VIDEO: A Gourmet Recipe for Kopi Jahe (Ginger Coffee) [via Tastemade]

Browsing around Youtube in search of inspiration is a refreshing process which may ultimately catapult us to a new level of creativity. Whether it will be implemented one day with our own twist or merely remain in the domain of ideas only, well, that’s entirely up to us in the end.

At any rate, to see that videographers out there with their partners-in-crime who can conjure interesting visual presentations, like the one that I’m about to present you, gave out the sense that this is where the trend is heading next and what should we do to achieve recognition. Ultimately, this might be a way for a fulfillment of our aspirations.

So anyway, Tastemade – a Youtube channel filled with gourmet recipes of strange drinks around the world, gave out their version of Indonesian beloved kopi jahe. Here, I would like to share you the recipes as well as the video.

Kudos, Tastemade! You made us all foodies proud at what you’re doing and looking forward to seeing more of those beautiful videos.

PS: The soundtrack is so cool! FTW!

RECIPE

  • Lemongrass 1 stalk
  • Cardamom 4 pods
  • Cinnamon 1 stick
  • Ground Coffee 6 tablespoons
  • Palm sugar 1/4 cup
  • Coconut Milk (amount is up to you)
  • Ginger to taste

STEPS

  1. Remove the skin, you can use a spoon, it works surprisingly well. And slice into rounds.
  2. Give the lemongrass a good whack and cut into thin rounds.
  3. Smash the cardamom pods and break your cinnamon stick in half.
  4. Add 6 cups of water.
  5. Once it gets to a boil, let simmer for 10min.
  6. Add your coffee and palm sugar into a French Press.
  7. Pour in your mixture and let it all steep for a good 5 minutes.
  8. Add coconut milk to a glass, amount is up to you.
  9. Enjoy!

—–

Original link of the recipe:
https://www.tastemade.com/shows/thirsty-for/ginger-coffee-kopi-jahe#recipe

Original link for the video:
https://youtu.be/AZdOh8sjji0

Sains Dalam Kuliner (The EDIT Post, Aug 2015)

Bayangkan secangkir teh dan sepotong donat tersaji di hadapan Anda. Ketika Anda menyantapnya, yang terasa di lidah justru masakan rawon. Atau, hidangan yang terlihat seperti selembar kertas dan pensil. Setelah digigit ternyata mirip rasa opor ayam. Bukan sulap, dan tak perlu kekuatan klenik untuk mengalami kejutan itu. Dengan melibatkan sains dalam mengolah makanan, Anda bisa merasakan sensasi baru dalam menikmati kuliner.

Namaaz 1

Rekayasa Makanan

Istilah gastronomi molekuler yang menggabungkan seni memasak dengan sains, kini semakin populer. Gastronomi molekuler merupakan studi ilmiah mengenai gastronomi yang mempelajari perubahan molekuler dan transformasi fisiokimiawi dari bahan pangan selama proses memasak dan fenomena sensori saat makanan dikonsumsi.

Adalah dua ilmuwan fisika dan kimia yang pertama kali mengungkap kaitan antara sains dengan kuliner pada studi mereka di dekade 1980an. Terinspirasi dari masalah ‘klasik’ yang dialami saat di dapur, yakni gagal dalam mencoba resep masakan, Nicholas Kurti dan Hervé This meneliti secara ilmiah dari sisi ilmu fisika dan kimia di balik penyajian makanan. Kemudian mereka menerapkannya pada berbagai aspek gastronomik. Ilmu gastronomi sendiri bukan semata mengenai ilmu rasa namun juga mencakup persiapan dan penyajian makanan.

Gastronomi molekuler bisa dibilang teknik memanipulasi bahan dan rasa dengan aplikasi sains melalui perantara instrumen berteknologi tinggi dan berbagai teknik khusus. Di antara sekian banyak metode dalam gastronomi molekuler, salah satunya dengan memanfaatkan teknologi sous vide yang kini alatnya mudah didapatkan di berbagai toko peralatan masak.

