemerosotan rasa apalagi kualitas. Justru ini terjadi lidah manusia umunya seiring berjalannya waktu kian ‘terasah’ dan untuk pecinta makanan, sudah sangat alami untuk menuntut sebuah rasa yang lebih menantang atau bahkan kompleks.

New York Fish & Chips

Kali ini yang dipesan tentunya sama tapi fish and chips di Fish and Co. sudah terdiri dari beberapa varian yang disesuaikan dengan karakteristik berdasarkan negara. Perbedaannya lebih terdapat pada isian ikan tersebut yang menggunakan jenis keju yang berbeda, tapi tentu default-nya berada pada pilihan New York Fish & Chips yang menggunakan isi keju parmesan pada ikannya yang dibalut tepung renyah serta disiram dengan saus lemon butter. To make it even more colorful, pendampingnya kali ini kita bisa memilih antara french fries, mashed potato, atau paella.

Tapi untuk sekaligus menjajal ‘semua’ yang dimiliki oleh Fish and Co., pilihan yang paling bijak tentunya adalah seafood platter dimana terdapat tambahan ikan, grilled squids with ‘black’ spices dan udang dalam satu hidangan sekaligus. Selain itu serunya juga adalah berkesempatan mencicipi paella yang digabungkan juga dengan kentang goreng.

So it’s the verdict time then. Secara keseluruhan semua menu yang tersedia kini semakin beragam dan menarik, selain juga Fish and Co. senang bermain-main pada eksperimen bumbu dan rempah dari berbagai negara. Meskipun secara pelayanan masih menunjukkan pengetahuan baik tetapi mereka tidak ingat untuk memberitahukan sejak awal apa-apa saja menu yang saat itu tidak tersedia.

Seafood Platter for 1

Sebagai contoh ikan halibut tidak tersedia dengan alasan pasokannya sedang mengalami kesulitan. Meskipun bila diperhatikan sebetulnya para pengunjung rata-rata bermain aman dengan memesan fish and chips yang paling standar ketimbang memesan kepiting atau ikan salmon yang harganya terlalu menjulang. Tentu ini bukan menjadi alasan untuk tidak menginformasikan tentang availability produk pada hari tersebut.

Secara rasa sendiri sebetulnya tidak terlalu banyak kejutan dan bersaing ketat dengan pemain lainnya seperti Manhattan Fish Market namun tentu yang didapatkan juga rasanya tidak mengecewakan. Sehingga tidak heran Fish and Co. mampu bertahan sekian lama karena selalu saja ada pengunjung yang ingin big treat or something nostalgic, like me for instance. Dengan budaya menikmati fish and chips dalam takaran ukuran, variasi, dan kualitas seperti yang ditawarkan Fish and Co. ternyata masih cukup langka di Jakarta, bukan tidak mungkin usaha ini akan bertahan sangat lama dan selalu menjadi favorit untuk semua orang.

———-

FISH & CO.

Rating: **

Halal-friendly

Some menu suitable for vegetarians

Address:

Level 4 Unit 419, Jl. Let. Jend. S. Parman Kav. 21

T: 021 – 5699 8575

Operation hours:

Sun – Thur: 10 am – 10 pm

Fri – Sat & PH: 10 am – 10 pm

Cilandak Town Square (CITOS)

1st  Floor 140-142, Jl. T. B. Simpatupang
T: 021 – 7592 0345

Operation hours:

Sun – Thur: 11 am – 12 am,

Fri – Sat & PH: 11 am – 01 am

Pondok Indah Mall 2 (PIM2)

3rd Floor #349, Jl. Metro Pondok Indah
T: 021 – 7592 0778

Operation hours:

Sun – Thur: 11 am – 10 pm,

Fri – Sat & PH: 10.30 am – 11 pm

EX-Plaza Indonesia

1st Floor No. 40, Jl. M. H Thamrin Kav 28-30

T: 021 – 391 7429

Operation Hours:

Sun – Thur: 11 am – 12 am

Fri – Sat & PH: 11 am – 01 am

Pacific Place

Level 4-49 & 4-51, Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53

T: 021 – 5797 3162

Operation Hours:

Sun – Thur: 11 am – 10 pm

Fri – Sat & PH: 10.30 am – 10 pm

Gandaria City

Main St. GF Unit MG 36 & S 36, Jl. Sultan Iskandar Muda (Arteri Pondok Indah)

Tel: 021 – 29053205               

Operation Hours:

Sun – Thur: 11 am – 10 pm

Fri – Sat & PH: 10.30 am – 11 pm

Emporium Pluit Mall

Ground floor Unit G – 39, Jl. Pluit Selatan Raya

T: 021 – 29071900                 

Operation Hours:

Mon – Fri: 10.30 am – 09.30 pm

Sat – Sun & PH: 10.30 am – 09.30 pm

Website: http://fish-co.co.id

Facebook: FishnCoINDO

Twitter:  @FishnCoINDO

Pricing: Around IDR 150,000 – IDR 200,000 for two

———-

-Featured in HANG OUT JAKARTA April 2012 edition-

Pictures courtesy of Fish & Co. Indonesia

Main Feature: Jakarta’s Coolest Hang Out Joints

Looking for cool hang out spots? No worries, HOJ mengumpulkan beberapa tempat seru buat kamu nongkrong, makan, minum, have fun, more laughs, dan pulang dengan senyum tersungging di bibir.

