Restaurant Review: Misticanza

Italian with a touch of Japanese. Sebuah konsep yang cukup berani mengingat sekeliling Misticanza notabene terdiri dari banyak ekspat dari Jepang yang rata-rata seleranya konservatif. Bagi saya, itu suatu catatan tambahan lezat di ensiklopedi pesiar kuliner saya.

Letaknya sebetulnya sangat strategis namun terbilang low profile. Meskipun menjadi tenant di Apartemen Sahid yang baru tapi Misticanza tampak tidak terlalu berepot-repot memunculkan dirinya di Twitter maupun Facebook. Kebetulan ketika saya sehari-hari melewatinya, Misticanza terbilang sepi pendatang baik siang maupun malam.

Photo by: sister.co.id

Sekelilingnya adalah gedung Midplaza yang notabene berisi perusahaan Jepang serta InterContinental Hotel sudah lazim menjadi brand kesukaan turis maupun ekspat dari negeri Sakura sana. Misticanza tampak mencoba memanfaatkan kondisi ‘demografis’ tersebut dan mengusung tema masakan fusion Italia dan Jepang.

Ketika datang pada suatu malam sebetulnya saya berharap banyak sebuah suasana yang homey dan cozy tapi yang saya dapatkan justru penempatan perabotan yang terasa semrawut. Sejujurnya malahan perabotan di Misticanza terlihat terlalu murahan untuk sebuah restoran yang menyajikan makanan dengan harga cukup mahal dan untuk segmen yang ditujukan bagi ekspat.

Pilihan yang eksotis untuk pembuka dengan rasa fusion adalah perpaduan bagna cauda dengan aksen Kyoto. Bagna cauda terdiri dari berbagai sayuran yang direbus ataupun ditumis untuk nantinya dimakan bersama pasta yang terbuat dari miso. Sayurannyapun begitu beragam seperti kol, zucchini, wortel, bawang daun, ubi, selada, cherry tomato, paprika hingga asparagus. Rasa miso yang asin serta aksen bawang yang kental sebetulnya menjadi pembuka yang seru. Tapi lama kelamaan pasta miso tersebut justru agak membuat eneg dan sayurannyapun begitu banyak. Maka di sinilah esensi makan beramai-ramai harus dijalankan layaknya orang Italia!

Prawn Risotto (Photo by: sister.co.id)

Terakhir yang dicoba adalah risotto dengan kari bercitarasa Jepang. Penampilannya gelap dan hanya diiringi oleh sayur-sayuran tapi justru rasa kari yang kencang membuat hidangan ini terasa gurih. Ketimbang berat dengan kekentalannya justru ini adalah satu tipe rasa yang adiktif dan mengajak lidah saya untuk terus menerus menyuapnya. This is a prime example of how fusion genre achieve success!

Mushroom Pizza (Photo by: sister.co.id)

Sebagai pendamping yang saya pesan justru citarasa asli Italia murni dalam bentuk pizza saja. Selain margherita justru funghi yang tampak cocok untuk malam itu. Bentuknya tipis dengan potongan cukup banyak untuk santap berdua atau lebih. Meskipun secara rasa tidak mengejutkan tapi cukup untuk menyimpulkan bahwa Misticanza memang lebih baik dikunjungi dengan semangat mencoba sesuatu yang baru or in other words, its fusion dishes!

Tawaran terakhir sebelum meninggalkan Misticanza adalah bahwa saat ini mereka tengah mengadakan promosi untuk all-you-can-eat-the-desserts sebesar IDR 100,000 per orangnya. Pilihannya juga cukup menggiurkan seperti tiramisu, panna cotta, fruit parfait atau chocolate parfait dan lain-lain. It’s tempting yet challenging. Are you up for it? I am! 

———-

MISTICANZA

Rating: ***

Halal-friendly (some of the menu contains pork and wine)

Some menu suitable for vegetarians

Address: Sahid Sudirman Residence, Jl. Jend. Sudirman Kav. 86, Jakarta – Indonesia

Opening Hours: 11 am – 11 pm

RSVP: 021 – 2902 2837

BB Pin: N/A

Email: info@misticanza.net

Website: http://misticanza.net

Facebook: N/A

Twitter: N/A

Atmosphere: Shabby furniture and awkward placement make Misticanza feel like an alien ship.

Ambiance: Quiet all day.

Service: Highly knowledgeable and helpful to my surprise.

Pricing: Around IDR 150,000 – IDR 200,000 for two

———-

-Featured in HANG OUT JAKARTA May 2012 edition- (unedited)

Pictures by http://sister.co.id

QuikSkoop™: Mr Asui (Pangkal Pinang, Bangka)

As one of the highly recommended restaurant in Pangkal Pinang, Mr Asui proudly presents itself as a mighty warrior in Chinese cuisine. Though emphasizing greatly on fish dishes which undoubtedly quite interesting, clearly what caught my attention was not exactly the food. It’s a matter of endurance.

A bright red signboard in front of an alley says out loud that Mr Asui is the place for best culinary experience in Pangkal Pinang intrigued me. This kind of feat is usually achieved by restaurants who have been visited by our culinary idol. Yes, who else besides Mr Bondan Winarno. Apart from that feat, you can easily tell yourself that by this high-profile signboard then I bet everything’s gonna be okay.

But that was just a facade. As we entered the alley, what we found first before entering the restaurant on our right side was the dishwashing station. So we get to see dirty dishes, leftovers, and other foul stuffs there. I can’t recall whether I saw trash bins as well, luckily. Either way, it was a filthy welcome and a brilliant positioning of the dishwashing section. Even the word ‘dirtilicious’ would be too good for this place.

The horror continues with the appearance of their massive dining room. Though we arrived just way past the dinner time but the cleanliness level was even worse than Bantar Gebang. Leftovers, dirty dishes (again), wet tables and messy floor with ants are everywhere to be found. The only one who cared about it was this old man who worked slow, cleaning up the mess like he had all the time in the world while enjoying a cigarette in the process!

Well anyway, if you can bear with it and endure everything that you see and feel, then off you go with the food like I did.

Tenggiri Bakar

The grilled mackerel tail is indeed the signature dish here. You won’t find it arguably anywhere but in Bangka. It takes a while to serve but when it arrives, the humongous size of it, fit for 3-4 people, that came with a friendly price of around IDR 75,000 should trick your tummy into contention for at least many hours to come. Grilled plainly without any seasonings, the fish is then supposed to be consumed with warm rice and good sambal terasi using a good squeeze of local jeruk kunci and bird-eye chilis according to your preference.