Selain itu, ada juga teknik spherification yang memerangkap rasa dalam bentuk mutiara-mutiara kecil hasil reaksi persilangan bahan kimia antara kalsium klorida serta natrium alginate dari rumput laut. Hasilnya adalah ledakan rasa yang akan terjadi di mulut ketika dinikmati, seolah mengingatkan pada kaviar atau telur salmon yang biasa kita temui dalam hidangan sushi.

Metode sederhana yang cukup populer dan banyak dipakai saat ini adalah penggunaan nitrogen cair untuk mempercepat proses pembekuan pada bahan makanan. Biasanya digunakan untuk merekayasa pembuatan es krim. Jika dituangkan dalam adonan es krim akan membuat adonan tersebut lebih cepat mencapai konsistensi seperti proses pendinginan pada umumnya. Sehingga adonan menjadi lebih cepat beku dan es krim pun bisa lebih cepat dinikmati. Masih banyak teknik lain dalam gastronomi molekuler yang dapat digunakan sesuai kebutuhan dan kreativitas pelakunya.

Di Indonesia, penerapan gastronomi molekuler terbilang masih baru. Praktis, di sini masih terbatas chef yang spesialisasi menekuni bidang ini, ataupun tempat yang menyajikan menu berbasis gastronomi molekuler. Sedangkan di manca negara, teknik ini telah berkembang pesat. Chef Heston Blumenthal dari Fat Duck, Grant Achatz dari Alinea, Andoni Luis Aduriz dari Mugaritz, atau sang maestro Ferran Adria merupakan sederet nama yang konsisten mendalami gastronomi molekuler dan menggawangi restoran ternama kelas dunia.

It’s Fun Dining

Di Indonesia, Namaaz Dining merupakan restoran pertama yang berkonsentrasi penuh pada bidang gastronomi molekuler. Sejak berdiri tiga tahun lalu, Namaaz setia menghadirkan kuliner progresif yang merupakan pengembangan dari makanan Nusantara. Berkat kreativitas Andrian Ishak yang merupakan pendiri sekaligus chef, restoran ini telah memperkenalkan hingga 85 kreasi hidangan.

Setiap hari Selasa sampai Sabtu, Namaaz melayani reservasi untuk menikmati 17 sajian makanan. Menu tersebut dirangkai dalam satu tema yang akan berganti tiap musim atau sekitar enam bulan. Di paruh akhir musim kelima ini, Namaaz mengusung tema “Childhood”. Saya menemukan jejak masa lalu seperti tumpukan tempat pensil serta rautan mesin di setiap meja makan di restoran ini. Rupanya, dari hanya sebatas sajian visual saja, saya bisa mendeteksi era di mana Andrian menikmati masa kecil. Ternyata kami berasal dari dekade yang sama, yakni masa pra-digital, tepatnya sekitar satu-dua dekade sebelum memasuki batas milenium abad ke-20. “Semuanya berkaitan dengan masa kanak-kanak, seperti kesukaan kita menghisap manisnya kembang soka, kalimat ikonik seperti ‘Ini ibu Budi, ini bapak Budi” di pelajaran sekolah, dan banyak lainnya,” ujar Andrian memaparkan inspirasi dari kreasi terbarunya ini.

Sajian pertama dari tema “Childhood” yang dipresentasikan Chef Andrian kepada tim The EDIT Post adalah opor ayam yang divisualisasikan berupa kertas bertuliskan kalimat sakti Budi dan orangtuanya, serta sebuah pensil lengkap dengan mesin rautannya. Berbagai kondimen yang terdapat di samping ‘kertas’ serta ‘bubuk rautan pensil’ di dalam boks mesin rautan ditaburkan terlebih dulu ke atas kertas. Setelah itu, pensil digulung bersama kertas dan dinikmati layaknya sebuah lumpia. Rasa opor ayam ternyata berhasil ditemukan di sana!

Menu yang disajikan berikutnya adalah cumi tinta hitam yang terinspirasi dari mainan balap keong. Kemudian disuguhkan secangkir teh yang dilengkapi sepotong donat. Kuah beraroma rempah dituangkan dalam sebuah cangkir untuk melarutkan teh celup dan donat yang masing-masing berisi berbagai komponen masakan rawon. Setelah larut, hidangan rawon daging pun siap dinikmati.