Kali ini HOJ memperkenalkan tempat-tempat baru yang seru dan juga beberapa spot lama yang sebetulnya punya potensi tetapi banyak yang belum tahu or even forgotten. As for the latest trend, Jakarta juga belakangan mulai akrab dengan rooftop lounge atau tempat hang out yang bertemakan eco friendly.

So without further due, here are some fine spots, usual and unusual, that you should try no matter what!

—–

OTEL LOBBY

WHY:

Dark and stylish, Otel Lobby adalah fenomena baru yang sukses dengan hidangan fusion yang seru ala Chef Raj dan surprising drinks courtesy of master mixologist, Mr. Ben Browning. Eat and be merry dengan suasana resto seperti lobi hotel dengan lounge-nya yang memikat and enjoy chill out R&Bs played by the DJ.

WHERE:

Bakrie Tower – South Gate Entrance, Jl. Epicentrum Tengah // 021 – 2994 1324

—–

UNION BRASSERIE, BAR AND BAKERY

WHY:

Easily one of the hottest spots since last year di Jakarta, Union tidak hanya memenuhi kebutuhan dining experience kamu dengan menu-menu handal ala Chef Adhika Maxi, tetapi juga terdapat bakery dengan berbagai panganan kue modern lezat ala Chef Karen Carlotta and most of all the bar, a great place for drinks and hang outs overseeing fountains and vast courtyard. Feel the breeze!

WHERE:

Plaza Senayan, Jl. Asia-Afrika no. 8 // 021 – 5790 5861

—–

LUCY IN THE SKY

WHY:

Suasana hehijauan, udara terbuka and awesome skyscrapers view menjadi daya tarik tersendiri dari Lucy in the Sky yang menjadi simbol baru SCBD. Dengan sederetan menu makanan dan minuman yang kreatif serta cool ambiance-nya, Lucy in the Sky adalah tempat menikmati city lights dengan suasana baru yang asyik.

WHERE:

Fairgrounds (ex-Bengkel) SCBD Lot 14, Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53 // 021 – 5152 308

—– 

SHELTER

WHY:

You got a cool French bistrot downstairs to fill up your palate and head next upstairs for rooftop lounging experience. Dengan pemandangan ke seluruh kota dan suasana Kemang yang santai, Shelter is  a relaxing hang out spots also fueled with cool live music.

WHERE:

Kemang 89, Jl. Kemang no. 89 // 021 – 7179 4538

—– 

FACEBAR

WHY:

Although it’s a covert lair great for chilling out and foreign atmosphere, Facebar sebetulnya bukan nama baru tapi justru lokasinya yang terbilang sentral ternyata masih terbilang misterius. Once inside it’s a different world, bar yang santai, dan dua restoran otentik lengkap dengan native chef of Thai and Indian cuisine.

WHERE:

Jl. Kusuma Atmaja no. 85 // 021 – 3192 5037

—– 

TAPAS MOVIDA

WHY:

Tired of spending your hang out time just drinking with only the usual snacks? How about variety of Spanish tapas and a jug full of sangria? Tapas Movida sebagai salah satu restoran anyar dan terkenal dengan menu-menu khas Spanyol ini memang menyuguhkan sesuatu yang masih jarang di Jakarta.

WHERE:

Jl. Cipete Raya no. 66 // 021 – 751 0851

—– 

CAFÉ ARIA

WHY:

Café Aria is easily a place to satisfy your palate dengang suguhan makanannya yang lezat tapi tapas bar yang buka di sore hari hingga malam menjadi pilihan asyik di tengah kota untuk menikmati bersama minuman-minuman kesukaan kamu. Check out this hip, new establishment right away!

WHERE:

Panin Bank Building, Jl. Jend. Sudirman Kav. 1 // 021 – 739 5828

—–

-Featured in HANG OUT JAKARTA April 2012 edition- (unedited)

Main Feature: Jakarta Food Bloggers

Food nowadays is not only restricted for basic needs but as a medium for sharing and celebration! Berikut HOJ menampilkan beberapa food bloggers dari Jakarta yang sangat berdedikasi pada passion mereka dalam membagi pengalaman pesiar kuliner mereka. Here’s some of their stories behind their passion.

—–

Ingredients of Life (Febee & Ichil)

Website: http://ioflife.com

Siapapun yang pernah berkecimpung di Jalansutera pasti mengasah hobinya dengan bersama-sama mengunjungi berbagai tempat makan baru and sharing the story among others di milis maupun blog. Febee yang senang menulis pada satu waktu menggaet Ichil yang ahli dalam fotografi untuk membentuk blog Ingredients of Life atau biasa dikenal sebagai IOFLIFE.