Thanks to the good grilling technique, Mr Asui manages to grill the fish suitably, maintaining the moisture inside while the outer skin left burnt. If this huge fish not enough for you then you can pick the salty (to my liking) butter fried squids and stir-fried kangkung using tauco (fermented soy sauce). A decent combination there.

Kangkung Ca Tauco

Cumi Goreng Mentega

Feel free to also derail from the mackerel since Mr Asui presents other fishes and crabs. Snapper, stingray, garoupa, kerisi, and even chicken could be an alternative. The method of cooking? Boiled, grilled, steamed, fried, and even made into soup using the native recipe of lempah kuning and lempah nanas. Needless to worry, the lempah section would be explained better in the next story.

So again, if you’re up with the messiness, decent dishes are waiting as the prize there. But honestly, I found my next stop at Belitung island that provides even more delicious seafood, clean place, and smiles from the locals. Stay tune!

———-

MR ASUI

Halal-ness to be confirmed

Some menu suitable for vegetarians

Wi-fi unavailable

Address & Phone Number: Jl. Kp. Bintang Dalam no. 93/12, Pangkal Pinang – Bangka // (0717) 423 772

Opening Hours: 10 am – 1o pm.

BB Pin: N/A

Email: N/A

Website: N/A

Facebook: N/A

Twitter: N/A

Atmosphere: Your quite modern Chinese cuisine restaurant – provincial style, feels like entering a food war battlefield.

Ambiance: I imagine it would be loud during dining hours.

Service: Helpful with low cleanliness awareness.

Pricing: IDR 150,000 – IDR 200,000 for two

The Gastronomy Aficionado’s Journal: Pengalaman Bersantap Hidangan a la Michelin-starred Chef (for Kabare Magazine)

Dewasa ini merupakan era dimana makanan tidak lagi hanya sebagai fungsi mendasar untuk memertahankan hidup. Makanan telah menjadi sebuah komoditas yang menarik dari berbagai sudut pandang.

Begitu banyaknya sudut pandang yang bisa terealisasi. Ada yang mengapresiasikan makanan dengan menciptakan sesuatu yang baru, berburu mencari panganan unik hingga ke pelosok, berbagi kebahagiaan tersebut melalui jejaring social media, atau bahkan sekadar menjadi perbincangan hangat di antara rekan maupun keluarga.

Khususnya di berbagai tempat seperti Jakarta, Bandung, dan Bali, perkembangan ranah kuliner telah mengalami kemajuan pesat berkat pengaruh dari dalam maupun luar negeri. Imbasnya mengarah ke perkembangan kuliner lokal yang semakin menarik dan menyerap para konseptor lokal yang kreatif maupun tenaga kerja asing atau mudahnya dapat kita lihat berbagai pemunculan fast food chain yang jarang ditemukan bahkan di negara-negara tetangga kita.

Salah satu pencapaian menarik di samping itu semua adalah program ambisius dari Mandarin Oriental Hotel Jakarta (MOHJ) yang mengundang berbagai chef yang memiliki predikat Michelin star untuk restorannya. Pencapaian Michelin star sendiri merupakan salah satu aspirasi tertinggi para chef karena persyaratannya yang begitu rumit dan membutuhkan modal, ketekunan, dan keterampilan tinggi untuk memenuhinya.

The passion

Terhitung sejak tahun lalu, MOHJ telah mengundang beberapa chef handal asal Perancis yang telah mendapatkan Michelin star seperti Chef Nicolas Isnard, Chef Fabien Lefebvre, dan Chef Jerome Laurent.

Kebanyakan dari para chef sejenis ini telah belajar memasak dan berkecimpung di karirnya sejak sangat dini. Selain itu mereka juga biasanya pernah bekerja untuk berbagai restoran dan hotel ternama di bawah bimbingan para chef yang pastinya memiliki predikat Michelin star juga. Selanjutnya mereka mencari peluang dengan membuka usaha sendiri atau menjadi executive chef bagi restoran tertetu. Berangkat dari passion, mereka akhirnya mendapatkan apa yang mereka cari.

Hal ini membuat apa yang mereka masak menjadi sesuatu yang detil dan rumit namun kreatif dan penuh petualangan. Di sinilah dibutuhkan apresiasi tinggi dari para penikmatnya akan apa yang telah mereka capai dan kerjakan. Lebih mudahnya kita percayakan apa yang mereka masak dan kita nikmati apa adanya karena segala sesuatunya telah ‘dijamin’ mencapai tingkat kesempurnaan.

Masakan Perancis dengan tema fine dining seperti ini biasanya terdiri dari beberapa tahapan yang dimulai tentunya dari appetizer, main course, hingga dessert. Dengan pengaruh terbuka dari belahan dunia manapun, kini masakan Perancis semakin berani untuk menyatukan berbagai konsep masakan khususnya dari Timur Tengah dan Asia.

The masterpiece

Tahun 2012 ini dibuka dengan kehadiran kembali Chef Nicolas Isnard berkat animo yang tinggi dari para pecinta kuliner Jakarta dan beliau membawakan beberapa menu baru yang telah dinanti-nantikan.

Tuna Pizza

Sebagai pembuka, Chef Nicolas merancang sebuah amuse bouche atau hidangan pembuka rahasia yang merupakan inkarnasi dari tuna pizza. Hidangan ini terdiri dari ikan tuna yang dimasak secara unilateral yaitu ikan yang dimasak tiga perempat matang di satu sisi serta hanya seperempat matang di sisi sebaliknya. Didampingi tomato concasse dan berbagai macam saus seperti pesto, balsamic vinegar, dan saus hijau yang terbuat dari rocket, olive, dan lemon menjadikan hidangan pembuka ini begitu segar dan begitu berwarna.

Chef Nicolas yang menjadikan rasa masam sebagai rasa favoritnya, semakin jelas menuangkan ciri khasnya ini pada hidangan-hidangan berikutnya. Yaitu hati angsa atau foie gras yang dimana Chef Nicolas bereksperimen dengan mendampinginya bersama sayur-sayuran serta dijadikan semacam sop. Berbagai sayur seperti wortel, asparagus, daun bawang, bahkan jeruk digabungkan dengan kuah bening berkaldu dengan sumsum. Selain memang foie gras yang pastinya nikmat, Chef Nicolas menambah rasa asam segar dengan menempatkan racikan parsnip dan lemon di ujung mangkuk agar menyatu bersama kuahnya ketika dituangkan. Sungguh ide yang menarik dan menyegarkan!

Foie Gras Pot Au Feu

Untuk hidangan utama Chef Nicolas pertama menyajikan ikan cod dari samudera Atlantik yang dimasak secara unilateral lalu kemudian dipanggang. Di sinilah Chef Nicolas memasukkan pengaruh dari Asia berupa saus yang terbuat dari daun sereh dan dipadukan dengan puree terbuat dari hummus yang merupakan ciri khas Timur Tengah dan Afrika Utara. Untuk mendapatkan rasa masam Chef Nicolas memergunakan buah kumquat serta cherry tomato.

Passion/Milky

Main course yang terakhir adalah berupa steak daging sapi bagian tenderloin yang dipotong seperti dadu besar dan diberikan saus BBQ yang asam, manis, sekaligus gurih. Pendampingnya merupakan duet yang tidak lazim antara sayur artichoke dengan pasta berjenis gnocchi. Meskipun terlihat sederhana, tapi kedua masakan ini memiliki tekstur rasa yang bertingkat dan kompleks namun tetap nikmat ketika disantap.

Sebagai perpisahan, hidangan penutupnya adalah krim yang terbuat dari buah markisa yang dipadukan dengan berbagai jenis coklat seperti milk chocolate, Jivara ganache serta emulsi coklat sebagai sausnya. Dengan penampilan cantik yang dihiasi golden leaf serta karamel, dessert ini menjadi penutup manis yang tidak terlupakan.

The applause

Bahkan tulisan sendiripun dapat begitu berbunga-bunga serta terangkai indah demi menceritakan sebuah pengalaman mengesankan sebagai hasil impresi atas makanan yang begitu nikmat. Sudah saatnya kita meredefinisikan kembali apresiasi bahwa makanan tidaklah harus berporsi besar dan mengenyangkan tetapi menjadi sebuah bentuk keindahan yang dapat dinikmati semua indera kita.

Kehadiran kualitas seperti ini akan semakin banyak di masa mendatang dan bukan tidak mungkin bisa jadi Indonesia menjadi ibukota kuliner yang lebih maju dan terprogram. Sungguh pencapaian yang tidak mudah apalagi untuk mencapai penghargaan Michelin star. Mungkin yang termudah dicapai adalah pembentukan pribadi kita sebagai penikmat makanan yang memiliki apresiasi tinggi dan senantiasa mendukung majunya perbendaharaan kuliner lokal Indonesia.

————

-Featured in KABARE May 2012 edition- (unedited)

Pictures courtesy of Mandarin Oriental Hotel Jakarta

The Gastronomy Aficionado’s Journal: Gahyo – Sajian Otentik Negeri Ginseng

Dolsot Bibimbab

Layaknya tren K-Pop atau Korean Pop yang tengah digandrungi kawula muda ternyata restoranpun tidak luput menjadi sasaran wisata kuliner mutakhir masyarakat Jakarta. Meskipun makanan Korea sudah lama dikenal di kota ini tapi ternyata masih saja banyak yang bisa dipelajari selain tentunya dinikmati. Pengalaman saya di Gahyo adalah salah satunya.

Gahyo adalah restoran yang dirintis sejak 2005 lalu dan kini telah menorehkan tradisi sebagai salah satu restoran Korea yang paling diincar oleh kalangan ekspatriat Korea maupun Jepang. Meskipun konsep awalnya terbilang simpel dengan hanya mengadaptasi resep keluarga, justru otentisitasnya menjadi ciri khas serta kelebihan dari Gahyo.

Menggunakan kata Gahyo yang berarti ‘lezat’ tentu bukan tanpa alasan, apalagi memang karena kebanyakan restoran Korea mengutamakan kualitas dan ini tidak didapat dengan harga murah meriah. Terkenal dengan hidangan barbecue-nya, masakan Korea biasanya menggunakan daging sapi terbaik dan untuk ini Gahyo mengimpornya dari Amerika Serikat serta Australia. Selain itu bumbu-bumbu khas juga hanya didapat dari Korea Selatan dan sisanya merupakan bahan makanan lokal yang dijamin kesegarannya.

Petualangan yang penuh warna

Masakan Minang terkenal dengan berbagai kekayaan jenis masakannya serta disajikan sekaligus di setiap restorannya dan begitu pula ceritanya dengan masakan Korea. Berbagai menu pembuka yang lazim disebut banchan tersaji di piring kecil dan terlihat jelas warna warni yang menggugah selera. Sebagai contoh yang paling terkenal dari Korea tiada lain adalah kimchi dan di Gahyo ini bisa jadi merupakan yang terbaik yang pernah saya rasakan. Contoh lain dari banchan adalah seperti pajeon (panekuk telur dengan bawang), bokkeum (tumis gurita cilik dengan sayuran), namul (sayur mayur yang diolah dalam berbagai teknik), dan masih banyak lagi.

Wooseol

Yang patut dicatat adalah agar jangan sampai terlena dengan mencicipi semua banchan ini karena apa yang anda pesan untuk hidangan utama biasanya berukuran besar dan cocok untuk makan tengah bersama keluarga dan teman-teman.

Sebagai contoh adalah Jabchae yang sebetulnya terlihat familiar di mata kita karena terdiri dari tumisan bihun tebal yang transparan dengan potongan daging sapi dan sayuran. Rasanyapun gurih manis persis seperti yang biasa kita temukan di restoran ala Tiongkok. Jabchae dengan cepat menjadi pilihan cocok bagi penikmat makanan yang tidak terlalu adventurous.

Selain itu pilihan ‘aman’ lainnya adalah Haemul Pajeon atau semacam panekuk telur yang terlihat seperti omelet yang berisi cumi serta berbagai sayuran. Lazimnya diberi saus cocolan berupa kecap asin yang menjadikannya terasa lebih gurih.