Sebagai penyegar, sang chef menyajikan tube kaca berisi bir pletok dengan konsistensi seperti gel yang bisa diteguk dari celah di salah satu sisi. Di sisi yang berlawanan, Andrian tak lupa menaruh beberapa tangkai kembang soka sebagai simbol kesukaannya semasa kecil mereguk nectar dari kembang merah cantik ini. Sisa dua belas hidangan lainnya di musim ini tentunya dapat Anda eksplorasi langsung di restoran ini.

Untuk musim berikutnya, Chef Andrian telah mempersiapkan tema “Favorite” yang mencakup 17 hidangan pilihan dari kelima musim yang telah dilalui oleh Namaaz. Tentu ini kesempatan menarik yang tak boleh dilewatkan bagi Anda yang ingin menikmati masakan Nusantara dengan kejutan yang berbeda.

—–

NAMAAZ
Halal-friendly
Not suitable for vegetarians

Address:
Jalan Gunawarman no. 42, Jakarta – Indonesia

Opening hours:
Tue – Sat, dinner time (online reservation only)

RSVP: info@namaazdining.com | www.namaazdining.com

Spend: IDR 1,155,000 / person for 17 course meals

—–

Original link: http://theeditpost.com/sains-dalam-kuliner/

Photo courtesy of The EDIT Post

Hajime Ramen – From Tokyo to Jakarta with the steak ramen as its best!

Sebetulnya terbilang jarang bagi saya untuk bertandang hingga ke wilayah barat Jakarta untuk berpesiar kuliner karena satu dan lain hal. Namun di siang hari yang terik itu, saya mendapat alasan spesial untuk memacu sang kuda besi untuk sebuah jarak yang terbilang cukup jauh dari tempat saya tinggal.

Alasannya kali ini adalah untuk menyambut kedatangan Hajime Ramen, sebuah restoran ramen dengan formula unik yang berasal dari Tokyo. Sebuah alasan yang valid apalagi bila ditujukan khusus untuk bersantap siang!

Hot Plate Beef "Hajime"
Hot Plate Beef “Hajime”

Tiba di bilangan Pantai Indah Selatan, banyaknya ruko dengan berbagai peruntukan terlihat sejauh mata saya memandang. Ketika arena pergaulan kuliner seolah tertuju pada Pantai Indah Kapuk ke sisi jauh di sebelah barat, Hajime Ramen tanpa gentar berdiri di sebuah wilayah yang belum terkoyak banyak oleh unsur kekinian. Terkadang hanya karena faktor inilah saya memberanikan diri datang untuk mencoba sebuah tempat makan baru seperti halnya berkunjung ke restoran-restoran Jepang otentik yang berada di Little Tokyo atau gedung perkantoran di Sudirman.

Setibanya di sana berbagai kesibukan sudah terlihat di seantero penjuru restoran ini, diiringi oleh kedatangan tamu satu per satu untuk bersantap siang. Sebuah tempat di pojok berhasil yang kaya sinar matahari berhasil saya dapatkan dan tentunya ini cocok untuk berfoto-foto berbagai hidangan Hajime Ramen. Maklum semangat kekinian selalu muncul saat berkelana kuliner.

Hajime Ramen sendiri rupanya bukan sembarang restoran ramen pada umumnya. Hanya selang beberapa waktu setelah didirikan pada tahun 2009 di Tokyo oleh Chef Uchida Gen, Hajime Ramen meraih banyak penghargaan kuliner dan masuk ke dalam daftar ramen top di berbagai majalah gaya hidup.

Sebut saja berbagai majalah di Tokyo seperti Time Out, Shokuraku Magazine, Tokyo Walker dan lainnya; mereka semua merekomendasikan Hajime Ramen sebagai a must visit while in Tokyo.

Beef Ramen “Hajime”

Tidak sulit tentunya untuk segera memutuskan apa-apa saja yang harus dicoba dari kunjungan perdana di sebuah restoran ramen. Dua menu istimewa yang merupakan ciri khas dari Hajime Ramen adalah ramen kuah dan ramen hotplate yang masing-masing bisa dipilih dengan topping sirloin steak atau grilled chicken.