Selain icip-icip, Febee dan Ichil juga senang memasak sehingga blognya tidak terbatas pada kegiatan hunting tempat makan saja. Namun kegiatan hunting ini bagi mereka sesuatu yang sangat religius dimana kalau perlu mereka menunggu hingga tengah malam untuk mencicipi gudeg yang hanya berjualan tengah malam di Yogya atau keluar masuk gang di Gianyar demi mencicipi klepon yang konon terenak di dunia.

Petualangan duet yang berprofesi di dunia IT ini juga terinspirasi untuk mempromosikan kuliner tradisional Indonesia yang begitu kaya. Untuk ini Febee mengamininya dengan berkata, ‘Rasanya malu bila orang Indonesia lebih kenal eggnog ketimbang teh talua. Kalau bukan kita yang melestarikan, lantas siapa lagi?’.

—–

Jenzcorner (Jeny)

Website: http://jenzcorner.net

Berangkat dari hobi berburu tempat-tempat makan baru hingga ke pasar-pasar tradisional yang notabene menyajikan makanan otentik dan murah meriah bersama komunitas Jalansutera, Jeny memulai blogging sejak tahun 2003 hingga kini. Dahulunya bermodalkan kamera digital 2 megapixels saja sekarang Jeny selalu membawa kamera DSLR kemanapun ia beranjak untuk bertualang.

Ditambah dengan keahlian orisinilnya sebagai web designer, kini Jeny berkesempatan untuk mengerjakan pembuatan website berbagai pemilik usaha makanan serta restoran. Selain itu hobinya dalam fotografi kerap menghasilkan tawaran untuk berbagai kegiatan yang berhubungan dengan food photography dan terakhir mendapat tawaran dari majalah Esquire untuk gourmet edition-nya.

—–

Selby’s Food Corner (Selba)

Website: http://selbyfood.blogspot.com

Selba sebagai food blogger senior begitu sarat pengalaman berbagi kebahagiaan tentang makanan kepada semua orang. Keunikan dari website-nya yang paling memorable adalah menyajikan step by step pembuatan makanan Indonesia tradisional yang biasa kita temui di gerobak-gerobak kaki lima. Dengan penyampaian sederhana namun sarat makna di blognya ternyata banyak menarik perhatian berbagai media untuk mengajaknya bekerja sama menjadi narasumber.

Beberapa di antaranya adalah wawancara dengan jurnalis CNN, bintang tamu di acara The Maverick Chef bersama Chef Alvin Leung, narasumber World Café Asia ketika syuting di Jakarta yang disiarkan TLC serta mendapat feature dari Wall Street Journal Asia.

—–

The Gastronomy Aficionado (Rian)

Website: http://gastronomy-aficionado.com

Berangkat dari kecintaaannya terhadap makanan dan passion-nya dalam dunia tulis menulis, Rian melangkahkan dirinya dari hanya menuliskan review singkat di blog Friendster-nya dulu hingga kini memiliki blog sendiri sebagai tempat menuangkan segala aspirasi dan apresiasinya.

Usahanya yang konsisten ini membuahkan banyak kerja sama dalam bidang jurnalistik dengan berbagai media cetak pada umumnya. Selain pernah menjadi kontributor tetap di Aquila Asia dan Time Out Jakarta, kini ia mencurahkan semangatnya untuk mengembangkan food section di Hang Out Jakarta.

Pengalamannya yang paling mengesankan baginya adalah ketika Morning Calm, in-flight magazine Korean Air, mengajaknya bekerja sama untuk pembuatan artikel mengenai martabak di Jakarta. Ternyata petualangannya mengubek Jakarta demi menemukan gerai-gerai martabak terbaik dan merunut sejarah serta resepnya membawanya menuju kesadaran bahwa begitu banyak yang bisa dieksplorasi, dinikmati dan diekspresikan dari makanan!

—–

Wanderbites (Ruby)

Website: http://wanderbites.com

Meskipun memulai kecintaannya pada makanan secara iseng-iseng, Ruby justru terinspirasi oleh rekan-rekan blogger­ yang dengan mahirnya berbagi soal pengetahuan makanan pada acara Jakarta Culinary Festival beberapa tahun silam. Tak lama kemudian Ruby mulai mencicil kamera DSLR dan menantang produktivitasnya dengan secara rutin mencoba tempat makan baru setiap minggu.

Pelan-pelan passion Ruby yang ia tekuni dengan penuh semangat mendatangkan banyak hasil menarik seperti kerja sama pemotretan dengan LivingEtc dan Monolog Coffee, lalu pertemuannya dengan juri MasterChef Indonesia yaitu Chef Rinrin Marinka untuk pemotretan sebuah artikel di Go Girl Magazine.

Ambisinya adalah menyamakan Wanderbites dengan Donna Hay dari Australia dan mempersembahkan karya-karya yang mengusung kuliner Indonesia dengan kemasan yang modern, seru, dan bisa dinikmati kaum muda di Indonesia.

—–

Selain itu masih banyak food bloggers yang turut meramaikan jagat apresiasi kuliner dengan blog-blognya yang colorful dan seru.

  1. Anak Jajan – http://anakjajan.wordpress.com
  2. Ah, Mashita! – http://umee.posterous.com
  3. Chubby Blog – http://visit-sheilla.blogspot.com
  4. Culinary Bonanza – http://culinarybonanza.blogspot.com
  5. Experiences of a Big Hot Tummy – http://yummyfordummy.blogspot.com
  6. Faith Hope Love – http://melbudiman.tumblr.com
  7. Good Food Good Life – http://goodfoodgoodlife.wordpress.com
  8. Lolo Appetite – http://lolo-appetite.blogspot.com
  9. My Journal, My Life – http://urukyu.wordpress.com
  10. The Yummy Traveler – http://natashavl.blogspot.com

So that’s how far they can be inspired from food! Apresiasi yang kontinyu ini kelak akan mengarahkan mereka ke suatu ranah yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Apakah kelak mereka akan mengerucut menjadi para ahli masak, penulis, fotografer, atau hal-hal inspiratif lainnya? Dengan Jakarta yang berkembang terus setiap saat dan mendorong segala jenis kemajuan, hal-hal tersebut tentu sangatlah mungkin bisa terjadi bagi mereka.

-Featured in HANG OUT JAKARTA March 2012 edition- (edited)

Restaurant Review: Yamagoya Ramen

Akhirnya penantang baru dari Kyushu telah tiba! Otentik dan memang sejatinya membatasi dirinya dengan menu-menu tradisional saja, Yamagoya Ramen kini menerjang Jakarta dengan kecepatan penuh!

Pertama berjumpa, betapa mengejutkan mendapati Yamagoya dalam keadaan full house mengingat letaknya yang berada di gedung perkantoran dan saat itu adalah weekend!

Meskipun demikian di suasana restoran yang terbilang cukup sempit dan berisik ini tampak saya cukup puas dengan melihat apa yang mereka sajikan. Line up menu konservatif yang benar-benar fokus hanya menyediakan berbagai variasi ramen tradisional dan aksesorisnya.

Sesuai dengan sejatinya, tipikal ramen khas Kyushu di Yamagoya Ramen menggunakan kuah tonkotsu atau mengandung babi. Meskipun demikian, selalu ada alternatif kuah ayam meskipun pilihannya menunya terbatas. Kisaran harga Rp. 50,000an sebetulnya cukup murah mengingat proses dalam pembuatan ramen membutuhkan waktu untuk mencapai kekuatan rasa yang prima khususnya dari bagian kuah.

Seaweed Ramen

Ramen dengan ekstra rumput laut kering yang menjadi pilihan malam itu. Meskipun datangnya ramen cukup lama tapi rasanya senang melihat topping yang begitu lengkap dan orisinil. Setengah telur rebus, cha siu, rumput laut basah, potongan daun bawang yang berlimpah dan lembaran rumput laut kering yang semuanya tampak menggoda. Tidak ada potongan wortel atau jagung yang terasa palsu di sana.

Langsung saja saya menggali dan menyeruput ramen tersebut keras-keras seperti layaknya orang Jepang!

Namun sayang apa yang saya harapkan tidak sepenuhnya tercapai. Sang kuah yang menjadi nyawa justru terasa agak dingin meskipun dengan tingkat kegurihan yang cukup memadai. Beruntung bahan-bahan lain dengan luar biasa mampu menjadikan keseluruhan hidangan ini begitu padu dan tetap menggoda.

Mulailah dari daging cha siu yang begitu lembut, lumer di mulut, dan dengan rasa lezat yang tidak ingin saya sia-siakan setiap jengkalnya. Perpaduannya dengan rekan-rekannya yang lain membuat setiap suapnya begitu laju dan berarti. Hampir saja saya meminta tambahan mie untuk menyelesaikan kuahnya hingga tuntas tapi saya memilih tumisan sayur sebagai pendamping yang sehat.

Stir Fried Vegetables

Sungguh senang begitu merasakan tumisan tersebut begitu sedap dan begitu padu campuran rasa asin serta manisnya. Meskipun hanya kol, wortel, bawang, dan tauge tapi kekuatannya berada pada rasa kecap khas yang menjadi campuran saat menumisnya. You gotta try that one!

Kesimpulannya adalah kedatangan Yamagoya Ramen sungguhlah menjanjikan. Meski sayang faktor pengurangnya adalah kuah yang semestinya bisa lebih prima lagi tersajinya. Terlepas dari itu, rasanya masih saja terbayang-bayang untuk kembali lagi di lain kesempatan dan tentu saya tidak akan lupa akan memesan ekstra mie dan cha siu! I’ll be back!

———-

YAMAGOYA RAMEN

Rating: ***

Halal-friendly (menu dominated with pork but alternatives are available)

Unsuitable for vegetarians

Address: Thamrin Nine, B1, Jl. MH Thamrin No. 10, Jakarta Pusat 10230

Opening Hours: 10 am – 10 pm

RSVP: 021 -3190 8018

BB Pin: N/A

Email: N/A

Website: N/A

Facebook: YamagoyaRamenIndonesia

Twitter: @yamagoyaramen

Atmosphere: Reminds me of Yoshinoya but a lot cramped and doesn’t have stools at the ramen bar.

Ambiance: Full of laughs and other annoying noise. Well, what to expect?

Service: I have no quarrels.

Pricing: Around IDR 100,000 – IDR 150,000 for two

———-

-Featured in HANG OUT JAKARTA March 2012 edition-

Pictures courtesy of Yamagoya Ramen

Product Advertorial: Summer Berry Pudding from Kafe Pinang, Hotel Kristal

Summer Berry Pudding (Photo by: The Saucy Chef)

Hotel Kristal dan restoran internasionalnya Kafe Pinang adalah nama-nama yang sudah tidak asing lagi di kawasan Jakarta Selatan dengan segala hustle and bustle-nya. Untuk 2012, Hotel Kristal memperkenalkan dessert baru yang menyegarkan sebagai penutup pengalaman makan anda bersama keluarga anda di Kafe Pinang.

Dengan nama Summer Berry Pudding, dessert baru ini bertemakan rasa asam segar dan juga memiliki beberapa tingkat rasa. Pastry Chef Litha Liezwarie yang baru saja mendapatkan predikat Top 10 Fonterra Pastry Challenge 2011 adalah sang penemu dari dessert ini dan Chef Litha mengandalkan beberapa jenis wild berries dan strawberry sebagai sumber kesegarannya dari Summer Berry Pudding ini.

Selain rasa buah-buahan, Chef Litha menggunakan roti untuk membalut adonan yang terdiri dari buah-buahan tersebut serta berbagai rempah sebelum dibekukan. Hasilnya adalah warna ungu gelap dan ketika mencobanya akan terasa juga berbagai rempah seperti kayu manis dan cengkeh di dalamnya. Untuk menyeimbangkan itu semua tersedia juga rasa tawar dari keju Mascarpone dan rasa manis dari almond tuile sebagai pendamping sang pudding. Semuanya menyatu menjadi rasa yang tidak membosankan dan tetap segar juga berkelas.

Dessert ini tersedia ala carte dan dibanderol dengan harga IDR 40,000++. Jangan lewatkan selagi musimnya namun juga jangan khawatir karena Hotel Kristal pasti akan selalu menghadirkan kreasi-kreasi terbarunya yang lezat dan berkualitas.

-Featured in HANG OUT JAKARTA January 2012 edition-

Photo courtesy of The Saucy Chef (the picture is meant only as a depiction of how the dish looks like)

Restaurant Review/Advertorial: The Harmony

 

Nama besar Hotel Santika yang telah berkecimpung di hospitality business selama kurang lebih tiga dekade terakhir ini tentunya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Salah satunya adalah Hotel Santika Premiere Jakarta dengan international restaurant-nya The Harmony.

Belum lama Hotel Santika mengembangkan diri dan mengklasifikasikan berbagai level hotel yang berbeda disesuaikan dengan nilai strategis pasar. Salah satu dari kategori-kategorinya adalah seri Premiere yang saat ini sudah mencapai enam hotel di berbagai kota besar di Indonesia dan setara hotel berbintang empat.

Setelah tiba, rasanya seperti sampai di oase penyejuk dari segala riuh rendah daerah Slipi yang terkenal sibuk. Cukup mengejutkan mengingat penampilan Hotel Santika kali ini memang terlihat lebih modern dan elegan. Langsung saja saya menuju The Harmony yang ternyata menempati space luas tidak jauh dari lobby. Dengan menghadap langsung ke kolam renang dan alam terbuka, The Harmony memang tampak segar dan bercahaya. Suatu suasana yang terasa menyemangati acara makan siang kali ini.

Tidak berlama-lama duduk, langsung saja menuju counter mie tarik yang konon adalah signature buffet dish dari The Harmony. Seolah mengingatkan pada pho, langsung saja saya meminta kuah bening dengan irisan daging sapi lalu diimbuhi dengan tauge dan bawang daun. Sebuah pembuka yang segar dan lezat. Jelas kekuatannya berpusat pada kuah yang gurih namun ringan sebagai pembuka yang baik.

Setelah berputar-putar sedikit dengan kreasi fusion sushi dan berbagai sajian salad, tampak tiba saatnya untuk menjajal masakan Indonesia yang konon selalu berganti setiap harinya. Hari itu pecel sayur dengan lontong tampak menggiurkan, begitu pula dengan belut gorengnya. Sajian lain seperti nasi ulam dan soto juga tersaji cantik dan didampingi oleh berbagai dessert khas Indonesia yang begitu beragam.

Secara keseluruhan, sajian di The Harmony terbilang cukup apik dan lumayan beragam. Meski terkadang terasa buffet satu dan lainnya agak terasa dipojokkan dan kurang diberikan kesempatan untuk bersinar dengan segala wewangian dan warnanya yang sebetulnya indah, namun kesempatan bersantap siang dengan suasana yang nyaman dan spacious ini ternyata begitu membantu selera makan saya.

Tidak lupa tentunya sekali dalam sebulan Hotel Santika Premiere Jakarta mengadakan acara Jazz in Harmony yang menampilkan musisi jazz legendaris Idang Rasyidi untuk menemani santap malam. Meski semua aspek sebetulnya saling bersahutan, namun tampaknya The Harmony memang mencoba untuk meraih hati pengunjungnya dengan atmosfir dan ambiance yang bisa jadi faktor penentu meski makanan juga menempati salah satu faktor terpenting.

Dengan kesemuanya itu tentu tidak sulit lain waktu mencari alasan untuk kembali bertandang ke The Harmony. It’s a dinner with all that jazz! Sounds classy and I’m hungry already.

—–

The Harmony

Rating: **

Halal-friendly (liquors applied for some drinks)

Some menu suitable for vegetarians

Address: Hotel Santika Premiere Jakarta, Jl. AIPDA K.S. Tubun no. 7, Slipi – Jakarta 1141o

Opening Hours: 6 am – 11 pm

RSVP: 021 – 536 1777, 533 0350

Email: fbs@santika-jakarta.co.id

Facebook: santikaonline

Twitter: @santikaonline

Atmosphere: Integrated without space but stairways from the main lobby making it very spacious.

Ambiance: Thanks to the huge space, it’s not noisy but it’s also lacking in togetherness value. Spaced out!

Service: Plates are not cleared up right away, where’s the so-called hotel service?

Pricing: Breakfast IDR 85,000++, Lunch & Dinner IDR 135,000++, Jazz in Harmony Dinnertime IDR 160,000++ (once/month)

—–

-Featured in HANG OUT JAKARTA December 2011 edition-

Photos courtesy of Hotel Santika Premiere Jakarta

Restaurant Review: Union Brasserie, Bakery and Bar

Saat itu adalah sore hari yang sejuk selepas hujan. Angin berhembus kencang dan keramaian tetap merajai Union, sebuah tempat yang teramat hype dan penuh setiap saat. Rasa penasaranlah yang membawa kaki saya melangkah ke tempat ini.

Lima belas menit berlalu di bangku khusus waiting list dan seorang greeter membawa saya ke sebuah meja yang hanya dapat saya gunakan satu jam saja sebelum yang mereservasi meja itu datang. Tanpa membuang waktu langsung saja yang terlintas dan ingin saya coba adalah yang terbaik dan menarik dari menu Union yang berisi masakan dengan cita rasa modern ini.

Adalah crispy skin salmon bersama mashed potato serta saus yang intriguing dengan bahan jahe dan jeruk. Menyusul sesudahnya adalah homemade lamb sausage dengan imbuhan herbs seperti rosemary dan thyme dengan onion gravy.

Meskipun suasana begitu ramai dan penuh, untung saja pelayanan tetap berjalan cukup prima. Meski bagian dapur mungkin agak kewalahan namun atas bantuan pelayanan yang baiklah semua makanan dapat diantarkan dengan cepat.

Setidaknya apa yang diharapkan ternyata juga berimbang dengan rasa yang kami dapat. Salmon yang cantik datang dengan kulit renyah. Hidangan ini ternyata membutuhkan dua kali proses masak. Yang pertama tentu merenyahkan dulu kulit dan dilanjutkan dengan memasak ikannya sampai ke derajat medium-well sesuai pesanan. Rasanya yang tidak terlampau ringan tapi juga berisi ternyata semakin dahsyat ketika digabungkan dengan kelezatan saus gelap berbahan jahe dan jeruk ini. Certainly one of the best sauces I ever had! Untuk sosisnya sendiri mungkin tidak terlalu impresif bila disandingkan dengan sang salmon. Tapi yang memuaskan adalah kepadatan sosis tersebut dan rasa bumbu yang tebal nan gurih.

Merunut kata Union yang merupakan perpaduan keahlian pasangan chef muda, Adhika Maxi di kitchen serta Karen Carlotta di bakery, maka sudah barang tentu desserts adalah sebuah keharusan!

Adalah mocha cake yang menjadi pilihan karena red velvet cake sudah tidak tersedia saat itu. Tekstur yang didapat adalah perasaan semi lembut ala red velvet namun kali ini berwarna coklat, serta lapis demi lapis krim keju lembut ternyata memang seru! Tapi tunggu dulu, ternyata ada kacang-kacangan juga di antaranya dan menghantarkan rasa manis yang juga memberi nuansa yang berbeda. Sungguh pilihan yang tepat!

Carrot Cake (Photo by: jenzcorner.net)

Banana Cake (Photo by: jenzcorner.net)

Crunchy Chocolate Cake (Photo by: jenzcorner.net)

Di samping itu pada bagian bakery terdapat berbagai cakes lain seperti carrot banana, praline, hingga macarons. Bagels and baguettes? They got them also! 

Jadi lengkap sudah pengalaman malam itu dengan hasil cukup mengejutkan. Tidak overrated karena semata-mata popularitas belaka, tapi tampil lumayan memuaskan. So book first and pick your best seats karena Union tidak akan kekurangan pengunjung dalam waktu yang lama.

—–

Union Brasserie, Bakery and Bar

Rating: ***

Halal-friendly (dishes using pork and wines, liquors also available as beverages)

Some dishes suitable for vegetarians

Address: Plaza Senayan Courtyard, GF, Jl. Asia Afrika No. 8, Jakarta

RSVP: 021 – 5790 5861/62

Opening Hours: 11 AM until late (Daily)

Website: http://unionjkt.com

Facebook: http://www.facebook.com/groups/233268313372920/

Twitter: @UnionJkt

Atmosphere: A very busy New Yorkish 1930s era bistro with pictures everywhere and waiters changing the diapers (table sheets) every time a patron leaves instead of real table clothes. During its serene time, which would be very rare, enjoy the breeze of what’s left from Jakarta cool air and a spectacle towards the courtyard with fountain.

Ambiance: Cacophonous. Loud. Smokey. Busy. You name it.

Service: Would be very lucky to receive prime service especially during busy hours, like I did. Well, at the expense of tardiness from kitchen side.

Pricing: Around IDR 300,000 – 400,000 for two

—–

-Featured in HANG OUT JAKARTA January 2012 edition-

Food Court Review: Urban Kitchen (Plaza Indonesia)

Photo by: anakjajan.wordpress.com

Urban Kitchen kini hadir di jantung kota Jakarta dan kali ini bertempat di Plaza Indonesia. Menempati lokasi luas di lantai 5 yang sebelumnya dihuni Food Kulture, di sini Urban Kitchen kini mengadaptasi sistem food court terbuka atau tanpa menggunakan kartu masuk yang biasanya digunakan sebagai akumulasi kredit pembelian untuk dibayar kemudian di kasir yang tersentralisasi. Hal ini meniru kesuksesan sebelumnya di Urban Kitchen Central Park. Yang menggembirakan adalah kali ini Urban Kitchen menggandeng tenants yang lebih dikenal masyarakat pada umumnya serta menyuguhkan harga makanan yang lebih affordable.

Meski menggunakan layout yang sama dengan pendahulunya, kini Urban Kitchen mengangkat tema Jakarta tempo doeloe untuk interiornya. Tema ini dibagi menjadi tiga ruangan besar. Yang pertama adalah tema ngopi sore, ciri khasnya adalah ruangan tersebut dihiasi seolah-olah berada di teras depan rumah beserta sangkar-sangkar burung yang tergantung. Kali ini pemandangannya justru cukup mengesankan, yaitu arah Jalan Thamrin dengan gedung-gedung bertingkatnya.

Pada ruangan kedua berisikan berbagai tempelan berbagai iklan, stiker serta foto-foto jadul yang terkenal pada masanya. Pada masa awal hingga pertengahan abad 20, muncul berbagai kemasan khas iklan yang dirancang dengan gambar-gambar klasik serta kata-kata yang catchy. Pada ruangan inilah Urban Kitchen mencoba menghadirkan kembali suasana nostalgia tersebut.

Terakhir, Urban Kitchen memunculkan suasana pelabuhan dan perkapalan dengan berbagai aksen dan hiasan tali tambang, desain dinding batu bata, serta karung-karung berisi kopi. Mengapa kopi? Selain merupakan salah satu komoditas kebanggaan Indonesia, pada segmen inilah Urban Kitchen secara khusus menggandeng Anomali untuk sebagai ponggawa coffee lounge-nya.

Dalam pemunculannya yang masih terbilang singkat, ternyata konsep baru yang dihadirkan Urban Kitchen mampu untuk menarik banyak pengunjung khususnya dari kalangan eksekutif muda, pegawai kantoran serta tentunya pengunjung mall itu sendiri. Eksklusivitas masih terasa di sini namun dengan berbagai suguhan dari tenants yang familiar dan berbagai jajanan pasar, membuat Urban Kitchen menjadi alternatif menarik dan murah di tengah-tengah kemewahan Plaza Indonesia.

Selain hanya sekedar untuk makan-makan, Urban Kitchen juga berusaha menghadirkan sesuatu yang berbeda seperti bazaar dan live music. Promosinyapun terbilang aktif dan menggunakan media social network seperti Facebook dan Twitter. Jadi buat siapa saja yang ingin berpartisipasi pada acara di Urban Kitchen seperti bazaar hingga menggunakan tempatnya sebagai media gathering dan press conference. All is customizable!

So, just anticipate berbagai kegiatan menarik yang seru di Urban Kitchen. Sementara ini kita nikmati saja dulu program afternoon high tea atau kudapan ringan yang tentunya bercirikan khas masakan masing-masing tenant-nya serta menjelang Ramadhan, Urban Kitchen juga mempersiapkan tajil gratis untuk pengunjungnya. Sisanya, tentu segudang pilihan makanan lezat untuk dicoba!

—–

URBAN KITCHEN PLAZA INDONESIA

Address: Plaza Indonesia Lv. 5, Jakarta

RSVP: 021 – 7278 1571

Website: http://urbankitchen.co.id

Facebook: http://www.facebook.com/UrbanKitchenJKT

Twitter: @UrbanKitchenJkt

—–

-Featured in HANG OUT JAKARTA August 2011 edition-

Photo by anakjajan.wordpress.com

Restaurant Review: Never Been Better

Photo by: jenzcorner.net

Nowadays, desain interior cafe modern bergaya industrial semakin merajalela dan mampu membuktikan diri dapat membuat nyaman pengunjungnya. Sebut saja KOI Kemang, The Goods Cafe, dan berbagai tempat lainnya. Kembali perasaan sama itulah yang saya alami ketika masuk ke sebuah kafe baru di bilangan Kemang Selatan dengan nama Never Been Better, sebuah nama yang catchy sekaligus ambisius.

Seketika saja saya teringat sebuah eatery cilik di Bandung dengan nama Q di dekat Universitas Parahyangan. Konsepnya adalah open kitchen yang dikelilingi oleh bar stools layaknya sebuah diner di Amerika Serikat. Desainnya sendiri simple dan menggunakan juga barang-barang reuse seperti kursi yang terbuat dari peti bekas serta berbagai nuansa kayu untuk furniture-nya. Hal yang sama ditemui juga di Never Been Better namun dengan konsep yang lebih matang, modern, elaborated, dan bersifat eksperimental.

Soal harga, terkadang dengan mudah kita terjebak dengan ‘stigma negatif’ bahwa rata-rata kafe di Kemang biasanya mahal. Tapi tidak dengan Never Been Better. Selain memang didesain cozy untuk berlama-lama hang out ternyata makanan dan minuman yang disajikan juga sangat affordable. Ragamnya memang tidak terlalu banyak tapi pasti ada saja yang bisa dipilih dari menunya.

Photo by: jenzcorner.net

Mulai dari panganan ringan teman hang out dan wifi seperti Omelette, Sandwich, dan juga selera lokal yaitu Bala-Bala atau lebih dikenal dengan Bakwan di Jakarta serta Tempe Mendoan. Yang langsung saya coba malam itu adalah Never Been Better signature dishes yaitu Pasta Aglio Olio dengan smoked beef dan Chicken Oregano yang konon katanya dibumbui heavily dengan dedaunan tersebut.

Ketika datang, hidangan semacam aglio e olio biasanya menimbulkan kesan kering sehingga kebiasaan meminta olive oil langsung saja diajukan. Hasilnya adalah kekecewaan dan simple saja alasannya, olive oil tidak tersedia untuk pengunjung.

Dari segi rasa ternyata cukup beruntung karena diselamatkan oleh kuantitas keju yang mencukupi serta perimbangan yang baik dari keseluruhan bahannya. Tentu yang saya maksud adalah tidak perlu adanya tambahan saus sambal yang telah menjadi kebiasaan orang Indonesia di berbagai jenis makanan.

Spaghetti Aglio Olio (Photo by: jenzcorner.net)

Untuk Chicken Oregano-nya sendiri ternyata disajikan setelah dipanaskan oleh microwave sehingga suhunya lumayan bisa membakar bibir dan lidah apabila langsung disantap. Ayamnya sendiri seperti ayam bakar yang telah direndam oleh bumbu yang rasanya cukup kuat. Meski dalamnya agak basah dan beberapa bagian kurang meresap rasa gurihnya namun dari segi ukuran ayamnya mampu untuk menyeimbangkan kekurangan di porsi keseluruhannya. Temannya memang hanya sebatas nasi putih dan sayur cabikan seperti di Solaria dan Hoka Hoka Bento dengan saus mayo-nya.

Terlepas dari kekurangannya, penutupnya justru yang lumayan menggembirakan. Itulah Fried Ice Cream yang mendendangkan tema nostalgia. Isiannya adalah strawberry ice cream serta roti gorengnya sendiri dilumuri saus coklat. Dengan harga yang murah dan memuaskan, tentu ini adalah opsi wajib untuk mengunjungi Never Been Better.

Sungguh tempat nyaman yang layak dikunjungi kembali. Mudah-mudahan lain waktu crowd-nya tidak hanya sesepi waktu itu saya datang namun berisi orang-orang kreatif yang sedang berdiskusi tentang karya-karya yang tengah mereka kembangkan karena atmosfirnya terasa cocok untuk itu. Me? I’ll just bring my notebook and start to write. Coffee please!

—–

Never Been Better

Rating: **

Halal-friendly (no halal certification seen)

Unsuitable for vegetarians

Address: Jl. Kemang Selatan no. 31, Jakarta

RSVP: 021 – 2725 2445

Twitter: @nevbeenbetter

Opening Hours: 10 am – 1 am (weekday), 10 am – 3 am (weekend)

Pricing: IDR 75,000 – 100,000 for two

Atmosphere: A customized industrial interior with recycled furniture and panels fit for teens and architectural geeks.

Ambiance: Relatively quiet though suitable for hang outs.

Service: Nothing to complain so far.

—–

-Featured in HANG OUT JAKARTA August 2011 edition-

Photos by jenzcorner.net