Sundubu Chigae

Untuk makanan berkuah, Gahyo menyajikan beberapa pilihan seperti Sundubu Chigae yaitu sup yang sedikit pedas tanpa rasa asam meskipun rupanya mirip sekali dengan kuah tom yam. Sup ini berisi kerang kipas serta tahu yang mirip sekali dengan rasanya bila dipepes dan kesemuanya dicampur dengan kuning telur. Namun yang lebih mumpuni adalah Yukkejang yaitu sup berisi berbagai sayur, akar teratai, jamur, dan bihun dengan kuah yang lebih pedas dan gurih.

Meskipun demikian harus dipahami bahwa citarasa kuah pada masakan Korea terbilang lebih tawar dan tidak segurih kuah pada sop, soto atau kari di masakan Indonesia pada umumnya. Bahkan kuah ramen Jepang saja bisa dibilang sangat gurih untuk ukuran masakan dari Asia Timur.

Teuk Seng Galbi

Terakhir yang tidak boleh dikesampingkan adalah Dolsot Bibimbab yang sangat terkenal. Sebuah hidangan kaya bahan dan kaya rasa terdiri dari berbagai sayuran, telur, dan nasi serta dimasak dalam sebuah hot pot sehingga menjadikan masakan ini serupa dengan nasi liwet dengan kekhasan berbeda. Ada rasa gurih, rasa pedas, lembut, berisi dan menyenangkan untuk disantap.

Korean BBQ, sang jurus pamungkas

Kedatangan ke restoran Korea tentunya tidak lengkap bila melewatkan barbecue-nya yang terkenal. Tersajilah berbagai potongan daging sapi dari berbagai bagian yang juicy seperti iga dan lidah untuk selanjutnya dipanggang dan disajikan dengan berbagai saus serta teknik menyantap yang unik. Jangan kuatir untuk berasap-asap ria dan memasak sendiri karena biasanya di restoran Korea para waitress akan sangat sigap memanggang serta menyajikannya untuk kita dengan cepat. Selain itu setiap meja makan memang didesain agar asap tidak menyebar kemana-mana, ditandai dengan corong exhaust yang bentuknya tidak lazim.

Yangnyeum Galbi

Beberapa daging ada yang telah dimarinasi dengan bumbu dan setelah dipanggang dapat dinikmati beserta adonan garam serta merica. Terlebih lagi bila ingin merasakan keotentikan cara menyantapnya maka satu piring kecil berisi daun wijen tersedia untuk membungkus daging tersebut beserta berbagai potongan sayuran dan cabe agar dapat dinikmati sekaligus semakin kaya rasanya dan seolah membedakan dengan yakiniku ala Hanamasa atau restoran sejenisnya.

Sebagai penutup manis dari petualangan kali ini, Gahyo menyediakan racikan minuman jahe, ginseng, dan kurma Korea yang menghasilkan rasa hangat pedas yang menenangkan. Kreasi dessert lainnya berupa pudding kopi, mangga, dan kelapa atau buah-buahan juga bisa menjadi pilihan penutup yang menyejukkan. Rasanya cukup untuk tidak berpesiar jauh hingga ke ranah Korea hanya dengan menikmati otentiknya hidangan ini di Jakarta.

Apakah ini berarti petualangan Korea kita berakhir di sini saja? Tentu tidak, karena Jakarta menyimpan begitu banyak rahasia dan ini berarti masih banyak cerita baru serta pengalaman seru kuliner lainnya. Bahkan Gahyo sendiripun masih menyimpan banyak hidangan menarik yang tentunya layak untuk mendapat kunjungan kedua bahkan seterusnya.

———-

GAHYO

Halal-friendly (terdapat beberapa menu non-halal)

Suitable for vegetarian

Address:

  1. Galeria SCBD, Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53 Lot 6 – (021) 5289 7044
  2. Sport Mall Kelapa Gading, Blok A 26-27 – (021) 4587 6626

Opening Hours: 11 am – 11 pm

BB Pin: N/A

Email: N/A

Website: N/A

Facebook: N/A

Twitter: N/A

Pricing: Around IDR 300,000 – 500,000 for two.

———-

-Featured in KABARE May 2012 edition- (unedited)

Pictures courtesy of Gahyo

QuikSkoop™: Waroeng Kopi & Roti Bakar Tung Tau (Sungailiat, Bangka)

Though originally known as the land where martabak was born but the native Chinese immigrants seem actually more proud for their kopitiam legacy. Heartbroken to found that so far the best martabak are only found in Java, I decided to just unravel the secret behind Bangka’s famed coffee shop, Tung Tau.

The descendants of Mr Tung Tau who found the coffee shop in 1938 are now more organized than ever. I was pretty lucky to find that they recently have opened up their third outlet, marking probably their most notable advancements in decades.

Originally hailed from the laid back town of Sungailiat, the first coffee shop resides in the business district and still maintains its original look aside from the replaced chairs and tables. Tung Tau seems also satisfied with its rustic and conservative appearance, unlike those kopitiams we have in Jakarta with air-cons, cozy cushions, sleek designs, and elaborated dishes. In terms of the dishes, Tung Tau highlights its famed toasts, coffee, tea, and several simple hawker foods like porridge, fried rice or fish broth noodles.

My first visit was highlighted by the notoriously delicious toasts with exotic fillings. The first one was the combination toast filled with pineapple jam, chocolate sprinkles, and grated cheddar. Bangka and Belitung are famed for using pineapples in many of their delicacies and arguably, you might find the best jam here. Aside from that, they’re using old school bread where some people may refer as ‘roti kadet’.

Roti Bakar Telur

Perhaps the most exotic selection would be the egg toast. Unlike the usual sandwich we know that filled with omelette or fried eggs but this one is with diced boiled eggs. It’s a brand new thing for me and actually quite appetizing, but you might want to add chili sauce for this. Also the difficulty lies at the process of savoring it. It can be pretty messy and you’d need to come so close to the plate just to reach all the bread and the eggs there.

So what’s left then aside from the toast? Well of course, the coffee!

While the heat of Bangka may be pretty unbearable in the afternoon so what could be better than chilled beverages? Teh tarik and milk coffee would do the trick! The condensed milk could be of any brand but the coffee should be the one processed there, even though I heard that they had their coffee sent straight from Lampung.

Teh Tarik, Kopi Susu, Roti Bakar Kombinasi (clockwise)

Fragrant, mild, and blends well with the milk, the kopi susu was thick and since served chilled, it felt as if I taste the water of the rivers in seventh heaven! There’s a trick in doing this and one of my coffee expert friend told me just to boil the coffee for two straight hours. In the meantime, the teh tarik was also very milky and to my liking. It’s not too overpowering since the tea taste was still there. Of course, this would be a fine substitution other than the coffee.

Es Kacang Merah

For a fitting end, the original Bangka’s dessert of es kacang merah should be enough to make you return back for more. Though simply only topped with shaved ice, condensed milk, and syrup, the whole bowl of it was just pure paradise.

While the pricing tags in Bangka-Belitung may be quite similar with Jakarta a.k.a quite hefty, but so far many eateries or café there, however rustic they may appear, are not pretentious and provide delectable delicacies. With Tung Tau at its helm, Bangka may boasts itself as the land of original kopitiam but you might want to hear more from my stories later at eastern of Belitung in the small town of Manggar, the city of 1001 coffee shops. Either way, if you want to look for a land for of coffee appreciation, then these islands here may very well become your haven of temptations.

———-

WAROENG KOPI & ROTI BAKAR TUNG TAU

Halal-ness to be confirmed

Some menu suitable for vegetarians

Wi-fi available (so far only at Sungailiat outlet)

Address & Phone Numbers: 

  • Jl. Muhidin no. 87, Sungailiat, Bangka – (0717) 92519
  • Jl. Sudirman no. 74, Pangkal Pinang, Bangka – (0717) 439 558
  • Jl. Depati Hamzah – Semabung Lama, Pangkal Pinang, Bangka – (0717) 426 1779

Opening Hours: All day from early morning up to 9 pm.

BB Pin: N/A

Email: N/A

Website: http://www.waroengtungtau.com

Facebook: N/A

Twitter: N/A

Atmosphere: A more laid back and traditional type of kopitiam.

Ambiance: Most of the time relaxed.

Service: Helpful but one must not expect too much in terms of detailed explanations about its products.

Pricing: IDR 30,000 – IDR 40,000 for two

QuikSkoop™: Mie Belitung Atep (Tanjung Pandan, Belitung)

The beauty of Bangka-Belitung turns out not only for the pristine beaches and the laid-back atmosphere. One must not neglect the culinary power these mysterious islands have in hand. If you’re thinking only about fish and seafood then you clearly have not seen all.

At first I was thinking, ‘Really? Another meal after hotel breakfast?’, but it had been specified in the itinerary as ‘a must visit’. Preparing for the inevitable, I portioned my hotel breakfast meagerly, becoming prudent all of a sudden, preparing an extra room in my tummy and head for Mie Belitung Atep. It’s not a long ride to the center of Tanjung Pandan where this establishment resides.

The place doesn’t look much actually. It’s more like a small shop than a restaurant but with enough seats for everyone. But make no mistake since if you happen to find a tourist bus stopping in front of Mie Belitung Atep then you’d better hurry inside and grab your seats!

If it’s about mie or mee or noodle then I was thinking the one I had back at Tung Tau Kopitiam in Bangka with its mie kuah ikan (fish soup noodle) but I was wrong in the end. I still cannot comprehend what to make with the broth since it was made thick with local sweet soy ketchup but it’s not that sweet actually. People add the sweet soy ketchup later when the dish already served but if you sip the original taste then you’d remember the soup from lomie dish but much less sticky.

The preparations for the noodle are quite simple in this famous establishment visited also by celebs and politicians. They only boil the noodles in a soup filled with small shrimps. Afterwards she served the noodle on the plate, topped it with small cuts of boiled potatoes, bean sprouts, fried tofu, bakwan (fried and diced flour), and then finally to be filled with the soup and shrimps. Lastly, emping crackers do the final trick.

Mie Rebus

It was divine and it’s nowhere to be seen in my entire life before! Truly, it was an original masterpiece because all those odd ingredients match up! Well, that sets themselves as the sole representative of Belitung culinary world in noodle dishes genre. So about Belitung? You bet! I’m gonna return there not just for the lovely beaches but for Mie Atep  as well. Wifey, are you coming?

———-

MIE BELITUNG ATEP

Halal-ness to be confirmed

Some menu suitable for vegetarians

Address: Jl. Sriwijaya no. 27, Tanjung Pandan, Belitung

Opening Hours: All day from early morning up to 9 pm or around 10 pm.

RSVP: 0719 – 21464

BB Pin: N/A

Email: N/A

Website: N/A

Facebook: N/A

Twitter: N/A

Atmosphere: This feels like a casual Chinese food eatery anywhere.

Ambiance: Loud every day. Mie Atep never ran short of customers.

Service: A no non-sense hawker type eatery. You’ll get yours as fast as they can, if not for tremendous amount of visiting customers.

Pricing: IDR 30,000 – IDR 40,000 for two

FCK™: Fish & Co.

Fish & Co. tentu bukan nama yang asing lagi di Jakarta dan Surabaya. Bisa jadi karena kehadirannya, semua orang kini sudah mengenal baik istilah ‘fish and chips’. Setelah pemunculannya selama sekian tahun, HOJ kini mencari tahu bagaimanakah konsistensi dari franchise brand asal Singapura ini.

Pertemuan pertama saya dengan Fish and Co. terjadi beberapa tahun silam di salah satu outlet-nya di Pacific Place. Tentunya menu waktu itu belum seberagam seperti sekarang ini tapi tetap yang harus dipesan adalah hidangan fish and chips yang paling tradisional. Rasanya saat itu tentu begitu memesona dan apalagi di kala lapar pasti porsi sebesar itu dapat dihabiskan hingga licin tandas.  Tapi bagaimanakah dengan Fish and Co. yang sekarang?

Ternyata teori pribadi saya bahwa lidah adalah ‘pengkhianat terbesar’ dalam seumur hidup seorang manusia memang benar adanya but rest assured, tentu bukan karena bahwa Fish and Co. mengalami kemerosotan rasa apalagi kualitas. Justru ini terjadi lidah manusia umunya seiring berjalannya waktu kian ‘terasah’ dan untuk pecinta makanan, sudah sangat alami untuk menuntut sebuah rasa yang lebih menantang atau bahkan kompleks.