Chicken Ramen “Hajime”

Setelah dicicipi, ternyata dari segi rasa begitu mumpuni. Karakter mie di sini terasa lebih tebal dan besar dibanding beberapa restoran ramen pada umumnya atau mie kuning yang sering kita jumpai. Jenis kuah yang dianut oleh Hajime Ramen adalah tipe shio atau kuah bening dengan menggunakan garam sebagai bumbu utamanya. Rasa kuahnya cukup kaya dengan intonasi minyak yang cukup kentara. Menarik bagi lidah saya karena sebelumnya saya lebih terekspos banyak oleh kuah jenis toripaitan atau shoyu.

Salah satu bintang penyeimbang keseluruhan elemen ramen di sini tentunya adalah sirloin steak itu sendiri. Sulit untuk menolak betapa menggodanya Australian sirloin steak berderajat medium-well yang segar dipanggang dengan kedalaman rasa yang begitu juicy berjejer manis di atas semangkuk ramen yang diberikan imbuhan cantik berupa rebung panjang. Tentu ini adalah sebuah trademark khusus yang dimiliki oleh Hajime Ramen. Nikmat!

Steak salad
Chicken karaage
Gyoza

Tidak cukup dengan steak yang berada di atas ramen, kami sebetulnya mencicipi steak salad sebelum hidangan utama tiba. Sang steak salad diiringi dengan sepiring kecil berisi chicken karaage dan gyoza terlezat yang pernah saya rasakan. Ternyata menu pembuka di sebuah restoran ramen benar-benar menjadi pemicu selera yang baik untuk berlanjut ke bintang utamanya.

Ice cream mochi

Sebagai penutup, tidak lupa kami bersama-sama menikmati koleksi warna warni ice cream mochi yang tersedia di sini. Dengan empat pilihan rasa dalam satu sajian, saya rasanya ingin menobatkan dessert ini sebagai salah satu yang paling saya nikmati di Jakarta belakangan ini. Bagaimana tidak; rasa green tea, mango, tiramisu, dan ogura seolah saling menyapa dengan harmoni di dalam lidah ini setelah berkutat dengan berbagai keseruan bersama semangkuk ramen.

Sepulangnya dari sini, saya masih menyimpan sebuah cita-cita untuk mencicipi secara utuh sajian lainnya yang dimiliki Hajime Ramen. Selain kuah toripaitan pedasnya yang menjadi satu elemen baru pada menu di restoran ini, tentunya saya harus mencoba satu porsi ramen hotplate untuk sendiri di lain waktu.

Ataukah mungkin saya harus mencoba berbagai macam menu donburi serta nasi kari-nya? Tampak menarik juga tentunya. Tapi yang pasti, saya ingin berkesempatan mencicipi serunya bersantap di atas piring Doraemon untuk satu menu dari lini Kids Meal! Kenapa tidak?

Demi alasan berpesiar kuliner, tentu akan selalu ada kesempatan untuk melangkahkan lagi kaki ini ke sisi jauh Jakarta atau dimanapun. Hingga kesempatan itu tiba, nantikanlah saya Hajime Ramen! Saya akan kembali.

—–

HAJIME RAMEN
No pork, no lard
Unsuitable for vegetarians

Address:
Ruko Elang Laut Blok C19-20, Jalan Pantai Indah Selatan 1, Jakarta – Indonesia
T: +62.21.2251.0098

Website
Facebook
Twitter
Instagram

—–

Fun Food Facts #32

Fun Food Facts #32:
BRIEF FACTS ABOUT MUSTARD GREENS

Mustard Greens

  • Mustard greens are an excellent anticancer vegetable
  • They may also be beneficial for colds, arthritis or depression
  • While mustard greens sold in the United States are relatively mild in flavor, some mustard green varieties, especially those in Asia, can be as hot as a jalapeno pepper depending on their mustard oil content

—–

Facts provided by: www.mercola.com

Foodie Quotes #49

“That without experimentation, a willingness to ask questions and try new things, we shall surely become static, repetitive, moribund.”
Anthony Bourdain

The exciting gastronomic escapades of a stylish gourmet!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,591 other followers

%d bloggers like this: