Kong's Family Cuisine - The Kirin Imperial Book - Deep-fried snapper

Filosofi Penuh Makna di Balik Hidangan Legenda Keluarga Confucius (iMAGZ, May-Jul 2013)

Perhelatan singkat beberapa waktu lalu diadakan di Hotel Shangri-La Jakarta untuk memperkenalkan masakan khas keluarga Kong / Confucius yang tetap terjaga keotentikannya sejak ratusan tahun sebelum Masehi. Tim yang terdiri dari koki yang berasal dari Shangri-La Qufu di Cina yang didampingi langsung oleh anggota keluarga langsung keturunan Confucius mempersembahkan keunikan warisan kuliner yang memiliki estetika langka ini.

Selain karena memiliki perbedaan penampilan dari masakan Cina yang biasa kita jumpai sehari-hari, ternyata masakan keluarga Kong ini memiliki berbagai filosofi di balik penyajiannya yang tidak lazim. Berikut adalah beberapa kisah di antaranya.

—–

Kong's Family Cuisine - Six Arts Cold Appetizers 2

‘SIX ARTS’ – Aneka hidangan pembuka dingin

Konon para raja dan bangsawan di Cina kuno sepakat bahwa ajaran Confucius mengenai ‘Six Arts’ atau enam keahlian yang semestinya dimiliki oleh setiap individu adalah sebuah standar tinggi yang harus dicapai. Petinggi kota Qufu kemudian mengkreasikan kembali masakan keluarga Kong yang berkaitan dengan enam aspek ini selama bergenerasi-generasi.

Penerapan keenam keahlian tersebut dalam masakan-masakan ini adalah:

  1. Ritus – Daging kaki sapi dengan rempah
  2. Musik – Salad ubur-ubur
  3. Ilmu Panah – Lidah bebek dengan rempah
  4. Balap Kereta Kuda – Salad jelly siput laut
  5. KaligrafiScallop (simping) dengan salad sayuran
  6. Matematika – Seledri dengan wijen dan minyak zaitun

LU’S WALL HIDDEN COLLECTION – Udang goreng dengan lilitan bihun kering

Udang yang dibalut kataifi atau bihun khas Cina digoreng kering dengan telur dan tepung. Masakan ini menggambarkan fase ketika Kaisar Qin Shi Huang (221 SM) memburu para filsuf dan ilmuwan untuk kemudian dikubur hidup-hidup dan hasil-hasil karyanya dibakar.

Salah seorang cicit dari Confucius kemudian menyembunyikan karya-karya besar buyutnya ini di balik dinding-dinding istana sebelum pergi bersembunyi. Puluhan tahun kemudian buku-buku ini ditemukan secara tidak sengaja oleh Kaisar Lu Gong (154 SM) ketika tengah memperluas istananya untuk kemudian dilestarikan.

Kong's Family Cuisine - The Kirin Imperial Book - Deep-fried snapper

THE KIRIN IMPERIAL BOOK – Ikan kakap goreng dengan sisik

Konon sebelum Confucius dilahirkan, sesosok makhluk mitologi Cina dengan nama Kirin muncul di depan rumah keluarga Kong. Dari mulutnya ia mengeluarkan sebuah batu giok yang bertuliskan ‘Dari sebuah kerajaan yang runtuh, muncullah seorang kaisar baru – seorang pemimpin spiritual’, seolah menyiratkan bahwa kelahiran Confucius akan memberikan makna yang sangat besar.

Dari segi masakan, sisik yang tetap diikutsertakan pada ikan kakap ketika digoreng ini menggambarkan figur Kirin yang merupakan seekor kuda bertanduk (unicorn) yang memiliki kulit bersisik. Hasilnya ikan ini tetap terasa gurih dan memiliki tekstur menarik serta renyah berkat kehadiran sisik ini.

Kong's Family Cuisine - Farm-style Pancakes Served with Four Kinds of Condiments

FARM STYLE PANCAKE SERVED WITH FOUR KINDS OF CONDIMENTS – Lumpia jagung dengan isian bawang daun, pasta kacang, ikan asin, dan telur

Sejak masa lampau, berbagai bahan, bumbu, dan rempah yang dihasilkan dari lahan pertanian milik keluarga Kong digunakan untuk dinikmati dengan resep lumpia khas keluarga ini pada masa panen. Lumpia dengan kulit berbahan dasar jagung ini tidak hanya melambangkan rasa syukur atas panen namun juga sebagai doa kesuksesan bagi murid-murid Confucius yang senantiasa rajin belajar dan menjadi pribadi baru yang sesuai dengan filosofinya, “Ketika seseorang mempelajari berbagai ilmu baru namun tidak melupakan kebijaksanaan yang telah ada dari masa lalu, ia akan menjadi guru bagi yang lainnya”.

Kong's Family Cuisine - Gingko Poetry Rites - Steamed snow pear with dates 1

“GINKGO” POETRY RITES – Buah pir salju kukus dengan kurma, biji ginkgo, dan biji teratai

Confucius pernah mengajari anaknya Kong Li mengenai puisi dan kebijaksanaan. Konon beliau berkata padanya, “Bila Kamu tidak mempelajari ilmu puisi, maka Kamu tidak bisa berbicara dengan baik dan santun. Bila Kamu tidak mempelajari tatakrama dan kebijaksanaan, Kamu tidak akan bisa menjadi pria yang berbudi”. Puluhan generasi berikutnya, pohon ginkgo yang bijinya digunakan sebagai bahan utama dari hidangan penutup ini ditanam di depan “Aula Puisi” dari sebuah museum yang didedikasikan untuk mengenang hidup sang filsuf besar ini di kota Qufu.

—–

Published in iMAGZ (Intiland in-house magazine) 3rd Edition, May-Jul 2013.

Images are courtesy of Rian Farisa (The Gastronomy Aficionado)

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s