New York Fish & Chips

Kali ini yang dipesan tentunya sama tapi fish and chips di Fish and Co. sudah terdiri dari beberapa varian yang disesuaikan dengan karakteristik berdasarkan negara. Perbedaannya lebih terdapat pada isian ikan tersebut yang menggunakan jenis keju yang berbeda, tapi tentu default-nya berada pada pilihan New York Fish & Chips yang menggunakan isi keju parmesan pada ikannya yang dibalut tepung renyah serta disiram dengan saus lemon butter. To make it even more colorful, pendampingnya kali ini kita bisa memilih antara french fries, mashed potato, atau paella.

Tapi untuk sekaligus menjajal ‘semua’ yang dimiliki oleh Fish and Co., pilihan yang paling bijak tentunya adalah seafood platter dimana terdapat tambahan ikan, grilled squids with ‘black’ spices dan udang dalam satu hidangan sekaligus. Selain itu serunya juga adalah berkesempatan mencicipi paella yang digabungkan juga dengan kentang goreng.

So it’s the verdict time then. Secara keseluruhan semua menu yang tersedia kini semakin beragam dan menarik, selain juga Fish and Co. senang bermain-main pada eksperimen bumbu dan rempah dari berbagai negara. Meskipun secara pelayanan masih menunjukkan pengetahuan baik tetapi mereka tidak ingat untuk memberitahukan sejak awal apa-apa saja menu yang saat itu tidak tersedia.

Seafood Platter for 1

Sebagai contoh ikan halibut tidak tersedia dengan alasan pasokannya sedang mengalami kesulitan. Meskipun bila diperhatikan sebetulnya para pengunjung rata-rata bermain aman dengan memesan fish and chips yang paling standar ketimbang memesan kepiting atau ikan salmon yang harganya terlalu menjulang. Tentu ini bukan menjadi alasan untuk tidak menginformasikan tentang availability produk pada hari tersebut.

Secara rasa sendiri sebetulnya tidak terlalu banyak kejutan dan bersaing ketat dengan pemain lainnya seperti Manhattan Fish Market namun tentu yang didapatkan juga rasanya tidak mengecewakan. Sehingga tidak heran Fish and Co. mampu bertahan sekian lama karena selalu saja ada pengunjung yang ingin big treat or something nostalgic, like me for instance. Dengan budaya menikmati fish and chips dalam takaran ukuran, variasi, dan kualitas seperti yang ditawarkan Fish and Co. ternyata masih cukup langka di Jakarta, bukan tidak mungkin usaha ini akan bertahan sangat lama dan selalu menjadi favorit untuk semua orang.

———-

FISH & CO.

Rating: **

Halal-friendly

Some menu suitable for vegetarians

Address:

Level 4 Unit 419, Jl. Let. Jend. S. Parman Kav. 21

T: 021 – 5699 8575

Operation hours:

Sun – Thur: 10 am – 10 pm

Fri – Sat & PH: 10 am – 10 pm

Cilandak Town Square (CITOS)

1st  Floor 140-142, Jl. T. B. Simpatupang
T: 021 – 7592 0345

Operation hours:

Sun – Thur: 11 am – 12 am,

Fri – Sat & PH: 11 am – 01 am

Pondok Indah Mall 2 (PIM2)

3rd Floor #349, Jl. Metro Pondok Indah
T: 021 – 7592 0778

Operation hours:

Sun – Thur: 11 am – 10 pm,

Fri – Sat & PH: 10.30 am – 11 pm

EX-Plaza Indonesia

1st Floor No. 40, Jl. M. H Thamrin Kav 28-30

T: 021 – 391 7429

Operation Hours:

Sun – Thur: 11 am – 12 am

Fri – Sat & PH: 11 am – 01 am

Pacific Place

Level 4-49 & 4-51, Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53

T: 021 – 5797 3162

Operation Hours:

Sun – Thur: 11 am – 10 pm

Fri – Sat & PH: 10.30 am – 10 pm

Gandaria City

Main St. GF Unit MG 36 & S 36, Jl. Sultan Iskandar Muda (Arteri Pondok Indah)

Tel: 021 – 29053205               

Operation Hours:

Sun – Thur: 11 am – 10 pm

Fri – Sat & PH: 10.30 am – 11 pm

Emporium Pluit Mall

Ground floor Unit G – 39, Jl. Pluit Selatan Raya

T: 021 – 29071900                 

Operation Hours:

Mon – Fri: 10.30 am – 09.30 pm

Sat – Sun & PH: 10.30 am – 09.30 pm

Website: http://fish-co.co.id

Facebook: FishnCoINDO

Twitter:  @FishnCoINDO

Pricing: Around IDR 150,000 – IDR 200,000 for two

———-

-Featured in HANG OUT JAKARTA April 2012 edition-

Pictures courtesy of Fish & Co. Indonesia

FCK™: BonChon Chicken

Tidak lazim memang menemukan sebuah franchise makanan cepat saji yang berasal dari Korea Selatan di Jakarta ini. Ketika saya mengira-ngira bahwa makanannya tentu tidak jauh dari bulgogi atau Korean barbeque tapi justru yang dibawa adalah ayam goreng!

Kesan modern dengan panel-panel kayu berwarna terang dan ringan, berbagai meja panjang yang bisa menjadi tempat makan bersama-sama with strangers, dan berbagai furniture tidak lazim menjadi simbol baru tentang bagaimana mendesain sebuah restoran fast food. Cukup segar dan unik mengingat banyak restoran cepat saji masih merancang dirinya dengan pakem khas jaman dahulu dan diperbaharui dengan perubahan minor saja.

Dari segi makanan, ternyata BonChon menganut sistem yang sama sekali berbeda dengan ayam goreng Amerika Serikat pada umumnya. Para pembeli diharuskan menunggu beberapa saat agar ayam memang fresh baru digoreng pada saat disajikan. Ini terkait dengan teknik memasak mereka yang menghilangkan lemak menjadikan kulit ayam renyah tapi menjadi tipis.

BonChon memakai bumbu khas Korea yang memadukan soy sauce dengan bawang putih yang menjadikan rasa kulitnya agak manis. Dengan penggorengan langsung saji BonChon tidak menyimpan ayam dalam rak pemanas yang menjadikan ayamnya kering sehingga hal ini mempertahankan bagian dalam ayam tetap segar dan moist.

Konsep penyajiannyapun berbeda. Meskipun tetap menyediakan paket ayam, nasi beserta minuman, originally BonChon mengusung konsep mengkonsumsi ayam lebih terbilang sebagai kudapan sendiri atau beramai-ramai dengan keluarga. Pembeli dapat memilih antara sayap, paha atas, paha bawah atau strips (ayam tanpa tulang) dalam paketan berisi beberapa potong dan kelipatannya. Alternatifnya bisa dipilih juga ikan dory dengan rasa yang sama dengan ayam gorengnya dan tentunya, bulgogi with rice.

Sebetulnya secara keseluruhan BonChon cukup mengundang rasa penasaran saya. Terutama dari rasa ayamnya pun cukup menggiurkan karena citarasanya yang berbeda. Tapi arguably masih belum cukup untuk bisa merubah mindset orang-orang yang telah lama terbiasa dengan citarasa ayam goreng khas Amerika.

Ikan dory sebagai alternatif juga sebetulnya memilki rasa menjanjikan namun pendampingnya yaitu kentang goreng terasa kurang bumbu. Mungkin saja untuk alasan kesehatan atau memang didasari dari resep tradisionalnya dimana BonChon tidak terlalu membumbui layaknya selera Indonesia. Kalau memang mau sesuai selera selalu ada nasi sebagai penggantinya.

Persaingan tentu tidak akan mudah mengingat fast food lain telah bertahan selama puluhan tahun dan telah menanamkan faham yang sudah mendalam di benak  banyak orang. Tapi persaingan yang tidak mungkin dipungkiri adalah fakta bahwa siapapun franchise dari luar negeri harus sadar bahwa ayam goreng khas Indonesia yang memiliki rasa gurih ayam yang telah dibumbui dan sambal kecap tetap menjadi primadona baik yang di jalanan maupun restoran lokal di seluruh negeri.

———-

BONCHON CHICKEN

Fast food rating: ***

Halal-certified (to note that bulgogi dish is using US beef)

Unsuitable for vegetarians

Address:

-          Grand Indonesia, Jl. MH Thamrin 1, Jakarta

-          Living World, Alam Sutra Boulevard Kav. 21, Alam Sutra, Serpong

-          and opening in more malls soon

Opening Hours: Mall opening hours

Delivery: Coming soon

BB Pin: N/A

Email: social@bonchonindonesia.com

Website: http://bonchonindonesia.com

Facebook: BonChon Indonesia

Twitter: @BonCHon_ID

Atmosphere: Surprisingly modern and you won’t even feel like you’re in a fast food restaurant.

Ambiance: Hustle and bustle a la fast food restaurants.

Service: Nothing to complain so far.

Pricing: Around IDR 50,000 – IDR 100,000 for two

———-

Pictures courtesy of Bon Chon Indonesia

Main Feature: Jakarta’s Coolest Hang Out Joints

Looking for cool hang out spots? No worries, HOJ mengumpulkan beberapa tempat seru buat kamu nongkrong, makan, minum, have fun, more laughs, dan pulang dengan senyum tersungging di bibir.

Kali ini HOJ memperkenalkan tempat-tempat baru yang seru dan juga beberapa spot lama yang sebetulnya punya potensi tetapi banyak yang belum tahu or even forgotten. As for the latest trend, Jakarta juga belakangan mulai akrab dengan rooftop lounge atau tempat hang out yang bertemakan eco friendly.

So without further due, here are some fine spots, usual and unusual, that you should try no matter what!

—–

OTEL LOBBY

WHY:

Dark and stylish, Otel Lobby adalah fenomena baru yang sukses dengan hidangan fusion yang seru ala Chef Raj dan surprising drinks courtesy of master mixologist, Mr. Ben Browning. Eat and be merry dengan suasana resto seperti lobi hotel dengan lounge-nya yang memikat and enjoy chill out R&Bs played by the DJ.

WHERE:

Bakrie Tower – South Gate Entrance, Jl. Epicentrum Tengah // 021 – 2994 1324

—–

UNION BRASSERIE, BAR AND BAKERY

WHY:

Easily one of the hottest spots since last year di Jakarta, Union tidak hanya memenuhi kebutuhan dining experience kamu dengan menu-menu handal ala Chef Adhika Maxi, tetapi juga terdapat bakery dengan berbagai panganan kue modern lezat ala Chef Karen Carlotta and most of all the bar, a great place for drinks and hang outs overseeing fountains and vast courtyard. Feel the breeze!

WHERE:

Plaza Senayan, Jl. Asia-Afrika no. 8 // 021 – 5790 5861

—–

LUCY IN THE SKY

WHY:

Suasana hehijauan, udara terbuka and awesome skyscrapers view menjadi daya tarik tersendiri dari Lucy in the Sky yang menjadi simbol baru SCBD. Dengan sederetan menu makanan dan minuman yang kreatif serta cool ambiance-nya, Lucy in the Sky adalah tempat menikmati city lights dengan suasana baru yang asyik.

WHERE:

Fairgrounds (ex-Bengkel) SCBD Lot 14, Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53 // 021 – 5152 308

—– 

SHELTER

WHY:

You got a cool French bistrot downstairs to fill up your palate and head next upstairs for rooftop lounging experience. Dengan pemandangan ke seluruh kota dan suasana Kemang yang santai, Shelter is  a relaxing hang out spots also fueled with cool live music.

WHERE:

Kemang 89, Jl. Kemang no. 89 // 021 – 7179 4538

—– 

FACEBAR

WHY:

Although it’s a covert lair great for chilling out and foreign atmosphere, Facebar sebetulnya bukan nama baru tapi justru lokasinya yang terbilang sentral ternyata masih terbilang misterius. Once inside it’s a different world, bar yang santai, dan dua restoran otentik lengkap dengan native chef of Thai and Indian cuisine.

WHERE:

Jl. Kusuma Atmaja no. 85 // 021 – 3192 5037

—– 

TAPAS MOVIDA

WHY:

Tired of spending your hang out time just drinking with only the usual snacks? How about variety of Spanish tapas and a jug full of sangria? Tapas Movida sebagai salah satu restoran anyar dan terkenal dengan menu-menu khas Spanyol ini memang menyuguhkan sesuatu yang masih jarang di Jakarta.

WHERE:

Jl. Cipete Raya no. 66 // 021 – 751 0851

—– 

CAFÉ ARIA

WHY:

Café Aria is easily a place to satisfy your palate dengang suguhan makanannya yang lezat tapi tapas bar yang buka di sore hari hingga malam menjadi pilihan asyik di tengah kota untuk menikmati bersama minuman-minuman kesukaan kamu. Check out this hip, new establishment right away!

WHERE:

Panin Bank Building, Jl. Jend. Sudirman Kav. 1 // 021 – 739 5828

—–

-Featured in HANG OUT JAKARTA April 2012 edition- (unedited)

The Gastronomy Aficionado’s Journal: An Encounter with Chef Nicolas Isnard, The Duke of Burgundy

Chef Nicolas Isnard - small

March. A month that still counts as a fresh start for exciting 2012 culinary adventures and nothing is more tempting than enjoying the wizardry of a Michelin-starred chef, Mr Nicolas Isnard. Again, Mandarin Oriental Jakarta hosted an elaborate, ambitious project of inviting Michelin-starred chefs this year and what’s more intriguing than having the last year’s initial success bringer as a start.

I may call it a sheer luck to be the first to experience these tears of joy but I also happened to miss Mr Isnard’s last year performance. Well nevertheless, I and a handful group of journalists were also those among who had the honor of enjoying such privilege this year. I wouldn’t call myself a hardened veteran with my third time feasting upon Michelin-starred quality dishes. It has always been special and full of surprises. I would even resign myself back to rookie and enjoy it all like a child but with enlightened knowledge about haute cuisine.

Some people tweeted my experience still asking about what’s the satisfaction of having small-portioned dishes of skyrocketed price. I simply answered that having the honor of appreciating years of immense culinary background and perfection of these chefs is a great pleasure itself, but the pleasure is even greater by experiencing those attributes shown in beautiful dishes like poetry.

Years of tears and joy together with utmost effort and passion combined and put into the tiny bits of intricate details intertwined from appetizer to dessert. Everything is designed to make us feel every wee bit of it without getting full too early from start to finish. That alone is mastery of cuisine but to make everything also tasty and full of happiness? That’s a work of magic.

My first and second experience with honorable chefs Fabien Lefebvre and Jerome Laurent were fruitful encounters as you may already read in my earlier posts somewhere in my blog and at perempuan.com. Now it’s time for Mr Isnard’s French cuisine of 2012!

The tuna and the foie gras

The amuse bouche namely the tuna pizza was a perfect teaser but it’s actually not a pizza as you may imagine. Mr Isnard’s gently seared the tuna in two ways, a quarter done on one side and the other only as far as three fourth, which is known as unilateral. The tuna then put to sleep upon the beautiful bed of a fresh tomato concasse with shallots as the pillow and the blanket. I then resigned myself to a beautiful combination of sauces with characters like pesto, balsamic vinegar, and the one made from rockets, olives, and a twist of lemon. Colorful and fresh, the amuse bouche teased our senses naughtily and we’re getting ready for the foie gras.

Tuna Pizza

Much to my surprise, Mr Isnard presented a huge foie gras on a pot alongside what he called as forgotten vegetables. It’s actually more like garden vegetables like carrot, asparagus, sweet potato, and even orange but the surprise was that the pot filled with an aromatic consommé and alongside a bone marrow. An ‘ointment’ of parsnip and lime was put on the corner of the pot and will infuse itself inside the broth to deliver a fresh, sour taste of the soup. The foie gras was immaculate and fulfilling without doubt. Though eventually, I had this mixed feeling between a surprise and an unaccomplished expectation. To see how Mr Isnard treated the foie gras in a good, strange way was actually great but since it also looked like vegetables soup, it felt also somehow too familiar.

Foie Gras Pot Au Feu

One thing about Chef Nicolas Isnard’s palate that may be different than most of us, his is strictly acidic and that’s what he really likes. I grew up knowing and enjoying more savory stuffs than others while most Indonesian probably like spicy things. It’s a matter of preference but knowing that, I prepared myself to stumble upon sour stuffs and look what I got so far. I feel refreshed all the time!

The cod and the beef

The third course was arguably my favorite. Though the dish appeared simple but let us not too hasty to judge. The Atlantic cod was chosen for this honor and he treated it like a beautiful mademoiselle. Again, he skillfully cooked the cod in unilateral way and then roasted it with low temperature to seal the soul. Thus we were presented with a moist, juicy, and tender masterpiece from Atlantic Ocean.

Like most French chefs nowadays, overseas influences now injected to their dishes and fused. That made the cod swims upon a sea of Asiatic influence of lemongrass sauce and Middle Eastern hummus puree. This alone already made the dish staged in different level of texture and taste but not forgetting his roots, Mr Isnard gave the acidic flavor from kumquat and cherry tomato.

After all the seafood showcase now’s the time for the beef, which probably a bit anticlimactic. The US tenderloin beef was without doubt wonderful but Mr Isnard combined it with the usual BBQ sauce you regularly consume though a bit different. There’s this sweet taste that worked well with the overall sour flavor. Why picked BBQ sauce? Well, once again, his trademark.

Beef with BBQ Sauce

The sidekicks were exquisite nonetheless and that would be the artichoke barigoule with gnocchi. I even found the gnocchi very good, which actually a rare occasion for me to come across such thing. Name any gnocchi here in Jakarta and I will vouch only from Mr Isnard ever again or a true Italian cook!

The passion fruit and the au revoir

To close the day, Mr Isnard created a solid cream which I thought earlier to be a sorbet since he used passion fruit but it was also not an ice cream. It’s a texture in-between, almost like a pudding but more subtle. Some of the journalists cannot stand the sourness but actually if you happen to mingle it with the milk chocolate, caramel, Jivara ganache and the chocolate emulsion, you will find it very flavorsome.

Passion/Milky

It’s a good way to say goodbye though I still pretty much fond more of Mr Laurent’s dessert last year. To note, the Jivara ganache was too troublesome to consume and one of the journalists even had the chocolate emulsion accidentally squirted to his cloth since the ganache was a bit too sturdy for a cut.

Though it’s only a short visit but I know that Mr Isnard may not be around again next year and I might get a chance to visit his restaurant one day in France. His self-styled acidic palate and the unilateral technique had been an enlightening experience for me especially since French cuisine nowadays adopts more and more of Asian and African influence into it. My gratitude also extends for Mandarin Oriental Jakarta for organizing such interesting event and I’m of course, rooting for the next chef!

Who would that be? Stay tune and book when available!